Jumat, Desember 30, 2016

REFLEKSI AKHIR TAHUN


Oleh: Ps. Dr. Sonny Zaluchu, M.Th
Gembala Senior JKI G2CC Graha Padma Semarang

KALI ini saya memakai istilah yang sedikit agak teknis. Kehidupan adalah sebuah sejarah, Melalui suatu titik acuan, sesungguhnya kita dapat menarik garis lurus ke belakang, melalui sebuah garis waktu. Catatan demi catatan masa lalu hingga tiba di masa sekarang, dapat dijumpai secara kronologis dan semua itu adalah faktor yang membentuk kehidupan yang saat ini ada. Usaha untuk kembali ke masa lalu, menelusuri jejak kehidupan secara kronologis itu di dalam dimensi waktu, disebut pendekatan diakronik. Pendekatan ini memanjang di dalam waktu tetapi terbatas di dalam ruang. Maka ada pendekatan kedua yang menutupi kekurangan itu, disebut sebagai pendekatan sinkronik. Pendekatan ini memperluas ruang dari sebuah peristiwa di waktu tertentu. Itu sebabnya, sikronik terbatas di dalam waktu tetapi sangat memberi tempat pada ruang. Di dalam pendekatan ini, segala hal menyangkut struktur di dalam ruang peristiwa, dapat diungkapkan dan dibeberkan. Kedua pendekatan ini adalah salah satu “pisau bedah” terbaik, untuk hidup kita, hidup yang dijalani selama tahun 2016 dan harapan untuk kehidupan lebih baik di tahun 2017. Mengingat realitas bahwa tidak ada satupun orang di dunia ini yang dapat memprediksi masa depannya, pendekatan ini akan menolong, setidaknya untuk membangun harapan bahwa di dalam Tuhan, hidup yang dijalani, akan lebih baik dari tahun sebelumnya.

HIDUP ADALAH PERJUANGAN
Kehidupan tidak berjalan tiba-tiba. Ia adalah sebuah sejarah bagi orang yang menjalaninya. Di dalam perjalanan searahnya melintasi garis waktu, ia berjuang menjalani hidupnya sedemikian rupa untuk mencapai kualitas yang lebih baik dan membuatnya berarti. Cara setiap orang berjuang tidak sama. Apalagi cara orang memaknai kehidupannya di dalam sejarah, sangat subjektif.  Secara dualistik, umumnya kita melihat dua ayunan bandul yang ekstrim. Orang berjuang untuk memerangi ketidakpercayaannya dengan kepercayaannya. Tidak pernah berhenti berjuang untuk memerangi kejahatan dengan kebaikan yang ada di dalam dirinya. Bahkan keberartian juga bermakna dualis. Keberartiannya dapat bermakna kerugian bagi orang lain. Menggeser setiap kutuk menjadi berkat adalah bagian tak terpisahkan yang sama berat perjuangannya untuk mempertahankan diri menjadi manusia bermoral di tengah tarikan amoralitas. Bahkan sisi sisi religius manusia selamanya akan berjuang menghadapi keduniawian. Intinya, hidup adalah perjuangan. Ke arah mana bandul perjuangan itu condong, bergantung dari keputusan-keputusan subjektif yang dihasilkan.

Dalam kacamata sejarah, manusia bisa melihat dirinya sebagai sebuah produk atau pelaku. Sebagai produk, manusia adalah bentukan sejarah. Pasif. Tetapi sebagai pelaku, manusia adalah pembentuk sejarah. Aktif. Di mata Tuhan, manusia adalah produk yang menjadi pelaku bagi sejarahnya sendiri! Tuhan hanya mau memastikan bahwa kehendak bebas di dalam dirinya, dapat membuat seseorang melenceng dari jalan yang seharusnya Tuhan rancang baginya. Itu sebabnya, karena masa depan milik Tuhan, dan manusia bukanlah Tuhan yang bisa merancang masa depan seenaknya, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik, setiap orang harus menentukan sendiri titik dimana dia perlu berhenti sejenak dan melakukan refleksi. Disitulah pentingnya pendekatan diakronik dan sinkronik. Dari kedua pendekatan ini, manusia dapat mereposisi dirinya di dalam sejarah yang dilalui dan bahkan dibentuknya sendiri.

Sebagai sebuah perjuangan, pendekatan diakroni-sinkronik akan membuat orang bersyukur atas hidup yang telah dilaluinya selama ini. Sehebat apapun perjuangan yang dilalui, harga yang harus dibayar dan segala macam penderitaan dan tantangan yang menyertai, akhirnya masih berdiri kokoh di penghujung tahun, untuk bersiap melangkah di tahun berikutnya. Bukankah ini adalah anugerah?

