Rabu, September 28, 2016

BE STRONG IN THE LORD

Oleh: Ps. Sonny Eli Zaluchu, M.A, M.Th, D.Min, D.Th
Orasi dan Firman Tuhan
Wisuda STT Sangkakala, Kopeng – 30 September 2016

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.
Efesus 6:10

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,
Hari ini kita akan melepas sejumlah lulusan STT Sangkakala ke tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi panggilan Tuhan. Masa studi mereka di sekolah ini telah selesai dan inilah saatnya mempraktekan semua yang diperoleh itu di dalam ladang pelayanan. Adalah sebuah keberuntungan, setiap orang yang dipanggil dan dipilih Tuhan untuk menjadi penuai di ladang-Nya. Mengapa?

Pertama, tidak semua orang yang terpanggil menjadi terpilih. Dan, wisudawan wisudawati yang hari ini menerima pengutusan mereka, adalah orang-orang pilihan Tuhan sendiri. Sementara banyak orang menginginkan untuk dipanggil tetapi kemudian tidak terpilih, anugerah dan kesempatan justru dibukakan kepada mereka. Ingat perumpamaan tentang pesta perjamuan yang diselenggarakan oleh raja? Sebelum pesta dimulai, orang-orang yang akan diundang sudah berada di dalam list. Dan anda semua hari ini adalah orang-orang yang sudah berada di dalam daftar itu. Diundang menjadi bagian penting dalam kerajaan Allah. Tentu saja, kursi yang telah Tuhan sediakan itu harus disambut dan diresponi dengan benar. Kalau tidak, posisi anda, akan diganti oleh orang-orang pinggiran !

Kedua, yang mengutus bukanlah manusia tetapi Tuhan. Dia bisa saja memakai malaikat atau orang-orang tertentu. Tetapi, Tuhan memutuskan memanggil anda dan memakainya untuk menjadi bagian penting dalam menyelesaikan misi Tuhan di bumi. Mitra anda bukan manusia tetapi Tuhan sendiri. Dan, itu adalah sebuah kehormatan. Banyak orang hebat di luar sana. Tetapi Tuhan tidak memanggil mereka. Bagi Tuhan, kehebatan hanyalah sebuah hasil akhir. Hebat di dalam Tuhan sangat bertolak belakang dengan hebat karena dunia. Mula-mula, anda adalah sosok biasa-biasa saja. Tetapi karena berada di tangan Tuhan, anda diubah menjadi orang-orang luar biasa. Apa kuncinya? Selama empat tahun di STT, penempaan dan pembentukan telah mempersiapkan anda menjadi orang hebatnya Tuhan. Sakit, menderita, susah serta penuh tantangan telah dilalui. Kalau hari ini menyelesaikan satu proses itu, artinya anda siap ke tahap berikutnya. Tuhanlah yang mengutus anda, bukan manusia.

Ketiga, percayalah, dimana Tuhan mengutus di sana Dia memberi ladang. Tuhan tidak pernah mengutus seseorang ke padang gurun atrau ke tanah gersang. Dia mengutus ke ladang yang menguning. Dimana Tuhan utus, disitu Tuhan sediakan ladang. Ladang memang perlu diolah, dijaga dan diberi pupuk. Tuaian adalah hasilnya. Sementara kita menyaksikan banyak orang yang begitu susah mendapatkan ladang, Tuhan justru menyediakannya bagi anda. Itu adalah ladang Tuhan. Orang yang dikhususkan mengelola ladang Tuhan, adalah orang yang dipercaya oleh Tuhan sendiri. Coba renungkan, siapakah anda sehingga aset Tuhan yang sangat berharga itu, dipercayakan ke dalam tanganmu? Ladang adalah tempat. Di ladang anda akan menuai. Bukan hanya jiwa. Tetapi segala penyediaan Tuhan, disediakanNya dan menjadi tuaian bagi anda. Bukankah Dia adalah Allah Jehovah Jireh?

