Jumat, Oktober 31, 2014

KESAKSIAN: MOBIL BARU DARI TUHAN

Oleh: Ps. Sonny Zaluchu



Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19)

SAYA membutuhkan mobil. Panther yang lama sudah sering keluar masuk bengkel dan digunakan untuk operasional antar jemput anak-anak ke sekolah. Biaya yang dikeluarkan untuk membetulkan Panther sudah melebihi ambang kepatutan. Tetapi apa daya saya tidak punya kesanggupan untuk membeli yang baru, bahkan second sekalipun, tetap tidak mampu.

Dua tahun lalu, sebetulnya tersedia cukup uang yang saya tabung sangat lama untuk membeli mobil baru. Apalagi, tiga mobil yang pernah saya miliki sebelumnya, adalah mobil bekas (second). Sekali-kali saya ingin memiliki yang benar-benar baru. Dua mobil terakhir adalah mantan milik Hamba Tuhan juga sehingga dapat dipastikan jam terbang mobil tersebut sangat tinggi dan ini tentu saja berdampak pada kinerja mobil yang pasti, semakin dipakai oleh saya sebagai Hamba Tuhan di dalam berbagai medan pelayanan, akan semakin menurun. Itu sebabnya, mobil yang terakhir, bolak-balik masuk bengkel. Alangkah sukacitanya hati ini ketika uang yang disisihkan dari setiap berkat yang saya terima telah cukup untuk membeli satu unit mobil baru.

Akan tetapi, rancangan manusia belum tentu merupakan rancangan Tuhan. Satu visi baru Tuhan beri, tahun 2012, untuk merintis pelayanan di Graha Padma Semarang. Meskipun dengan berat hati, dan air mata yang menetes, saya mematahkan leher buli-buli minyak Narwastu itu – seperti Maria pernah melakukannya pada Yesus, dan merelakan semua yang terkumpul itu sebagai benih untuk membeli ruko sebagai tempat ibadah. Itulah yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja City Blessing Semarang (Semarang City Blessing Church) yang saya namakan Golden Gate Community Church (G2CC). Saya berpikir simpel. Tentu Tuhan mau melihat korban apa yang bisa saya berikan sebagai benih untuk pembelian ruko tersebut. Maka yang terjadi kemudian sungguh menakjubkan. Dalam delapan bulan, uang pembelian ruko terkumpul secara luar biasa dan bisa dibayarkan kepada pengembang lebih cepat daripada waktu yang disediakan yakni satu tahun. Maka kemudian saya berpikir, “Tidak apa-apa...benih mobil saya ada di tanah dan bangunan ruko itu...toh ini untuk pekerjaan Tuhan.” Dan saya tetap menggunakan mobil yang lama....puji Tuhan, daripada tidak ada sama sekali! Panas, tinggal buka jendela. Rusak, ya, masukin bengkel lagi. “Mau bagaimana lagi....apa yang ada itu yang patut disyukuri.”

Visi Baru
Tidak terasa, persekutuan doa sebagai langkah perintisan sudah berjalan satu tahun dan berkembang di dalam perkenaan Tuhan. September 2014 yang lalu adalah ulang tahun yang pertama. Ada satu sukacita tersendiri melihat berkembangnya pekerjaan Tuhan di Graha Padma. Kemudian saya doa begini, “Tuhan, aku nabung lagi ya...toh urusan untuk ruko sudah beres...” Tuhan diam, tidak memberi konfirmasi apapun dan saya anggap itu persetujuan-Nya. Dengan penuh semangat, tabungan yang semula berada di titik nol, mulai terisi lagi, sedikit demi sedikit. Hati ini penuh dengan harapan baru bahwa paling lambat akhir tahun sudah dapat mobil yang baru. Semua keinginan itu saya catat di dalam buku doa dan menjadi salah satu pokok doa yang tidak pernah berhenti saya bicarakan pada Tuhan. Bukankah Tuhan berkata, “Mintalah, maka kamu akan diberi...” Saya pegang perkataan firman itu siang dan malam. Kalau sudah waktunya, pasti dapat! Saya semakin melayani Tuhan dengan semangat karena saya tahu Tuhan tidak pernah berhutang dan Ia selalu menjawab ‘kebutuhan’ (bukan keinginan) anak-anak-Nya yang setia. Saya berdoa begini, “Tuhan, apa yang ada padaku saat ini adalah anugerahMu. Aku mengucap syukur memiliki mobil itu walaupun harus keluar masuk bengkel. Aku percaya, Engkau memberkati tabungan ini sehingga nanti akan terkumpul uang yang cukup untuk membeli mobil baru pada waktu-Mu...”

Tetapi sesuatu kembali terjadi. Setelah terkumpul cukup uang untuk membeli mobil baru, pelayanan di ruko mengalami perubahan visi. Tuhan bergerak dengan cara yang cepat. Waktu Natal 2013 dan awal tahun 2014, ruko sudah tidak muat untuk perayaan. Lantai dua tempat ibadah menjadi penuh sesak dan panas. Tidak ada pilihan lain, “kita harus berdoa membeli tanah untuk membangun gereja...” Demikian saya berkata kepada pengurus. Di mobil saat pulang ke rumah, saya menepuk jidat. “Aduh Tuhan, kalau rencana untuk membeli tanah dan membangun gereja ini jadi, maka uang mobil akan melayang lagi...” Saya pulang ke rumah sambil menangis di jalan dan disitu ada semacam kekuatan yang Tuhan beri, bahwa kalau memang demikian jalan ceritanya dari Tuhan, maka bagian saya cuma satu: taat sebagai hamba.

Naik Bus
Tuhan buka pintu di pertengahan tahun 2014. Rencana pembelian tanah tiba-tiba menghadapi pintu-pintu yang terbuka. Penandatanganan pembelian tanah untuk gereja dimulai. Satu tahun kami diberikan waktu hingga tahun 2015 untuk melunasi pembelian tanah itu. Seperti sejarah yang terulang, uang yang sedikit demi sedikit terkumpul untuk membeli mobil, kembali harus ‘dicurahkan semuanya’ seperti Narwastu yang dituang sampai habis. Saya ingat perkataan Tuhan di dalam Alkitab, carilah dahulu kerajaan Allah....disitu saya diingatkan bahwa ‘mencari’ salah satu artinya adalah mendahulukan! Tabungan kembali nol. Semua uang mobil menjadi benih awal pembelian tanah rumah Tuhan. Tetapi hati saya tetap bersukacita. “Kalau memang maunya Tuhan begitu ya, harus nurut.” Apa yang menjadi bagian saya di dalam kerajaan-Nya tetap saya lakukan dengan sukacita. Termasuk ketika beberapa bulan terakhir, saya pergi ke tempat pelayanan di Yogya, Solo, Salatiga dan tempat-tempat pelayanan lainnya, naik bus dan angkutan umum. Saya jalani dengan sukacita. Pernah di atas bus, saya duduk merenung dan nangis sama Tuhan. “Bila aku harus melalui ini Tuhan, maka aku akan melakukan dengan sukacita. Terima kasih Engkau masih membuka kesempatan bagiku melayaniMu...” Pandangan mata ingin tahu para panitia atau pengurus gereja yang menjemput dan mengantar di stasiun bus, menjadi motivasi bagi saya, bahwa semua akan indah pada waktunya. Kadang di bus saya suka bersenandung dan memotivasi diri sendiri. “Kerja buat Tuhan, selalu manise...saya kerja buat Tuhan sungguh senang senange...” Padahal hati saya waktu itu sedang sedih-sedihnya....

