Kamis, September 18, 2014

ROSH HASHANAH 5775: AYIN HEI

Sebuah Prophetic Insight 
Oleh Ps. Sonny Zaluchu 
Gembala Sidang Golden Gate Community Church (G2CC) Semarang
Contact for ministry or Holyland Journey +6281325854343 atau pin 286b31ad

Artikel ini diijinkan dikutip untuk penerbitan warta gereja atau kepentingan rohani lainnya dengan mencantumkan sumber dan penulisnya. Jangan mencuri karya orang lain dan mengakuinya sebagai buah pikiranmu. Itu dosa J

Mazmur 65:12 menulis: “Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu”.  Kata ‘memahkotai’ disitu diambil dari bahasa Ibrani ‘atar’ yang akar katanya berarti mengelilingi atau mengepung untuk tujuan serangan (perang) atau membangun benteng (perlindungan). Inilah yang dipahami sampai dengan hari ini, bahwa setiap tahun dimahkotai Tuhan dengan kebaikan-Nya. Berdasarkan sudut pandang akar-akar Ibrani (hebrew roots), kebaikan Tuhan yang ‘mengepung’ selalu berbeda tiap tahun-nya. Dalam kata lain, setiap tahun membawa berkatnya sendiri-sendiri. Cara orang Ibrani melihat berkat tahun dan menyelaraskan kehidupan mereka dengan ‘mahkota’ tahun yang khas itu, dapat menjadi teladan di dalam kehidupan rohani orang percaya dewasa ini. Mereka memberikan nama di setiap tahun dari dua huruf terakhir tahun tersebut. Rosh Hashanah tahun ini adalah tahun 5775 dan nama tahun sebagai identitas ‘mahkota’ dari Tuhan diambil dari angka 75 yang susunannya sebagai berikut: 70 di dalam aksara Ibrani dinamakan ‘Ayin’ dan 5 dinamakan ‘hei’. Maka disimpulkan, tahun ‘75’ tersebut bernama tahun ‘Ayin Hei’.

Kembali ke Akar Ibrani
Terlebih dahulu kita harus memiliki dasar pengertian yang benar mengenai mengapa kita harus mengikuti penanggalan Ibrani. Kekristenan memiliki akar ibrani yang sangat kuat dan dalam, melalui Yesus Kristus. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma menegaskan hal itu: Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. (Roma 11:17-18). Dengan demikian, apa yang menjadi janji Tuhan bagi Israel (akar) juga berlaku bagi orang Kristen dewasa ini (cabang). Ketika kembali ke akar Ibrani kita, disanalah ditemukan maksud Tuhan yang sejati. Salah satunya soal pergantian tahun. Akar Ibrani menyebutkan pergantian tahun tidak mengikuti kalender Gregorian (di bulan Januari) tetapi kalender biblikal Ibrani yang dimulai pertengahan bulan September. Juga harus disadari bahwa warisan kita sebagai keturunan Abraham hanya dapat diperoleh ketika kita kembali ke akar-nya yaitu melihat bahwa Abraham adalah orang yang pertama kali disebut Ibrani di dalam Alkitab dan Yesus yang menjadi penghubung dengan berkat Abraham itu, juga adalah orang Ibrani asli, tinggal di dalam komunitas dan berbahasa Ibrani. Bahkan Alkitab kita ditulis oleh orang-orang Ibrani dalam cara pandang, budaya dan sosiologis orang-orang Ibrani. Betapa pentingnya memahami segala sesuatu dengan kembali ke akar Ibrani.

Rosh Hashanah sebagai Kepala Tahun.  Rosh Hashanah adalah salah satu hari raya besar orang Ibrani yang menandai pergantian tahun. Perayaan menyambut pergantian tahun ini dilakukan beberapa minggu dan besar-besaran karena ini bukan sekedar beralih tahun tetapi bicara soal peralilhan untuk menerima berkat (mahkota) yang baru. Salah satu yang paling utama di dalam perayaan adalah memahami bahwa pergantian tahun bukan semata-mata pergantian belaka tetapi tanda memasuki awal yang baru, harapan baru, berkat baru dan perjanjian yang baru dengan Tuhan. Itu sebabnya, orang Ibrani memandang bahwa awal tahun adalah sebuah ‘kepala tahun’. Sebagaimana tradisi orang-orang Tionghoa untuk keluarga baru dimana orang tua menyuapi anaknya dengan makanan yang manis, demikian dalam tradisi Ibrani mereka mengawali kepala tahun dengan memakan buah yang manis seperti jeruk, korma atau bahkan permen, untuk mengingatkan dan bertindak secara profetik bahwa disepanjang tahun yang akan dilalui, segala sesuatu akan berjalan dengan manis dan jauh dari kepahitan. Dalam perjamuan makan malam di keluarga, khusus hari itu, meja diisi dengan menu ‘kepala ikan’ sebagai tanda untuk mengingatkan, menerima, mengklaim dan memateraikan “berkat kepala” sebagaimana disebutkan di dalam Ulangan 28:13, “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia.” Di akhir kalimat saat berdoa mereka mengucapkan dan mendeklarasikan: she nihye ka rosh, ve lo la zanav. Secara bebas artinya: aku adalah kepala dan bukan ekor! Dengan demikian, kalau ini menjadi sebuah bagian dari akar ibrani, maka ini bukan hanya tradisi mereka tetapi juga menjadi tradisi bagi kita yang percaya. Saya percaya dan mengikutinya. Anda?

Ayin Hei
Berikut ini beberapa prophetic insight dari tahun ayin hei yang kiranya menjadi ‘track’ kehidupan rohani kita di dalam Tuhan. Orang Ibrani gemar mengutak-atik angka dan mencari maknanya secara rohani. Ilmu itu disebut dengan Gematria.

Tahun Berkat Ganda. Angka 5 atau ‘hei’ salah satunya berarti lima jari. 5 jari ini berkaitan dengan penumpangan tangan dalam hal pemberian berkat dari Tuhan. Artinya jelas, bahwa tahun Ayin Hei ini secara khusus dimahkotai dengan berkat-Nya secara  materi dan rohani. Jika dimengerti bahwa ‘hei’ adalah lima jari dari tangan yang memberkati,  maka struktur tahun 5775 yang unik dan jarang terulang ini, menjadi sangat tidak kebetulan. Angka 7 di dalam Alkitab dikenal sebagai angka Tuhan (kesempurnaan). Dua angka ini diapit oleh ‘hei’ (angka 5) di kiri dan kanan. Secara akar ibrani, itu berbicara mengenai dua tangan Tuhan, di kiri dan kanan, yang diletakkan di datas kepala anak-anak-Nya. Satu tangan saja sudah mendatangkan berkat luar biasa, apalagi jika diturunkan melalui dua tangan. Ini adalah tahun pelipatgandaan (double portion) berkat Tuhan di dalam diri orang yang percaya. Saya percaya! Anda? Firman Tuhan di dalam Mazmur 5:13 mengingatkan, “Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.” Bagian kita untuk menerimanya sepanjang tahun ini adalah menjadi orang benar.

Tahun Promosi.  Huruf ‘hei’ dalam abjad Ibrani ditulis hei Bentuk itu menjelaskan makna profetik berikutnya dari Tahun Ayin Hei. Struktur abjad tulisan hei terdiri dari dua garis. Satu berbentuk “balok horizontal” yang berada di atas “tiang vertikal”.  Balok horizontal itu bicara tentang sesuatu yang melebar sedangkan tiang vertikal itu bicara tentang sesuatu yang makin tinggi dan makin naik. Lebar berbicara tentang teritori yang makin luas. Ingat doa Yabes? Di dalam 1 Tawarikh 4:10 dicatat sangnat jelas, Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu. Maka kita harus bersiap-siap. Tahun ini sudah dimulai dimana segala apa yang kita kerjakan akan Tuhan perbesar kapasitasnya dan menjangkau ke wilayah, daerah atau teritori yang lebih luar yang mungkin selama ini tidak terpikirkan untuk dijangkau. Tuhan akan bawa kita ke sana. Bukan hanya itu, Tuhan juga akan membawa kita naik. Ada dua hal pengertian soal ‘naik’ yang dijelaskan oleh tiang vertikal dalam abjad hei. Pertama, di bawa naik artinya diangkat dari sesuatu yang buruk, masalah, yang selama ini menenggelamkan hidup dan keberadaan kita. Dia mengangkat untuk melepaskan dan memulihkan, untuk membalik keadaan kita menjadi baru! Pengertian kedua adalah mendorong dan membawa naik. Ini bicara tentang peninggian untuk tujuan promosi. Ayat ini akan digenapi. Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain (Mazmur 75:7-8). Saya percaya! Anda?

