Minggu, Januari 19, 2014

HOLYLAND MARET 2014




HOLY LAND MARET 2014
Mesir (1), Sinai (1), Jerusalem (3), Tiberias (2), Dead Sea Jordania (1)
By: Emirates. Hotel *4/5. Bus VVIP+Free Wifi.

Highlight: Mount Hermon, Banyas, Nain, City of David, Siloam, Gihon Spring, David's Well,
Dome of the Rock, Golden Gate, Tunnel, Kiryat Jearim, Shiloh, Dead Sea,
Sinai, Bukit Muqatam, Dalmanutha, Boaz Field

Bersama HOLYLAND Center Indonesia dan BLESSING Holyland Tour
Info/Pendaftaran: 081.32.585.4343

Rabu, Januari 15, 2014

Rabi Kaduri – Ariel Sharon – Nubuatan Kedatangan Mesias

Ps. Sonny Eli Zaluchu (G2CC Semarang)
Silahkan kutip untuk penerbitan gereja/referensi dengan menyebutkan sumbernya

HARI-hari ini di BBM di kalangan Kristiani beredar dengan cepat berita usang tentang akhir zaman dan menjadi agak baru setelah dikaitan dengan ramalan seorang Rabi Yahudi bernama Yitzhak Kaduri. Rabbi ini dikabarkan punya kemampuan meramal masa depan dan telah meninggal dunia. Menurut kabar yang bereda, dia mengaku didatangi oleh Al-Masih atau Sang Penyelamat pada tahun 2006. Juga dikabarkan bahwa Kaduri menubuatkan tentang kedatangan Mesias pasca kematian Ariel Sharon, mantan Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri Israel. Saya kutib salah satu pemberitaan itu dari sebuah media online:  “Menurut pemuka Yahudi dari mazhab Sephardic Haredim ini, Al-Masih mengatakan bahwa dirinya tidak akan turun ke bumi sampai Sharon meninggal. Dua bulan setelah ramalan tersebut Sharon jatuh koma dan Kaduri meninggal di usia 108 tahun….Delapan tahun kemudian, Sabtu lalu, Sharon meninggal dunia. Kaduri tidak menyebutkan waktu dan tempat yang spesifik soal kedatangan Al-Masih. Hanya dikatakan "setelah kematian Sharon".  (http://dunia.news.viva.co.id/news/read/472669-kematian-ariel-sharon-dan-ramalan-kedatangan-al-masih).

Siapa Kaduri
Rabi Kaduri adalah Rabi Yahudi kelahiran Bagdad, Irak, yang dikenal memiliki kemampuan profetik dan meninggal pada usia 108 tahun. Beliau sangat terkenal tetapi rendah hati. Rabi ini punya pengikut yang sangat banyak dan penerus yang bahkan kini menjadi salah satu pelaku politik di Israel melalui aktifitas mereka di partai politik. Rabi karismatik ini menjelang kematiannya, dikabarkan meninggalkan catatan tertutup yang mengungkapkan nubuatan tentang Mesias termasuk di dalamnya berisi nama dari Al-Masih yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Menurut berita, catatan itu sempat dipublikasikan di situs Kaduri tetapi akhirnya dihapus kembali karena menimbulkan kehebohan di kalangan penganut agama tertentu.

Mengapa Ariel Sharon?
Menariknya, dalam catatan nubuatan itu, Kaduri menyinggung nama mantan Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.  Ariel Sharon dikenal sebagai seorang pemimpin Israel yang memilih melakukan kekerasan dan melakukan perang dalam mempertahankan berdirinya negara Israel dan untuk melawan musuh-musuh Israel. Perang dan kekerasan adalah pilihan utama Ariel Sharon dalam mempertahankan diri selama konflik berlangsung. Ucapannya yang terkenal: “sebelum musuh-musuh Israel menghancurkan Israel, maka kita perlu menghancurkan mereka terlebih dahulu…” Atas sikapnya yang radikal itu, Ariel punya banyak pengagum dan sekaligus juga musuh di kalangan bangsanya sendiri. Terlebih lagi di kalangan musuh-musuh Israel, nama Ariel sangat jauh tidak populer dan dianggap sebagai musuh nomor satu yang perlu diganjar akibat tindakannya yang dianggap sebagai penjahat perang.

Nubuatan Kaduri menjadi terkenal karena ada nama Ariel Sharon di dalamnya. Sebetulnya, Ariel Sharon tidak punya hubungan apapun dengan konten dari berita yang hendak disampaikan Kaduri. Tidak ada hubungannya dengan aktifitas dan sepak terjang Ariel Sharon selama beliau masih hidup. Orang yang bergerak dalam dunia profetik akan mengerti bahwa sebuah ‘pernyataan’ kadang membutuhkan patokan di dalam garis profetik. Kebetulan saja dia tokoh terkenal dan melalui patokan itu, orang akan mudah mengingat ‘pesan profetik’ yang disampaikan. Akan beda, misalnya, jika dikatakan setelah kematian Pak Amir tukang becak, maka Mesias akan datang. Penyebutan nama Pak Amir menjadi sebuah patokan profetik. Tetapi orang yang tidak kenal Pak Amir akan cenderung mengabaikan pesan profetik itu dan menganggapnya angin lalu. Nama Ariel Sharon disebut dan semua orang tiba-tiba mengingatnya !

Apa kata Alkitab tentang KedatanganNya?
Sebelum menganalisis nubuatan Kaduri, ada baiknya saya kutip beberapa pernyataan Alkitab sebagai ‘patokan’ kita dalam merespon fenomena berita akhir zaman ini. Paling tidak, ada empat catatan penting yang mengingatkan kita tentang berita akhir zaman, menurut catatan di dalam Alkitab. Apa saja catatan itu:

Pertama, Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang telah datang ke bumi dan akan datang kembali ke bumi di akhir zaman.
- Matius 2:4  Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
- Matius 16:16  Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
- Kisah 1:11  dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Kedua, tidak ada seorangpun yang tahu kapan Dia datang
Markus 13:32  Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."
- Markus 13:33  "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.
- Lukas 17:34  Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

Ketiga, hanya ada tanda-tanda menjelang kedatanganNya yang kedua kali
Mat 24:32  Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
- Mat 24:33  Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
Mat 24:36  Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."

Keempat, kedatanganNya adalah identik dengan akhir zaman
Mat 24:3  "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?"
- Mat 24:30  Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
- Mat 24:31  Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan  mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.

Dari keempat hal tersebut menjadi jelas bagi kita bahwa berita akhir zaman telah dinubuatkan oleh Alkitab sendiri dengan tegas dan sangat spesifik kecuali satu hal: soal waktu kedatanganNya, tidak ada seorangpun yang tahu. Berkali-kali kita belajar di dalam sejarah mengenai orang-orang yang mengaku mendapat pewahyuan tentang waktu kedatangan Tuhan yang kedua kali, bahkan mengaku telah melakukan p;erhitungan dengan tepat, tetapi berkali-kali pula kita berhadapan dengan fakta bahwa semua perkiraan dan pengakuan mereka itu, tidak terbukti. Yang pasti adalah: (1) Tuhan Yesus dari Nazaret adalah Mesias, (2) Dia sudah datang ke dalam dunia dan setelah kebangkitannya dari kematian, Dia terangkat ke Surga dan akan datang lagi menjelang akhir zaman; (3) Tidak ada seorangpun yang mengetahui persis kapan Dia datang!