“Proyek Saya Jadi”
Tiba-tiba Tuhan balikkan keadaan. Sangat cepat. Seorang pengusaha menghubungi dan berkata beberapa waktu lalu, “Pak, masih ingat proyek saya ...(sambil menyebut nama proyek itu) Puji Tuhan, gol dan saya mendapatkannya.” Saya juga bersyukur dengan berita tersebut. Tetapi kelanjutan dari proyek itulah yang menjadi mujizat bagi saya. Pengusaha yang rendah hati ini berkata, “Saya sudah janji iman pada Tuhan untuk membelikan bapak mobil. Dan proyek ini telah jadi, maka bapak harus membeli mobil baru untuk mendukung pelayanan. Silahkan pilih. Gak perlu naik bus lagi. Ini berkat Tuhan.” Saya melongo. Dia memberikan dua lembar cek yang belum diisi dan menandatangani dua cek itu di depan saya. Pulpen itupun diserahkan pada saya untuk dipakai mengisi angka di dua lembar cek itu sesuai harga mobil. “Pakai satu cek untuk DP dan sisanya untuk pelunasan,” katanya. Saya menerima dua lembar cek itu dengan perasaan tidak karuan. Antara mimpi dan kenyataan, dan tiba-tiba saya menangis cukup keras sewaktu menyadari bahwa ini bukan mimpi. Ini kenyataan dan cara Tuhan yang ajaib. Dengan bijak, pengusaha itu menepuk pundak saya sambil tertawa ringan, “Sudahlah pak, itu memang jatah bapak dari Tuhan. Saya cuma saluran. Sudah sepatutnya mendapatkan itu. Saya pun senang jika melihat bapak memakainya untuk melayani Tuhan...” Benar-benar itulah yang disebut sebagai berkat tiba-tiba dari Tuhan. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9).

Mencoba Menawar
Setelah membayar DP mobil tersebut, pikiran saya berkecamuk. Bukankah masih ada urusan soal pembelian tanah gereja. Saya berdoa minta hikmat dan tanda dari Tuhan. Maka saya menelepon kembali pengusaha tersebut. “Pak, bisakah saya menawar.” Pengusaha itu menjawab, “Ya pak, ada apa...” Saya dengan hati-hati berkata, “Seandainya boleh, walaupun saya sudah DP, cek yang terakhir saya uangkan, tentu dengan nilai yang berasal dari bapak.” Dia berkata, “Lho buat apa?” Saya menjelaskan, “Saya itu masih urus pembelian tanah gereja. Jika bisa, maka berkat mobil ini, mumpung belum dicairkan, saya alihkan untuk pembelian tanah gereja...apa boleh?” Lama pengusaha itu baru menjawab. Hihihihi. Mungkin aneh buat dia saya menawar berkat itu. Akhirnya ia berkata, “Pak, itu janji iman saya. Hanya prosesnya, bapak yang beli. Itu sama saja dengan saya datang ke rumah bapak beri mobil. Karena itu janji iman dan saya senang melihat bapak naik itu untuk pelayanan, maka uang itu harus digunakan untuk mobil. Nanti untuk tanah dan pembangunan gereja, pasti akan Tuhan sediakan...” Aduh lega sekali rasanya mendengar perkataan yang menyejukkan itu. Karena, seandainya pengusaha itu berkata boleh, maka itu tanda bagi saya dari Tuhan untuk mengalihkan berkat tersebut. Rupanya, Tuhan punya prioritas sendiri. Saya tersenyum

Refleksi

Ketika akhirnya mobil itu diantar delaer ke rumah, saya melihatnya sebagai karya Tuhan yang besar. Saat mengurapi mobil itu, dan bersukur menerimanya dari Tuhan, saya menangis. Tuhan bisa pakai siapa saja untuk menjadi jalan berkat-Nya untuk menolong, selama kita melakukan bagian kita dengan setia. Hamba Tuhan tidak perlu mengusahakan kebutuhannya, apalagi minta-minta. Kita punya Tuhan yang dahsyat dan melayani Allah yang luar biasa. Bukankah Dia Jehovah Jireh Tuhanlah yang menjadi jawaban atas setiap kebutuhan itu. Saya masih ingat bulan Oktober ini, ada satu orang mbok-mbok penjual beras di pasar, datang ke rumah, bawa sekarung beras. "Untuk pak pendeta sekeluarga...biar bisa makan...." Kemarin dia sms lagi, kalau berasnya habis, tolong ambil ke lapak saya. Lha....sampai beraspun Tuhan kirim. Pengusaha itu, entah dia membaca kesaksian ini atau tidak, telah menjadi saluran Tuhan. Dan itu adalah hak yang sangat istimewa menjadi saluran-Nya untuk menolong hamba-Nya. Selama ada bejana yang kosong, pasti minyaknya mengalir. Saya berdoa agar usahanya terus berkembang dan mengalami Ayin Hei Blessings supaya dia juga melihat bahwa berkat Tuhan selalu menyertai hidupnya. Tetapi yang jauh lebih penting, saya merasakan didikan Tuhan yang indah, ketika berani melepas hak untuk pekerjaan Tuhan, membayar harga dengan air mata dan pengorbanan, setia dalam panggilan, dengan motivasi yang benar, maka di satu titik, Tuhan akan bekerja dengan indah menyediakan semua yang kita butuhkan dengan cara-Nya yang ajaib. “Kau slalu punya cara untuk menolongku...Kau dahsyat dalam segala perbuatanMu...” Dia Tuhan yang tidak pernah berhutang pada anak-anakNya. Ketika kelak orang-orang melihat mobil berpelat H 62 CC itu di jalan raya, mereka tahu, itu mobil berkat dari Tuhan. Mobil yang keberadaannya adalah keajaiban. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. (081325854343/gloryofgodmin@gmail.com)

Kamis, September 18, 2014

ROSH HASHANAH 5775: AYIN HEI

Sebuah Prophetic Insight 
Oleh Ps. Sonny Zaluchu 
Gembala Sidang Golden Gate Community Church (G2CC) Semarang
Contact for ministry or Holyland Journey +6281325854343 atau pin 286b31ad

Artikel ini diijinkan dikutip untuk penerbitan warta gereja atau kepentingan rohani lainnya dengan mencantumkan sumber dan penulisnya. Jangan mencuri karya orang lain dan mengakuinya sebagai buah pikiranmu. Itu dosa J