Keempat, Tuhan tidak pernah mengutus dengan tangan hampa. Dia tidak memberikan sesuatu yang tidak terlihat. Dikatakan-Nya “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka” (Lukas 9:3-5). Ketika Tuhan mengutus, Dia memperlengkapi. Kuasa Roh Kudus adalah perlengkapan utama dari Tuhan. Sadar atau tidak sadar, kuasa itu akan aktif dengan sendirinya saat meresponi pengutusan. Melalui kuasa Roh Kudus akan terlihat bagaimana Allah meneguhkan pemberitaan anda tentang kerajaan Allah. Anda akan melihat kesembuhan, pembebasan dan pemulihan yang hebat.

Kelima, di dalam setiap panggilan, butuh harga dan pengorbanan. Ladang dimana Tuhan utus, adalah ladang yang tidak seperti kita pikirkan atau bayangkan. Kelihatannya mudah tetapi di sana banyak tantangan dan kesulitan. Kelihatannya siap dituai tetapi ternyata belum menguning. Terlihat tumbuh tetapi berbarengan dengan ilalang. Butuh usaha dan kerja keras untuk akhirnya menuai. Setiap ladang harus dikelola dengan maksimal, dan semua itu butuh proses untuk memberikan hasil terbaik. Ketahuilah, kadang proses jauh lebih penting daripada hasil. Sebab, hasil yang baik, hanya mengikuti proses yang dilalui. Di dalam sebuah proses, dibutuhkan respon terbaik supaya semua tantangan dan masalah yang dihadapi, bukan justru membuat anda surut dan menyerah. Melainkan, memicu untuk melakukan hal yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,

Banyak orang-orang menjadi gagal memenuhi panggilan Tuhan di dalam hidupnya. Dr. J. Robert Clinton, memulai sebuah penelitian untuk menilai kepemimpinan di dalam Alkitab. Penelitian itu melahirkan buku yang terkenal berjudul Finishing Well  (Menyelesaikan dengan Baik). Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan banyak menjadi rujukan yang mengubah hidup orang-orang yang terjun di dalam pelayanan. Salah satu yang diungkap oleh Dr. Clinton adalah, tidak semua orang yang dipanggil di ladang Tuhan, berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. 1/3 gagal di awal panggilan, 1/3 gagal di pertengahan dan hanya 1/3 yang berhasil menyelesaikan dengan baik (finishing well).[1] Anda mau berada di 1/3 yang mana?

Kunci utama sebuah penyelesaian yang baik adalah karakter, bukan karunia. Sebab, karunia hanya akan membawa anda dengan cepat naik ke atas, karakterlah yang membuat anda dapat bertahan di puncak keberhasilan. Tanpa karakter yang kuat, semua tantangan dan persoalan di dalam ladang pelayanan, hanya akan membuat anda menyerah bahkan lari dari panggilan. Ketika karakter lemah, bukannya membuat Tuhan bangga, tetapi justru mempermalukan-Nya. Ketika gagal membangun karakter yang baik, bukannya menjadi penuai di ladang-Nya malah menjadi pengangguran. Karakter yang lemah akan membuat siapapun kalah di dalam menghadapi beratnya tantangan dalam pelayanan. Seperti orang yang menerima satu talenta, dia tidak melakukan apapun untuk mengelola apa yang telah dipercayakan kepadanya. Talenta itu diambil.

Karakter, adalah faktor kunci yang membuat setiap orang di ladang pelayanan, berhasil atau gagal. Karakter adalah alasan utama yang menempatkan setiap orang berhasil menyelesaikan dengan baik (finishing well). Maka, bangunlah pelayananmu atas dasar karakter yang baik. Ikuti setiap proses Tuhan dengan respon terbaikmu untuk melihat hal-hal hebat yang akan Tuhan hadirkan di dalam hidup anda.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,
Yosua adalah seorang muda yang terjun di dalam ladang pelayanan yang penuh tantangan dan persoalan. Dia diminta untuk menjadi pemimpin sebuah bangsa yang dikenal suka melawan, protes dan tegar tengkuk. Misinya sangat berat, memimpin bangsa ini memasuki Tanah Perjanjian. Dan untuk tiba di sana, mereka harus bertempur melawan suku-suku Kanaan yang mendiami daerah itu. Bukahkah ini adalah representasi sebuah ladang yang berat?