HIDUP ADALAH KESEMPATAN
Melalui pendekatan diakronik, seseorang dapat menelusuri kembali kehidupannya di masa lalu untuk mencari jawaban, mengapa hidupnya “seperti ini” sekarang. Di dalam penelusuran ini ada titik titik penting yang secara radikal membawa perubahan dalam hidup. Titik yang menentukan secara kritis atau sebab akibat keberadaan saat ini. Titik itu adalah sebuah process item, yang tidak dapat diubah lagi dan setiap orang hanya bisa menyesali sikapnya yang salah ketika melalui titik tersebut karena respon yang tidak benar. Sebaliknya, sebuah process item di dalam kronologis kehidupan, dapat membangkitkan harapan dan rasa syukur, bahwa semua itu telah dilalui dengan baik dan keputusan yang tepat sebagaimana mestinya.

Menemukan titik titik penting yang menjadi process item itu akan menuntun ke langkah berikutnya untuk membuka ruang di titik tersebut, menelaah hingga ke detil struktur di dalam peristiwa yang mengubah hidup itu. Tujuannya untuk menemukan jawaban: mengapa ! Disitulah kemudian diperlukan pendekatan sinkronik. Semua mengarah pada satu konsep: evaluasi diri. Orang tidak akan pernah berhasil menyiapkan masa depan tanpa melakukan evaluasi diri. Melalui dua pendekatan yang telah disinggung sebelumnya, evaluasi akan menghasilkan dua hal. Pertama, kesalahan masa lalu yang perlu diperbaiki; Dan kedua, kebaikan atau keberhasilan masa lalu yang harus dipertahankan atau ditingkatkan di masa depan.

Tidak kebetulan kalau hari ini kita tiba di hari terakhir tahun 2016, di hari yang ke 366. Biasanya cuma 365 hari. Tapi kali ini Tuhan sepertinya menggunakan tahun kabisat untuk menambahkan satu hari lagi bagi kehidupan kita. Ini bukan sekedar pengulangan empat tahun. Juga bukan kebetulan. Tuhan sedang bicara tentang kesempatan. Bayangkan kalau anda ditentukan mati hari ini tetapi Tuhan memberi kesempatan satu hari lagi untuk hidup, siapapun pasti akan menggunakannya untuk hal-hal berharga dan terbaik pada kesempatan yang Tuhan berikan itu. Maka, selama ada kesempatan bagi kita, gunakanlah itu dengan penuh rasa syukur dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Jika tidak, Tuhan akan membawa anda di satu titik dimana anda memohon mohon diberikan kesempatan lagi tetapi pintu sudah tertutup !

HIDUP ADALAH PILIHAN
Hidup adalah pilihan dari satu process item ke process item berikutnya. Zig Ziglar menulis sebuah quote sebagai berikut: “Anda bebas memilih, namun pilihan yang Anda pilih hari ini akan menentukan apa yang akan Anda miliki, akan jadi apa Anda nanti, dan apa yang akan Anda lakukan pada masa depan Anda”. Evaluasi akan mendorong manusia untuk memilih. Sebagaimana quote tersebut, dengan kehendak bebas di dalam dirinya, manusia berhak memilih apapun yang menurutnya terbaik bagi hidupnya. Persoalannya adalah, harapan masa depan manusia seringkali lebih suram daripada kehidupan yang telah ia jalani. Mengapa? Ada beberap alasanya.

Pertama, manusia tidak belajar dari kehidupan yang telah ia jalani. Orang seperti ini disebut “tidak kapok” dengan pelanggaran dan konsekuensi yang pernah dirasakan akibat pilihan yang salah. Kedua, manusia menjalani hidupnya tanpa arah. Hal semacam ini hanya akan menghasilkan manusia petualang yang hidup bergentayangan di dalam garis waktu. Ketiga, faktor kepentingan. Apabila sudah bicara tentang hal ini, bahkan integritas, aspek moral, kebenaran dapat diputarbalikkan demi terwujudnya kepentingan tersebut. Kalau perlu bangunan yang sudah kokoh berdiri dihancurkan asalkan apa yang diinginkan itu terwujud.

Di penghujung tahun ini ada baiknya kita merenung, apalah pilihna pilihan yang dibuat selama 366 hari sudah selaras dengan kehendak Tuhan atau tidak? Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya? Buatlah pilihan terbaik dalam beberapa jam ini, sebelum lonceng pergantian waktu berdentang tengah malam. Jangan sampai memasuki tahun 2017 dengan pilihan pilihan yang salah seperti tahun sebelumnya.