Mazmur 65:12 menulis: “Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu”.  Kata ‘memahkotai’ disitu diambil dari bahasa Ibrani ‘atar’ yang akar katanya berarti mengelilingi atau mengepung untuk tujuan serangan (perang) atau membangun benteng (perlindungan). Inilah yang dipahami sampai dengan hari ini, bahwa setiap tahun dimahkotai Tuhan dengan kebaikan-Nya. Berdasarkan sudut pandang akar-akar Ibrani (hebrew roots), kebaikan Tuhan yang ‘mengepung’ selalu berbeda tiap tahun-nya. Dalam kata lain, setiap tahun membawa berkatnya sendiri-sendiri. Cara orang Ibrani melihat berkat tahun dan menyelaraskan kehidupan mereka dengan ‘mahkota’ tahun yang khas itu, dapat menjadi teladan di dalam kehidupan rohani orang percaya dewasa ini. Mereka memberikan nama di setiap tahun dari dua huruf terakhir tahun tersebut. Rosh Hashanah tahun ini adalah tahun 5775 dan nama tahun sebagai identitas ‘mahkota’ dari Tuhan diambil dari angka 75 yang susunannya sebagai berikut: 70 di dalam aksara Ibrani dinamakan ‘Ayin’ dan 5 dinamakan ‘hei’. Maka disimpulkan, tahun ‘75’ tersebut bernama tahun ‘Ayin Hei’.

Kembali ke Akar Ibrani
Terlebih dahulu kita harus memiliki dasar pengertian yang benar mengenai mengapa kita harus mengikuti penanggalan Ibrani. Kekristenan memiliki akar ibrani yang sangat kuat dan dalam, melalui Yesus Kristus. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma menegaskan hal itu: Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. (Roma 11:17-18). Dengan demikian, apa yang menjadi janji Tuhan bagi Israel (akar) juga berlaku bagi orang Kristen dewasa ini (cabang). Ketika kembali ke akar Ibrani kita, disanalah ditemukan maksud Tuhan yang sejati. Salah satunya soal pergantian tahun. Akar Ibrani menyebutkan pergantian tahun tidak mengikuti kalender Gregorian (di bulan Januari) tetapi kalender biblikal Ibrani yang dimulai pertengahan bulan September. Juga harus disadari bahwa warisan kita sebagai keturunan Abraham hanya dapat diperoleh ketika kita kembali ke akar-nya yaitu melihat bahwa Abraham adalah orang yang pertama kali disebut Ibrani di dalam Alkitab dan Yesus yang menjadi penghubung dengan berkat Abraham itu, juga adalah orang Ibrani asli, tinggal di dalam komunitas dan berbahasa Ibrani. Bahkan Alkitab kita ditulis oleh orang-orang Ibrani dalam cara pandang, budaya dan sosiologis orang-orang Ibrani. Betapa pentingnya memahami segala sesuatu dengan kembali ke akar Ibrani.

Rosh Hashanah sebagai Kepala Tahun.  Rosh Hashanah adalah salah satu hari raya besar orang Ibrani yang menandai pergantian tahun. Perayaan menyambut pergantian tahun ini dilakukan beberapa minggu dan besar-besaran karena ini bukan sekedar beralih tahun tetapi bicara soal peralilhan untuk menerima berkat (mahkota) yang baru. Salah satu yang paling utama di dalam perayaan adalah memahami bahwa pergantian tahun bukan semata-mata pergantian belaka tetapi tanda memasuki awal yang baru, harapan baru, berkat baru dan perjanjian yang baru dengan Tuhan. Itu sebabnya, orang Ibrani memandang bahwa awal tahun adalah sebuah ‘kepala tahun’. Sebagaimana tradisi orang-orang Tionghoa untuk keluarga baru dimana orang tua menyuapi anaknya dengan makanan yang manis, demikian dalam tradisi Ibrani mereka mengawali kepala tahun dengan memakan buah yang manis seperti jeruk, korma atau bahkan permen, untuk mengingatkan dan bertindak secara profetik bahwa disepanjang tahun yang akan dilalui, segala sesuatu akan berjalan dengan manis dan jauh dari kepahitan. Dalam perjamuan makan malam di keluarga, khusus hari itu, meja diisi dengan menu ‘kepala ikan’ sebagai tanda untuk mengingatkan, menerima, mengklaim dan memateraikan “berkat kepala” sebagaimana disebutkan di dalam Ulangan 28:13, “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia.” Di akhir kalimat saat berdoa mereka mengucapkan dan mendeklarasikan: she nihye ka rosh, ve lo la zanav. Secara bebas artinya: aku adalah kepala dan bukan ekor! Dengan demikian, kalau ini menjadi sebuah bagian dari akar ibrani, maka ini bukan hanya tradisi mereka tetapi juga menjadi tradisi bagi kita yang percaya. Saya percaya dan mengikutinya. Anda?

Ayin Hei
Berikut ini beberapa prophetic insight dari tahun ayin hei yang kiranya menjadi ‘track’ kehidupan rohani kita di dalam Tuhan. Orang Ibrani gemar mengutak-atik angka dan mencari maknanya secara rohani. Ilmu itu disebut dengan Gematria.

Tahun Berkat Ganda. Angka 5 atau ‘hei’ salah satunya berarti lima jari. 5 jari ini berkaitan dengan penumpangan tangan dalam hal pemberian berkat dari Tuhan. Artinya jelas, bahwa tahun Ayin Hei ini secara khusus dimahkotai dengan berkat-Nya secara  materi dan rohani. Jika dimengerti bahwa ‘hei’ adalah lima jari dari tangan yang memberkati,  maka struktur tahun 5775 yang unik dan jarang terulang ini, menjadi sangat tidak kebetulan. Angka 7 di dalam Alkitab dikenal sebagai angka Tuhan (kesempurnaan). Dua angka ini diapit oleh ‘hei’ (angka 5) di kiri dan kanan. Secara akar ibrani, itu berbicara mengenai dua tangan Tuhan, di kiri dan kanan, yang diletakkan di datas kepala anak-anak-Nya. Satu tangan saja sudah mendatangkan berkat luar biasa, apalagi jika diturunkan melalui dua tangan. Ini adalah tahun pelipatgandaan (double portion) berkat Tuhan di dalam diri orang yang percaya. Saya percaya! Anda? Firman Tuhan di dalam Mazmur 5:13 mengingatkan, “Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.” Bagian kita untuk menerimanya sepanjang tahun ini adalah menjadi orang benar.