Pernahkah anda mengamati, bahwa Yosua, di awal pelayanannya memulai sebagai abdi Musa. Di dalam Yosua 1:1  dikatakan “Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:” Penekanannya adalah pada kata ‘abdi Musa’. Yosua tidak pernah memposisikan diri untuk dilayani. Dia adalah seorang pelayan yang setia. Pelayan dari seorang Musa yang berstatus ‘hamba Tuhan’. Tanpa sadar, saat menjadi abdi Musa, Yosua terbentuk dan dibentuk. Saat tiba giliran baginya untuk diutus memimpin, sejumlah tantangan dan masalah menghadang didepannya. Tetapi Yosua tidak goyah. Dasar dari karakternya, untuk memenuhi panggilan itu, sudah terbentuk dengan kuat. Seluruh narasi sejarah dari kitab Yosua akhirnya menjadi catatan keberhasilan ‘abdi Musa’ itu memimpin sebuah bangsa, dan membawa bangsa pilihan Tuhan memasuki destiny mereka di Tanah Perjanjian. Yosua menjadi salah satu figur finishing well. Di akhir pelayanannya, statusnya berubah. Dia bukan lagi disebut ‘hamba Musa’ tetapi dicatat sebagai ‘hamba Tuhan’. Di dalam Yosua 24:29  dikatakan, “Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun.”

Kunci keberhasilan Yosua adalah karakter. Musa sudah berpengalaman terhadap dinamika bangsa Israel sejak berangkat dari Mesir. Itu sebabnya, saat suksesi kepemimpinan berlangsung dari Musa ke Yosua, nasehat penting ini juga menjadi inspirasi buat kita semua. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka” (Yosua 1:6). Mengapa harus menguatkan hati?

Hati adalah bagian hidup seseorang yang paling rentan untuk dipengaruhi sesuatu. Ketika kita merasa telah menjaganya, justru dia tidak terjaga. Demikian sebaliknya. Ketika hati tidak terjaga, maka akan muncul kekuatiran dan ketakutan. Hati dapat dipenuhi hal-hal negatif dan itu dapat membahayakan visi dan misi. Hati yang tidak terjaga akan melemahkan pelayanan. Juga mendorong orang lari dari pengutusannya karena tidak kuat menghadapi proses yang ada. Hati yang tidak terjaga akan membuat siapapun, gagal memberi respon terbaiknya untuk menghadapi tantangan dan pembentukan Tuhan di ladangNya.

Maka nasehat Paulus kepada jemaat di Efesus patut direnungkan. “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 6:10). Paulus memulai dengan kata ‘akhirnya’. Kamus Strong[2] mendefinisikan kata itu sebagai kata penutup untuk menegaskan setelah didahului oleh uraian yang panjang lebar. Juga sering dipakai sebagai penutup surat yang menjadi konklusi dari semuanya. Berarti, ini sesuatu yang sangat penting. Apakah itu? Be strong !

Menjadi kuat secara biologis, dapat terjadi karena pertumbuhan dan nutrisi yang sehat. Di dunia ini, orang juga bisa menjadi kuat, secara sosial dan politik, karena memiliki segala hal. Misalnya materi dan kekuasaan. Ada juga orang yang merasa kuat karena bergabung dengan sesuatu yang besar dan tak terkalahkan. Paulus memberi perbandingan. Jangan pernah mengandalkan kekuatan dari dunia. Bahwa kekuatan yang berasal dari dunia ini adalah fana. Hanya kekuatan dari Tuhan sajalah yang kekal.

Di dalam pelayanan, dan segala tantangan yang ada di sana, tidak ada seorangpun yang kuat karena kemampuannya sendiri. Sumber kekuatan utama adalah Tuhan sendiri. Daud menyadari itu sehingga ia pernah menulis Mazmur dan berkata “Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah” (Mazmur 62:8). Daud memiliki hati yang melekat kepada Tuhan.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,

Akhirnya, orang yang menjadi kuat di dalam Tuhan adalah:

Pertama, orang yang benar benar bersandar hanya pada Tuhan, dan bukan bersandar pada kekuatan apapun di luar Tuhan. Apapun yang terjadi di dalam hidupnya, ia selalu mencari Tuhan dan mengandalkan Dia. Be strong in God adalah sebuah pilihan. Siapapun dapat memilih sumber kekuatan di dalam hidupnya, tetapi hanya di dalam Tuhanlah, ada kekuatan yang sejati.

