Jumat, Oktober 31, 2014

KESAKSIAN: MOBIL BARU DARI TUHAN

Oleh: Ps. Sonny Zaluchu



Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19)

SAYA membutuhkan mobil. Panther yang lama sudah sering keluar masuk bengkel dan digunakan untuk operasional antar jemput anak-anak ke sekolah. Biaya yang dikeluarkan untuk membetulkan Panther sudah melebihi ambang kepatutan. Tetapi apa daya saya tidak punya kesanggupan untuk membeli yang baru, bahkan second sekalipun, tetap tidak mampu.

Dua tahun lalu, sebetulnya tersedia cukup uang yang saya tabung sangat lama untuk membeli mobil baru. Apalagi, tiga mobil yang pernah saya miliki sebelumnya, adalah mobil bekas (second). Sekali-kali saya ingin memiliki yang benar-benar baru. Dua mobil terakhir adalah mantan milik Hamba Tuhan juga sehingga dapat dipastikan jam terbang mobil tersebut sangat tinggi dan ini tentu saja berdampak pada kinerja mobil yang pasti, semakin dipakai oleh saya sebagai Hamba Tuhan di dalam berbagai medan pelayanan, akan semakin menurun. Itu sebabnya, mobil yang terakhir, bolak-balik masuk bengkel. Alangkah sukacitanya hati ini ketika uang yang disisihkan dari setiap berkat yang saya terima telah cukup untuk membeli satu unit mobil baru.

Akan tetapi, rancangan manusia belum tentu merupakan rancangan Tuhan. Satu visi baru Tuhan beri, tahun 2012, untuk merintis pelayanan di Graha Padma Semarang. Meskipun dengan berat hati, dan air mata yang menetes, saya mematahkan leher buli-buli minyak Narwastu itu – seperti Maria pernah melakukannya pada Yesus, dan merelakan semua yang terkumpul itu sebagai benih untuk membeli ruko sebagai tempat ibadah. Itulah yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja City Blessing Semarang (Semarang City Blessing Church) yang saya namakan Golden Gate Community Church (G2CC). Saya berpikir simpel. Tentu Tuhan mau melihat korban apa yang bisa saya berikan sebagai benih untuk pembelian ruko tersebut. Maka yang terjadi kemudian sungguh menakjubkan. Dalam delapan bulan, uang pembelian ruko terkumpul secara luar biasa dan bisa dibayarkan kepada pengembang lebih cepat daripada waktu yang disediakan yakni satu tahun. Maka kemudian saya berpikir, “Tidak apa-apa...benih mobil saya ada di tanah dan bangunan ruko itu...toh ini untuk pekerjaan Tuhan.” Dan saya tetap menggunakan mobil yang lama....puji Tuhan, daripada tidak ada sama sekali! Panas, tinggal buka jendela. Rusak, ya, masukin bengkel lagi. “Mau bagaimana lagi....apa yang ada itu yang patut disyukuri.”

Visi Baru
Tidak terasa, persekutuan doa sebagai langkah perintisan sudah berjalan satu tahun dan berkembang di dalam perkenaan Tuhan. September 2014 yang lalu adalah ulang tahun yang pertama. Ada satu sukacita tersendiri melihat berkembangnya pekerjaan Tuhan di Graha Padma. Kemudian saya doa begini, “Tuhan, aku nabung lagi ya...toh urusan untuk ruko sudah beres...” Tuhan diam, tidak memberi konfirmasi apapun dan saya anggap itu persetujuan-Nya. Dengan penuh semangat, tabungan yang semula berada di titik nol, mulai terisi lagi, sedikit demi sedikit. Hati ini penuh dengan harapan baru bahwa paling lambat akhir tahun sudah dapat mobil yang baru. Semua keinginan itu saya catat di dalam buku doa dan menjadi salah satu pokok doa yang tidak pernah berhenti saya bicarakan pada Tuhan. Bukankah Tuhan berkata, “Mintalah, maka kamu akan diberi...” Saya pegang perkataan firman itu siang dan malam. Kalau sudah waktunya, pasti dapat! Saya semakin melayani Tuhan dengan semangat karena saya tahu Tuhan tidak pernah berhutang dan Ia selalu menjawab ‘kebutuhan’ (bukan keinginan) anak-anak-Nya yang setia. Saya berdoa begini, “Tuhan, apa yang ada padaku saat ini adalah anugerahMu. Aku mengucap syukur memiliki mobil itu walaupun harus keluar masuk bengkel. Aku percaya, Engkau memberkati tabungan ini sehingga nanti akan terkumpul uang yang cukup untuk membeli mobil baru pada waktu-Mu...”