Tahun Promosi.  Huruf ‘hei’ dalam abjad Ibrani ditulis hei Bentuk itu menjelaskan makna profetik berikutnya dari Tahun Ayin Hei. Struktur abjad tulisan hei terdiri dari dua garis. Satu berbentuk “balok horizontal” yang berada di atas “tiang vertikal”.  Balok horizontal itu bicara tentang sesuatu yang melebar sedangkan tiang vertikal itu bicara tentang sesuatu yang makin tinggi dan makin naik. Lebar berbicara tentang teritori yang makin luas. Ingat doa Yabes? Di dalam 1 Tawarikh 4:10 dicatat sangnat jelas, Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu. Maka kita harus bersiap-siap. Tahun ini sudah dimulai dimana segala apa yang kita kerjakan akan Tuhan perbesar kapasitasnya dan menjangkau ke wilayah, daerah atau teritori yang lebih luar yang mungkin selama ini tidak terpikirkan untuk dijangkau. Tuhan akan bawa kita ke sana. Bukan hanya itu, Tuhan juga akan membawa kita naik. Ada dua hal pengertian soal ‘naik’ yang dijelaskan oleh tiang vertikal dalam abjad hei. Pertama, di bawa naik artinya diangkat dari sesuatu yang buruk, masalah, yang selama ini menenggelamkan hidup dan keberadaan kita. Dia mengangkat untuk melepaskan dan memulihkan, untuk membalik keadaan kita menjadi baru! Pengertian kedua adalah mendorong dan membawa naik. Ini bicara tentang peninggian untuk tujuan promosi. Ayat ini akan digenapi. Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain (Mazmur 75:7-8). Saya percaya! Anda?

Yang harus dilakukan. Ini pertanyaan yang penting karena hanya dengan menjawab pertanyaan ini, maka berkat Ayin Hei akan menjadi milik kita. Berkat ini, hanya bisa diterima jika orang yang menerima berkat itu, berada di depan orang yang memberi berkat. Jika mau terus menerus diberkati maka, harus terus menerus di depan Tuhan agar kedua tangannya bisa terus menerus di atas kepala kita! Ingat, ‘hei’ (5) digandeng oleh ‘ayin’ (70). Disebut Ayin Hei karena ‘ayin’ artinya mata atau melihat. Selama kita mempertahankan diri berada di dalam jangkauan mata Tuhan, berkat ayin hei itu akan menjadi milik kita selamanya. Bukan saatnya lagi menutup diri dari mata Tuhan dan menyembunyikan hidup kita. Hidup kita terbuka dihadapannya. Tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Kita harus membiarkan mata-Nya mengawasi untuk tujuan menjaga dan sekaligus mengingatkan kita jika ada yang salah.

Mazmur 75. Tidak kebetulan. Ayin Hei adalah nama dari tahun 75. Dan sangat indah doa di dalam Mazmur 75 sebagai sebuah doa profetik bahwa kita sepanjang tahun ini akan menmceritakan kemuliaan dan keajaiban nama-Nya karena tanduk kita telah ditinggikannya. Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kami bersyukur, dan orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. "Apabila Aku menetapkan waktunya, Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran. Bumi hancur dan semua penduduknya; tetapi Akulah yang mengokohkan tiang-tiangnya." Aku berkata kepada pembual-pembual: "Jangan membual." Dan kepada orang-orang fasik: "Jangan meninggikan tanduk! Jangan mengangkat tandukmu tinggi-tinggi, jangan berbicara dengan bertegang leher!" Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain. Sebab sebuah piala ada di tangan TUHAN, berisi anggur berbuih, penuh campuran bumbu; Ia menuang dari situ; sungguh, ampasnya akan dihirup dan diminum oleh semua orang fasik di bumi. Tetapi aku hendak bersorak-sorak untuk selama-lamanya, aku hendak bermazmur bagi Allah Yakub. Segala tanduk orang-orang fasik akan dihancurkan-Nya, tetapi tanduk-tanduk orang benar akan ditinggikan.


Happy Rosh Hashanah. She nihye ka rosh, ve lo la zanav

Quo Vadis Domine? Murid Kristus yang Dipanggil untuk Diutus dan Memikul Salilb di Tengah Dunia yang Gelap

ORASI ILMIAH WISUDA STA JEMBER 2013/2014 27 Agustus 2014


Oleh: Dr. Sonny Eli Zaluchu, M.A, M.Th, D.Min[1]

Ketua Senat,  Bapak/Ibu anggota senat, hadirin, dan seluruh wisudawan/wati dan civitas akademika STA Jember yang saya hormati,

Perkenankan pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih menerima kehormatan menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Wisuda STA Jember tahun perkuliahan 2013/2014. Sekaligus juga pada kesempatan ini saya mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan/wati  yang akan mengakhiri masa belajarnya di STA Jember pada satu sisi dan akan memulai perjalanan panjang sebagai seorang ‘talmidin’ Kristus di dunia yang gelap ini. Itu sebabnya dalam orasi ini, saya akan menyampaikan topik, “Quo Vadis, Domine? Murid Kritus yang Dipanggil untuk Diutus dan Memikul Salib Di tengah Dunia yang Gelap.”

Ketua Senat,  Bapak/Ibu anggota senat, hadirin, dan seluruh wisudawan/wati dan civitas akademika STA Jember yang saya hormati,

Di dalam konsep pemuridan yang dikembangkan Tuhan Yesus, kita semua tentunya sudah mengerti bahwa ‘talmidin’ adalah sebuah konsep Ibrani yang sangat khas tentang disciple atau discipleship atau disebut juga, murid. Disebut khas karena hal itu bukan sekedar posisi sebagai murid tetapi menuntut suatu tanggung jawab, baik secara moral, maupun dalam perilaku di hadapan orang lain; sehingga melaluinya, seseorang itu dikenali oleh publik sebagai murid Kristus sejati. Bahkan di hadapan Tuhan, nama itu kelak dipertanggung jawabkan di dalam kekekalan. Semula, nama itu ditujukan bagi dua belas murid Kristus. Tetapi seiring dengan kekristenan yang terus berkembang melewati batas-batas negara, politik dan geografis serta budaya, maka mereka yang menjadi pengikut Kristus, karena iman dan kepercayaan-nya itu, juga  disebut murid Kristus. Darisanalah kemudian muncul nama ‘orang Kristen’ (Christian). Sehingga, di mana seseorang menerima Yesus sebagai juru selamat pribadi, maka pada saat yang bersamaan, orang tersebut telah menjadi seorang ‘talmidin’. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, bukan hal yang mudah untuk disebut sebagai seorang murid Kristus. Mengapa demikian?

Menjadi murid adalah panggilan. Dua belas murid Yesus dipanggil untuk mengikuti Yesus. Demikian halnya dalam kekristenan. Semua pengikut Kristus pasti mengalami satu fase yang disebut panggilan. Definisi yang paling baik dikemukakan oleh Os Guinness di dalam bukunya berjudul The Calling. Dikatakannya, panggilan adalah kebenaran bahwa Allah memanggil kita kepada diri-Nya sehingga seluruh keberadaan kita, segala sesuatu yang kita lakukan, dan segala sesuatu yang kita miliki, diinvestasikan dalam suatu pengabdian dan dinamisme khusus yang dijalani sebagai respon kepada seruan dan pelayanan-Nya.[2]

Pada waktu Yesus memanggil Petrus, Tuhan menginginkan satu perubahan hidup yang radikal ketika Ia berkata kepada Petrus, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Matius 4:19). Dari situ kita mengerti, makna yang terkuat di dalam panggilan adalah mengarahkan segala kepentingan hidup untuk memenuhi tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya. Di titik ini, bukan lagi keinginan kita yang berkuasa melainkan mengarahkan semua keinginan kita selaras dengan kehendak-Nya. Ini adalah sebuah titik pencapaian yang telah dicapai Paulus dan hendaknya kita semua, ketika rasul besar ini berkata, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20). Disitu ada kalimat yang sangat tegas dari Paulus, I am crucified with Christ. Aku telah ikut disalibkan di dalam Kristus. Inilah makna terdalam dari sebuah panggilan ketika Yesus berkata, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23).