Kedua, orang yang mengandalkan Tuhan sebagai sumber kekuatan adalah orang yang meletakkan iman percayanya pada Tuhan. Put your trust in God. Banyak hal yang tidak dapat dimengerti di ladangNya. Banyak hal tak terduga. Dan saat ketidakmengertian terjadi, yang Tuhan tuntut hanyalah ketaatan. Ketaatan lahir dari sikap percaya yang mutlak. Taat mendahului pengertian.

Ketiga, Tuhan punya sumber kuasa yang tidak pernah habis. Orang yang melekat kepadaNya akan menerima aliran itu, mengalir ke dalam dan melalui dirinya. Itulah kuasa Roh Kudus yang memampukan dan membawa pada kekuatan supernatural Allah yang bermanifestasi di dalam hidup anda. Maka, anda harus hidup konsisten bersama Tuhan (living consistantly with God).

Saya mengucapkan selamat kepada STT Sangkakala yang untuk kesekian kalinya mewisuda lulusan lulusan sebagai pekerja di ladang Tuhan. Juga ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

Be strong !



[1] Dr. Richard Clinton and Dr. Paul Leavenworth, Finishing Well (Convergence Publishing, 2012).
[2] Kamus Strong G3063 loy-pon'. Neuter singular of the same as G3062; something remaining (adverb): - besides, finally, furthermore, (from) henceforth, moreover, now, + it remaineth, then.

Jumat, Februari 26, 2016

DOA BAPA KAMI


Ada sebuah gereja di lereng bukit Zaitun yang dibangun di atas reruntuhan gereja Byzantium. gereja ini ditandai sebagai tempat Yesus mengajar muird-muridNya, DOA BAPA KAMI. Makanya di dinding gereja itu, penuh dengan doa bapa kami di dalam berbagai bahasa di dunia, termasuk dari Indonesia. Mengapa Yesus mengajar demikian? Di zaman Yesus, tidak ada doa pribadi. Kalau orang mau berdoa, harus datang pada Imam atau ke Bait Allah. Di situlah Yesus mengubah konsep doa di benak murid-muridNya bahwa doa dapat (1) dilakukan pribadi dan dapat (2) dilakukan dimana saja dan (3) dipanjatkan kepada Bapa sebagai anak. Ada dua hal penting di dalam doa Bapa Kami. Pertama, ada bagian Bapa dan ada bagian kita. Bagian bapa bersyarat, jika bagian kita sudah di lakukan. Kedua, bagian kita adalah 'mengampuni'. Disitu kata 'mengampuni' satu-satunya kata kerja. Artinya, itu perintah yang harus kita kerjakan sebagai bagian kita. Kalau mau mengampuni maka bagian Bapa baru akan terjadi di dalam diri kita. Menarik bukan? Ikuti pesan-pesan Holyland Ps. Sonny Zaluchu di BB 2B03FD54. 

Ada tour khusus yang sangat lengkap 12-23 Mei 2016 ke Holyland berupa Bible Study. Tertarik belajar BIBLE STUDY langsung di Tanah Perjanjian? Segera daftar di 081325854343 biaya all in untuk 12 hari USD 2.350. Jika pengajaran ini jadi berkat buat anda, pls tag di wall FB anda atau di share. Toda raba

Senin, November 02, 2015

APA KABAR "BLOOD MOON?"