Yang harus dilakukan. Ini pertanyaan yang penting karena hanya dengan menjawab pertanyaan ini, maka berkat Ayin Hei akan menjadi milik kita. Berkat ini, hanya bisa diterima jika orang yang menerima berkat itu, berada di depan orang yang memberi berkat. Jika mau terus menerus diberkati maka, harus terus menerus di depan Tuhan agar kedua tangannya bisa terus menerus di atas kepala kita! Ingat, ‘hei’ (5) digandeng oleh ‘ayin’ (70). Disebut Ayin Hei karena ‘ayin’ artinya mata atau melihat. Selama kita mempertahankan diri berada di dalam jangkauan mata Tuhan, berkat ayin hei itu akan menjadi milik kita selamanya. Bukan saatnya lagi menutup diri dari mata Tuhan dan menyembunyikan hidup kita. Hidup kita terbuka dihadapannya. Tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Kita harus membiarkan mata-Nya mengawasi untuk tujuan menjaga dan sekaligus mengingatkan kita jika ada yang salah.

Mazmur 75. Tidak kebetulan. Ayin Hei adalah nama dari tahun 75. Dan sangat indah doa di dalam Mazmur 75 sebagai sebuah doa profetik bahwa kita sepanjang tahun ini akan menmceritakan kemuliaan dan keajaiban nama-Nya karena tanduk kita telah ditinggikannya. Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kami bersyukur, dan orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. "Apabila Aku menetapkan waktunya, Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran. Bumi hancur dan semua penduduknya; tetapi Akulah yang mengokohkan tiang-tiangnya." Aku berkata kepada pembual-pembual: "Jangan membual." Dan kepada orang-orang fasik: "Jangan meninggikan tanduk! Jangan mengangkat tandukmu tinggi-tinggi, jangan berbicara dengan bertegang leher!" Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain. Sebab sebuah piala ada di tangan TUHAN, berisi anggur berbuih, penuh campuran bumbu; Ia menuang dari situ; sungguh, ampasnya akan dihirup dan diminum oleh semua orang fasik di bumi. Tetapi aku hendak bersorak-sorak untuk selama-lamanya, aku hendak bermazmur bagi Allah Yakub. Segala tanduk orang-orang fasik akan dihancurkan-Nya, tetapi tanduk-tanduk orang benar akan ditinggikan.


Happy Rosh Hashanah. She nihye ka rosh, ve lo la zanav

Quo Vadis Domine? Murid Kristus yang Dipanggil untuk Diutus dan Memikul Salilb di Tengah Dunia yang Gelap

ORASI ILMIAH WISUDA STA JEMBER 2013/2014 27 Agustus 2014


Oleh: Dr. Sonny Eli Zaluchu, M.A, M.Th, D.Min[1]

Ketua Senat,  Bapak/Ibu anggota senat, hadirin, dan seluruh wisudawan/wati dan civitas akademika STA Jember yang saya hormati,

Perkenankan pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih menerima kehormatan menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Wisuda STA Jember tahun perkuliahan 2013/2014. Sekaligus juga pada kesempatan ini saya mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan/wati  yang akan mengakhiri masa belajarnya di STA Jember pada satu sisi dan akan memulai perjalanan panjang sebagai seorang ‘talmidin’ Kristus di dunia yang gelap ini. Itu sebabnya dalam orasi ini, saya akan menyampaikan topik, “Quo Vadis, Domine? Murid Kritus yang Dipanggil untuk Diutus dan Memikul Salib Di tengah Dunia yang Gelap.”

Ketua Senat,  Bapak/Ibu anggota senat, hadirin, dan seluruh wisudawan/wati dan civitas akademika STA Jember yang saya hormati,

Di dalam konsep pemuridan yang dikembangkan Tuhan Yesus, kita semua tentunya sudah mengerti bahwa ‘talmidin’ adalah sebuah konsep Ibrani yang sangat khas tentang disciple atau discipleship atau disebut juga, murid. Disebut khas karena hal itu bukan sekedar posisi sebagai murid tetapi menuntut suatu tanggung jawab, baik secara moral, maupun dalam perilaku di hadapan orang lain; sehingga melaluinya, seseorang itu dikenali oleh publik sebagai murid Kristus sejati. Bahkan di hadapan Tuhan, nama itu kelak dipertanggung jawabkan di dalam kekekalan. Semula, nama itu ditujukan bagi dua belas murid Kristus. Tetapi seiring dengan kekristenan yang terus berkembang melewati batas-batas negara, politik dan geografis serta budaya, maka mereka yang menjadi pengikut Kristus, karena iman dan kepercayaan-nya itu, juga  disebut murid Kristus. Darisanalah kemudian muncul nama ‘orang Kristen’ (Christian). Sehingga, di mana seseorang menerima Yesus sebagai juru selamat pribadi, maka pada saat yang bersamaan, orang tersebut telah menjadi seorang ‘talmidin’. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, bukan hal yang mudah untuk disebut sebagai seorang murid Kristus. Mengapa demikian?

Menjadi murid adalah panggilan. Dua belas murid Yesus dipanggil untuk mengikuti Yesus. Demikian halnya dalam kekristenan. Semua pengikut Kristus pasti mengalami satu fase yang disebut panggilan. Definisi yang paling baik dikemukakan oleh Os Guinness di dalam bukunya berjudul The Calling. Dikatakannya, panggilan adalah kebenaran bahwa Allah memanggil kita kepada diri-Nya sehingga seluruh keberadaan kita, segala sesuatu yang kita lakukan, dan segala sesuatu yang kita miliki, diinvestasikan dalam suatu pengabdian dan dinamisme khusus yang dijalani sebagai respon kepada seruan dan pelayanan-Nya.[2]

Pada waktu Yesus memanggil Petrus, Tuhan menginginkan satu perubahan hidup yang radikal ketika Ia berkata kepada Petrus, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Matius 4:19). Dari situ kita mengerti, makna yang terkuat di dalam panggilan adalah mengarahkan segala kepentingan hidup untuk memenuhi tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya. Di titik ini, bukan lagi keinginan kita yang berkuasa melainkan mengarahkan semua keinginan kita selaras dengan kehendak-Nya. Ini adalah sebuah titik pencapaian yang telah dicapai Paulus dan hendaknya kita semua, ketika rasul besar ini berkata, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Galatia 2:20). Disitu ada kalimat yang sangat tegas dari Paulus, I am crucified with Christ. Aku telah ikut disalibkan di dalam Kristus. Inilah makna terdalam dari sebuah panggilan ketika Yesus berkata, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23).

Tidak ada pilihan lain bagi seorang murid Kristus kecuali memikul salib dan titik terberat di dalam usaha memikul salib itu adalah menghadapi aniaya yang berujung pada pengorbanan. Itu adalah sebuah harga tertinggi dari sebuah panggilan yang berhasil. Banyak murid gagal dan tidak tuntas karena tidak setia, gagal menyangkal diri dan tidak mau memikul salib. Penyangkalan diri dan memikul salib adalah sebuah harga yang harus di bayar. Memberitakan Injil sebagai murid Kristus bukanlah kesenangan duniawi. Tetapi menuntut harga yang harus dibayar melalui cara kita melepaskan diri dari kesenangan-kesenangan duniawi dan menyalibkan kedagingan. Harga yang harus dibayar dapat saja membuat kita kehilangan kebahagiaan; tetapi itulah yang telah menjadi standar Tuhan. Apakah itu standar yang terlalu tinggi bagi kita sehingga sulit mencapainya? Bukan persoalan itu! Masalah yang sebenarnya adalah kerelaan kita memenuhi tuntutan Tuhan, untuk melepaskan semua hal, demi mengikuti-Nya.