Mengkritisi Kaduri
Berdasarkan ungkapan Alkitab tersebut, maka sekarang kita akan meneropong berita akhir zaman yang disampaikan beberapa orang dengan mengutip pernyataan Kaduri.

a.       Dalam hal ini Kaduri benar
-          Kaduri tidak menjelaskan tanggal yang spesifik mengenai kedatangan Mesias kecuali memberikan patokan melalui kematian Ariel Sharon (siapapun bisa memberikan patokan dan bebas memilih siapa saja). Ini merupakan sebuah tanda saja dan respon kita adalah belajar dari tanda-tanda zaman yang ada !
-          Kaduri menegaskan kedatangan Mesias sudah dekat (sama dengan berita akhir zaman yang sudah berulang kali disampaikan dari masa ke masa oleh banyak hamba Tuhan). Ini adalah sebuah penegasan bagi generasi sekarang mengenai akhir zaman yang mungkin sudah semakin dekat. Respon kita adalah mempersiapkan diri menyongsong kedatangan-Nya.
-          Kaduri adalah Rabi Yahudi. Sebagaimana kita tahu Yahudi pada umumnya menolak YESUS sebagai Mesias. Tetapi menurut kabar orang yang mengutip catatan Kaduri disebutkan bahwa Mesias adalah “Messiah’s name is Yehoshua, Yeshua, Yahusha” atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Yesus.  Hal ini didapat dipakai sebagai sebuah penegasan terhadap iman Kristiani di dalam nama Yesus.

b.      Dalam hal ini KADURI perlu dikritisi
Tetapi kita perlu juga melihat secara kritis pernyataan nubuatan yang disampaikan oleh Kaduri agar iman kita sendiri tidak goncang dan tidak menghubung-hubungkan dengan hal apapaun.
-          Kaduri adalah Rabi Yahudi dan bukan Rabi Mesianik. Rabi Yahudi tidak percaya Yesus dari Nazaret sebagai Mesias, sedangkan Rabi Mesianik percaya bahwa Mesias adalah Yesus dari Nazaret dan lahir menjelma sebagai manusia melalhu kelahiran lewat perawan Maria. Pengharapan Mesianik Yahudi berbeda dengan pengharapan Mesianik pengikut Mesianik. Pengharapan Mesianik Yahudi adalah: Mesias belum datang dan akan datang. Pengharapan Mesianik pengikut Mesianik: Mesias sudah datang yakni Yesus Kristus dari Nazaret dan telah menjadi juru selamat dunia melalui kematian di Salib dan kebangkitanNya dari dunia orang mati dan terangkat ke Surga dan akan datang kembali untuk kedua kalinya untuk menghakimi umat manusia. Jadi apa yang disampaikan Rabi Yahudi berbeda ‘frame’ dan ‘understanding’ dengan aliran Mesianik dan kekristenan.

Berikut saya kutip pernyataan Rabbi Stuart Federow
“Most Christians identify the messiah with Jesus, define him as Gd incarnate, and believe he died for the sins of humanity as a blood sacrifice. This requires that one accept the concept of vicarious atonement. However, as was illustrated and explained in the essay "One person cannot die for the sins of another," this idea is the opposite from what is written in Deuteronomy 24:16, 'Every man shall be put to death for his own sin' -- also expressed in Exodus 32:30-35 and Ezekiel 18. The mainstream Christian idea of the messiah also assumes that Gd wants and will accept a human sacrifice. After all, it was either Jesus-the-human or Jesus-the-divine who died on the cross. Jews, and presumably, Christians as well, believe that Gd cannot die, and so all that Christians are left with, in the death of Jesus on the cross, is a human sacrifice. However, in Deuteronomy 12:30-31, Gd calls human sacrifice an abomination, and something He hates: 'for every abomination to the Etrnl, which he hateth, have they done unto their gods; for even their sons and their daughters they have burnt in the fire to their gods.' All human beings are sons or daughters, and any sacrifice to Gd of any human being would be something that Gd would hate. Therefore, the Christian conception of the messiah consists of ideas that are unbiblical.” (http://www.whatjewsbelieve.org/explanation3.html)

Sebagaimana kita ketahui bersama, Yahudi pada umumnya menolak YESUS dari Nazaret yang telah datang ke dunia dan bangkit dari kematian, naik ke Surga kemudian datang lagi untuk kedua kalinya.  JIKA Yesus yang dimaksud Kaduri adalah Yesus dari Nazaret maka Kaduri benar. Tetapi jika berbeda dari ‘Yesus dari Nazaret’, maka dalam hal ini, apa yang disampaikan Kaduri yang relevan dengan iman Yahudi dan sangat bertolak belakang dengan iman Kristiani. Harap di catat bahwa Kaduri tidak memberi catatan mengenai siapa Yeshua yang dimaksud. Itu sebabnya, nubuatan ini bersifat terbuka dan tidak spesifik dan hanya untuk kepentingan agama Yahudi saja.

Nama Yeshua adalah nama umum yang ada di Israel. Jika di katakan bahwa Mesias sudah ada dan dipersiapkan maka itu merujuk pada ‘manusia’ dan bukan ‘anak Allah dari Surga’.  Ketidak tepatan dan analisis ini dapat menolong kita untuk ‘tidak terlalu’ heboh menanggapi nubuatan Kaduri.

-          Sejauh yang coba saya cari dan teliti dari sumber-sumber di internet, saya masih belum menemukan naskah asli Kaduri yang katanya pernah di upload di internet. Dalam hal ini, fenomena yang terlihat adalah nubuatan Kaduri baru sebatas ‘kutipan demi kutipan’ dan bersifat ‘katanya’. Segala sesuatu yang tidak jelas sumbernya punya kebenaran yang relatif dan patut dipertanyakan. Seharusnya, kita perlu meneliti dengan seksama ‘naskah catatan Kaduri’ yang asli sehingga memperoleh gambaran yang jelas dan benar bagaimana sebetulnya maksud Kauduri dengan catatannya itu. Semua orang bisa berkata apa saja di internet dan bisa merujuk apapun untuk memihak nubuatan tersebut. Selama catatan itu tidak ada (dan katanya telah dicabut dari situs Kaduri), maka kita patut curiga bahwa ada agenda tersembunyi dibalik gembar-gembor akhir zaman yang melanda Kekristenan belakangan ini.

Penutup

Jangan heboh ! Kita semua sudah tahu sebagai orang Kristen bahwa akhir zaman adalah masa yang pasti dan akan segera. Kapan dan bilamana? Tidak seorang pun tahu persisnya. Kekristenan kita dibangun bukan atas ramalan atau nubuatan manusia. Setepat-tepatnya nubuatan, tidka lebih tepat dari firman Allah yang tertulis. Kita membangun iman kita bukan atas dasar nubuatan tetapi atas dasar firman. Bagian kita dalam berita akhir zaman adalah memberitakan pada setiap generasi bahwa Tuhan sang Mesias itu akan datang dan segera datang. Hidup harus dibaharui. Jangan sampai ketika Dia datang, Dia mendapati kita masih berdosa. Kita semua harus mempersiapkan diri setiap waktu sebab kata-Nya: berjaga-jagalah ! Siapa tahu Dia datang sebentar lagi ! Semoga Tuhan memberkati kita semua

Rabu, November 20, 2013

SIAPAKAH YESUS DAN APAKAH KARYANYA?

-   Sebuah refleksi kritis Kristologi Alkitabiah -
Oleh : Ps. Sonny Eli Zaluchu, M.Th, D.Th
Alumnus Program Pascasarjana STBI Semarang
(ijin kutipan diberikan dengan mencantumkan sumber)

Dua hal yang sangat penting dalam hal kristologi adalah adalah siapakah Kristus (pribadiNya) dan apakah yang menjadi rencanaNya di dalam dunia (karyaNya). Keberadaan Yesus ditegaskan oleh Alkitab sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia[1], dan menjadi bagian dari rencana Allah untuk membawa manusia berada di dalam hidup yang kekal.[2] Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, dari sejak Yesus datang dan melayani ke dalam dunia, hingga abad 21 ini, selalu saja terjadi kontroversi dan perdebatan yang tidak pernah selesai tentang Kristus. Pokok perdebatan itu berkisar tentang siapakah sebetulnya Yesus Kristus itu. Betulkah Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia? Ataukah manusia di atas rata-rata karena kodrat ilahi di dalam diriNya? Ataukah Ia benar-benar Allah yang seolah-olah terlihat seperti manusia?

A.  Potret Kristus yang Salah
Sorotan terhadap pribadi Kristus dari masa ke masa tidak pernah selesai. Perdebatan mengenai keilahian Kristus, selalu mewarnai diskusi para teolog, mulai dari kalangan paling Injili hingga mereka yang berpaham liberal. Tidak jarang dalam perdebatan itu, Kristologi disusun terlalu jauh melenceng dari apa yang Alkitab saksikan tentang Yesus, sehingga melahirkan pendapat yang salah tentang Kristus dan pengajaran-pengajaran yang bersifat menyesatkan (bidat). Hal ini terjadi karena manusia mencoba memahami Kritus menggunakan argumen-argumen teologis yang berpusat pada intelektual, pengalaman, filsafat bahkan rasionalitas.
Berikut ini tinjauan singkat tentang perkembangan pemikiran Kristologi di dalam sejarah kekristenan.