Tidak ada pilihan lain bagi seorang murid Kristus kecuali memikul salib dan titik terberat di dalam usaha memikul salib itu adalah menghadapi aniaya yang berujung pada pengorbanan. Itu adalah sebuah harga tertinggi dari sebuah panggilan yang berhasil. Banyak murid gagal dan tidak tuntas karena tidak setia, gagal menyangkal diri dan tidak mau memikul salib. Penyangkalan diri dan memikul salib adalah sebuah harga yang harus di bayar. Memberitakan Injil sebagai murid Kristus bukanlah kesenangan duniawi. Tetapi menuntut harga yang harus dibayar melalui cara kita melepaskan diri dari kesenangan-kesenangan duniawi dan menyalibkan kedagingan. Harga yang harus dibayar dapat saja membuat kita kehilangan kebahagiaan; tetapi itulah yang telah menjadi standar Tuhan. Apakah itu standar yang terlalu tinggi bagi kita sehingga sulit mencapainya? Bukan persoalan itu! Masalah yang sebenarnya adalah kerelaan kita memenuhi tuntutan Tuhan, untuk melepaskan semua hal, demi mengikuti-Nya.

Ketua Senat,  Bapak/Ibu anggota senat, hadirin, dan seluruh wisudawan/wati dan civitas akademika STA Jember yang saya hormati,

Tidak semua orang bisa memenuhi panggilannya dengan baik. Ketika Tuhan mengatakan, “kamu akan kujadikan penjala manusia,” itu adalah sebuah panggilan yang bergema di setiap waktu, zaman dan generasi, untuk memenuhi dan menuntaskan sebuah tugas yang Tuhan berikan. Dr. Bobby Clinton dari Fuller Theological Seminary, pernah melakukan sebuah penelitian tentang kepemimpinan di dalam Alkitab. Hasil studi itu menyebutkan dari 100 orang nama pemimpin terkemuka yang tercatat di dalam Alkitab, ditemukan hanya 49 orang yang berhasil menyelesaikan tugas dan panggilannya dengan baik. Sisanya gagal karena,  berhenti di awal tugas karena ditolak, terbunuh, gugur, atau dijatuhkan baik secara positif maupun negatif.  Ada pula yang gagal karena menyelesaikan dengan buruk akibat rusaknya hubungan pribadi dengan Tuhan. Tetapi banyak di antara para pemimpin itu, hanya menyelesaikan setengah-setengah dari tugas yang dibebankan kepadanya. Pada mulanya mereka memulai dengan baik tetapi akhirnya tercemar oleh dosa dan mereka berjalan dengan konsekuensi negatif akibat perilaku tersebut.[3]

Panggilan, bukanlah sekedar ajakan. Di dalamnya ada tugas yang harus dituntaskan dengan baik. Memulai dengan baik dan mengakhiri dengan baik (finishing well). Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan, paling tidak kita melihat bahwa panggilan yang tuntas di dalam tugasnya, adalah murid yang terus memelihara hubungan pribadinya dengan Tuhan. Itu yang Tuhan kehendaki ketika kita menjalankan tugas didunia ini menjadi terang dan menjadi garam dunia. Dua hal yang paralel Tuhan ingatkan, berfungsi menjadi terang dan berfungsi memberi pengaruh yang positif seperti dikatakan-Nya di dalam Matius 5:13-14  "Kamu adalah garam dunia….” Dan “Kamu adalah terang dunia.” Tuhan tidak meminta kita ‘menjadi’ garam atau ‘menjadi’ terang, tetapi Tuhan tegaskan kita ‘adalah’ terang dan garam itu ! Murid yang yang tidak bisa hadir sebagai terang dan garam adalah murid yang telah melupakan atau lari dari panggilannya.

Sebuah panggilan adalah ajakan untuk mengikuti. Ketika Yesus berkata, “Ikutlah aku…” (walk after me) dibutuhkan kepatuhan dan kesetiaan. Itu bukan jalan yang mudah dilalui. Tidak mengherankan murid-murid berguguran di tengah jalan dan kehilangan kesetiaan mereka. Mengikuti berarti berada di belakang. Orang-orang menjadi kehilangan kesetiaan mereka manakala sesuatu yang mereka ikuti itu telah menggantikan posisi yang seharusnya ditempati Kristus. Kita semua ingat bagaimana konflik batin yang dialami seorang muda, yang datang pada Yesus dan meminta untuk menjadi murid-Nya. Yesus berkata kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya (Matius 19:21-22). Banyak dari kita mengikuti jejak orang muda itu dan menjadi sedih. Penulis Injil Matius dengan tepat mendeskripsikan perasaan sedih orang muda itu dengan kata lypeo, sebuah kesedihan yang sangat dalam disertai dengan perasaan berat hati.[4] Mengapa? Karena kita lebih setia pada hal-hal materi daripada panggilan kekekalan. Kita lebih memilih menjadikan materi, sebagai sesuatu yang ada di depan untuk diikuti, daripada Yesus. Bagaimana kita berfungsi sebagai terang dan garam dunia manakala dunia justru menjadi panutan di dalam menuntaskan panggilan-Nya?

Sidang Senat, para Civitas Akademika dan hadirin yang berbahagia,

Saya ingin mengakhiri orasi ini dengan sebuah kisah yang meskipun tidak terdapat di dalam Injil tetapi telah menjadi sebuah tradisi yang kuat di dalam gereja, mengenai seorang murid Kristus, menuntaskan panggilan tugasnya untuk menggembalakan domba-domba-Nya, di tengah aniaya yang mengancam jiwanya. Ia mengalami satu titik dimana, sebetulnya hampir memilih jalan lain, yaitu melarikan diri.

Murid itu bernama Rasul Petrus, sosok yang pernah dinubuatkan Yesus menjadi batu karang gereja. Ia bersiap melarikan diri, keluar dari kota Roma, karena aniaya yang hebat melanda orang-orang Kristen di sana. Pada masa itu Nero menjadi penguasa dan menjadi alat iblis untuk menghancurkan kekristenan. Orang-orang Kristen diburu, ditangkap dan diumpankan ke binatang buas sebagai tontonan dan kesenangan. Tubuh mereka diikat pada tiang, disiram minyak kemudian disulut api untuk menjadi obor sehingga tempat pesta orang Romawi menjadi terang.