Happy New Year 2017.
Selamat memasuki perjuangan, kesempatan dan pilihan yang baru bersama Tuhan.
+6281325854343 ***

Kamis, Desember 29, 2016

Selasa, Oktober 04, 2016

MAKSUD TUHAN DI TAHUN 5777 AYIN ZAYIN


Ps. Sonny Zaluchu
Gembala JKI G2CC Graha Padma Semarang
Post Doctoral Akar Ibrani dan menulis buku HOLYLAND: Jejak Kaki Tuhan di Tanah Suci
Tulisan ini dapat dikutip dengan menyebut sumbernya. Jangan plagiat !

Hasil gambar untuk ayin zayin 5777

AWAL Tahun Baru Israel atau Rosh HaShanah dibulan Oktober 2016, jatuh dan dirayakan pada tanggal 6-9 Oktober. Perayaannya sendiri bisa berlangsung selama satu bulan penuh. Salah satu doa yang paling sering diucapkan di awal tahun seperti ini adalah janji Tuhan yang tertulis di dalam kitab Musa, “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor” (Ulangan 28:13). Ada satu keyakinan yang kuat bahwa destiny anak-anak Tuhan adalah kepala dan hal itu ditegaskan di awal tahun (kepala tahun) supaya di sepanjang tahun yang akan dilalui, promosi dan berkat Tuhan datang sedemikian rupa doa itu digenapi di sepanjang waktu. Seperti pernah saya tulis (dan dikutip oleh banyak orang dengan  tidak menyebutkan sumber, malah ada yang  langsung mencantumkan namanya sebagai penulis) bahwa di dalam perjamuan keluarga, kepala keluarga akan memimpin doa menjadi kepala dengan mengucapkan: she nihye ka ROSH ve lo la zanav atau jika diterjemahkan menjadi, “Aku akan menjadi kepala dan bukan ekor.” Doa ini terus diucapkan di sepanjang tahun.

Shana
Tahun baru juga digunakan sebagai momentum untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Saling mengucapkan ‘Selamat Tahun Baru’ atau Shanah Thovah bukan sekedar ritual atau basa basi. Ucapan itu lahir dari sebuah kesadaran bahwa kita hanyalah penumpang di planet milikNya. Disitu sebuah resolusi baru dibuat dihadapan Tuhan, agar mengampuni semua yang telah lalu, dan berjanji pada diri sendiri dan pada Tuhan yang empunya alam semesta, mulai awal tahun ini, segala hal yang lebih baik akan dilakukan.

Kata Ibrani shana (שנה) pada umumnya berarti ‘tahun’. Jadi kalau orang saling mengucapkan salam, mereka melepaskan berkat dan janji bahwa ini adalah tahun yang baik dan lebih baik di dalam segala aspek. Menariknya, kata shana berasal dari akar kata yang berarti "untuk mengubah". Misalnya, menurut kitab Ayub, Engkau menggagahi dia untuk selama-lamanya, maka pergilah ia, Engkau mengubah wajahnya dan menyuruh dia pergi (Ayub 14:20). Maksudnya, Tuhanlah yang mengubah penampilan manusia selama manusia berkenan bekerjasama dengan Tuhan untuk melakukan itu. Awal tahun ini bukanlah pengulangan atau ritual yang sama seperti tahun lalu. Garis waktu selalu berjalan linier dan tidak pernah kembali. Dan kita dituntut memperlihatkan perubahan kualitas hidup. Bukan hanya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dua kali, seperti tahun tahun sebelumnya, kita diperintahkan untuk menggunakan momentum Rosh Hashanah sebagai kesempatan untuk mengevaluasi tingkah laku dan mengubah arah hidup. Perubahan memerlukan keputusan dan evaluasi terhadap hal-hal apa saja yang harus diperbaiki. Disitu komitmen diperlukan ! Jika hal ini terjadi, maka Tuhan akan memimpin perubahan itu dengan cara yang sangat indah dan hasil yang luar biasa.

Zayin
Nama tahun Israel selalu diambil dari dua angka terakhir. Maka, berdasarkan angka tersebut tahun Rosh Hashanah kali ini atau tahuh 5777 dinamakan Ayin Zayin. Tahun lalu, tahun 5776 dinamakan tahun Ayin Vav dan di sana kita berkesempatan menikmati berkay Yobel dari Tuhan.