Abad 2-4 M
Abad kedua hingga keempat masehi, diwarnai dengan perdebatan-perdebatan awal mengenai Kristologi oleh para tokoh gereja dan teolog mula-mula. Puncaknya adalah disingkirkannya sejumlah ajaran bidat dan disepakatinya rumusan Chalcedon (451 M) sebagaikerangka utama gereja di dalam memandang Kristus. Di dalam abad-abad awal ini bermunculan sejumlah ajaran yang antara lain[3]:

Doketisme, sebuah paham yang menghilangkan kemanusiaan Kristus dan memandang bahwa Yesus hanya terlihat menyerupai manusia. Akibatnya Allah dianggap tidak sungguh-sungguh datang kepada manusia karena dibangun dalam sebuah pandangan bahwa materi pada hakikatnya jahat dan bahwa Allah tidak memiliki perasaan dan pengalaman manusiawi;

Ebionisme, gerakan dari cabang Kristen Yahudi yang menghapuskan sama sekali keilahian Kristus dan menganggap Yesus adalah manusia biasa, anak Yusuf dan Maria, seperti kebanyakan manusia lainnya. Keistimewaannya adalah dia diangkat dalam derajat yang lebih tinggi daripada manusia lainnya, sebagai Mesias oleh Allah dan diurapi dalam pembaptisan di sungai Yordan oleh Yohanes;

Gnostik, paham yang mengatakan bahwa Kristus turun dari surga dan kemudian menggabungkan diri dengan Yesus historis. Saat di salib, Kristus kemudian meninggalkan Yesus dan membiarkannya menderita, mati sendirian. Paham ini mengajarkan bahwa Yesus cuma manusia biasa dan bukan Allah;

Arianisme, ajaran yang dipelopori oleh Arius, seorang imam dari Alexandria Mesir. Arian mengajarkan bahwa Kristus tidak ada sebelumnya dan kehadiranNya adalah karena diciptakan. Dalam keadaan diciptakan itu, Yesus disebut Anak, Logos,  Awal Ciptaan Allah. Tetapi meski Anak disebut Allah, Dia bukanlah Allah. Dia sekedar makhluk ciptaan saja. Pandangan ini menyangkal keilahian Yesus dan kesetaraanNya dengan Bapa dan Roh Kudus.

Apolinarisme, dirumuskan oleh Apolinaris, uskup dari Laodekia. Ajaran ini mengatakan bahwa Anak Allah menempati tubuh manusia sehingga Kristus tidak memiliki kodrat manusia sepenuhnya. Anak Allah yang kekal itu mendukung roh atau pikiran Yesus Kristus. Tubuh dan jiwanya merupakan bagian dari kemanusiaan sedangkan Anak yang Kekal adalah bagian dari keilahiannya. Ajaran ini menyangkal totalitas manusia di dalam Kristus dan dianggap menyesatkan karena menyangkal bahwa Allah benar-benar menjadi manusia.

Nestorian, adalah ajaran Nestorius yang menjadi uskup Konstantinopel. Pengajarannya fokus pada kemanusiaan Yesus dan memisahkan kedua kodrat di dalam diri Yesus. Dia menekankan bahwa di dalam diri Yesus terdapat kepribadian ganda dan menyangkali bahwa ada kesatuan nyata antara hakikat kemanusiaan dan keilahian Yesus. Dia menjadikan Kristus sebagai manusia yang dipenuhi Roh, dipenuhi Allah, tetapi tanpa keilahian dan kemanusiaan sejati di dalam satu pribadi.

Kaum Eutikhes. Berlawanan dengan Nestorian, mengajarkan tentang kesatuan pribadi Kristus. Walaupun ada dua kodrat sebelum penjelmaan, hanya ada satu kodrat gabungan dan menjadi hakikat ketiga. Kodrat gabungan ini membuat Kristus memiliki satu kehendak dan satu hakikat di dalam ‘hakikat’ yang ketiga tersebut. Pengajaran ini menekankan hakikat ketiga itu adalah campuran hakikat ilahi dan hakikat manusia di dalam satu pribadi Kristus.

Ajaran demi ajaran yang kemudian dikenal sebagai bidat ini, terjadi karena gereja pada waktu itu masih belum memiliki rumusan baku Kristologi. Baru setelah melalui dua konsili, Konsili Nicea (325 M) dan konsili Konstantinopel (381 M), pandangan resmi gereja tentang Kristus dirumuskan di Chalcedon. Rumusan itu menegaskan Kristologi Alkitabiah yang menyebutkan, Yesus Kristus adalah satu, tetapi Ia memiliki dua sifat, yaitu yang Ilahi dan yang manusiawi. Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati, terdiri atas tubuh dan jiwa yang rasional. Ia sehakikat dengan Bapa dalam keAllahanNya dan sehakikat dengan manusia dalam kemanusianNya, kecuali dosa. Dalam keAllahanNya ia sudah ada bersama Bapa sebelum dunia dijadikan dan dalam kemanusiaanNya Ia lahir dari perawan Maria. Perbedaan dari kedua tabiat tersebut tidak berkurang ketika dipersatukan, namun keistimewaan masing-masing tabiat itu tetap terpelihara sekalipun disatukan di dalam diri Yesus Kristus. Yesus tidak terbagi menjadi dua pribadi; Ia adalah satu pribadi, yaitu Anak Allah.[4]

Abad Pertengahan
Penegasan ortodoks dari konsili Chalcedon tidak menyurutkan perdebatan tentang keilahian dan kemanusiaan Kristus. Di abad pertengahan (14 s.d 15 M) muncul dua kontroversi yakni monophysitisme dan monothelitisme.
Monophysitisme menolak konsep Kristologi Chalcedon dan mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu sifat ilahi. Pengajaran ini juga menekankan bahwa sifat Kristus dilebur menjadi satu dimana sifat Ilahinya telah mengalahkan sifat insaninya.[5] Pengajaran ini cenderung ke arah Apolinaris.
Sedangkan monothelitisme mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak yang menggantikan kedua sifatNya. Tetapi ajaran ini ditolak karena bukan saja menolak sifat ganda Kristus tetapi juga merendahkan keilahianNya. Sifat Ilahi dan sifat manusia Kristus telah saling melebur menjadi bentuk ketiga yakni enegi Ilahi, yang menjadi satu kehendak Kristus.[6]

Reformasi
Di masa reformasi, dua tokohnya yang terkenal Mathin Luther dan John Calvin juga merumuskan pandangannya tentang Kristologi. Meskipun menerima rumusan Chlacedon, Luter menganggap bahwa kedua sifat Yesus tersebut saling melebur sehingga terjadi penonjolan sifat keilahiannya. Calvin menolak pandangan Luther tersebut. Menurutnya kedua sifat itu tidak saling bercampur tetapi menyatu di dalam satu pribadi Kristus. Calvin menolak pandangan Nestorian dan Eutyches sebagaimana diteruskan oleh para pengikutnya hingga sekarang.[7]

Abad Sembilan Belas
Tantangan paling utama muncul di abad sembilan belas ketika para teolog liberal mulai menanamkan pengaruhnya. Orang-orang seperti Schleiermacher, Kant, Hegel, Ritschl dan Bath adalah pelopor Kristologi liberal dimana dasar teologi dan hermeneutik dari biblikal induktif diganti menjadi deduktif-subjektik filosofis, sebuah pendekatan subjektif menggunakan filsafat deduktif untuk merumuskan doktrin teologis, termasuk di dalamnya tentang Kristus dan karyaNya.[8] Fenomena ini dikokohkan dengan lahirnya Jesus Seminar yang merendahkan keilahian Kristus ketika mereka mempublikasikan The Five Gospel tahun 1993.[9] Seorang mantan imam Jesuit bahkan mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menegaskan dirinya sebagai Tuhan atau Kristus atau jalan menuju Tuhan. Hal yang pasti adalah bahwa Yesus tidak pernah sedikitpun memberikan tanda bahwa ia telah hidup sebelum ia dilahirkan.[10] Kristologi di abad kesembilan belas tampaknya bergeser dari pendekatan biblikal kepada pendekatan rasional dan mengusung tema utama, menggugat keilahian Kristus.