Apa kabar pengikut Blood Moon? Koq gak ada lanjutannya? Pernah lihat foto ini di internet yang "katanya" blood moon di atas Citadel (Menara Daud) Jerusalem? Hehehehe....anda salah! Itu dua foto yang berbeda (Citadel at Night dan Bulan yang diwarnai merah). Kedua foto ini ada di internet, lalu SAYA SATUKAN dengan PHOTOSHOP...tadaaaa.....jadilah seperti yang "kita anggap seperti itu" Ini membuktikan bahwa kita menggunakan hal hal yang salah untuk membangun teologi yang juga ternyata salah...entah apa lagi nanti teori yang muncul setelah era blood moon ini lewat. Friends, setialah pada firman dan bukan pada fenomena aneh-aneh di luar sana! Jangan heboh...Firman itu pelita bagi kaki...jika tidak punya firman sebagai pelita dikakimu, jangan ganti dengan blood moon dan teori-teori aneh lainnya...

Sabtu, Oktober 31, 2015

Buku Terbaru Ps. Sonny Zaluchu: SHOFAR

SUDAHKAH ANDA MEMILIKI BUKU "SHOFAR"
Buku ini membahas aspek profetik dan berkat ketika kita meniupnya
Juga mempersiapkan kita untuk kedatanganNya yang kedua
Bagaimana menjadikan SHOFAR sebagai penanda Jehovah Jireh?
Dapatkan bukunya melalui pemesanan di 081325854343
Harga Rp. 50.000 (belum termasuk ongkir)





PROPHETIC INSIGHT TAHUN AYIN VAV 5776


Ps. Dr. Sonny Eli Zaluchu
Gembala Senior City Blessing Church G2CC Graha Padma Semarang
Menulis buku: Holyland – Jejak Kaki Tuhan di Tanah Suci
Sedang melakukan studi Hebrew Roots of Christianity.

Pendahuluan
Bagi bangsa Israel, angka bukanlah sekedar angka. Terdapat pengertian dan nama dibalik sebuah angka tertentu. Tahun baru 5776 dinamakan tahun Ayin Vav, yang berasal dari angka 70 (Ayin) dan angka 6 (Vav). Penjelasan lengkap tentang pewahyuan ini dapat dibaca dalam bab Secrets of the Hebrew Alphabet and Words dari buku Breaking the Jewish Code yang ditulis oleh Perry Stone (FloridaL: Charisma House, 2009, p.35-58). Berdasarkan nama itulah, dirumuskan arti profetik dari nama sebuah tahun yang sedang dimasuki dan akan dijalani. Makna ini akan menjadi berkat dan penuntun profetik bagi orang-orang percaya.

Ayin (70)
Kita sudah mengerti bahwa kata Ayin artinya mata. Ini berbicara tentang sesuatu yang mengawasi, mengamat-amati dan melihat-lihat. Pengertiannya secara rohani merujuk pada kalimat yang dituliskan Mazmur bahwa mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik (Amsal 15:3).  Dalam Hebrew Bible dijelaskan sangat deskriptif bahwa The eyes of יהוה are in every place, Watching the evil and the good. Artinya tidak ada tempat dimana Tuhan tidak tahu dan tidak ada tempat yang tersembunyi dari pengawasan mata Tuhan. Di neraka sekalipun, Tuhan melihat apa yang terjadi di sana, apalagi di tempat manapun di muka bumi, termasuk di dalam hati manusia dimana hanya manusia itu sendiri yang tahu.

Tetapi kata Ayin juga memberikan penekanan. Selain mengawasi setiap orang dan perilaku mereka, Tuhan memusatkan perhatiannya pada orang-orang yang takut akan Dia. Terhadap hal ini, Pemazmur mengatakan bahwa sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya (Mazmur 33:18). Ketika ‘mata Tuhan’ tertuju kepada orang yang takut kepada-Nya, maka Tuhan tidak akan pernah membiarkan orang itu. Tuhan menjaga-Nya di setiap jalannya. Ini berbicara tentang penyertaan Tuhan yang selalu ada dan pemeliharaan-Nya yang nyata. Dia selalu menyediakan apa yang dibutuhkan  dan menjauhkan dari hal-hal jahat. Darimana kita mengetahuinya? Ayat selanjutnya dari Mazmur 33:19 menjadi jawabannya. Tuhan melepaskan jiwa orang-orang yang takut kepada-Nya dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan. Luar biasa bukan? Hebrew Bible menulis to deliver their being from death, And to keep them alive during scarcity of food. Artinya, orang yang berada di dalam pandangan mata Tuhan, berada di dalam proteksi Tuhan, baik jiwanya, maupun kebutuhan-kebutuhan materialnya di dalam menjalani hidup.