Aniaya yang luar biasa melanda seluruh orang Kristen di Roma. Inilah yang menjadi alasan Petrus didesak meninggalkan kota itu. Apalagi, Tigellinus, komandan pasukan Nero telah bertekad untuk mengejar dan menangkap Petrus karena dianggap sebagai tokoh dibalik berkembangnya kekristenan di kota Roma. Panglima ini mendapat legalitas penuh untuk melakukan tugasnya. Orang-orang Kristen di Roma segera mencari cara menyembunyikan Petrus dan mendesak-nya melarikan diri. Tradisi mencatat dalam sebuah usaha pelarian, Petrus disertai oleh Nazarius dan sejumlah orang Kristen lainnya. Mereka beranggapan bahwa kekristenan harus bertahan dan menyelamatkan Petrus adalah bagian penting. Orang-orang Kristen beranggapan bahwa Petrus sebagaimana dinubuatkan Tuhan, adalah batu karang tempat mendirikan gereja. Ketika kekristenan di Roma hancur maka Petrus dapat memulainya di tempat lain dimana injil bebas diberitakan, sehingga gereja tetap berdiri.

Sebetulnya Petrus tidak mau atau berkehendak meninggalkan Roma. Tetapi desakan dan pengertian yang diberikan oleh orang-orang yang sedang teraniaya itu membuatnya harus bergegas pergi. Tetapi sesuatu terjadi. Saat tiba di gerbang kota pada jalan yang lurus, Petrus tiba-tiba mendapat penglihatan. Langkah mereka terhenti. Kejadian itu mengherankan orang-orang disekitarnya, karena hanya Petrus yang menyaksikannya. Tiba-tiba dari arah depan, muncul sebuah cahaya yang sangat terang. Petrus berhenti dan menutup mata dengan tangan-nya karena silau. Rasul ini berkata, “Ada orang datang kepada kita dari arah depan melalui sinar Matahari.” Tetapi sekali lagi, penglihatan itu hanya untuk Petrus. Nazarinus dan orang-orang lain, tidak melihat siapapun dan tidak mendengar langkah kaki manusia. Petrus seperti orang yang terkejut dan tertegun pada sosok yang didepannya. Petrus jatuh berlutut sambil berteriak dengan suara yang keras sambil mengulurkan kedua tangannya pada sosok di depannya, “Kristus…Kristus…!” Lalu ia tertelungkup seakan sedang mencium kaki seseorang. Keadaan sepi. Nazarinus terdiam menyaksikan peristiwa itu dan membiarkan Petrus. Beberapa saat kemudian, terdengar isak tangis Petrus dan dengan suara terputus-putus Petrus berkata, “Quo vadis, Domine? - Tuhan, kemanakah engkau pergi?”.  Nazarinus tidak mendengar jawaban atas pertanyaan Petrus itu, tetapi ditelinga Petrus terdengar satu jawaban yang disampaikan dengan lirih dan lembut, “Roman vado iterum crucifigi - Aku pergi ke Roma, untuk disalibkan kedua kalinya.” Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Petrus berdiri dan berbalik arah kembali ke kota. Nazarius mengulangi kata-kata itu, “Quo vadis, Domine?” dan Petrus menjawab, “Ad Roman.” Lalu mereka berjalan kembali ke arah kota Roma. Ungkapan ini muncul beberapa kali dalam terjemahan Alkitab Vulgata[5], seperti dalam Yohanes 13:36 -  Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku."

Akhirnya, Petrus kembali ke Roma. Ia memilih pikul salilb dengan resiko terberat, ditangkap  dan kehilangan nyawa. Dan ia benar-benar mengalaminya. Di kota itu Petrus menjadi martir. Petrus dijatuhi hukuman mati dengan cara disalib. Detik-detik saat ia disalibkan, Petrus memohon, “Aku tidak layak mati dengan cara Tuhanku mati!” Maka para prajurit Roma, akhirnya menyalibkannya terbalik, dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas.

Ketua Senat,  Bapak/Ibu anggota senat, hadirin, dan seluruh wisudawan/wati dan civitas akademika STA Jember yang saya hormati,

Kepada kita semua, kiranya kesaksian ini dapat menjadi bahan permenungan. Petrus sudah lama mati. Pertanyaan yang harus dijawab adalah, seandainya kita, menjadi Petrus yang berhadapan dengan masalah yang sama hari ini, apakah kita melangkahkan kaki keluar dari Roma atau berbalik kembali menuju ke sana, dengan segala resikonya? Siapkah kita mengabdi secara total kepada Kristus melalui usaha memikul salib? Biarlah itu menjadi beban pikiran kita, hingga menemukan satu jawaban yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan, yang telah memanggil kita.

Quo vadis, Domine?





[1] Sonny Eli Zaluchu, lahir di Gunung Sitoli Nias, Sumatera Utara. Menyelesaikan M.A dalam Kepemimpinan Kristen tahun 2001; D.Min dalam Leadership and Social Transformation dari Harvest International Theological Seminary Jakarta tahun 2006, sebagai lulusan terbaik.  Mengambil kajian Biblika Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia (STBI Semarang) untuk program M.Th dan menyelesaikannya tahun 2010. Program Doctor of Theology (D.Th) di STBI diselesaikannya dua tahun kemudian pada tahun 2012 dengan predikat Summa Cum Laude. Tinggal di Semarang bersama isteri dan tiga anak laki-laki. Selain mengajar sebagai dosen di beberapa Sekolah Tinggi Teologia (STT), juga menjadi Gembala Sidang G2CC – Golden Gate City Blessing Church Semarang. Buku yang pernah ditulis antara lain: Prajurit Peperangan Rohani (Nafiri Gabriel, Jakarta); Pemimpin Pertumbuhan Gereja (Kalam Hidup, Bandung), Penglihatan (Kalam Hidup, Bandung), Intrik Dalam Gereja (Metanoia, Jakarta), Kesembuhan (Metanoia, Jakarta), Membawa Kegerakan Allah di dalam Gereja (Penerbit Andi, Yogyakarta), Bangkit dari Stagnasi Rohani (Penerbit Andi,. Yogyakarta), Biblical Theology (Sinai Publisher, Semarang), Holyland: Jejak Kaki Tuhan di Tanah Suci (Golden Gate Publishing, Semarang). Dapat dihubungi lewat email di gloryofgodmin@gmail.com.

[2] Os Guinness, The Calling (Bandung: Pionir Jaya, 2011), 15.
[3] Richard Clinton dan Paul Leavenworth, Memulai Dengan Baik (Jakarta: Metanoia, 2004), 16-17.
[4] Stephen D. Renn (Ed.), Expository Dictionary of Bible Words (Massachussets: Hendrickson Publisher, 2010), 917.
[5] Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Latin yang dikerjakan oleh Hieronimus.

Minggu, Januari 19, 2014

HOLYLAND MARET 2014




HOLY LAND MARET 2014
Mesir (1), Sinai (1), Jerusalem (3), Tiberias (2), Dead Sea Jordania (1)
By: Emirates. Hotel *4/5. Bus VVIP+Free Wifi.