Ketua Senat,  Bapak/Ibu anggota senat, hadirin, dan seluruh wisudawan/wati dan civitas akademika STA Jember yang saya hormati,

Tidak semua orang bisa memenuhi panggilannya dengan baik. Ketika Tuhan mengatakan, “kamu akan kujadikan penjala manusia,” itu adalah sebuah panggilan yang bergema di setiap waktu, zaman dan generasi, untuk memenuhi dan menuntaskan sebuah tugas yang Tuhan berikan. Dr. Bobby Clinton dari Fuller Theological Seminary, pernah melakukan sebuah penelitian tentang kepemimpinan di dalam Alkitab. Hasil studi itu menyebutkan dari 100 orang nama pemimpin terkemuka yang tercatat di dalam Alkitab, ditemukan hanya 49 orang yang berhasil menyelesaikan tugas dan panggilannya dengan baik. Sisanya gagal karena,  berhenti di awal tugas karena ditolak, terbunuh, gugur, atau dijatuhkan baik secara positif maupun negatif.  Ada pula yang gagal karena menyelesaikan dengan buruk akibat rusaknya hubungan pribadi dengan Tuhan. Tetapi banyak di antara para pemimpin itu, hanya menyelesaikan setengah-setengah dari tugas yang dibebankan kepadanya. Pada mulanya mereka memulai dengan baik tetapi akhirnya tercemar oleh dosa dan mereka berjalan dengan konsekuensi negatif akibat perilaku tersebut.[3]

Panggilan, bukanlah sekedar ajakan. Di dalamnya ada tugas yang harus dituntaskan dengan baik. Memulai dengan baik dan mengakhiri dengan baik (finishing well). Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan, paling tidak kita melihat bahwa panggilan yang tuntas di dalam tugasnya, adalah murid yang terus memelihara hubungan pribadinya dengan Tuhan. Itu yang Tuhan kehendaki ketika kita menjalankan tugas didunia ini menjadi terang dan menjadi garam dunia. Dua hal yang paralel Tuhan ingatkan, berfungsi menjadi terang dan berfungsi memberi pengaruh yang positif seperti dikatakan-Nya di dalam Matius 5:13-14  "Kamu adalah garam dunia….” Dan “Kamu adalah terang dunia.” Tuhan tidak meminta kita ‘menjadi’ garam atau ‘menjadi’ terang, tetapi Tuhan tegaskan kita ‘adalah’ terang dan garam itu ! Murid yang yang tidak bisa hadir sebagai terang dan garam adalah murid yang telah melupakan atau lari dari panggilannya.

Sebuah panggilan adalah ajakan untuk mengikuti. Ketika Yesus berkata, “Ikutlah aku…” (walk after me) dibutuhkan kepatuhan dan kesetiaan. Itu bukan jalan yang mudah dilalui. Tidak mengherankan murid-murid berguguran di tengah jalan dan kehilangan kesetiaan mereka. Mengikuti berarti berada di belakang. Orang-orang menjadi kehilangan kesetiaan mereka manakala sesuatu yang mereka ikuti itu telah menggantikan posisi yang seharusnya ditempati Kristus. Kita semua ingat bagaimana konflik batin yang dialami seorang muda, yang datang pada Yesus dan meminta untuk menjadi murid-Nya. Yesus berkata kepadanya, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya (Matius 19:21-22). Banyak dari kita mengikuti jejak orang muda itu dan menjadi sedih. Penulis Injil Matius dengan tepat mendeskripsikan perasaan sedih orang muda itu dengan kata lypeo, sebuah kesedihan yang sangat dalam disertai dengan perasaan berat hati.[4] Mengapa? Karena kita lebih setia pada hal-hal materi daripada panggilan kekekalan. Kita lebih memilih menjadikan materi, sebagai sesuatu yang ada di depan untuk diikuti, daripada Yesus. Bagaimana kita berfungsi sebagai terang dan garam dunia manakala dunia justru menjadi panutan di dalam menuntaskan panggilan-Nya?

Sidang Senat, para Civitas Akademika dan hadirin yang berbahagia,

Saya ingin mengakhiri orasi ini dengan sebuah kisah yang meskipun tidak terdapat di dalam Injil tetapi telah menjadi sebuah tradisi yang kuat di dalam gereja, mengenai seorang murid Kristus, menuntaskan panggilan tugasnya untuk menggembalakan domba-domba-Nya, di tengah aniaya yang mengancam jiwanya. Ia mengalami satu titik dimana, sebetulnya hampir memilih jalan lain, yaitu melarikan diri.

Murid itu bernama Rasul Petrus, sosok yang pernah dinubuatkan Yesus menjadi batu karang gereja. Ia bersiap melarikan diri, keluar dari kota Roma, karena aniaya yang hebat melanda orang-orang Kristen di sana. Pada masa itu Nero menjadi penguasa dan menjadi alat iblis untuk menghancurkan kekristenan. Orang-orang Kristen diburu, ditangkap dan diumpankan ke binatang buas sebagai tontonan dan kesenangan. Tubuh mereka diikat pada tiang, disiram minyak kemudian disulut api untuk menjadi obor sehingga tempat pesta orang Romawi menjadi terang.

Aniaya yang luar biasa melanda seluruh orang Kristen di Roma. Inilah yang menjadi alasan Petrus didesak meninggalkan kota itu. Apalagi, Tigellinus, komandan pasukan Nero telah bertekad untuk mengejar dan menangkap Petrus karena dianggap sebagai tokoh dibalik berkembangnya kekristenan di kota Roma. Panglima ini mendapat legalitas penuh untuk melakukan tugasnya. Orang-orang Kristen di Roma segera mencari cara menyembunyikan Petrus dan mendesak-nya melarikan diri. Tradisi mencatat dalam sebuah usaha pelarian, Petrus disertai oleh Nazarius dan sejumlah orang Kristen lainnya. Mereka beranggapan bahwa kekristenan harus bertahan dan menyelamatkan Petrus adalah bagian penting. Orang-orang Kristen beranggapan bahwa Petrus sebagaimana dinubuatkan Tuhan, adalah batu karang tempat mendirikan gereja. Ketika kekristenan di Roma hancur maka Petrus dapat memulainya di tempat lain dimana injil bebas diberitakan, sehingga gereja tetap berdiri.

Sebetulnya Petrus tidak mau atau berkehendak meninggalkan Roma. Tetapi desakan dan pengertian yang diberikan oleh orang-orang yang sedang teraniaya itu membuatnya harus bergegas pergi. Tetapi sesuatu terjadi. Saat tiba di gerbang kota pada jalan yang lurus, Petrus tiba-tiba mendapat penglihatan. Langkah mereka terhenti. Kejadian itu mengherankan orang-orang disekitarnya, karena hanya Petrus yang menyaksikannya. Tiba-tiba dari arah depan, muncul sebuah cahaya yang sangat terang. Petrus berhenti dan menutup mata dengan tangan-nya karena silau. Rasul ini berkata, “Ada orang datang kepada kita dari arah depan melalui sinar Matahari.” Tetapi sekali lagi, penglihatan itu hanya untuk Petrus. Nazarinus dan orang-orang lain, tidak melihat siapapun dan tidak mendengar langkah kaki manusia. Petrus seperti orang yang terkejut dan tertegun pada sosok yang didepannya. Petrus jatuh berlutut sambil berteriak dengan suara yang keras sambil mengulurkan kedua tangannya pada sosok di depannya, “Kristus…Kristus…!” Lalu ia tertelungkup seakan sedang mencium kaki seseorang. Keadaan sepi. Nazarinus terdiam menyaksikan peristiwa itu dan membiarkan Petrus. Beberapa saat kemudian, terdengar isak tangis Petrus dan dengan suara terputus-putus Petrus berkata, “Quo vadis, Domine? - Tuhan, kemanakah engkau pergi?”.  Nazarinus tidak mendengar jawaban atas pertanyaan Petrus itu, tetapi ditelinga Petrus terdengar satu jawaban yang disampaikan dengan lirih dan lembut, “Roman vado iterum crucifigi - Aku pergi ke Roma, untuk disalibkan kedua kalinya.” Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Petrus berdiri dan berbalik arah kembali ke kota. Nazarius mengulangi kata-kata itu, “Quo vadis, Domine?” dan Petrus menjawab, “Ad Roman.” Lalu mereka berjalan kembali ke arah kota Roma. Ungkapan ini muncul beberapa kali dalam terjemahan Alkitab Vulgata[5], seperti dalam Yohanes 13:36 -  Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku."

Akhirnya, Petrus kembali ke Roma. Ia memilih pikul salilb dengan resiko terberat, ditangkap  dan kehilangan nyawa. Dan ia benar-benar mengalaminya. Di kota itu Petrus menjadi martir. Petrus dijatuhi hukuman mati dengan cara disalib. Detik-detik saat ia disalibkan, Petrus memohon, “Aku tidak layak mati dengan cara Tuhanku mati!” Maka para prajurit Roma, akhirnya menyalibkannya terbalik, dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas.