Vav (6)
Dalam The Ancient Hebrew Lexicon of the Bible dijelaskan bahwa kata VAV diterjemahkan sama dan atau ditulis sama dengan kata WAW, berasal dari kata Semit. Kata itu dalam bentuk piktograf digambarkan berbentuk Y yang menjelaskan bentuk sebuah pasak dari kayu, yang umum dipergunakan untuk mengikat tali pada tenda. Juga di dalam pengertian modern, VAV artinya "pasak" atau "hook" dan juga diterjemahkan sebagai sebuah kait, agar kuat dan kokoh sehingga sesuatu menjadi aman. Dengan demikian, sebuah pengait adalah penghubung (connection) antara sesuatu yang diikat dengan tambatan dari ikatan tersebut. Penghubung ini menjadi kunci yang membuat sebuah hubungan tetap terikat kuat, kokoh dan aman. Tali yang digunakan untuk mengikat, karena keberadaan pengait, menjadi tidak ‘terpeleset’ sehingga berakibat longgarnya ikatan. Pengait ataupun pasak, memiliki fungsi yang sangat penting.

Kata VAV dalam kaitannya sebagai connection pertama kali disebut justru di dalam Kejadian 1:1. Itu adalah ayat pertama dari firman Tuhan sendiri yang menjelaskan tindakan Allah yang pertama-tama dicatat. Disitulah dikatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1). Membaca kalimat ini dalam pemahaman umum, memberikan informasi bahwa langit dan bumi adalah tindakan mula-mula Tuhan dalam mengawali karya-Nya terhadap semesta. Dalam Hebrew Bible dideskripsikan lebih jelas bahwa Tuhan pertama-tama melakukan pemisahan antara surga (heavens) dan bumi (earth). In the beginning Elohim created the heavens and the earth. Ternyata, jika kalimat tersebut diselidiki di dalam bahasa Ibrani, terlihat bahwa ada huruf VAV di sana. Perhatikan transliterasi di bawah ini: bə·rê·šîṯ  bā·rā  ’ĕ·lō·hîm;  ’êṯ  haš·šā·ma·yim  wə·’êṯ  hā·’ā·reṣ atau “In the beginning G d created the heavens and [vav] the earth”. Untuk pertama kalinya di dalam Alkitab, kata VAV muncul. Disana VAV berfungsi membuat connection antara ‘apa yang ada di langit, tempat Tuhan bersemayam’ dengan ‘apa yang ada di bumi tempat manusia berada’. Ini berbicara tentang kekuatan yang menghubungkan dan mengikat antara langit dan bumi. Yang maknanya berarti menghubungkan hal-hal rohani (spiritual) dengan hal-hal materi (physics). Dengan demikian VAV bicara tentang adanya suatu hubungan yang lebih kuat dan nyata antara apa yang ada di atas sana (Tuhan) dengan apa yang ada di bumi (manusia). Mengikat keduanya, bersama-sama.

Dalam kaitannya dengan Tabernakel Musa, VAV juga  muncul dan menjelaskan hubungan antara yang ada di dalam halaman (yang suci) yang ada di luar (manusia). Perhatikan ketentuan yang dibuat Tuhan kepada Musa untuk membuat perbatasan antara pelataran kemah suci (yang tidak boleh dimasuki oleh sembarangan manusia) dengan bagian luar dimana setiap orang bebas berada. Di dalam Keluaran 27:9-10  aturan tersebut berbunyi: "Haruslah engkau membuat pelataran Kemah Suci; untuk pelataran itu pada sebelah selatan harus dibuat layar dari lenan halus yang dipintal benangnya, seratus hasta panjangnya pada sisi yang satu itu. Tiang-tiangnya harus ada dua puluh, dan alas-alas tiang itu harus dua puluh, dari tembaga, tetapi kaitan-kaitan tiang itu dan penyambung-penyambungnya harus dari perak.”  Dalam Hebrew Bible muncul jelas kata ‘hook’ sebagai pengait. And its twenty columns and their twenty sockets of bronze, the hooks (vav) of the columns and their bands of silver. Pagar penutup pelataran kemah suci berdiri dan diikat dengan pengait!