Tuhan selalu punya agenda yang khas dan berbeda di setiap tahun. Maka dari itu, kita perlu mencermati pola Tuhan bekerja yang berkaitan dengan hari-hari raya orang Yahudi. Sebab, hari-hari raya itu menjelaskan proyeksi dan memberikan arahan profetik mengenai apa yang akan Tuhan buat bagi dunia. Artinya bukan sekedar hari raya sebagaimana kita memaknainya di Indonesia tetapi melaluinya kita dapat melihat isi hati Tuhan (walaupun samar-samar) melalui sejumlah petunjuk yang memang dengan sengaja diungkapkan kepada kita secara profetik. Sebagai orang Kristen yang kembali kepada Akar Ibrani (hebrew roots), mencari kehendak Tuhan melalui perayaan dan ibadah ibadah Ibrani sangat dimungkinkan terjadi. Apalagi jika dikaitkan dengan kedatangan-Nya yang kedua yang semakin dekat, tanda-tanda semakin banyak bertebaran dan menjadi peneguhan dari apa yang dinubuatkan kitab Suci. Cara Tuhan bekerja kepada bangsa pilihan-Nya menjadi cara yang sama dimana Tuhan bekerja pada kita. Mengapa? Kita sudah di cangkok-kan ke dalam akar pohon zaitun yang sejati melalui Yesus Kristus. Berkat buat Yahudi, juga berkat buat bangsa-bangsa. Pesan buat Yahudi juga pesan buat kekristenan. Cara bangsa Yahudi melihat dan mencermati pesan Tuhan dapat menjadi teladan yang sama buat kita, kendatipun disadari ada hal-hal yang relevan dan tidak relevan dengan sistem budaya kita. Selama itu sesuai dengan kebenaran kitab Suci, maka pastilah itu relevan.

Teologi 7
Dalam aksara Ibrani, kata Zayin mewakili angka 7 (tujuh). Dalam teologi orang Ibrani, setiap angka diberi nama dan punya arti tertentu. Ada beberapa hal penting yang menjadi bahan pembelajaran kita soal angka itu. 

His Manifested Presence
7 (tujuh) adalah angka sempurna. Enam hari lamanya Tuhan bekerja di dalam penciptaan di Kitab Kejadian dan pada hari ketujuh Dia berhenti. Angka tujuh di manapun di dalam Alkitab selalu merujuk pada eksistensi atau keberadaan Tuhan. Dia memang ada di sepanjang tahun dan waktu. Tetapi khusus pada tahun 5777 ini, kita bisa membaca intensitas kehadiran Tuhan yang meningkat dengan hadirnya tiga angka sempurna itu (777) yang hanya akan terulang seribu tahun lagi. Hadirat Tuhan salah satunya dapat dijelaskan dengan konsep ‘manifested presence’. Artinya, manifestasi keberadaan Tuhan di sebuah tempat yang berbeda dari tempat lain. Kabod-Nya atau kemuliaan-Nya lebih kuat di satu tempat dibandingkan dengan tempat lain. Jika dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya, maka His Manifested Presence di sepanjang tahun ini jauh lebih berbobot. Dan ini semua adalah kesempatan kita, apakah membuka pintu lebar-lebar untuk Dia menyatakan kehadiranNya di dalam gereja, ibadah, keluarga, pelayanan, pekerjaan dan kehidupan kita. Kabod yang lebih berat sudah mulai diturunkan. Saya pribadi percaya bahwa, kehidupan rohani yang dibangun dalam pencaharian akan Tuhan, akan penuh dengan dinamika kuasa Tuhan. Sepanjang tahun ini !

Bukan Pedang !
7 (tujuh) di artikan sebagai pedang. Banyak tulisan di internet merujuk pada satu penafsiran bahwa di sepanjang tahun ini akan ada pedang bertemu dengan pedang (atau peperangan dimana-mana). Juga ada yang menafsirkan bahwa pedang bicara tentang senjata yang Tuhan letakkan di tangan kita untuk menumpas segala kejahatan. Saya tidak setuju dengan penafsiran itu. Tuhan tidak memerintahkan kita mengangkat senjata baik secara harafiah maupun secara rohani. Kita harus melihat isi hati Tuhan yang paling dalam bahwa agama tidak ditegakkan dengan pedang. Kerajaan Allah yang dibawa oleh Tuhan dan nilai-nilainya ditegakkan melalui kesaksian. Dan kesaksian itu sangat jelas, kesaksian akan kuasa firman Tuhan sendiri.

Firman Tuhan
Tahun 5777 bukanlah tahun pedang dalam arti senjata menebas, menusuk atau menghancurkan musuh. Juga bukan tahun penuh gemerincing suara pedang yang beradu di dalam peperangan. 7 bicara tentang kekuatan firman Tuhan dan luar biasanya, kekuatan itu berlipat tiga dengan 777. Dimana-mana di sepanjang tahun ini, firman Tuhan akan mengambil alih pikiran, rasio dan kehidupan kita. Firman Tuhan akan ditebar dimana-mana sebagai sebuah benih dan menjadi “senjata” peperangan untuk memenangkan dunia. Tahun ini adalah tahun manifestasi Firman Tuhan dengan kuasa yang sangat hebat dan dengan kualitas triple yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Sekali lagi, ini penggenapan firman yang sangat hebat ! 