Ketua Senat,  Bapak/Ibu anggota senat, hadirin, dan seluruh wisudawan/wati dan civitas akademika STA Jember yang saya hormati,

Kepada kita semua, kiranya kesaksian ini dapat menjadi bahan permenungan. Petrus sudah lama mati. Pertanyaan yang harus dijawab adalah, seandainya kita, menjadi Petrus yang berhadapan dengan masalah yang sama hari ini, apakah kita melangkahkan kaki keluar dari Roma atau berbalik kembali menuju ke sana, dengan segala resikonya? Siapkah kita mengabdi secara total kepada Kristus melalui usaha memikul salib? Biarlah itu menjadi beban pikiran kita, hingga menemukan satu jawaban yang akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan, yang telah memanggil kita.

Quo vadis, Domine?





[1] Sonny Eli Zaluchu, lahir di Gunung Sitoli Nias, Sumatera Utara. Menyelesaikan M.A dalam Kepemimpinan Kristen tahun 2001; D.Min dalam Leadership and Social Transformation dari Harvest International Theological Seminary Jakarta tahun 2006, sebagai lulusan terbaik.  Mengambil kajian Biblika Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia (STBI Semarang) untuk program M.Th dan menyelesaikannya tahun 2010. Program Doctor of Theology (D.Th) di STBI diselesaikannya dua tahun kemudian pada tahun 2012 dengan predikat Summa Cum Laude. Tinggal di Semarang bersama isteri dan tiga anak laki-laki. Selain mengajar sebagai dosen di beberapa Sekolah Tinggi Teologia (STT), juga menjadi Gembala Sidang G2CC – Golden Gate City Blessing Church Semarang. Buku yang pernah ditulis antara lain: Prajurit Peperangan Rohani (Nafiri Gabriel, Jakarta); Pemimpin Pertumbuhan Gereja (Kalam Hidup, Bandung), Penglihatan (Kalam Hidup, Bandung), Intrik Dalam Gereja (Metanoia, Jakarta), Kesembuhan (Metanoia, Jakarta), Membawa Kegerakan Allah di dalam Gereja (Penerbit Andi, Yogyakarta), Bangkit dari Stagnasi Rohani (Penerbit Andi,. Yogyakarta), Biblical Theology (Sinai Publisher, Semarang), Holyland: Jejak Kaki Tuhan di Tanah Suci (Golden Gate Publishing, Semarang). Dapat dihubungi lewat email di gloryofgodmin@gmail.com.

[2] Os Guinness, The Calling (Bandung: Pionir Jaya, 2011), 15.
[3] Richard Clinton dan Paul Leavenworth, Memulai Dengan Baik (Jakarta: Metanoia, 2004), 16-17.
[4] Stephen D. Renn (Ed.), Expository Dictionary of Bible Words (Massachussets: Hendrickson Publisher, 2010), 917.
[5] Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Latin yang dikerjakan oleh Hieronimus.

Minggu, Januari 19, 2014

HOLYLAND MARET 2014




HOLY LAND MARET 2014
Mesir (1), Sinai (1), Jerusalem (3), Tiberias (2), Dead Sea Jordania (1)
By: Emirates. Hotel *4/5. Bus VVIP+Free Wifi.

Highlight: Mount Hermon, Banyas, Nain, City of David, Siloam, Gihon Spring, David's Well,
Dome of the Rock, Golden Gate, Tunnel, Kiryat Jearim, Shiloh, Dead Sea,
Sinai, Bukit Muqatam, Dalmanutha, Boaz Field

Bersama HOLYLAND Center Indonesia dan BLESSING Holyland Tour
Info/Pendaftaran: 081.32.585.4343

Rabu, Januari 15, 2014

Rabi Kaduri – Ariel Sharon – Nubuatan Kedatangan Mesias

Ps. Sonny Eli Zaluchu (G2CC Semarang)
Silahkan kutip untuk penerbitan gereja/referensi dengan menyebutkan sumbernya

HARI-hari ini di BBM di kalangan Kristiani beredar dengan cepat berita usang tentang akhir zaman dan menjadi agak baru setelah dikaitan dengan ramalan seorang Rabi Yahudi bernama Yitzhak Kaduri. Rabbi ini dikabarkan punya kemampuan meramal masa depan dan telah meninggal dunia. Menurut kabar yang bereda, dia mengaku didatangi oleh Al-Masih atau Sang Penyelamat pada tahun 2006. Juga dikabarkan bahwa Kaduri menubuatkan tentang kedatangan Mesias pasca kematian Ariel Sharon, mantan Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri Israel. Saya kutib salah satu pemberitaan itu dari sebuah media online:  “Menurut pemuka Yahudi dari mazhab Sephardic Haredim ini, Al-Masih mengatakan bahwa dirinya tidak akan turun ke bumi sampai Sharon meninggal. Dua bulan setelah ramalan tersebut Sharon jatuh koma dan Kaduri meninggal di usia 108 tahun….Delapan tahun kemudian, Sabtu lalu, Sharon meninggal dunia. Kaduri tidak menyebutkan waktu dan tempat yang spesifik soal kedatangan Al-Masih. Hanya dikatakan "setelah kematian Sharon".  (http://dunia.news.viva.co.id/news/read/472669-kematian-ariel-sharon-dan-ramalan-kedatangan-al-masih).

Siapa Kaduri
Rabi Kaduri adalah Rabi Yahudi kelahiran Bagdad, Irak, yang dikenal memiliki kemampuan profetik dan meninggal pada usia 108 tahun. Beliau sangat terkenal tetapi rendah hati. Rabi ini punya pengikut yang sangat banyak dan penerus yang bahkan kini menjadi salah satu pelaku politik di Israel melalui aktifitas mereka di partai politik. Rabi karismatik ini menjelang kematiannya, dikabarkan meninggalkan catatan tertutup yang mengungkapkan nubuatan tentang Mesias termasuk di dalamnya berisi nama dari Al-Masih yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Menurut berita, catatan itu sempat dipublikasikan di situs Kaduri tetapi akhirnya dihapus kembali karena menimbulkan kehebohan di kalangan penganut agama tertentu.

Mengapa Ariel Sharon?
Menariknya, dalam catatan nubuatan itu, Kaduri menyinggung nama mantan Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.  Ariel Sharon dikenal sebagai seorang pemimpin Israel yang memilih melakukan kekerasan dan melakukan perang dalam mempertahankan berdirinya negara Israel dan untuk melawan musuh-musuh Israel. Perang dan kekerasan adalah pilihan utama Ariel Sharon dalam mempertahankan diri selama konflik berlangsung. Ucapannya yang terkenal: “sebelum musuh-musuh Israel menghancurkan Israel, maka kita perlu menghancurkan mereka terlebih dahulu…” Atas sikapnya yang radikal itu, Ariel punya banyak pengagum dan sekaligus juga musuh di kalangan bangsanya sendiri. Terlebih lagi di kalangan musuh-musuh Israel, nama Ariel sangat jauh tidak populer dan dianggap sebagai musuh nomor satu yang perlu diganjar akibat tindakannya yang dianggap sebagai penjahat perang.

Nubuatan Kaduri menjadi terkenal karena ada nama Ariel Sharon di dalamnya. Sebetulnya, Ariel Sharon tidak punya hubungan apapun dengan konten dari berita yang hendak disampaikan Kaduri. Tidak ada hubungannya dengan aktifitas dan sepak terjang Ariel Sharon selama beliau masih hidup. Orang yang bergerak dalam dunia profetik akan mengerti bahwa sebuah ‘pernyataan’ kadang membutuhkan patokan di dalam garis profetik. Kebetulan saja dia tokoh terkenal dan melalui patokan itu, orang akan mudah mengingat ‘pesan profetik’ yang disampaikan. Akan beda, misalnya, jika dikatakan setelah kematian Pak Amir tukang becak, maka Mesias akan datang. Penyebutan nama Pak Amir menjadi sebuah patokan profetik. Tetapi orang yang tidak kenal Pak Amir akan cenderung mengabaikan pesan profetik itu dan menganggapnya angin lalu. Nama Ariel Sharon disebut dan semua orang tiba-tiba mengingatnya !