Hal yang menarik lainnya adalah kata VAV yang merepresentasikan manusia. Kembali kepada kitab Kejadian, Allah menciptakan manusia pada hari yang keenam (Kejadian 1:27-31).  Penciptaan manusia merupakan puncak dari karya Allah yang sangat luar biasa. Sebab, manusia adalah satu-satunya ciptaan yang diciptakan IMAGO DEI (serupa dengan gambar Allah). Ini mengingatkan kita semua bahwa kita adalah sosok yang berharga sebagaimana ditulis dalam nubuatan Yesaya: Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu (Yesaya 43:4). VAV mengingatkan betapa pentingnya manusia di mata Tuhan.

Yang tidak boleh dilupakan adalah pengertian VAV dalam konsep apokaliptik. Kalau satu hari Tuhan adalah seribu tahun manusia secara kronologis, (tertulis di dalam Kitab 2Petrus 3:8  - Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari) maka ini merupakan peringatan bagi kita semua. Tahun Ayin Vav menjadi penanda profetik yang menjelaskan pertanda kehidupan umat manusia sedang di bawa memasuki milenium ke-enam. Memang masih lama sekali menjalani seribu tahun kronologis itu secara linier tetapi ini adalah masa-masa terakhir. Sebab, setelah milenium keenam ini berakhir, maka generasi umat manusia memasuki milenium terakhir (yang ketujuh) dimana Tuhan sendiri berhenti di dalam segala perjaan-Nya dan menjadikan hari itu sebagai sabat. Jika sejarah umat manusia dilihat paralel dengan kronologis penciptaan, maka patut diduga, masa kedatangan Tuhan yang kedua sudah diambang pintu. Adakah kita bermain-main dengan hidup ini? Atau justru kita harus semakin terpacu mnelekat kepada-Nya dan membersiapkan generasi yang menyonsong kedatangan-Nya yang kedua kali?

Penutup
Saya tertarik pada sebuah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang mengatakan, be shanah haba’a be Yerusalayim. Kalimat ini diucapakan oleh para peziarah kepada sesama peziarah, saat mereka selesai menjalankan ibadah mereka di Yerusalem. Tidak pernah ada kata perpisahan. Yang ada di dalam kalimat itu adalah harapan, bahwa ‘tahun depan kita akan bertemu lagi di Yerusalem’. Demikian halnya kita di bumi ini, hanyalah peziarah yang sebetulnya ‘tidak kebetulan’ berada di satu waktu tertentu dan masa tertentu. Setiap orang di setiap zaman dan generasi yang berbeda, selalu disatukan oleh harapan yang sama, untuk bertemu di Yerusalem entah itu fisik yang sekarang ada di Israel sana, terlebih lagi Yerusalem Baru, dimana kita semua kelak berada. Dan tahun Ayin Vav ini mengingatkan kita bahwa telah ada satu connecting yang membuat semua itu terjadi. Jika ditulis, kata VAV seperti L yang terbalik. Penulisannya menarik. Dimulai dari menarik garis pendek dari kiri ke kanan, lalu bersambung lurus panjang ke bawah. Hubungan yang dijelaskan di atas, bukanlah inisiatif manusia, tetapi ide Tuhan sendiri melalui Yesus Kristus. Dia adalah Yeshua Hamashiah yang turun ke bumi dan menjadi manusia. Baca baik-baik apa yang ditulis di dalam Yohanes 1:14 , bahwa  “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”.  Firman yang menjadi manusia itu adalah VAV yang disediakan Tuhan buat kita sehingga senantiasa kita terikat kepadaNya dengan kuat, kokoh dan aman. Hanya dengan terikat kepada-Nya lah, hidup kita akan berdiri dan tidak akan pernah goyah. Shanah Tova ! (Diijinkan menggunakan artikel ini untuk publikasi gereja dengan mencantumkan penulis dan sumbernya. Penulis dapat dihubungi di gloryofgodmin@gmail.com dan pin 2B03FD54).