Tetapi sesuatu kembali terjadi. Setelah terkumpul cukup uang untuk membeli mobil baru, pelayanan di ruko mengalami perubahan visi. Tuhan bergerak dengan cara yang cepat. Waktu Natal 2013 dan awal tahun 2014, ruko sudah tidak muat untuk perayaan. Lantai dua tempat ibadah menjadi penuh sesak dan panas. Tidak ada pilihan lain, “kita harus berdoa membeli tanah untuk membangun gereja...” Demikian saya berkata kepada pengurus. Di mobil saat pulang ke rumah, saya menepuk jidat. “Aduh Tuhan, kalau rencana untuk membeli tanah dan membangun gereja ini jadi, maka uang mobil akan melayang lagi...” Saya pulang ke rumah sambil menangis di jalan dan disitu ada semacam kekuatan yang Tuhan beri, bahwa kalau memang demikian jalan ceritanya dari Tuhan, maka bagian saya cuma satu: taat sebagai hamba.

Naik Bus
Tuhan buka pintu di pertengahan tahun 2014. Rencana pembelian tanah tiba-tiba menghadapi pintu-pintu yang terbuka. Penandatanganan pembelian tanah untuk gereja dimulai. Satu tahun kami diberikan waktu hingga tahun 2015 untuk melunasi pembelian tanah itu. Seperti sejarah yang terulang, uang yang sedikit demi sedikit terkumpul untuk membeli mobil, kembali harus ‘dicurahkan semuanya’ seperti Narwastu yang dituang sampai habis. Saya ingat perkataan Tuhan di dalam Alkitab, carilah dahulu kerajaan Allah....disitu saya diingatkan bahwa ‘mencari’ salah satu artinya adalah mendahulukan! Tabungan kembali nol. Semua uang mobil menjadi benih awal pembelian tanah rumah Tuhan. Tetapi hati saya tetap bersukacita. “Kalau memang maunya Tuhan begitu ya, harus nurut.” Apa yang menjadi bagian saya di dalam kerajaan-Nya tetap saya lakukan dengan sukacita. Termasuk ketika beberapa bulan terakhir, saya pergi ke tempat pelayanan di Yogya, Solo, Salatiga dan tempat-tempat pelayanan lainnya, naik bus dan angkutan umum. Saya jalani dengan sukacita. Pernah di atas bus, saya duduk merenung dan nangis sama Tuhan. “Bila aku harus melalui ini Tuhan, maka aku akan melakukan dengan sukacita. Terima kasih Engkau masih membuka kesempatan bagiku melayaniMu...” Pandangan mata ingin tahu para panitia atau pengurus gereja yang menjemput dan mengantar di stasiun bus, menjadi motivasi bagi saya, bahwa semua akan indah pada waktunya. Kadang di bus saya suka bersenandung dan memotivasi diri sendiri. “Kerja buat Tuhan, selalu manise...saya kerja buat Tuhan sungguh senang senange...” Padahal hati saya waktu itu sedang sedih-sedihnya....