Rasul Paulus menjelaskan dengan sangat gamblang. Bahwa pedang adalah salah satu senjata peperangan rohani dan itu adalah firman Tuhan sendiri. Angka 7 atau “pedang” yang dimaksud di dalam Ayin Zayin bukan memiliki senjata tetapi seruan untuk semakin memperkokoh hidup di dalam kebenaran firman. “dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah” (Efesus 6:17). Melalui firman yang kita miliki maka intensitas pergaulan dengan Allah juga semakin kuat dan firman itu dapat menjadi “senjata” menebas tuaian di ladangNya. Tuhan sendiri akan membimbing kita memasuki level pedang bermata dua yang memisahkan jiwa dan roh. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (Ibrani 4:12).

Mengapa firman?
Ini akhir zaman dan tanda pertama dari akhir zaman adalah penyesatan. Penyesatan di mulai dari ajaran dan firman Tuhan yang dibelokkan. Herannya, justru yang aneh-aneh makin bermunculan  belakangan ini dan orang-orang malah lebih banyak mengejarnya. Penyesatan sedang terjadi. Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang (Matius 24:4-5). Kalau kita tidak kuat-kuat di dalam firman, maka menjelang kedatangan-Nya yang kedua, kita bukan bagian dari orang yang bersiap menyongsongnya melainkan bergabung dengan kelompok orang-orang yang telah disesatkan ! Hati-hatilah terhadap fenomena-fenomena dan lebih baik berakar dengan kuat pada firman. Ibarat hujan, pencurahan kuasa firman akan semakin menjadi-jadi sepanjang tahun ini.

Manifestasi 7 Roh Allah
Yang tidak banyak disinggung adalah simbologi menurut akar Ibrani dan teologi Yahudi (karena biasanya kita hanya copy paste ide dan tulisan orang lain dari internet tanpa berusaha menggali yang sebenarnya). Teologi Ibrani sangat kental dengan angka. Kita harus mempelajarinya sungguh-sungguh dengan menggunakan “kacamata” akar Ibrani supaya mendapatkan pengertian yang tepat. Seorang Rabi Yahudi bernama Rabbi Michael L. Munk baru baru ini menerbitkan bukunya berjudul The Wisdom in the Hebrew Alphabet. Rabbi ini menjelaskan bahwa kata dan angka Zayin/7 menjadi simbol terhadap tiga hal: Roh (spirit); Rejeki atau berkat (sustenance); Perjuangan (struggle)

Penekanannya adalah pada Roh (spirit). Ayin Zain adalah tahun kehadiran Allah Israel sebagai penjaga. Manifestasi Roh Allah akan sangat kuat dimana-mana, mengiringi setiap pemberitaan firman-Nya oleh hamba-hamba-Nya.

Sama seperti Menorah di dalam ruang Kudus yang harus menyala 24 jam dan tidak boleh mati. Di dalam KJV, semua perabotan di dalam kemah dan ruang kudus disebut sebagai benda “it” tetapi khusus Menorah, dipergunakan kata “his” yang menjelaskan sesuatu yang hidup dan bergender. Itu adalah Tuhan, penjaga Israel sendiri. Di tahun ini, Allah penjaga Israel itu akan bermanifestasi di dalam seluruh aspek hidup kita ! Tujuh cabang menyala sekaligus dengan terang yang terkuat. Maka, carilah dan milikilah menorah di dalam kehidupan anda. Menorah adalah tiang lampu (candle stick) yang dibuat dari emas murni dan menurut blue print Allah. Tiang lampu ini punya 7 cabang dan setiap cabang mewakili satu sumbu nyala api. Disitu ada 7 cabang dan 7 sumbu dan artinya 7 nyala. Satu-satunya sumber cahaya di dalam ruang kudus adalah cahaya menorah. Triple 7 mewakili kehadiran 3 menorah dengan cahaya yang lebih kuat intensitasnya dan jangkauan terang yang lebih luas.