Highlight: Mount Hermon, Banyas, Nain, City of David, Siloam, Gihon Spring, David's Well,
Dome of the Rock, Golden Gate, Tunnel, Kiryat Jearim, Shiloh, Dead Sea,
Sinai, Bukit Muqatam, Dalmanutha, Boaz Field

Bersama HOLYLAND Center Indonesia dan BLESSING Holyland Tour
Info/Pendaftaran: 081.32.585.4343

Rabu, Januari 15, 2014

Rabi Kaduri – Ariel Sharon – Nubuatan Kedatangan Mesias

Ps. Sonny Eli Zaluchu (G2CC Semarang)
Silahkan kutip untuk penerbitan gereja/referensi dengan menyebutkan sumbernya

HARI-hari ini di BBM di kalangan Kristiani beredar dengan cepat berita usang tentang akhir zaman dan menjadi agak baru setelah dikaitan dengan ramalan seorang Rabi Yahudi bernama Yitzhak Kaduri. Rabbi ini dikabarkan punya kemampuan meramal masa depan dan telah meninggal dunia. Menurut kabar yang bereda, dia mengaku didatangi oleh Al-Masih atau Sang Penyelamat pada tahun 2006. Juga dikabarkan bahwa Kaduri menubuatkan tentang kedatangan Mesias pasca kematian Ariel Sharon, mantan Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri Israel. Saya kutib salah satu pemberitaan itu dari sebuah media online:  “Menurut pemuka Yahudi dari mazhab Sephardic Haredim ini, Al-Masih mengatakan bahwa dirinya tidak akan turun ke bumi sampai Sharon meninggal. Dua bulan setelah ramalan tersebut Sharon jatuh koma dan Kaduri meninggal di usia 108 tahun….Delapan tahun kemudian, Sabtu lalu, Sharon meninggal dunia. Kaduri tidak menyebutkan waktu dan tempat yang spesifik soal kedatangan Al-Masih. Hanya dikatakan "setelah kematian Sharon".  (http://dunia.news.viva.co.id/news/read/472669-kematian-ariel-sharon-dan-ramalan-kedatangan-al-masih).

Siapa Kaduri
Rabi Kaduri adalah Rabi Yahudi kelahiran Bagdad, Irak, yang dikenal memiliki kemampuan profetik dan meninggal pada usia 108 tahun. Beliau sangat terkenal tetapi rendah hati. Rabi ini punya pengikut yang sangat banyak dan penerus yang bahkan kini menjadi salah satu pelaku politik di Israel melalui aktifitas mereka di partai politik. Rabi karismatik ini menjelang kematiannya, dikabarkan meninggalkan catatan tertutup yang mengungkapkan nubuatan tentang Mesias termasuk di dalamnya berisi nama dari Al-Masih yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Menurut berita, catatan itu sempat dipublikasikan di situs Kaduri tetapi akhirnya dihapus kembali karena menimbulkan kehebohan di kalangan penganut agama tertentu.

Mengapa Ariel Sharon?
Menariknya, dalam catatan nubuatan itu, Kaduri menyinggung nama mantan Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.  Ariel Sharon dikenal sebagai seorang pemimpin Israel yang memilih melakukan kekerasan dan melakukan perang dalam mempertahankan berdirinya negara Israel dan untuk melawan musuh-musuh Israel. Perang dan kekerasan adalah pilihan utama Ariel Sharon dalam mempertahankan diri selama konflik berlangsung. Ucapannya yang terkenal: “sebelum musuh-musuh Israel menghancurkan Israel, maka kita perlu menghancurkan mereka terlebih dahulu…” Atas sikapnya yang radikal itu, Ariel punya banyak pengagum dan sekaligus juga musuh di kalangan bangsanya sendiri. Terlebih lagi di kalangan musuh-musuh Israel, nama Ariel sangat jauh tidak populer dan dianggap sebagai musuh nomor satu yang perlu diganjar akibat tindakannya yang dianggap sebagai penjahat perang.

Nubuatan Kaduri menjadi terkenal karena ada nama Ariel Sharon di dalamnya. Sebetulnya, Ariel Sharon tidak punya hubungan apapun dengan konten dari berita yang hendak disampaikan Kaduri. Tidak ada hubungannya dengan aktifitas dan sepak terjang Ariel Sharon selama beliau masih hidup. Orang yang bergerak dalam dunia profetik akan mengerti bahwa sebuah ‘pernyataan’ kadang membutuhkan patokan di dalam garis profetik. Kebetulan saja dia tokoh terkenal dan melalui patokan itu, orang akan mudah mengingat ‘pesan profetik’ yang disampaikan. Akan beda, misalnya, jika dikatakan setelah kematian Pak Amir tukang becak, maka Mesias akan datang. Penyebutan nama Pak Amir menjadi sebuah patokan profetik. Tetapi orang yang tidak kenal Pak Amir akan cenderung mengabaikan pesan profetik itu dan menganggapnya angin lalu. Nama Ariel Sharon disebut dan semua orang tiba-tiba mengingatnya !

Apa kata Alkitab tentang KedatanganNya?
Sebelum menganalisis nubuatan Kaduri, ada baiknya saya kutip beberapa pernyataan Alkitab sebagai ‘patokan’ kita dalam merespon fenomena berita akhir zaman ini. Paling tidak, ada empat catatan penting yang mengingatkan kita tentang berita akhir zaman, menurut catatan di dalam Alkitab. Apa saja catatan itu:

Pertama, Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang telah datang ke bumi dan akan datang kembali ke bumi di akhir zaman.
- Matius 2:4  Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
- Matius 16:16  Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
- Kisah 1:11  dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Kedua, tidak ada seorangpun yang tahu kapan Dia datang
Markus 13:32  Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."
- Markus 13:33  "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.
- Lukas 17:34  Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

Ketiga, hanya ada tanda-tanda menjelang kedatanganNya yang kedua kali
Mat 24:32  Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
- Mat 24:33  Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
Mat 24:36  Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."

Keempat, kedatanganNya adalah identik dengan akhir zaman
Mat 24:3  "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?"
- Mat 24:30  Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
- Mat 24:31  Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan  mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.

Dari keempat hal tersebut menjadi jelas bagi kita bahwa berita akhir zaman telah dinubuatkan oleh Alkitab sendiri dengan tegas dan sangat spesifik kecuali satu hal: soal waktu kedatanganNya, tidak ada seorangpun yang tahu. Berkali-kali kita belajar di dalam sejarah mengenai orang-orang yang mengaku mendapat pewahyuan tentang waktu kedatangan Tuhan yang kedua kali, bahkan mengaku telah melakukan p;erhitungan dengan tepat, tetapi berkali-kali pula kita berhadapan dengan fakta bahwa semua perkiraan dan pengakuan mereka itu, tidak terbukti. Yang pasti adalah: (1) Tuhan Yesus dari Nazaret adalah Mesias, (2) Dia sudah datang ke dalam dunia dan setelah kebangkitannya dari kematian, Dia terangkat ke Surga dan akan datang lagi menjelang akhir zaman; (3) Tidak ada seorangpun yang mengetahui persis kapan Dia datang!