“Proyek Saya Jadi”
Tiba-tiba Tuhan balikkan keadaan. Sangat cepat. Seorang pengusaha menghubungi dan berkata beberapa waktu lalu, “Pak, masih ingat proyek saya ...(sambil menyebut nama proyek itu) Puji Tuhan, gol dan saya mendapatkannya.” Saya juga bersyukur dengan berita tersebut. Tetapi kelanjutan dari proyek itulah yang menjadi mujizat bagi saya. Pengusaha yang rendah hati ini berkata, “Saya sudah janji iman pada Tuhan untuk membelikan bapak mobil. Dan proyek ini telah jadi, maka bapak harus membeli mobil baru untuk mendukung pelayanan. Silahkan pilih. Gak perlu naik bus lagi. Ini berkat Tuhan.” Saya melongo. Dia memberikan dua lembar cek yang belum diisi dan menandatangani dua cek itu di depan saya. Pulpen itupun diserahkan pada saya untuk dipakai mengisi angka di dua lembar cek itu sesuai harga mobil. “Pakai satu cek untuk DP dan sisanya untuk pelunasan,” katanya. Saya menerima dua lembar cek itu dengan perasaan tidak karuan. Antara mimpi dan kenyataan, dan tiba-tiba saya menangis cukup keras sewaktu menyadari bahwa ini bukan mimpi. Ini kenyataan dan cara Tuhan yang ajaib. Dengan bijak, pengusaha itu menepuk pundak saya sambil tertawa ringan, “Sudahlah pak, itu memang jatah bapak dari Tuhan. Saya cuma saluran. Sudah sepatutnya mendapatkan itu. Saya pun senang jika melihat bapak memakainya untuk melayani Tuhan...” Benar-benar itulah yang disebut sebagai berkat tiba-tiba dari Tuhan. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).

Mencoba Menawar
Setelah membayar DP mobil tersebut, pikiran saya berkecamuk. Bukankah masih ada urusan soal pembelian tanah gereja. Saya berdoa minta hikmat dan tanda dari Tuhan. Maka saya menelepon kembali pengusaha tersebut. “Pak, bisakah saya menawar.” Pengusaha itu menjawab, “Ya pak, ada apa...” Saya dengan hati-hati berkata, “Seandainya boleh, walaupun saya sudah DP, cek yang terakhir saya uangkan, tentu dengan nilai yang berasal dari bapak.” Dia berkata, “Lho buat apa?” Saya menjelaskan, “Saya itu masih urus pembelian tanah gereja. Jika bisa, maka berkat mobil ini, mumpung belum dicairkan, saya alihkan untuk pembelian tanah gereja...apa boleh?” Lama pengusaha itu baru menjawab. Hihihihi. Mungkin aneh buat dia saya menawar berkat itu. Akhirnya ia berkata, “Pak, itu janji iman saya. Hanya prosesnya, bapak yang beli. Itu sama saja dengan saya datang ke rumah bapak beri mobil. Karena itu janji iman dan saya senang melihat bapak naik itu untuk pelayanan, maka uang itu harus digunakan untuk mobil. Nanti untuk tanah dan pembangunan gereja, pasti akan Tuhan sediakan...” Aduh lega sekali rasanya mendengar perkataan yang menyejukkan itu. Karena, seandainya pengusaha itu berkata boleh, maka itu tanda bagi saya dari Tuhan untuk mengalihkan berkat tersebut. Rupanya, Tuhan punya prioritas sendiri. Saya tersenyum

Refleksi

Ketika akhirnya mobil itu diantar delaer ke rumah, saya melihatnya sebagai karya Tuhan yang besar. Saat mengurapi mobil itu, dan bersukur menerimanya dari Tuhan, saya menangis. Tuhan bisa pakai siapa saja untuk menjadi jalan berkat-Nya untuk menolong, selama kita melakukan bagian kita dengan setia. Hamba Tuhan tidak perlu mengusahakan kebutuhannya, apalagi minta-minta. Kita punya Tuhan yang dahsyat dan melayani Allah yang luar biasa. Bukankah Dia Jehovah Jireh Tuhanlah yang menjadi jawaban atas setiap kebutuhan itu. Saya masih ingat bulan Oktober ini, ada satu orang mbok-mbok penjual beras di pasar, datang ke rumah, bawa sekarung beras. "Untuk pak pendeta sekeluarga...biar bisa makan...." Kemarin dia sms lagi, kalau berasnya habis, tolong ambil ke lapak saya. Lha....sampai beraspun Tuhan kirim. Pengusaha itu, entah dia membaca kesaksian ini atau tidak, telah menjadi saluran Tuhan. Dan itu adalah hak yang sangat istimewa menjadi saluran-Nya untuk menolong hamba-Nya. Selama ada bejana yang kosong, pasti minyaknya mengalir. Saya berdoa agar usahanya terus berkembang dan mengalami Ayin Hei Blessings supaya dia juga melihat bahwa berkat Tuhan selalu menyertai hidupnya. Tetapi yang jauh lebih penting, saya merasakan didikan Tuhan yang indah, ketika berani melepas hak untuk pekerjaan Tuhan, membayar harga dengan air mata dan pengorbanan, setia dalam panggilan, dengan motivasi yang benar, maka di satu titik, Tuhan akan bekerja dengan indah menyediakan semua yang kita butuhkan dengan cara-Nya yang ajaib. “Kau slalu punya cara untuk menolongku...Kau dahsyat dalam segala perbuatanMu...” Dia Tuhan yang tidak pernah berhutang pada anak-anakNya. Ketika kelak orang-orang melihat mobil berpelat H 62 CC itu di jalan raya, mereka tahu, itu mobil berkat dari Tuhan. Mobil yang keberadaannya adalah keajaiban. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. (081325854343/gloryofgodmin@gmail.com)