Abad Keduapuluh dan Keduapuluh Satu
Akhir abad dua puluh dan awal abad ke dua puluh satu, Kristologi Alkitabiah mengalami goncangan dengan munculnya berbagai pengajaran liberal melalui sejumlah publikasi prosa dan ilmiah-historis dan bentuk-bentuk baru dalam teologi. Agendanya tetap sama yakni menolak keilahian Kristus bahkan mengakui adanya jalur keselamatan lain di luar Kristus. Trend yang menguat adalah membuat pemisahan yang sangat dikotomi antara Yesus sejarah dengan Yesus iman bahkan memisahkan secara kontras sifat keilahian dari Yesus sejarah. Gerakan pluralisme menjadi salah contoh dari bentuk baru berteologi yang mencoba mempersempit bahkan mereduksi makna Kristologi. Melalui paham ini, terjadi sejumlah kompromi teologis dimana Yesus tidak lagi dianggap dan diperlakukan sebagai satu-satunya juru selamat dunia. Para penganutnya (dari kalangan Kristen) membuka diri terhadap kebenaran yang ada di dalam agama-agama lain.[11]
Perkembangan yang paling mengegerkan adalah bermunculannya karya sastra dan salah satunya adalah publikasi novel The Da Vinci Code yang terang-terangan mendepak keilahian Yesus dan mengeksploitasi penelitian sejarah sepihak penulisnya, bahwa Yesus adalah manusia biasa yang menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki garis keturunan.[12] Kristologi biblika semakin mendapat tantangan keras dengan terbitnya sejumlah Injil gnostik di luar kanon PB seperti Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Yesus, dsb. Bukan hanya itu, di abad ini juga, dunia teologis dikejutkan dengan publikasi film dokumenter dua orang yang bekerja sama membongkar dan melalukan penyelidikan terhadap sebuah makam yang awalnya ditemukan di musim semi tahun 1980. Makam itu dikenal dengan makam Talpiot yang belakangan diketahui memuat sepuluh osuarium[13] dan enam di antaranya memiliki prasasti. Di antara prasasti itu ditemukan satu prasasti yang memuat tulisan “Yesus, putra Yosef”.[14] Penemuan ini menghebohkan karena seolah-olah membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah. Berarti Dia tidak bangkit dari kematian bahkan tidak terangkat ke surga. Fakta keilahian Yesus, yakni hakekat Allah di dalam diriNya, dijungkirbalikkan; sebaliknya, hakikat kemanusiaan Yesus sejarah dimunculkan dengan kuat.
Perkembangan yang mencolok di abad 21 dalam hal Kristologi adalah, adanya usaha menarik batas yang tegas antara Yesus sejarah (yang pernah hidup di dunia) dengan Yesus iman yang diyakini sebagai Kristus oleh orang-orang Kristen dewasa ini. Salah seorang diantaranya adalah James D. Tabor yang mencoba merekonstruksi Yesus sejarah sebagai sosok manusia biasa yang pernah hidup.[15] Dalam rekonstruksinya, Tabor sama sekali menyingkirkan mujizat-mujizat di dalam pelayanan Yesus, kelahirannya dari perawan Maria dan kebangkitanNya.[16] Bagi kebanyakan sarjana yang berorientasi liberal, muncul anggapan bahwa Kristologi adalah pemisahan Yesus sejarah dengan bahasa teistik yang selama ini membungkus pribadi Yesus bahwa ia adalah Allah yang menjelma ke dalam dunia, menjadi manusia.[17] Agendanya cuma satu, menentang kodrat ilahi Yesus. Para teolog liberal ini mungkin lupa bahwa Alkitab memiliki bukti-bukti biblis yang paling kuat, yang menjamin keilahian Kristus. Pertama adalah bukti pra-eksistensinya. Bukti ini mengagas ide bahwa Yesus sudah ada sebelum kelahiranNya.”Sebelum Abraham ada, Aku ada” (Yohanes 8:58). Bukti kedua adalah peristiwa kelahiranNya yang ditandai dengan kunjungan Gabriel (supernatural) kepada perawan Maria (Lukas 1:26-38). Proses kelahiran ini sebagai akibat campur tangan ilahi dan bukan tindakan biologis manusia. Ketiga adalah kuasa ilahi Yesus dimana Injil mencatat bagaimana Ia melakukan tanda-tanda ajaib dan heran (menyembuhkan sakit penyakit, mengusir setan, membangkitkan orang mati, membuat mujizat) bahkan berkuasa mengampuni dosa manusia (Markus 2:8-11). Bukti keempat adalah kemuliaan ilahi yang menyertaiNya (penyataan kemuliaanNya) di atas sebuah gunung di depan mata ketiga orang muridNya (Markus 9:2-13). Kelima adalah tentang makna Yohanes 5:22 ketika Dia berkata, “Bapa menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak” Hal ini adalah sebuah deklarasi bahwa Yesus melakukan apa yang hanya bisa dilakukan Bapa, yakni mengadili dan menghakimi. Bukti ketujuh menjadi pelengkap penting, bahwa Yesus memiliki gelar ilahi yang menunjukkan satu kesadaran ilahi di dalam diriNya. Satu bukti terakhir yang tak terbantahkan adalah kuasa kebangkitanNya dari kematian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah dan bukan oleh manusia.[18]

B.  Alkitab Sebagai Landasan Kristologi
Beragamnya konsep Kristologi seperti di uraikan di atas menjelaskan bahwa dari masa ke masa, perdebatan tentang eksistensi Yesus Kristus tidak pernah selesai. Selalu terdapat perdebatan dan pertentangan teologis, baik di lingkup kaum awam, terlebih di kalangan para teolog yang berasal dari berbagai latar belakang berbeda. Kendati terdapat sejumlah pandangan kritis tentang keilahianNya, berbagai pendapat dan investigasi mengenai Yesus sejarah tidak pernah mampu mengubah fakta bahwa Yesus adalah manusia sejati dan juga Allah sejati. Inilah yang menjadi dasar bangunan teologi tentang Kristus yang dipertahankan gereja dan diterima sebagai satu-satunya kebenaran mutlak hingga kini.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa perbedaan demi perbedaan itu dapat terjadi? Jawabannya terletak sumber primer apa yang dipergunakan untuk menelaah Kristus.
Mencermati perkembangan Kristologi dari masa ke masa mengarahkan kita pada satu hal bahwa penggalian dan investigasi tentang pribadi Kristus yang menolak kredibilitas dan kesaksian Alkitab, hanya akan mengarahkan kita pada pengaburan makna dari pribadi Yesus yang sesungguhnya dan kemudian menghasilkan potret Kristus yang salah. Sebaliknya, penelitian yang seksama tentang kesaksian Alkitab dalam PL dan PB, akan mengarah siapapun menemukan fakta keilahian dan kemanusiaan Kristus melalui nubuatan, kesaksian para nabi, ungkapan para penulis Injil dan surat-surat rasul Paulus, bahkan kesaksian Yesus sendiri tentang siapakah diriNya. Di dalam Alkitab, terdapat berbagai fakta, kesaksian dan catatan otentik yang mendukung pernyataan tentang jati diri Kristus yang sesungguhnya. Dengan demikian, Alkitab adalah dasar pijakan yang seharusnya digunakan untuk membangun teologi tentang Kristus. Bukan justru menggunakan filsafat, konsep gnostik atau pengetahuan dan rasionalitas manusia yang selama ini terbukti gagal melihat sisi keilahian Kristus. Selama Alkitab digunakan sebagai dasar Kristologi, maka jalur untuk mencari jawaban yang benar mengenai siapakah Yesus sesunguhnya, baik di dalam PL[19] maupun di dalam PB[20], akan terbuka lebar.

C.  Siapakah Yesus?
Akhirnya, melalui beberapa catatan ringkas yang telah disinggung di atas mengenai pribadi Kristus sebagai manusia dan Allah, mengarahkan kita pada satu kesimpulan seperti di tegaskan di dalam 1 Timotius 3:16, tentang “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” memberikan kesaksian kepada kita bahwa Yesus adalah benar-benar Allah yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:6-11).
     Mendukung finalitas Kristus, Milne mengatakan, keilahian Yesus Kritus merupakan dasar pokok bagi kepercayaan bahwa penyataan Kristen bersifat akhir dan penyelamatan Kristen adalah sejati. Milne berargumen, jika bukan Allah sendiri yang datang kepada kita dalam Kristus (yang membuktikan dirinya mati di salib, bangkit dan naik ke surga), maka penyataan yang dibawaNya bukanlah penyataan terakhir dan mungkin masih akan diganti dengan yang lain.[21] Inilah yang menjadi dasar Kristologi sejati. Sebuah Kristologi yang dibangun bukan atas dasar teori, filsafat atau pemahaman intelektual manusia; melainkan yang dibangun atas kesaksian Alkitab.