Mengkritisi Kaduri
Berdasarkan ungkapan Alkitab tersebut, maka sekarang kita akan meneropong berita akhir zaman yang disampaikan beberapa orang dengan mengutip pernyataan Kaduri.

a.       Dalam hal ini Kaduri benar
-          Kaduri tidak menjelaskan tanggal yang spesifik mengenai kedatangan Mesias kecuali memberikan patokan melalui kematian Ariel Sharon (siapapun bisa memberikan patokan dan bebas memilih siapa saja). Ini merupakan sebuah tanda saja dan respon kita adalah belajar dari tanda-tanda zaman yang ada !
-          Kaduri menegaskan kedatangan Mesias sudah dekat (sama dengan berita akhir zaman yang sudah berulang kali disampaikan dari masa ke masa oleh banyak hamba Tuhan). Ini adalah sebuah penegasan bagi generasi sekarang mengenai akhir zaman yang mungkin sudah semakin dekat. Respon kita adalah mempersiapkan diri menyongsong kedatangan-Nya.
-          Kaduri adalah Rabi Yahudi. Sebagaimana kita tahu Yahudi pada umumnya menolak YESUS sebagai Mesias. Tetapi menurut kabar orang yang mengutip catatan Kaduri disebutkan bahwa Mesias adalah “Messiah’s name is Yehoshua, Yeshua, Yahusha” atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Yesus.  Hal ini didapat dipakai sebagai sebuah penegasan terhadap iman Kristiani di dalam nama Yesus.

b.      Dalam hal ini KADURI perlu dikritisi
Tetapi kita perlu juga melihat secara kritis pernyataan nubuatan yang disampaikan oleh Kaduri agar iman kita sendiri tidak goncang dan tidak menghubung-hubungkan dengan hal apapaun.
-          Kaduri adalah Rabi Yahudi dan bukan Rabi Mesianik. Rabi Yahudi tidak percaya Yesus dari Nazaret sebagai Mesias, sedangkan Rabi Mesianik percaya bahwa Mesias adalah Yesus dari Nazaret dan lahir menjelma sebagai manusia melalhu kelahiran lewat perawan Maria. Pengharapan Mesianik Yahudi berbeda dengan pengharapan Mesianik pengikut Mesianik. Pengharapan Mesianik Yahudi adalah: Mesias belum datang dan akan datang. Pengharapan Mesianik pengikut Mesianik: Mesias sudah datang yakni Yesus Kristus dari Nazaret dan telah menjadi juru selamat dunia melalui kematian di Salib dan kebangkitanNya dari dunia orang mati dan terangkat ke Surga dan akan datang kembali untuk kedua kalinya untuk menghakimi umat manusia. Jadi apa yang disampaikan Rabi Yahudi berbeda ‘frame’ dan ‘understanding’ dengan aliran Mesianik dan kekristenan.

Berikut saya kutip pernyataan Rabbi Stuart Federow
“Most Christians identify the messiah with Jesus, define him as Gd incarnate, and believe he died for the sins of humanity as a blood sacrifice. This requires that one accept the concept of vicarious atonement. However, as was illustrated and explained in the essay "One person cannot die for the sins of another," this idea is the opposite from what is written in Deuteronomy 24:16, 'Every man shall be put to death for his own sin' -- also expressed in Exodus 32:30-35 and Ezekiel 18. The mainstream Christian idea of the messiah also assumes that Gd wants and will accept a human sacrifice. After all, it was either Jesus-the-human or Jesus-the-divine who died on the cross. Jews, and presumably, Christians as well, believe that Gd cannot die, and so all that Christians are left with, in the death of Jesus on the cross, is a human sacrifice. However, in Deuteronomy 12:30-31, Gd calls human sacrifice an abomination, and something He hates: 'for every abomination to the Etrnl, which he hateth, have they done unto their gods; for even their sons and their daughters they have burnt in the fire to their gods.' All human beings are sons or daughters, and any sacrifice to Gd of any human being would be something that Gd would hate. Therefore, the Christian conception of the messiah consists of ideas that are unbiblical.” (http://www.whatjewsbelieve.org/explanation3.html)

Sebagaimana kita ketahui bersama, Yahudi pada umumnya menolak YESUS dari Nazaret yang telah datang ke dunia dan bangkit dari kematian, naik ke Surga kemudian datang lagi untuk kedua kalinya.  JIKA Yesus yang dimaksud Kaduri adalah Yesus dari Nazaret maka Kaduri benar. Tetapi jika berbeda dari ‘Yesus dari Nazaret’, maka dalam hal ini, apa yang disampaikan Kaduri yang relevan dengan iman Yahudi dan sangat bertolak belakang dengan iman Kristiani. Harap di catat bahwa Kaduri tidak memberi catatan mengenai siapa Yeshua yang dimaksud. Itu sebabnya, nubuatan ini bersifat terbuka dan tidak spesifik dan hanya untuk kepentingan agama Yahudi saja.

Nama Yeshua adalah nama umum yang ada di Israel. Jika di katakan bahwa Mesias sudah ada dan dipersiapkan maka itu merujuk pada ‘manusia’ dan bukan ‘anak Allah dari Surga’.  Ketidak tepatan dan analisis ini dapat menolong kita untuk ‘tidak terlalu’ heboh menanggapi nubuatan Kaduri.

-          Sejauh yang coba saya cari dan teliti dari sumber-sumber di internet, saya masih belum menemukan naskah asli Kaduri yang katanya pernah di upload di internet. Dalam hal ini, fenomena yang terlihat adalah nubuatan Kaduri baru sebatas ‘kutipan demi kutipan’ dan bersifat ‘katanya’. Segala sesuatu yang tidak jelas sumbernya punya kebenaran yang relatif dan patut dipertanyakan. Seharusnya, kita perlu meneliti dengan seksama ‘naskah catatan Kaduri’ yang asli sehingga memperoleh gambaran yang jelas dan benar bagaimana sebetulnya maksud Kauduri dengan catatannya itu. Semua orang bisa berkata apa saja di internet dan bisa merujuk apapun untuk memihak nubuatan tersebut. Selama catatan itu tidak ada (dan katanya telah dicabut dari situs Kaduri), maka kita patut curiga bahwa ada agenda tersembunyi dibalik gembar-gembor akhir zaman yang melanda Kekristenan belakangan ini.

Penutup

Jangan heboh ! Kita semua sudah tahu sebagai orang Kristen bahwa akhir zaman adalah masa yang pasti dan akan segera. Kapan dan bilamana? Tidak seorang pun tahu persisnya. Kekristenan kita dibangun bukan atas ramalan atau nubuatan manusia. Setepat-tepatnya nubuatan, tidka lebih tepat dari firman Allah yang tertulis. Kita membangun iman kita bukan atas dasar nubuatan tetapi atas dasar firman. Bagian kita dalam berita akhir zaman adalah memberitakan pada setiap generasi bahwa Tuhan sang Mesias itu akan datang dan segera datang. Hidup harus dibaharui. Jangan sampai ketika Dia datang, Dia mendapati kita masih berdosa. Kita semua harus mempersiapkan diri setiap waktu sebab kata-Nya: berjaga-jagalah ! Siapa tahu Dia datang sebentar lagi ! Semoga Tuhan memberkati kita semua