Apa kata Alkitab tentang KedatanganNya?
Sebelum menganalisis nubuatan Kaduri, ada baiknya saya kutip beberapa pernyataan Alkitab sebagai ‘patokan’ kita dalam merespon fenomena berita akhir zaman ini. Paling tidak, ada empat catatan penting yang mengingatkan kita tentang berita akhir zaman, menurut catatan di dalam Alkitab. Apa saja catatan itu:

Pertama, Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang telah datang ke bumi dan akan datang kembali ke bumi di akhir zaman.
- Matius 2:4  Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
- Matius 16:16  Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
- Kisah 1:11  dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Kedua, tidak ada seorangpun yang tahu kapan Dia datang
Markus 13:32  Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja."
- Markus 13:33  "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.
- Lukas 17:34  Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

Ketiga, hanya ada tanda-tanda menjelang kedatanganNya yang kedua kali
Mat 24:32  Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat.
- Mat 24:33  Demikian juga, jika kamu melihat semuanya ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu.
Mat 24:36  Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."

Keempat, kedatanganNya adalah identik dengan akhir zaman
Mat 24:3  "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?"
- Mat 24:30  Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.
- Mat 24:31  Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan  mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.

Dari keempat hal tersebut menjadi jelas bagi kita bahwa berita akhir zaman telah dinubuatkan oleh Alkitab sendiri dengan tegas dan sangat spesifik kecuali satu hal: soal waktu kedatanganNya, tidak ada seorangpun yang tahu. Berkali-kali kita belajar di dalam sejarah mengenai orang-orang yang mengaku mendapat pewahyuan tentang waktu kedatangan Tuhan yang kedua kali, bahkan mengaku telah melakukan p;erhitungan dengan tepat, tetapi berkali-kali pula kita berhadapan dengan fakta bahwa semua perkiraan dan pengakuan mereka itu, tidak terbukti. Yang pasti adalah: (1) Tuhan Yesus dari Nazaret adalah Mesias, (2) Dia sudah datang ke dalam dunia dan setelah kebangkitannya dari kematian, Dia terangkat ke Surga dan akan datang lagi menjelang akhir zaman; (3) Tidak ada seorangpun yang mengetahui persis kapan Dia datang!

Mengkritisi Kaduri
Berdasarkan ungkapan Alkitab tersebut, maka sekarang kita akan meneropong berita akhir zaman yang disampaikan beberapa orang dengan mengutip pernyataan Kaduri.

a.       Dalam hal ini Kaduri benar
-          Kaduri tidak menjelaskan tanggal yang spesifik mengenai kedatangan Mesias kecuali memberikan patokan melalui kematian Ariel Sharon (siapapun bisa memberikan patokan dan bebas memilih siapa saja). Ini merupakan sebuah tanda saja dan respon kita adalah belajar dari tanda-tanda zaman yang ada !
-          Kaduri menegaskan kedatangan Mesias sudah dekat (sama dengan berita akhir zaman yang sudah berulang kali disampaikan dari masa ke masa oleh banyak hamba Tuhan). Ini adalah sebuah penegasan bagi generasi sekarang mengenai akhir zaman yang mungkin sudah semakin dekat. Respon kita adalah mempersiapkan diri menyongsong kedatangan-Nya.
-          Kaduri adalah Rabi Yahudi. Sebagaimana kita tahu Yahudi pada umumnya menolak YESUS sebagai Mesias. Tetapi menurut kabar orang yang mengutip catatan Kaduri disebutkan bahwa Mesias adalah “Messiah’s name is Yehoshua, Yeshua, Yahusha” atau dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Yesus.  Hal ini didapat dipakai sebagai sebuah penegasan terhadap iman Kristiani di dalam nama Yesus.

b.      Dalam hal ini KADURI perlu dikritisi
Tetapi kita perlu juga melihat secara kritis pernyataan nubuatan yang disampaikan oleh Kaduri agar iman kita sendiri tidak goncang dan tidak menghubung-hubungkan dengan hal apapaun.
-          Kaduri adalah Rabi Yahudi dan bukan Rabi Mesianik. Rabi Yahudi tidak percaya Yesus dari Nazaret sebagai Mesias, sedangkan Rabi Mesianik percaya bahwa Mesias adalah Yesus dari Nazaret dan lahir menjelma sebagai manusia melalhu kelahiran lewat perawan Maria. Pengharapan Mesianik Yahudi berbeda dengan pengharapan Mesianik pengikut Mesianik. Pengharapan Mesianik Yahudi adalah: Mesias belum datang dan akan datang. Pengharapan Mesianik pengikut Mesianik: Mesias sudah datang yakni Yesus Kristus dari Nazaret dan telah menjadi juru selamat dunia melalui kematian di Salib dan kebangkitanNya dari dunia orang mati dan terangkat ke Surga dan akan datang kembali untuk kedua kalinya untuk menghakimi umat manusia. Jadi apa yang disampaikan Rabi Yahudi berbeda ‘frame’ dan ‘understanding’ dengan aliran Mesianik dan kekristenan.

Berikut saya kutip pernyataan Rabbi Stuart Federow
“Most Christians identify the messiah with Jesus, define him as Gd incarnate, and believe he died for the sins of humanity as a blood sacrifice. This requires that one accept the concept of vicarious atonement. However, as was illustrated and explained in the essay "One person cannot die for the sins of another," this idea is the opposite from what is written in Deuteronomy 24:16, 'Every man shall be put to death for his own sin' -- also expressed in Exodus 32:30-35 and Ezekiel 18. The mainstream Christian idea of the messiah also assumes that Gd wants and will accept a human sacrifice. After all, it was either Jesus-the-human or Jesus-the-divine who died on the cross. Jews, and presumably, Christians as well, believe that Gd cannot die, and so all that Christians are left with, in the death of Jesus on the cross, is a human sacrifice. However, in Deuteronomy 12:30-31, Gd calls human sacrifice an abomination, and something He hates: 'for every abomination to the Etrnl, which he hateth, have they done unto their gods; for even their sons and their daughters they have burnt in the fire to their gods.' All human beings are sons or daughters, and any sacrifice to Gd of any human being would be something that Gd would hate. Therefore, the Christian conception of the messiah consists of ideas that are unbiblical.” (http://www.whatjewsbelieve.org/explanation3.html)

Sebagaimana kita ketahui bersama, Yahudi pada umumnya menolak YESUS dari Nazaret yang telah datang ke dunia dan bangkit dari kematian, naik ke Surga kemudian datang lagi untuk kedua kalinya.  JIKA Yesus yang dimaksud Kaduri adalah Yesus dari Nazaret maka Kaduri benar. Tetapi jika berbeda dari ‘Yesus dari Nazaret’, maka dalam hal ini, apa yang disampaikan Kaduri yang relevan dengan iman Yahudi dan sangat bertolak belakang dengan iman Kristiani. Harap di catat bahwa Kaduri tidak memberi catatan mengenai siapa Yeshua yang dimaksud. Itu sebabnya, nubuatan ini bersifat terbuka dan tidak spesifik dan hanya untuk kepentingan agama Yahudi saja.

Nama Yeshua adalah nama umum yang ada di Israel. Jika di katakan bahwa Mesias sudah ada dan dipersiapkan maka itu merujuk pada ‘manusia’ dan bukan ‘anak Allah dari Surga’.  Ketidak tepatan dan analisis ini dapat menolong kita untuk ‘tidak terlalu’ heboh menanggapi nubuatan Kaduri.

-          Sejauh yang coba saya cari dan teliti dari sumber-sumber di internet, saya masih belum menemukan naskah asli Kaduri yang katanya pernah di upload di internet. Dalam hal ini, fenomena yang terlihat adalah nubuatan Kaduri baru sebatas ‘kutipan demi kutipan’ dan bersifat ‘katanya’. Segala sesuatu yang tidak jelas sumbernya punya kebenaran yang relatif dan patut dipertanyakan. Seharusnya, kita perlu meneliti dengan seksama ‘naskah catatan Kaduri’ yang asli sehingga memperoleh gambaran yang jelas dan benar bagaimana sebetulnya maksud Kauduri dengan catatannya itu. Semua orang bisa berkata apa saja di internet dan bisa merujuk apapun untuk memihak nubuatan tersebut. Selama catatan itu tidak ada (dan katanya telah dicabut dari situs Kaduri), maka kita patut curiga bahwa ada agenda tersembunyi dibalik gembar-gembor akhir zaman yang melanda Kekristenan belakangan ini.