D.  Keselamatan sebagai Karya Kristus
Sebuah pertanyaan penting untuk di jawab, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:19). Petrus dengan tepat menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Dua hakikat Yesus, sebagai manusia sejati dan Allah sejati, terlihat di dalam kalimat jawaban Petrus tersebut. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus disebut Mesias? Apakah Mesias? Apakah maksud kedatanganNya di dunia?
Akibat manusia pertama jatuh di dalam dosa, maka hubungan Allah dengan manusia menjadi rusak. Sebelum kejatuhan, Allah dan Adam bersekutu satu sama lain; setelah kejatuhan, persekutuan itu putus.[22] Manusia akhirnya berada dalam penghukuman kekal. Dosa telah mengikat segala aspek kehidupan manusia, sejak kejatuhan pertama di dalam taman Eden, sehingga manusia tidak dapat menolong dirinya sendiri dan diluar Kristus dinyatakan mati atas pelanggaran dan dosa-dosanya.[23] Orang yang mati secara rohani tidak mampu memberi keselamatan bagi dirinya sendiri.[24] Untuk itu, manusia perlu dipulihkan, baik hubungannya dengan Allah maupun statusnya secara rohani. Sejak kejatuhan, dosa telah menjadi bagian dari manusia di dalam dunia. Alkitab mengajarkan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.[25] Inilah yang menjadi alasan mengapa Yesus datang ke dalam dunia.
Harus dipahami bahwa karya Allah bagi manusia ini bukan hanya terfokus pada menciptakan manusia dan memeliharanya, tetapi juga menyelamatkan manusia yang berdosa itu dari hukuman kekal.[26] Rencana penyelamatan disusun dengan melibatkan anak tunggal-Nya, yaitu Yesus Kristus, untuk mati menggantikan pada pendosa.[27] Rencana Allah tersebut adalah sebuah anugerah keselamatan dengan tujuan persekutuan manusia dengan Allah dapat kembali dipulihkan.[28] Stot menegaskan bahwa melalui salib, Ia mengambil tempat kita, menanggung dosa kita, membayar hutang kita dan mati ganti kita.[29]
Kematian Yesus Kristus melalui salib adalah sebuah anugerah yang sama sekali tidak bergantung dari usaha manusia tetapi semata-mata inisiatif Allah. Cara kerjaNya di dalam mewujudkan keselamatan itu, ketika disusun, seimbang dan menyeluruh, artinya, tidak ditujukan hanya kepada sekelompok tertentu (dalam hal ini Israel) tetapi kepada seluruh manusia yang meliputi orang Kristen, hingga ke bangsa-bangsa. Orang-orang tersebut sebetulnya sudah dipersiapkan Allah di dalam kekekalan. Tetapi Allah memberikan kepada mereka kebebasan untuk kemudian memberi respon terhadap keselamatan yang sudah Allah sediakan melalui Kristus.  Allah dalam hal ini rela menunggu sampai orang tersebut sungguh-sungguh sadar dan mengalami pertobatan. Kebebasan tersebut (free will) tidak pernah melampauhi kewenangan, kedaulatan dan penetapan dari Allah. Dalam hal ini, keselamatan adalah anugerah dan setiap orang dituntut memberikan respon untuk mengambil anugerah itu.
Dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sebetulnya karya Kristus di dalam dunia mencakup dua hal utama, keselamatan itu terjadi karena kasih Allah (Yohanes 3:16) dan penebusan salib bersifat final yang sudah selesai dikerjakanNya. Artinya, karya keselamatan itu telah dilakukan. Segala yang diperlukan untuk keselamatan manusia telah terlaksana dan dipenuhi oleh Yesus di Kalvari.[30] Itu sebabnya Yesus disebut mesias, karena Dia adalah orang yang diurapi (anointed) untuk menjadi juru selamat umatNya.[31]

E.  Aplikasi dalam Pelayanan
Jawaban tentang siapakah Kristus dan apakah yang menjadi karyaNya di dalam dunia, melalui refleksi ini, membangun satu paradigma yang makin kuat, kokoh dan tak tergoncangkan, di dalam diri saya bahwa itu harus diberitakan dan dibela terus menerus. Keilahian dan kemanusiaan Kristus adalah sesuatu yang tidak bisa di tawar lagi dan finalitas karyaNya tidak bisa diganggu-gugat. Trend perkembangan teologi Kristus mungkin akan bergerak semakin cepat ke arah yang bertentangan dengan iman Kristen biblikal. Yang menjadi tantangan utamanya, adalah melakukan pemberitaan yang selalu didasarkan pada kesaksian Alkitab dan pembelaan iman Kristen melalui apologetika.
Secara praktis, saya akan menjadikan isu Kristologi Alkitabiah menjadi tema sentral di dalam penginjilan kepada jiwa-jiwa baru. Karyanya yang sudah final di atas kayu salib menjadi pokok pemberitaan kabar baik bagi setiap orang, bahwa tersedia keselamatan kekal yang harus direspon oleh manusia. Bagi mereka yang sudah percaya dan menerima karya keselamatanNya, tuntutan untuk menghargai karya itu melalui tanggung jawab dan kehidupan rohani yang lebih baik, adalah sebuah keharusan dan keteladanan bagi dunia. Bagi mereka yang belum mengenal Dia, keselamatan itu menjadi tema pewartaan supaya setiap orang menjadi selamat.
Pesan yang harus disampaikan di dalam setiap kesempatan bersaksi adalah, “Yesus Kristus hadir di dalam dunia sebagai penyataan diri Allah Anak dalam bentuk manusia, dikandung oleh kuasa Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria. Ia adalah Allah sejati dan manusia sejati, sebagai Tuhan, Juruselamat, Nabi, Imam Besar dan Raja”.
    



Jumat, Oktober 04, 2013

DAUD




Studi Karakter Tokoh Alkitab dari 2 Samuel
Oleh: Ps. Sonny Zaluchu

>> Ijin pengutipan atau pemuatan dalam warta gereja diberikan dengan tetap 
mencantumkan sumber tulisan dan penulisnya. Tuhan memberkati


Sejarah Singkat Kehidupan Daud
Di bukit Sion Israel, dekat dengan upper room (tempat para murid menerima Roh Kudus di hari pentakosta), ada sebuah patung yang sangat indah. Patung itu menggambarkan sosok seorang raja yang memegang kecapi di tangannya. Itulah patung raja Daud, seorang Raja Israel yang sangat dikagumi bahkan sampai hari ini. “Makam-nya” dekat patung itu berdiri, selalu ramai dikunjungi dan diziarahi. DAUD adalah salah satu raja Israel yang terkenal. Dari seorang gembala kecil, yang sempat diremehkan manusia dalam pemilihan raja Yehuda oleh Samuel, Tuhan promosikan hidupnya menjadi Raja Israel yang besar. Lahir sebagai bungsu di dalam keluarga besar Isai, orang Bethlehem. Setelah pengurapan turun atasnya, Daud terlihat berbeda. Dalam sebuah pertempuran melawan orang Filistin, pahlawan mereka, Goliat, dibunuh oleh Daud hanya dengan menggunakan pengumban. Tuhan terus menyertai Daud dan mengangkatnya naik, apalagi di dukung fakta bahwa Tuhan sudah tidak lagi menyukai Saul. Sempat menjadi pelarian di gurun karena tidak disukai dan dikejar-kejar Saul, tetapi proses itu justru membentuk ketangguhan karakter Daud. Dia bergaul dengan orang-orang buangan yang setia kepadanya. Pasca kematian Saul, Daud atas penetapan Tuhan menjadi Raja atas Yehuda di Hebron. Dia memerintah selama 7.5 tahun di sana. Kekuasaannya kemudian meluas. Seluruh Israel memintanya menjadi raja. Dan selama 33 tahun berikutnya, ia memerintah Israel di Jerusalem. Keberhasilannya menjadi inspirasi banyak orang. Bukti penyertaan Tuhan disetiap langkahnya, sangat nyata. Karakternya yang menonjol adalah cinta Tuhan. Perilakuknya banyak dibentuk kembali oleh Tuhan melalui berbagai masalah di dalam perjalanan hidupnya. Berbagai situasi, baik yang datang dari luar, terlebih dari dalam dirinya, dipakai Tuhan untuk mematangkan karakternya. Hasilnya, Daud finishing well. Dia menyelesaikan tugasnya sebagai raja Israel hingga ke suksesi yang  lancar, telah memutih rambutnya dan meninggal di dalam kemuliaan dan kehormatan. Berikut ini beberapa karakter Daud yang menonjol yang kiranya menjadi inspirasi buat kita.