Dimana-mana, Roh Allah dilambangkan dengan lidah api. Pada waktu Roh Kudus turun di hari Pentakosta, dia serupa lidah-lidah api di atas kepala murid-murid. Dan kita mengerti bahwa dimana ada Roh Allah, disitu ada pembebasan. Kuasa dinyatakan dengan kuat dan hebat. Mujizat mengalir dengan deras dan kencang. Lawatan demi lawatan terjadi. Kebangunan Rohani akan makin kuat intensitasnya. 5777 yang dikaitkan sebagai menorah mewakili 7 nyala api menorah mewakili 7 Roh Allah seperti dinubuatkan Yesaya. Manifetasi ke-tujuh Roh itu akan dinyatakan di dalam hidup orang-orang percaya dan gereja-Nya. Ketujuh roh itu adalah (1) Roh TUHAN akan ada padanya, (2) roh hikmat (3) dan pengertian, (4) roh nasihat (5) dan keperkasaan, (6) roh pengenalan (7) dan takut akan TUHAN (Yesaya 11:2).

Gereja sedang dipersiapkan untuk tahap final. Orang-orang Kristen sedang di arahkan ke situasi terakhir. Semua mengarah ke satu titik, kedatangan-Nya yang kedua. Ini semua butuh perjuangan yang berat tetapi akan mudah dilakukan bersama Tuhan. Tentu saja berkatNya akan melimpah dengan kuat bagi orang-orang yang berada di dalam kegerakan ini.

Raja di atas Segala Raja
Ayin Zain adalah tahun di mana Tuhan hadir dan dimahkotai sebagai Raja di atas segala raja. Bukan kita yang menerima mahkota itu (sebagaimana umumnya ditafsirkan). Mahkota itu milik Tuhan dan menyatakan pemerintahan-Nya atas dunia dan kehidupan. Tanda mahkota di atas angka 7 hanya bentuk penulisan indah seperti kita menulis kaligrafi ! Aslinya, tidak ada tanda itu secara pictorial letter apalagi dalam bentuk modern. Jadi tangan ditafsir-tafirkan. Ada atau tidak ada mahkota, tidak mengubah arti dari zayin. 7 menyatakan kehadiran Tuhan dengan mahkota keagunganNya.

Semarang, Oktober 2016
L’shanah Thovah
Tuhan Yesus memberkati


Ps. Sonny Zaluchu (081325854343)

Rabu, September 28, 2016

BE STRONG IN THE LORD

Oleh: Ps. Sonny Eli Zaluchu, M.A, M.Th, D.Min, D.Th
Orasi dan Firman Tuhan
Wisuda STT Sangkakala, Kopeng – 30 September 2016

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.
Efesus 6:10

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,
Hari ini kita akan melepas sejumlah lulusan STT Sangkakala ke tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi panggilan Tuhan. Masa studi mereka di sekolah ini telah selesai dan inilah saatnya mempraktekan semua yang diperoleh itu di dalam ladang pelayanan. Adalah sebuah keberuntungan, setiap orang yang dipanggil dan dipilih Tuhan untuk menjadi penuai di ladang-Nya. Mengapa?

Pertama, tidak semua orang yang terpanggil menjadi terpilih. Dan, wisudawan wisudawati yang hari ini menerima pengutusan mereka, adalah orang-orang pilihan Tuhan sendiri. Sementara banyak orang menginginkan untuk dipanggil tetapi kemudian tidak terpilih, anugerah dan kesempatan justru dibukakan kepada mereka. Ingat perumpamaan tentang pesta perjamuan yang diselenggarakan oleh raja? Sebelum pesta dimulai, orang-orang yang akan diundang sudah berada di dalam list. Dan anda semua hari ini adalah orang-orang yang sudah berada di dalam daftar itu. Diundang menjadi bagian penting dalam kerajaan Allah. Tentu saja, kursi yang telah Tuhan sediakan itu harus disambut dan diresponi dengan benar. Kalau tidak, posisi anda, akan diganti oleh orang-orang pinggiran !

Kedua, yang mengutus bukanlah manusia tetapi Tuhan. Dia bisa saja memakai malaikat atau orang-orang tertentu. Tetapi, Tuhan memutuskan memanggil anda dan memakainya untuk menjadi bagian penting dalam menyelesaikan misi Tuhan di bumi. Mitra anda bukan manusia tetapi Tuhan sendiri. Dan, itu adalah sebuah kehormatan. Banyak orang hebat di luar sana. Tetapi Tuhan tidak memanggil mereka. Bagi Tuhan, kehebatan hanyalah sebuah hasil akhir. Hebat di dalam Tuhan sangat bertolak belakang dengan hebat karena dunia. Mula-mula, anda adalah sosok biasa-biasa saja. Tetapi karena berada di tangan Tuhan, anda diubah menjadi orang-orang luar biasa. Apa kuncinya? Selama empat tahun di STT, penempaan dan pembentukan telah mempersiapkan anda menjadi orang hebatnya Tuhan. Sakit, menderita, susah serta penuh tantangan telah dilalui. Kalau hari ini menyelesaikan satu proses itu, artinya anda siap ke tahap berikutnya. Tuhanlah yang mengutus anda, bukan manusia.