Penutup

Jangan heboh ! Kita semua sudah tahu sebagai orang Kristen bahwa akhir zaman adalah masa yang pasti dan akan segera. Kapan dan bilamana? Tidak seorang pun tahu persisnya. Kekristenan kita dibangun bukan atas ramalan atau nubuatan manusia. Setepat-tepatnya nubuatan, tidka lebih tepat dari firman Allah yang tertulis. Kita membangun iman kita bukan atas dasar nubuatan tetapi atas dasar firman. Bagian kita dalam berita akhir zaman adalah memberitakan pada setiap generasi bahwa Tuhan sang Mesias itu akan datang dan segera datang. Hidup harus dibaharui. Jangan sampai ketika Dia datang, Dia mendapati kita masih berdosa. Kita semua harus mempersiapkan diri setiap waktu sebab kata-Nya: berjaga-jagalah ! Siapa tahu Dia datang sebentar lagi ! Semoga Tuhan memberkati kita semua

Rabu, November 20, 2013

SIAPAKAH YESUS DAN APAKAH KARYANYA?

-   Sebuah refleksi kritis Kristologi Alkitabiah -
Oleh : Ps. Sonny Eli Zaluchu, M.Th, D.Th
Alumnus Program Pascasarjana STBI Semarang
(ijin kutipan diberikan dengan mencantumkan sumber)

Dua hal yang sangat penting dalam hal kristologi adalah adalah siapakah Kristus (pribadiNya) dan apakah yang menjadi rencanaNya di dalam dunia (karyaNya). Keberadaan Yesus ditegaskan oleh Alkitab sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia[1], dan menjadi bagian dari rencana Allah untuk membawa manusia berada di dalam hidup yang kekal.[2] Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, dari sejak Yesus datang dan melayani ke dalam dunia, hingga abad 21 ini, selalu saja terjadi kontroversi dan perdebatan yang tidak pernah selesai tentang Kristus. Pokok perdebatan itu berkisar tentang siapakah sebetulnya Yesus Kristus itu. Betulkah Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia? Ataukah manusia di atas rata-rata karena kodrat ilahi di dalam diriNya? Ataukah Ia benar-benar Allah yang seolah-olah terlihat seperti manusia?

A.  Potret Kristus yang Salah
Sorotan terhadap pribadi Kristus dari masa ke masa tidak pernah selesai. Perdebatan mengenai keilahian Kristus, selalu mewarnai diskusi para teolog, mulai dari kalangan paling Injili hingga mereka yang berpaham liberal. Tidak jarang dalam perdebatan itu, Kristologi disusun terlalu jauh melenceng dari apa yang Alkitab saksikan tentang Yesus, sehingga melahirkan pendapat yang salah tentang Kristus dan pengajaran-pengajaran yang bersifat menyesatkan (bidat). Hal ini terjadi karena manusia mencoba memahami Kritus menggunakan argumen-argumen teologis yang berpusat pada intelektual, pengalaman, filsafat bahkan rasionalitas.
Berikut ini tinjauan singkat tentang perkembangan pemikiran Kristologi di dalam sejarah kekristenan.

Abad 2-4 M
Abad kedua hingga keempat masehi, diwarnai dengan perdebatan-perdebatan awal mengenai Kristologi oleh para tokoh gereja dan teolog mula-mula. Puncaknya adalah disingkirkannya sejumlah ajaran bidat dan disepakatinya rumusan Chalcedon (451 M) sebagaikerangka utama gereja di dalam memandang Kristus. Di dalam abad-abad awal ini bermunculan sejumlah ajaran yang antara lain[3]:

Doketisme, sebuah paham yang menghilangkan kemanusiaan Kristus dan memandang bahwa Yesus hanya terlihat menyerupai manusia. Akibatnya Allah dianggap tidak sungguh-sungguh datang kepada manusia karena dibangun dalam sebuah pandangan bahwa materi pada hakikatnya jahat dan bahwa Allah tidak memiliki perasaan dan pengalaman manusiawi;

Ebionisme, gerakan dari cabang Kristen Yahudi yang menghapuskan sama sekali keilahian Kristus dan menganggap Yesus adalah manusia biasa, anak Yusuf dan Maria, seperti kebanyakan manusia lainnya. Keistimewaannya adalah dia diangkat dalam derajat yang lebih tinggi daripada manusia lainnya, sebagai Mesias oleh Allah dan diurapi dalam pembaptisan di sungai Yordan oleh Yohanes;

Gnostik, paham yang mengatakan bahwa Kristus turun dari surga dan kemudian menggabungkan diri dengan Yesus historis. Saat di salib, Kristus kemudian meninggalkan Yesus dan membiarkannya menderita, mati sendirian. Paham ini mengajarkan bahwa Yesus cuma manusia biasa dan bukan Allah;

Arianisme, ajaran yang dipelopori oleh Arius, seorang imam dari Alexandria Mesir. Arian mengajarkan bahwa Kristus tidak ada sebelumnya dan kehadiranNya adalah karena diciptakan. Dalam keadaan diciptakan itu, Yesus disebut Anak, Logos,  Awal Ciptaan Allah. Tetapi meski Anak disebut Allah, Dia bukanlah Allah. Dia sekedar makhluk ciptaan saja. Pandangan ini menyangkal keilahian Yesus dan kesetaraanNya dengan Bapa dan Roh Kudus.

Apolinarisme, dirumuskan oleh Apolinaris, uskup dari Laodekia. Ajaran ini mengatakan bahwa Anak Allah menempati tubuh manusia sehingga Kristus tidak memiliki kodrat manusia sepenuhnya. Anak Allah yang kekal itu mendukung roh atau pikiran Yesus Kristus. Tubuh dan jiwanya merupakan bagian dari kemanusiaan sedangkan Anak yang Kekal adalah bagian dari keilahiannya. Ajaran ini menyangkal totalitas manusia di dalam Kristus dan dianggap menyesatkan karena menyangkal bahwa Allah benar-benar menjadi manusia.

Nestorian, adalah ajaran Nestorius yang menjadi uskup Konstantinopel. Pengajarannya fokus pada kemanusiaan Yesus dan memisahkan kedua kodrat di dalam diri Yesus. Dia menekankan bahwa di dalam diri Yesus terdapat kepribadian ganda dan menyangkali bahwa ada kesatuan nyata antara hakikat kemanusiaan dan keilahian Yesus. Dia menjadikan Kristus sebagai manusia yang dipenuhi Roh, dipenuhi Allah, tetapi tanpa keilahian dan kemanusiaan sejati di dalam satu pribadi.

Kaum Eutikhes. Berlawanan dengan Nestorian, mengajarkan tentang kesatuan pribadi Kristus. Walaupun ada dua kodrat sebelum penjelmaan, hanya ada satu kodrat gabungan dan menjadi hakikat ketiga. Kodrat gabungan ini membuat Kristus memiliki satu kehendak dan satu hakikat di dalam ‘hakikat’ yang ketiga tersebut. Pengajaran ini menekankan hakikat ketiga itu adalah campuran hakikat ilahi dan hakikat manusia di dalam satu pribadi Kristus.

Ajaran demi ajaran yang kemudian dikenal sebagai bidat ini, terjadi karena gereja pada waktu itu masih belum memiliki rumusan baku Kristologi. Baru setelah melalui dua konsili, Konsili Nicea (325 M) dan konsili Konstantinopel (381 M), pandangan resmi gereja tentang Kristus dirumuskan di Chalcedon. Rumusan itu menegaskan Kristologi Alkitabiah yang menyebutkan, Yesus Kristus adalah satu, tetapi Ia memiliki dua sifat, yaitu yang Ilahi dan yang manusiawi. Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati, terdiri atas tubuh dan jiwa yang rasional. Ia sehakikat dengan Bapa dalam keAllahanNya dan sehakikat dengan manusia dalam kemanusianNya, kecuali dosa. Dalam keAllahanNya ia sudah ada bersama Bapa sebelum dunia dijadikan dan dalam kemanusiaanNya Ia lahir dari perawan Maria. Perbedaan dari kedua tabiat tersebut tidak berkurang ketika dipersatukan, namun keistimewaan masing-masing tabiat itu tetap terpelihara sekalipun disatukan di dalam diri Yesus Kristus. Yesus tidak terbagi menjadi dua pribadi; Ia adalah satu pribadi, yaitu Anak Allah.[4]