§  Daud Sangat Mencintai Tuhan
Hubungan Daud dengan Tuhan sangat indah. Daud sangat cinta Tuhan sedemikian rupa sehingga merasa hidupnya hampa dan tidak punya apa-apa tanpa Tuhan. Kecintaannya pada Tuhan bukan hanya sebatas lip-service tetapi melibatkan jiwanya secara emosional. Dia dikenal sebagai raja yang bersedia memberi apapun dan melakukan apapun untuk Tuhan. Salah satu tanda cinta adalah memberi yang terbaik. Dan Daud, adalah contoh dari sedikit orang-orang di dalam Alkitab yang hidupnya selalu memberi yang terbaik untuk Tuhan. Baginya, Tuhan adalah segala-galanya dan di atas segala-galanya. Daud sangat mengerti bahwa segala pencapaiannya sebagai Raja yang diurapi, kaya secara material dan kerajaan yang demikian kokoh, terjadi bukan karena usahanya sendiri tetapi karena Tuhan menyertainya di satu sisi dan di pihak lain, karena Daud mengandalkan Tuhan. Kecintaannya akan Tuhan melahirkan banyak sekali Mazmur. Makanya Daud juga dikenal sebagai sosok pemuji dan penyembah dengan kecapi di tangannya. Setiap orang yang rindu mengalami perjumpaan dengan Tuhan selalu menjadikan Daud sebagai teladan. Di zaman PL, keberadaan Tuhan dimanifestasikan melalui tabut perjanjian. Di sana ada hadirat Tuhan dan itu adalah bagian yang paling disukai Daud. Pada waktu tabut diangkut ke Jerusalem agar dekat dengan kota Daud (dan Daud dapat setiap saat bergaul erat dengan Tuhan), Daud menari-nari secara luar biasa sambil mempersembahkan korban. “Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.” (2 Samuel 6:14). Daud menari dengan sekuat tenaga ! Cinta Tuhan, dalam pengertian Daud, bukan hanya diwujudkan dalam pemberian tetapi ekspresi yang melibatkan jiwa. Daud tidak malu menari buat Tuhan secara ekspresif, karena cinta selalu meluap dari dalam hatinya dan ia dengan tanpa malu-malu menyatakannya di hadapan Tuhan. Bagaimana dengan kita? Kadang terjadi hubungan dengan Tuhan cuma sebatas kepentingan. Saat butuh baru mencari Tuhan. Atau sering terjadi, kita justru malas berekspresi dan hanya beribadah kepada-Nya secara rutinitas. Cinta kepada Tuhan selalu dimulai dari sebuah gairah (passion) di dalam diri kita. Daud memilikinya dan kita pun harus memilikinya.

§  Daud Cepat Berbalik Pada Tuhan atas Dosa-dosanya
Daud manusia biasa. Natur dosa ada di dalam dirinya. Berkali-kali dia melakukan kesalahan di hadapan Tuhan tetapi dia segera menyadari kesalahan itu, dan cepat-cepat berbalik kepada Tuhan untuk meminta pengampunan. Daud tidak pernah dilaporkan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Memang Tuhan mengampuninya tetapi dosa adalah dosa dan setiap perbuatan itu melahirkan konsekuensi. Daud dengan rela menanggungnya. Dalam dosa perzinahannya dengan Bethsheba, Daud sangat takut kehilangan Tuhan. Daud menulis:  Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! (Mazmur 51:13). Disitu dipakai kata ‘membuang’ yang artinya seperti melempar barang yang sudah tidak berguna lagi. Daud menyesali dosanya dan tidak mengulangi lagi. Dia takut sekali menjadi barang yang terbuang di hadapan Tuhan karena tidak diperlukan lagi. Tentunya Daud belajar dari kepemimpinan Saul, pendahulunya. Berbeda dengan kebanyakan orang Kristen dewasa ini yang bolak balik jatuh dan bertobat untuk kesalahan serupa. Bahkan kadang begitu terikatnya dengan dosa sehingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan (perilaku yang dipertahankan). Salah satu aspek dosa adalah mencintainya. Dosa yang dicintai akan kita hidupi dan ketika hal ini terjadi kita tidak akan pernah mengalahkannya. Malahan terjerumus makin dalam. Mengapa Daud begitu cepat berbalik dari kesalahannya? Dia sadar bahwa dosa itu menjerat dan menenggelamkan. Dosa bahkan menjadi penghalang keintiman dengan Tuhan. Makanya orang Kristen bolak-balik berdoa tetapi doanya menguap di udara. Firman Tuhan berkata dengan tegas: Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. (Yesaya 59:1-2). Kita harus meneladani Daud dalam hal pertobatan. Sebab tanpa pertobatan, roh kita akan mati. Kita akan menjadi orang-orang yang terbuang dari hadapan-Nya. Padahal, melalui salib, ada satu garansi bagi pengampunan dan penebusan dosa yang selalu tersedia. Masalahnya, kita lebih senang membelakang salib daripada menghadap untuk mendekatinya.

§  Daud Selalu Mengandalkan Tuhan
Tuhan mendidik Daud sangat keras soal ini. Daud tidak pernah dibiarkan untuk mengandalkan satupun apa yang ada padanya kecuali Tuhan sendiri. Pernah satu kali Daud melakukan kesalahan kecil tetapi menjadi besar karena Tuhan tidak suka. Daud dengan gegabah menghitung rakyatnya. Tanpa sadar usaha itu menyakiti hati Tuhan dan membuat Daud jatuh di dalam kesombongan, menepuk dada sendiri sebagai wujud bahwa semua ini karena perjuangannya.  Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada TUHAN: "Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, TUHAN, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh." (2 Samuel 24:10). Penyesalan memang selalu datang belakangan. Daud tetap mengalami hukuman atas perbuatannya itu. Tuhan menjatuhkan tiga pilihan hukuman. “Tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini…” (2 Tawarikh 21:12). Daud memilih jatuh ke dalam tangan Tuhan. Kepada Nabi Gad ia berkata, "Sangat susah hatiku, biarlah kiranya aku jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab sangat besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia." (1 Tawarikh 21:13). Dalam hal ini, Daud lebih senang jatuh ke dalam tangan Tuhan daripada tangan manusia. Itu pilihan yang sangat tepat karena Daud merasa bahwa Tuhan tetap sayang padanya. Pengalaman tersebut mengingatkan, tidak boleh mengandalkan apapun dan atau bermegah atas apapun, kecuali pada Tuhan sendiri yang telah membuat semuanya itu berhasil. Dalam peristiwa yang lain, saat kota tempat tinggal rombongan Daud dibakar musuh dan anak-isteri serta harta kekayaan mereka diangkut musuh, Daud hampir dilempari orang-orang dengan batu. Mereka menyalahkan Daud. Tetapi Daud sama sekali tidak membela diri atau berbalik menyalahkan orang lain. Dia mencari kehendak Tuhan. Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya (1 Samuel 30:6). Di sini Daud memberi teladan kepada kita mengenai betapa pentingnya melangkah di dalam setiap keputusan dan situasi dengan – pertama-tama – melibatkan Tuhan. Tetapi kadang terjadi, kita justru mencari Tuhan dikesempatan terakhir setelah kita “habis-habisan”. Orang yang mengandalkan Tuhan selalu punya ciri: percaya bahwa Tuhan akan menolong dan memberi petunjuk, tepat pada waktunya. Kualitas yang sama harus ada di dalam diri kita. Harta, kekuasaan dan pengaruh dapat diandalkan tetapi itu semua terbatas dan tidak membawa kebaikan. Sebaliknya, Tuhan yang kita andalkan, adalah Tuhan yang mampu mengubah situasi dan memiliki kuasa di atas segala kuasa apapun, yang bahkan mengubah yang tidak mungkin menjaid mungkin. "Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku? (Yeremia 32:27).

§  Daud Seorang Penakluk
Daud bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia tidak mau ditaklukan oleh musuh bahkan oleh emosi yang ada di dalam dirinya sendiri. Pernah dua kali Daud berkesempatan membunuh Saul, tetapi dengan penuh kasih dan kesadaran dia berkata kepada orang-orangnya, “"Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN." (1 Samuel 24:7). Daud tidak mau menjatuhkan orang lain. Dia menjadi contoh penakluk bagi dirinya sendiri. Seharusnya Daud membalas perlakuan Saul tetapi rasa hormat dan takut akan Tuhan yang ada di dalam dirinya, berhasil mengontrol emosi jiwanya. Bukankah musuh terbesar itu adalah diri sendiri dan segala kepentingannya? Daud juga dikenal sebagai penakluk bangsa-bangsa. Orang Israel menyebutnya pahlawan yang gagah perkasa. Kerajaannya melebar dan berkembang dengan cepat. Musuh-musuhnya segan dan takut mendengar namanya. Sebelum memindahkan pusat pemerintahan dari Hebron ke Jerusalem, Daud menaklukan kota orang Jebus itu dan membangun kota Daud (The City of David) di lereng gunung di Jerusalem. Di sana Daud mengatur strategis memerangi musuh-musuh Israel seperti orang-orang Filistin (2 Samuel 8:1), bangsa Moab (2 Samuel 8:2), orang-orang Ammon (2 Samuel 10:16) dan Syria (2 Samuel 10:19). Daud dikenal sebagai tipe prajurit pejuang yang menjadi seorang pemenang baik terhadap dirinya sendiri maupun menghadapi musuh-musuhnya. Situasi sulit dan pelilk juga sering dihadapi Daud. Raja ini pernah meninggalkan tahtanya karena anaknya yang kurang ajar, Absalom, merebutnya. Daud mundur demi sebuah strategi. Prajurit yang baik tidak semata-mata mengandalkan pedang tetapi isi kepala. Demikianlah ciri khas seorang penakluk. Tidak gampang menyerah dan putus asa adalah value utama dari seorang prajurit-pejuang seperti Daud. Jangan hanya karena masalah sepele atau kesulitan kecil yang di hadapi, kita langsung menyerah dan menyesali keadaan atau bahkan menyalahkan orang lain. Daud tidak seperti itu dan hendaknya kita juga tidak demikian. Hidup ini harus dihadapi dengan semangat untuk berjuang dan menang. Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita bukanlah pemenang melainkan lebih dari itu ! “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37).