10 komentar:

  1. Iman dan ketaatan yang begitu indah...kesaksian yang sangat memberkati...Gbu always...

    BalasHapus
  2. Puji Tuhan. Kesaksian yg luar biasa dari seorang hambaNya yg rendah hati.

    BalasHapus
  3. Kuncinya di kalimat kesaksian adalah "Saya membutuhkan mobil". ...kami di Hong Kong, persekutuan Doulos-14 (waktu itu baru 4 orang) berkata, "Kami membutuhkan tempat untuk persekutuan; karena musim dingin, tidak mungkin bertahan di taman-taman kota". Mau menyewa tempat, tidaklah mungkin, karena 3x3meter saja, per bulan HK$5,500. Tiba-tiba di suatu malam, dalam mimpi, TUHAN bertanya, "Mau tempat 10 kali berapa? -maksudNya dalam hitungan meter-" Lalu saya jawab, "10!" Ya, deal 10x10 meter. Dan beberapa minggu kemudian, TUHAN beri FREE! Ada 2 tempat yang bisa dipakai sana-sini, total jika dihitung, 10x10 meter! TUHAN memberi apa yang DIBUTUHKAN, bukan apa yang DIINGINKAN (karena belum tentu seturut keinginan TUHAN saat ini). Kami di Hong Kong tidak butuh mobil (mahal biaya parkir per jam-nya), tapi butuh tempat; dan TUHAN beri. Terpujilah Tuha Raja Yesus Kristus yang sungguh hidup dan berbicara!

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. kesaksian yang membangun ... Tuhan punya banyak cara untuk memberkati hambanya...

    BalasHapus
  6. Sungguh indah cara Tuhan menjawab doa ya pa

    BalasHapus
  7. Sungguh kesaksian yg sangat memberkati dr hambaNya.
    Kirax menjadi teladan bg qt semua.
    Amin....

    BalasHapus
  8. Sungguh kesaksian yg sangat memberkati dr hambaNya.
    Kirax menjadi teladan bg qt semua.
    Amin....

    BalasHapus
  9. orang diberi mobil baru...saya butuh uang 50 juta untuk bayar hutang tp Tuhan tak mau tolong...saya berpuasa,..saya rajin berdoa meminta pertolongan...ttp toh tdk diperdulikan...keluarga sj tdk peduli apalagi Tuhan...itulah kata yg slalu dalam otak sy...ingin jual ginjal tetapi tdk ada yang membeli...lbh baik bunuh diri saja...mungkin Tuhan sdh mennjukkan jln bgini buat sya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas aan, klau boleh saran, mindset y ada itu diubah sedemikian rupa seturut dgn polanya Tuhan. Rajin puasa & doa itu baik, tp bukan "jaminan". Introspeksi diri, bercerminlah kpd firmanNYA. Pasti ada y salah. Tuhan melihat, mengerti, & peduli pd semua org. Tapi tindakan Tuhan tdk sembarangan diberlakukan kpd semua org. Harus ada ALASAN y benar/tepat sehingga Tuhan bertindak sesuatu kpd tiap org utk mendatangkan kebaikanNYA. Kesaksian di atas sebenarnya telah menunjukkan bgmn Tuhan bertindak terhadap seseorang y PANTAS memperoleh kebaikanNYA.

      Hapus