Abad Pertengahan
Penegasan ortodoks dari konsili Chalcedon tidak menyurutkan perdebatan tentang keilahian dan kemanusiaan Kristus. Di abad pertengahan (14 s.d 15 M) muncul dua kontroversi yakni monophysitisme dan monothelitisme.
Monophysitisme menolak konsep Kristologi Chalcedon dan mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu sifat ilahi. Pengajaran ini juga menekankan bahwa sifat Kristus dilebur menjadi satu dimana sifat Ilahinya telah mengalahkan sifat insaninya.[5] Pengajaran ini cenderung ke arah Apolinaris.
Sedangkan monothelitisme mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak yang menggantikan kedua sifatNya. Tetapi ajaran ini ditolak karena bukan saja menolak sifat ganda Kristus tetapi juga merendahkan keilahianNya. Sifat Ilahi dan sifat manusia Kristus telah saling melebur menjadi bentuk ketiga yakni enegi Ilahi, yang menjadi satu kehendak Kristus.[6]

Reformasi
Di masa reformasi, dua tokohnya yang terkenal Mathin Luther dan John Calvin juga merumuskan pandangannya tentang Kristologi. Meskipun menerima rumusan Chlacedon, Luter menganggap bahwa kedua sifat Yesus tersebut saling melebur sehingga terjadi penonjolan sifat keilahiannya. Calvin menolak pandangan Luther tersebut. Menurutnya kedua sifat itu tidak saling bercampur tetapi menyatu di dalam satu pribadi Kristus. Calvin menolak pandangan Nestorian dan Eutyches sebagaimana diteruskan oleh para pengikutnya hingga sekarang.[7]

Abad Sembilan Belas
Tantangan paling utama muncul di abad sembilan belas ketika para teolog liberal mulai menanamkan pengaruhnya. Orang-orang seperti Schleiermacher, Kant, Hegel, Ritschl dan Bath adalah pelopor Kristologi liberal dimana dasar teologi dan hermeneutik dari biblikal induktif diganti menjadi deduktif-subjektik filosofis, sebuah pendekatan subjektif menggunakan filsafat deduktif untuk merumuskan doktrin teologis, termasuk di dalamnya tentang Kristus dan karyaNya.[8] Fenomena ini dikokohkan dengan lahirnya Jesus Seminar yang merendahkan keilahian Kristus ketika mereka mempublikasikan The Five Gospel tahun 1993.[9] Seorang mantan imam Jesuit bahkan mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menegaskan dirinya sebagai Tuhan atau Kristus atau jalan menuju Tuhan. Hal yang pasti adalah bahwa Yesus tidak pernah sedikitpun memberikan tanda bahwa ia telah hidup sebelum ia dilahirkan.[10] Kristologi di abad kesembilan belas tampaknya bergeser dari pendekatan biblikal kepada pendekatan rasional dan mengusung tema utama, menggugat keilahian Kristus.

Abad Keduapuluh dan Keduapuluh Satu
Akhir abad dua puluh dan awal abad ke dua puluh satu, Kristologi Alkitabiah mengalami goncangan dengan munculnya berbagai pengajaran liberal melalui sejumlah publikasi prosa dan ilmiah-historis dan bentuk-bentuk baru dalam teologi. Agendanya tetap sama yakni menolak keilahian Kristus bahkan mengakui adanya jalur keselamatan lain di luar Kristus. Trend yang menguat adalah membuat pemisahan yang sangat dikotomi antara Yesus sejarah dengan Yesus iman bahkan memisahkan secara kontras sifat keilahian dari Yesus sejarah. Gerakan pluralisme menjadi salah contoh dari bentuk baru berteologi yang mencoba mempersempit bahkan mereduksi makna Kristologi. Melalui paham ini, terjadi sejumlah kompromi teologis dimana Yesus tidak lagi dianggap dan diperlakukan sebagai satu-satunya juru selamat dunia. Para penganutnya (dari kalangan Kristen) membuka diri terhadap kebenaran yang ada di dalam agama-agama lain.[11]
Perkembangan yang paling mengegerkan adalah bermunculannya karya sastra dan salah satunya adalah publikasi novel The Da Vinci Code yang terang-terangan mendepak keilahian Yesus dan mengeksploitasi penelitian sejarah sepihak penulisnya, bahwa Yesus adalah manusia biasa yang menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki garis keturunan.[12] Kristologi biblika semakin mendapat tantangan keras dengan terbitnya sejumlah Injil gnostik di luar kanon PB seperti Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Yesus, dsb. Bukan hanya itu, di abad ini juga, dunia teologis dikejutkan dengan publikasi film dokumenter dua orang yang bekerja sama membongkar dan melalukan penyelidikan terhadap sebuah makam yang awalnya ditemukan di musim semi tahun 1980. Makam itu dikenal dengan makam Talpiot yang belakangan diketahui memuat sepuluh osuarium[13] dan enam di antaranya memiliki prasasti. Di antara prasasti itu ditemukan satu prasasti yang memuat tulisan “Yesus, putra Yosef”.[14] Penemuan ini menghebohkan karena seolah-olah membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah. Berarti Dia tidak bangkit dari kematian bahkan tidak terangkat ke surga. Fakta keilahian Yesus, yakni hakekat Allah di dalam diriNya, dijungkirbalikkan; sebaliknya, hakikat kemanusiaan Yesus sejarah dimunculkan dengan kuat.
Perkembangan yang mencolok di abad 21 dalam hal Kristologi adalah, adanya usaha menarik batas yang tegas antara Yesus sejarah (yang pernah hidup di dunia) dengan Yesus iman yang diyakini sebagai Kristus oleh orang-orang Kristen dewasa ini. Salah seorang diantaranya adalah James D. Tabor yang mencoba merekonstruksi Yesus sejarah sebagai sosok manusia biasa yang pernah hidup.[15] Dalam rekonstruksinya, Tabor sama sekali menyingkirkan mujizat-mujizat di dalam pelayanan Yesus, kelahirannya dari perawan Maria dan kebangkitanNya.[16] Bagi kebanyakan sarjana yang berorientasi liberal, muncul anggapan bahwa Kristologi adalah pemisahan Yesus sejarah dengan bahasa teistik yang selama ini membungkus pribadi Yesus bahwa ia adalah Allah yang menjelma ke dalam dunia, menjadi manusia.[17] Agendanya cuma satu, menentang kodrat ilahi Yesus. Para teolog liberal ini mungkin lupa bahwa Alkitab memiliki bukti-bukti biblis yang paling kuat, yang menjamin keilahian Kristus. Pertama adalah bukti pra-eksistensinya. Bukti ini mengagas ide bahwa Yesus sudah ada sebelum kelahiranNya.”Sebelum Abraham ada, Aku ada” (Yohanes 8:58). Bukti kedua adalah peristiwa kelahiranNya yang ditandai dengan kunjungan Gabriel (supernatural) kepada perawan Maria (Lukas 1:26-38). Proses kelahiran ini sebagai akibat campur tangan ilahi dan bukan tindakan biologis manusia. Ketiga adalah kuasa ilahi Yesus dimana Injil mencatat bagaimana Ia melakukan tanda-tanda ajaib dan heran (menyembuhkan sakit penyakit, mengusir setan, membangkitkan orang mati, membuat mujizat) bahkan berkuasa mengampuni dosa manusia (Markus 2:8-11). Bukti keempat adalah kemuliaan ilahi yang menyertaiNya (penyataan kemuliaanNya) di atas sebuah gunung di depan mata ketiga orang muridNya (Markus 9:2-13). Kelima adalah tentang makna Yohanes 5:22 ketika Dia berkata, “Bapa menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak” Hal ini adalah sebuah deklarasi bahwa Yesus melakukan apa yang hanya bisa dilakukan Bapa, yakni mengadili dan menghakimi. Bukti ketujuh menjadi pelengkap penting, bahwa Yesus memiliki gelar ilahi yang menunjukkan satu kesadaran ilahi di dalam diriNya. Satu bukti terakhir yang tak terbantahkan adalah kuasa kebangkitanNya dari kematian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah dan bukan oleh manusia.[18]