§  Daud Menempatkan Dirinya dalam Destiny
Akan tetapi posisi Daud yang paling penting adalah sebagai leluhur Kristus. Dia satu-satunya tokoh kerajaan terpenting, yang disebutkan di dalam silsilah Yesus Kristus. Bahkan Yesus sendiri dikatakan sebagai “anak Daud”. Bukankah ini posisi terhormat seorang manusia di hadapan Allah? Bukan sebuah kebetulan, Kristus lahir di tempat di mana Daud dilahirkan, yakni Bethlehem. Tuhan memang telah memilih Daud tetapi yang jauh lebih penting adalah Daud memilih Tuhan sebagai Allahnya ! Dari sini dapat disimpulkan bahwa Daud adalah seorang tokoh Alkitab yang tidak lahir begitu saja. Allah punya rencana yang sangat penting di dalam dirinya dan Daud mau memberi respon yang baik dan menempatkan diri di d alam destiny yang telah Tuhan tetapkan atas hidupnya. Dia mau di proses dan mau dibentuk Tuhan melalui beragam pengalaman hidup. Dari perjalanan hidupnya yang diawali sebagai bungsu dalam keluarga dan menjadi gembala komunitas domba yang kecil, Daud telah dipersiapkan dan dilatih Tuhan. Tidak pernah disebutkan di dalam Alkitab Daud memandang remeh pekerjaan-nya sebagai gembala yang kecil. Dia menjalaninya dengan setia. Kadang orang Kristen itu maunya langsung menjadi besar. Tetapi perjalanan hidup Daud menggambarkan hal berbeda. Sewaktu Tuhan melihatnya setia dan tangguh di dalam perkara kecil, maka pelan-pelan Tuhan mempercayakan hal-hal besar di dalam dirinya. Dari seorang anak gembala kecil, Tuhan mempromosikan Daud menjadi pemusik kemudian pemazmur lalu menjadi seorang tentara dan akhirnya, Raja ! Tuhan selalu mempromosikan hidup orang-orang yang setia pada perkara kecil. Kadang kita mengabaikan hal-hal kecil yang sedang kita kerjakan. Kita lupa bahwa masa depan itu ada di dalam Tuhan dan Dia tahu persis seperti apa kita jadinya kelak. Lebih banyak terjadi, Tuhan menguji dan mempersiapkan kita untuk setiap rancangannya. Promosi itu dari Tuhan dan sebelum tiba masanya memasuki promosi tersebut, Tuhan mau menguji dan membentuk serta mempersiapkan kita terlebih dahulu. Jangan sampai terjadi kita justru mempermalukan nama-Nya dan jatuh hanya karena fondasi karakter kita lemah. Oleh sebab itu, kesetiaan terhadap panggilan, adalah salah satu dasar promosi Tuhan. Setiap orang dituntut melakukan bagian terbaik di setiap level pekerjaan dan tanggung jawab dimana dia berada. Tidak boleh menganggap remeh hal-hal kecil. Awalnya Daud hanyalah gembala kecil dari dua tiga ekor kawanan domba. Tetapi Daud mengakhirinya sebagai raja yang besar. Rakyat yang Tuhan percayakan kepadanya adalah “domba” yang sangat besar. Dikatakan di dalam Matius 25:23:  “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

§  Daud Lemah Dalam Keluarga
Hal yang paling menonjol di dalam kelemahannya adalah Daud tidak dengan tegas berurusan dengan dosa  anak-anaknya. Kita tahu bahwa Daud memiliki 9 isteri dari berbagai-bagai suku dan bangsa, dan belum termasuk gundik. Dia memiliki kurang lebih 20 orang anak-anak dari hasil perkawinannya dengan perempuan-perempuan tersebut. Dan di dalam Alkitab kita baca, anak-anak Daud saling bersaing dengan cara tidak sehat dan kasar. Saling membunuh dan balas dendam. Ada yang incest dengan saudaranya perempuan lain ibu. Ada anak yang memberontak, merebut tahta dan berzinah dengan gundik ayahnya di depan seluruh Israel. Daud adalah contoh gagal mengenai pembentukan keluarga yang bahagia. Keputusannya untuk poligami akhirnya membawa masalah di dalam keluarga besarnya. Termasuk kepada siapa tahta diserahkan. Intrik dan persaingan antar saudara terjadi terang-terangan dan Daud yang begitu sayang terhadap anak-anaknya, tidak mampu mendisiplinkan mereka dengan tegas! Ini adalah resioko poligami. Ini juga resiko ketidaktegasan di dalam keluarga. Bahkan inilah resiko dari kurangnya perhatian kepala keluarga terhadap seluruh isi rumah, karena alasan kesibukan dan pelayanan. Banyak keluara Kristen jadi berantakan karena orang tua terlalu sibuk dengan urusannya sendiri dan beranggapan bahwa dengan menyediakan semua yang diperlukan secara material, maka semua permasalahan akan berese dengan sendirinya. Tidak ! Cinta dan komunikasi di dalam keluarga, tidak dapat digantikan dengan fasilitas. Keluarga adalah sebuah “lembaga kehidupan” dimana setiap orang yang menjadi anggotanya perlu saling berinteraksi, mengenal pribadi dan membangun keintiman satu sama lainnya. Daud gagal melakukan ini. Dia tidak dapat menyatukan kepentingan di dalam keluarganya sehingga anak-anaknya saling bersaing dan berkomplot untuk kepentingan mereka masing-masing. Daud memang memberikan semua materi kepada mereka tetapi kesalahan Daud yang menjadi cerminan bagi kita dewasa ini adalah kegagalannya menjadi ‘bapa bagi anak-anak-nya’. Mereka memperlakukan Daud sebagai raja dan bukan sebagai bapa. Daud memposisikan diri sebagai Raja dan bukan sebagai bapa. Hampir tidak ada penjelasan Alkitab mengenai interaksi Daud dengan anak-anaknya dalam hubungan fathering. Daud sibuk dengan tugas-tugas kerajaan. Dia juga sibuk membagi waktu dengan isteri-isterinya. Anak-anaknya mungkin hanya mendapat waktu sisa dari yang dimiliki Daud dan kita semua mengetahui, waktu sisa dalam sebuah hubungan bukanlah waktu berkualitas tetapi lebih banyak ke basa-basi. Hal ini sangat kontras dengan Mazmur yang ditulis Daud yang mengatakan: “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik (Mazmur 84:11).” Daud memang punya banyak waktu untuk Tuhan, tetapi kehilangan waktu untuk membangun keluarganya.