Ketiga, percayalah, dimana Tuhan mengutus di sana Dia memberi ladang. Tuhan tidak pernah mengutus seseorang ke padang gurun atrau ke tanah gersang. Dia mengutus ke ladang yang menguning. Dimana Tuhan utus, disitu Tuhan sediakan ladang. Ladang memang perlu diolah, dijaga dan diberi pupuk. Tuaian adalah hasilnya. Sementara kita menyaksikan banyak orang yang begitu susah mendapatkan ladang, Tuhan justru menyediakannya bagi anda. Itu adalah ladang Tuhan. Orang yang dikhususkan mengelola ladang Tuhan, adalah orang yang dipercaya oleh Tuhan sendiri. Coba renungkan, siapakah anda sehingga aset Tuhan yang sangat berharga itu, dipercayakan ke dalam tanganmu? Ladang adalah tempat. Di ladang anda akan menuai. Bukan hanya jiwa. Tetapi segala penyediaan Tuhan, disediakanNya dan menjadi tuaian bagi anda. Bukankah Dia adalah Allah Jehovah Jireh?

Keempat, Tuhan tidak pernah mengutus dengan tangan hampa. Dia tidak memberikan sesuatu yang tidak terlihat. Dikatakan-Nya “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka” (Lukas 9:3-5). Ketika Tuhan mengutus, Dia memperlengkapi. Kuasa Roh Kudus adalah perlengkapan utama dari Tuhan. Sadar atau tidak sadar, kuasa itu akan aktif dengan sendirinya saat meresponi pengutusan. Melalui kuasa Roh Kudus akan terlihat bagaimana Allah meneguhkan pemberitaan anda tentang kerajaan Allah. Anda akan melihat kesembuhan, pembebasan dan pemulihan yang hebat.

Kelima, di dalam setiap panggilan, butuh harga dan pengorbanan. Ladang dimana Tuhan utus, adalah ladang yang tidak seperti kita pikirkan atau bayangkan. Kelihatannya mudah tetapi di sana banyak tantangan dan kesulitan. Kelihatannya siap dituai tetapi ternyata belum menguning. Terlihat tumbuh tetapi berbarengan dengan ilalang. Butuh usaha dan kerja keras untuk akhirnya menuai. Setiap ladang harus dikelola dengan maksimal, dan semua itu butuh proses untuk memberikan hasil terbaik. Ketahuilah, kadang proses jauh lebih penting daripada hasil. Sebab, hasil yang baik, hanya mengikuti proses yang dilalui. Di dalam sebuah proses, dibutuhkan respon terbaik supaya semua tantangan dan masalah yang dihadapi, bukan justru membuat anda surut dan menyerah. Melainkan, memicu untuk melakukan hal yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,

Banyak orang-orang menjadi gagal memenuhi panggilan Tuhan di dalam hidupnya. Dr. J. Robert Clinton, memulai sebuah penelitian untuk menilai kepemimpinan di dalam Alkitab. Penelitian itu melahirkan buku yang terkenal berjudul Finishing Well  (Menyelesaikan dengan Baik). Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan banyak menjadi rujukan yang mengubah hidup orang-orang yang terjun di dalam pelayanan. Salah satu yang diungkap oleh Dr. Clinton adalah, tidak semua orang yang dipanggil di ladang Tuhan, berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. 1/3 gagal di awal panggilan, 1/3 gagal di pertengahan dan hanya 1/3 yang berhasil menyelesaikan dengan baik (finishing well).[1] Anda mau berada di 1/3 yang mana?

Kunci utama sebuah penyelesaian yang baik adalah karakter, bukan karunia. Sebab, karunia hanya akan membawa anda dengan cepat naik ke atas, karakterlah yang membuat anda dapat bertahan di puncak keberhasilan. Tanpa karakter yang kuat, semua tantangan dan persoalan di dalam ladang pelayanan, hanya akan membuat anda menyerah bahkan lari dari panggilan. Ketika karakter lemah, bukannya membuat Tuhan bangga, tetapi justru mempermalukan-Nya. Ketika gagal membangun karakter yang baik, bukannya menjadi penuai di ladang-Nya malah menjadi pengangguran. Karakter yang lemah akan membuat siapapun kalah di dalam menghadapi beratnya tantangan dalam pelayanan. Seperti orang yang menerima satu talenta, dia tidak melakukan apapun untuk mengelola apa yang telah dipercayakan kepadanya. Talenta itu diambil.