B.  Alkitab Sebagai Landasan Kristologi
Beragamnya konsep Kristologi seperti di uraikan di atas menjelaskan bahwa dari masa ke masa, perdebatan tentang eksistensi Yesus Kristus tidak pernah selesai. Selalu terdapat perdebatan dan pertentangan teologis, baik di lingkup kaum awam, terlebih di kalangan para teolog yang berasal dari berbagai latar belakang berbeda. Kendati terdapat sejumlah pandangan kritis tentang keilahianNya, berbagai pendapat dan investigasi mengenai Yesus sejarah tidak pernah mampu mengubah fakta bahwa Yesus adalah manusia sejati dan juga Allah sejati. Inilah yang menjadi dasar bangunan teologi tentang Kristus yang dipertahankan gereja dan diterima sebagai satu-satunya kebenaran mutlak hingga kini.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa perbedaan demi perbedaan itu dapat terjadi? Jawabannya terletak sumber primer apa yang dipergunakan untuk menelaah Kristus.
Mencermati perkembangan Kristologi dari masa ke masa mengarahkan kita pada satu hal bahwa penggalian dan investigasi tentang pribadi Kristus yang menolak kredibilitas dan kesaksian Alkitab, hanya akan mengarahkan kita pada pengaburan makna dari pribadi Yesus yang sesungguhnya dan kemudian menghasilkan potret Kristus yang salah. Sebaliknya, penelitian yang seksama tentang kesaksian Alkitab dalam PL dan PB, akan mengarah siapapun menemukan fakta keilahian dan kemanusiaan Kristus melalui nubuatan, kesaksian para nabi, ungkapan para penulis Injil dan surat-surat rasul Paulus, bahkan kesaksian Yesus sendiri tentang siapakah diriNya. Di dalam Alkitab, terdapat berbagai fakta, kesaksian dan catatan otentik yang mendukung pernyataan tentang jati diri Kristus yang sesungguhnya. Dengan demikian, Alkitab adalah dasar pijakan yang seharusnya digunakan untuk membangun teologi tentang Kristus. Bukan justru menggunakan filsafat, konsep gnostik atau pengetahuan dan rasionalitas manusia yang selama ini terbukti gagal melihat sisi keilahian Kristus. Selama Alkitab digunakan sebagai dasar Kristologi, maka jalur untuk mencari jawaban yang benar mengenai siapakah Yesus sesunguhnya, baik di dalam PL[19] maupun di dalam PB[20], akan terbuka lebar.

C.  Siapakah Yesus?
Akhirnya, melalui beberapa catatan ringkas yang telah disinggung di atas mengenai pribadi Kristus sebagai manusia dan Allah, mengarahkan kita pada satu kesimpulan seperti di tegaskan di dalam 1 Timotius 3:16, tentang “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” memberikan kesaksian kepada kita bahwa Yesus adalah benar-benar Allah yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:6-11).
     Mendukung finalitas Kristus, Milne mengatakan, keilahian Yesus Kritus merupakan dasar pokok bagi kepercayaan bahwa penyataan Kristen bersifat akhir dan penyelamatan Kristen adalah sejati. Milne berargumen, jika bukan Allah sendiri yang datang kepada kita dalam Kristus (yang membuktikan dirinya mati di salib, bangkit dan naik ke surga), maka penyataan yang dibawaNya bukanlah penyataan terakhir dan mungkin masih akan diganti dengan yang lain.[21] Inilah yang menjadi dasar Kristologi sejati. Sebuah Kristologi yang dibangun bukan atas dasar teori, filsafat atau pemahaman intelektual manusia; melainkan yang dibangun atas kesaksian Alkitab.

D.  Keselamatan sebagai Karya Kristus
Sebuah pertanyaan penting untuk di jawab, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:19). Petrus dengan tepat menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Dua hakikat Yesus, sebagai manusia sejati dan Allah sejati, terlihat di dalam kalimat jawaban Petrus tersebut. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus disebut Mesias? Apakah Mesias? Apakah maksud kedatanganNya di dunia?
Akibat manusia pertama jatuh di dalam dosa, maka hubungan Allah dengan manusia menjadi rusak. Sebelum kejatuhan, Allah dan Adam bersekutu satu sama lain; setelah kejatuhan, persekutuan itu putus.[22] Manusia akhirnya berada dalam penghukuman kekal. Dosa telah mengikat segala aspek kehidupan manusia, sejak kejatuhan pertama di dalam taman Eden, sehingga manusia tidak dapat menolong dirinya sendiri dan diluar Kristus dinyatakan mati atas pelanggaran dan dosa-dosanya.[23] Orang yang mati secara rohani tidak mampu memberi keselamatan bagi dirinya sendiri.[24] Untuk itu, manusia perlu dipulihkan, baik hubungannya dengan Allah maupun statusnya secara rohani. Sejak kejatuhan, dosa telah menjadi bagian dari manusia di dalam dunia. Alkitab mengajarkan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.[25] Inilah yang menjadi alasan mengapa Yesus datang ke dalam dunia.
Harus dipahami bahwa karya Allah bagi manusia ini bukan hanya terfokus pada menciptakan manusia dan memeliharanya, tetapi juga menyelamatkan manusia yang berdosa itu dari hukuman kekal.[26] Rencana penyelamatan disusun dengan melibatkan anak tunggal-Nya, yaitu Yesus Kristus, untuk mati menggantikan pada pendosa.[27] Rencana Allah tersebut adalah sebuah anugerah keselamatan dengan tujuan persekutuan manusia dengan Allah dapat kembali dipulihkan.[28] Stot menegaskan bahwa melalui salib, Ia mengambil tempat kita, menanggung dosa kita, membayar hutang kita dan mati ganti kita.[29]
Kematian Yesus Kristus melalui salib adalah sebuah anugerah yang sama sekali tidak bergantung dari usaha manusia tetapi semata-mata inisiatif Allah. Cara kerjaNya di dalam mewujudkan keselamatan itu, ketika disusun, seimbang dan menyeluruh, artinya, tidak ditujukan hanya kepada sekelompok tertentu (dalam hal ini Israel) tetapi kepada seluruh manusia yang meliputi orang Kristen, hingga ke bangsa-bangsa. Orang-orang tersebut sebetulnya sudah dipersiapkan Allah di dalam kekekalan. Tetapi Allah memberikan kepada mereka kebebasan untuk kemudian memberi respon terhadap keselamatan yang sudah Allah sediakan melalui Kristus.  Allah dalam hal ini rela menunggu sampai orang tersebut sungguh-sungguh sadar dan mengalami pertobatan. Kebebasan tersebut (free will) tidak pernah melampauhi kewenangan, kedaulatan dan penetapan dari Allah. Dalam hal ini, keselamatan adalah anugerah dan setiap orang dituntut memberikan respon untuk mengambil anugerah itu.
Dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sebetulnya karya Kristus di dalam dunia mencakup dua hal utama, keselamatan itu terjadi karena kasih Allah (Yohanes 3:16) dan penebusan salib bersifat final yang sudah selesai dikerjakanNya. Artinya, karya keselamatan itu telah dilakukan. Segala yang diperlukan untuk keselamatan manusia telah terlaksana dan dipenuhi oleh Yesus di Kalvari.[30] Itu sebabnya Yesus disebut mesias, karena Dia adalah orang yang diurapi (anointed) untuk menjadi juru selamat umatNya.[31]

E.  Aplikasi dalam Pelayanan
Jawaban tentang siapakah Kristus dan apakah yang menjadi karyaNya di dalam dunia, melalui refleksi ini, membangun satu paradigma yang makin kuat, kokoh dan tak tergoncangkan, di dalam diri saya bahwa itu harus diberitakan dan dibela terus menerus. Keilahian dan kemanusiaan Kristus adalah sesuatu yang tidak bisa di tawar lagi dan finalitas karyaNya tidak bisa diganggu-gugat. Trend perkembangan teologi Kristus mungkin akan bergerak semakin cepat ke arah yang bertentangan dengan iman Kristen biblikal. Yang menjadi tantangan utamanya, adalah melakukan pemberitaan yang selalu didasarkan pada kesaksian Alkitab dan pembelaan iman Kristen melalui apologetika.
Secara praktis, saya akan menjadikan isu Kristologi Alkitabiah menjadi tema sentral di dalam penginjilan kepada jiwa-jiwa baru. Karyanya yang sudah final di atas kayu salib menjadi pokok pemberitaan kabar baik bagi setiap orang, bahwa tersedia keselamatan kekal yang harus direspon oleh manusia. Bagi mereka yang sudah percaya dan menerima karya keselamatanNya, tuntutan untuk menghargai karya itu melalui tanggung jawab dan kehidupan rohani yang lebih baik, adalah sebuah keharusan dan keteladanan bagi dunia. Bagi mereka yang belum mengenal Dia, keselamatan itu menjadi tema pewartaan supaya setiap orang menjadi selamat.
Pesan yang harus disampaikan di dalam setiap kesempatan bersaksi adalah, “Yesus Kristus hadir di dalam dunia sebagai penyataan diri Allah Anak dalam bentuk manusia, dikandung oleh kuasa Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria. Ia adalah Allah sejati dan manusia sejati, sebagai Tuhan, Juruselamat, Nabi, Imam Besar dan Raja”.