§  Refleksi bagi Kita
Pelajaran penting dari kehidupan Daud hendaknya menjadi nasehat buat orang Kristen dewasa ini. Pertama, Daud berkali-kali berdosa dan punya kemauan dengan jujur mengakui serta membereskan semua pelanggaran itu di hadapan Allah. Daud punya hati yang gampang berbalik. Dengan cepat dia bertobat dan tidak membiarkan dirinya larut atau “tenggelam” makin jauh di dalam dosa. Dia tidak mau hidup menjadi orang yang munafik. Kedua, konsekuensi yang diterima Daud tidak ada hubungannya dengan pengampunan yang diterimanya dari Tuhan. Daud memang diampuni Tuhan, tetapi pengampunan akan dosa-dosa tersebut tidak serta-merta membebaskan pelakunya dari konsekuensi. Dosa tetaplah dosa dan mendapat hukumannya. Daud rela menanggung hukuman dan tidak melarikan diri atau menyalahkan orang lain atau bahkan menyalahkan Tuhan. Ketiga, dari kehidupan Daud tergambarkan hubungan yang intim dan indah dengan Tuhan. Melalui pujian dan penyembahan, hati Tuhan disenangkan dan semua doanya terjawab. Kecintaan terhadap Tuhan telah membuat hati Tuhan gampang berbalik kepada Daud dan mengasihinya kembali. Pujian dan penyembahan membuat Tuhan bergairah. Daud “gila-gilaan” dengan Tuhan dan diapun menerima berkat yang “gila-gilaan” dari Tuhan hingga masa tuanya. Keempat, Daud terlalu mengasihi anak-anaknya sehingga dia gagal membentuk karakter mereka dengan kualitas dan mentalitas kerajaan. Daud contoh yang bagus untuk hubungan dengan Tuhan dan pemberesan dosa, tetapi contoh yang gagal di dalam membentuk kebahagiaan di dalam keluarga. Diperlukan ketegasan dan contoh hidup serta investasi waktu berkualitas dalam membina keluarga bahagia. Materi yang melimpah tidak dapat menggantikan kasih sayang dan komunikasi. Kuncinya ada di dalam diri orang tua. Anak cuma meneladani yang dilakukan orang tuanya!

Karakter-karakter positif yang dapat kita teladani dalam diri Daud:
Mengakui dosa dan pelanggaran-nya
Radikal terhadap Tuhan dalam mencari kehendakNya
Terbuka terhadap kritik
Penakluk dan tidak pernah menyerah pada keadaan sulit manapun. Termasuk menaklukan 
dirinya sendiri.
Tidak pernah jatuh di dalam kesalahan yang sama
Intim dengan Tuhan melalui pujian dan penyembahan
Tegas dalam mengambil keputusan terhadap musuh-musuh
Mampu membangun team-work yang kuat dan tangguh

Ps. Sonny Zaluchu - gloryofgodmin@gmail.com / 286B31AD

Selasa, September 03, 2013

ROSH HASHANAH 5774: Ps. Sonny Prophetic Insight

Dapat dikutip atau dirujuk atau diterbitkan di buletin gereja dengan menyebut sumbernya, 
agar tidak dituduh plagiat dan berdosa karena menjiplak karya orang lain!

Hari ini 4 Sept 2013 kita memasuki tahun baru dalam kalender Yahudi 5774 atau dinamakan juga tahun Ayin Daleth. Tepat jam 6pm waktu Israel atau 10pm waktu Indonesia, perayaan dan doa memasuki tahun baru, dimulai. Shofar dibunyikan dan doa untuk harapan ditahun yang baru diucapkan di awal tahun. Sekaligus di saat yang sama kita mengoreksi diri untuk memperbaiki hidup sehingga berkat di tahun yang akan dijalani, tidak terhambat. Biasanya ditekankan bahwa awal tahun adalah awal dari sebuah perubahan yang baru. Rosh artinya awal atau kepala sedangkan Shanah dari kata Shinuii yang artinya perubahan. Dari sana dikatakan bahwa Rosh Hashanah, selain menjadi head of the year juga menjadi satu titik balik bagi setiap orang, untuk sebuah awal yang baru dan baik, di dalam kehidupannya. Segala sesuatu yang dimulai dengan baik pada titik awal, tentu akan mengalirkan yang baik dan berakhir dengan baik !

Apa relevansinya buat kita?

Pertama, setting Tuhan untuk tiap Rosh Hashanah adalah awal dari sebuah perubahan; yang tidak baik jadi baik; yang tertutup jadi terbuka; yang turun jadi naik, yang berdosa jadi bertobat, yang terhambat jadi lancar, dsb. Itu sebabnya, di awal tahun semua orang datang kepada Tuhan untuk berdoa dan meminta agar apa yang tidak baik selama tahun yang sudah di lewati, menjadi baik dan dipulihkan di tahun yang akan di lewati. Semua orang tentu ingin mengalami perubahan dan perubahan itu mengarah pada sesuatu yang lebih baik dari kondisi sebelumnya. Ini kesempatan kita untuk memperbaiki hidup dan merubahnya menjadi sesuatu yang selaras dengan kehendak Tuhan. Kita tinggalkan semua hal yang selama ini mendukakan hatiNya dan kita buat komitmen hidup baru. Hendaknya kita menjadi satu ciptaan baru di dalam Tuhan. 2 Korintus 5:17:  “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Kedua, ada tradisi dalam keluarga mengawali tahun dengan memakan kepala ikan sambil mengucapkan doa: "she nihye ka ROSH ve lo la zanav". Doa tersebut adalah ungkapan profetik yang lahir dari Ulangan 28:13-14: TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." Ada dua esensi penting untuk menjadi KEPALA (ROSH) yakni  mendengar serta taat pada perintah Tuhan (on His track) dan tetap menyembahNya sebagai satu-satunya Tuhan dan tuan di dalam hidup ini (tidak boleh ada berhala apapun dalam hidup ini yang menggeser posisi Tuhan, seperti karir, kekuasaan, materi, harta, manusia, dsb). Dalam awal tahun kita secara profetik berdoa dan memateraikan semua itu bahwa “Aku akan menjadi kepala (Rosh) dan bukan ekor (zanav)”.

Ketiga, daleth adalah abjad keempat dalam susunan huruf Yahudi. Bentuknya seperti ini: D Itu adalah gambaran sebuah tempat berteduh atau sebuah tudung ! Disitu ada dinding untuk bersandar dan atap untuk bernaung. Maka sepanjang tahun ini hanya orang-orang yang berada dalam tudung Tuhan dan yang bersandar kepadaNya, itulah yang menerima buah berkat. Hal itu dengan sendirinya mengingatkan kita untuk mempertahankan diri, tetap berada di dalam tudung Tuhan, apapun yang terjadi di dalam hidup ini. Tetap bersadnar kepadaNya, apapun situasi kita. Tudung itu bicara tentang covering, proteksi, pemenuhan kebutuhan dan hubungan intim dengan Tuhan. Sedangkan sandaran bicara tentang kekuatan, topangan dan kelegaan. Ingat anak yang keluar dari rumah bapanya? Semua hartanya habis, dia jadi pendosa dan kehidupannya down grade. Sebaliknya, di dalam tudung Tuhan, kita akan terus dipelihara dan dibawaNya naik dan bukan turun. Bukankah untuk menjadi kepala, Tuhan yang mengangkat seseorang? Bukankah Tuhan yang mempromosikan? Mazmur 75:7-8 “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.”

Keempat, secara khusus Daleth artinya pintu (door). Maka janji Tuhan bagi tiap orang dalam tudungNya akan berhadapan dengan pintu yang terbuka ! Tidak lagi tertutup sehingga tidak dapat anda masuki, tetapi Tuhan sendiri yang membukanya. Saat kakimu melangkah melewati pintu itu, Tuhan bawa kita ke dalam satu masa transisi yang akan membawa kita dari satu tempat lama menuju tempat baru ! Hanya ingat, iblis juga bisa buka pintu. Pastikan pintu yang anda masuki itu adalah pintu yang dibuka oleh Tuhan. Tidak semua pintu terbuka adalah peluang dari Tuhan. Kita harus pastikan, itu pintu yang dibuka oleh Tuhan. Dan, apapun pintu yang dibuka Tuhan akan membawa kita ke anak tangga yang naik, bukan turun. Tahun ini kita akan menemukan pintu-pintu yang akan Tuhan pakai mentransisikan hidup kita menuju keadaan yang lebih baik. Hanya, berhati-hatilah mengamati pintu itu dan pastikan itu dibuka oleh Tuhan. Seperti apapun manusia menutup pintu, Tuhan akan membukakannya bagi kita.

Demikian prophetic insight saya menyongsong tahun baru Yahudi 5774, yang tentu saja membawa dampak secara spiritual di dalam hidup rohani kita orang Kristen. Mengapa? Melalui iman kepada Kristus, kita di bawa dalam perjanjian rohani antara Tuhan dengan bapa Abraham, leluhur DNA Israel. 

Berkat bapa Abraham, bapa Ishak dan bapa Israel turun dalam hidup kita sekalian. 
she nihye ka ROSH ve lo la zanav ! Sepanjang tahun ini aku menjadi kepala dan bukan ekor !

From Ps Sonny Zaluchu - Golden Gate Community Church (G2CC) Semarang
We are Messianic Community

(286B31AD or gloryofgodmin@gmail.com)