Karakter, adalah faktor kunci yang membuat setiap orang di ladang pelayanan, berhasil atau gagal. Karakter adalah alasan utama yang menempatkan setiap orang berhasil menyelesaikan dengan baik (finishing well). Maka, bangunlah pelayananmu atas dasar karakter yang baik. Ikuti setiap proses Tuhan dengan respon terbaikmu untuk melihat hal-hal hebat yang akan Tuhan hadirkan di dalam hidup anda.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,
Yosua adalah seorang muda yang terjun di dalam ladang pelayanan yang penuh tantangan dan persoalan. Dia diminta untuk menjadi pemimpin sebuah bangsa yang dikenal suka melawan, protes dan tegar tengkuk. Misinya sangat berat, memimpin bangsa ini memasuki Tanah Perjanjian. Dan untuk tiba di sana, mereka harus bertempur melawan suku-suku Kanaan yang mendiami daerah itu. Bukahkah ini adalah representasi sebuah ladang yang berat?

Pernahkah anda mengamati, bahwa Yosua, di awal pelayanannya memulai sebagai abdi Musa. Di dalam Yosua 1:1  dikatakan “Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:” Penekanannya adalah pada kata ‘abdi Musa’. Yosua tidak pernah memposisikan diri untuk dilayani. Dia adalah seorang pelayan yang setia. Pelayan dari seorang Musa yang berstatus ‘hamba Tuhan’. Tanpa sadar, saat menjadi abdi Musa, Yosua terbentuk dan dibentuk. Saat tiba giliran baginya untuk diutus memimpin, sejumlah tantangan dan masalah menghadang didepannya. Tetapi Yosua tidak goyah. Dasar dari karakternya, untuk memenuhi panggilan itu, sudah terbentuk dengan kuat. Seluruh narasi sejarah dari kitab Yosua akhirnya menjadi catatan keberhasilan ‘abdi Musa’ itu memimpin sebuah bangsa, dan membawa bangsa pilihan Tuhan memasuki destiny mereka di Tanah Perjanjian. Yosua menjadi salah satu figur finishing well. Di akhir pelayanannya, statusnya berubah. Dia bukan lagi disebut ‘hamba Musa’ tetapi dicatat sebagai ‘hamba Tuhan’. Di dalam Yosua 24:29  dikatakan, “Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun.”

Kunci keberhasilan Yosua adalah karakter. Musa sudah berpengalaman terhadap dinamika bangsa Israel sejak berangkat dari Mesir. Itu sebabnya, saat suksesi kepemimpinan berlangsung dari Musa ke Yosua, nasehat penting ini juga menjadi inspirasi buat kita semua. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka” (Yosua 1:6). Mengapa harus menguatkan hati?

Hati adalah bagian hidup seseorang yang paling rentan untuk dipengaruhi sesuatu. Ketika kita merasa telah menjaganya, justru dia tidak terjaga. Demikian sebaliknya. Ketika hati tidak terjaga, maka akan muncul kekuatiran dan ketakutan. Hati dapat dipenuhi hal-hal negatif dan itu dapat membahayakan visi dan misi. Hati yang tidak terjaga akan melemahkan pelayanan. Juga mendorong orang lari dari pengutusannya karena tidak kuat menghadapi proses yang ada. Hati yang tidak terjaga akan membuat siapapun, gagal memberi respon terbaiknya untuk menghadapi tantangan dan pembentukan Tuhan di ladangNya.

Maka nasehat Paulus kepada jemaat di Efesus patut direnungkan. “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 6:10). Paulus memulai dengan kata ‘akhirnya’. Kamus Strong[2] mendefinisikan kata itu sebagai kata penutup untuk menegaskan setelah didahului oleh uraian yang panjang lebar. Juga sering dipakai sebagai penutup surat yang menjadi konklusi dari semuanya. Berarti, ini sesuatu yang sangat penting. Apakah itu? Be strong !

Menjadi kuat secara biologis, dapat terjadi karena pertumbuhan dan nutrisi yang sehat. Di dunia ini, orang juga bisa menjadi kuat, secara sosial dan politik, karena memiliki segala hal. Misalnya materi dan kekuasaan. Ada juga orang yang merasa kuat karena bergabung dengan sesuatu yang besar dan tak terkalahkan. Paulus memberi perbandingan. Jangan pernah mengandalkan kekuatan dari dunia. Bahwa kekuatan yang berasal dari dunia ini adalah fana. Hanya kekuatan dari Tuhan sajalah yang kekal.

Di dalam pelayanan, dan segala tantangan yang ada di sana, tidak ada seorangpun yang kuat karena kemampuannya sendiri. Sumber kekuatan utama adalah Tuhan sendiri. Daud menyadari itu sehingga ia pernah menulis Mazmur dan berkata “Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah” (Mazmur 62:8). Daud memiliki hati yang melekat kepada Tuhan.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,

Akhirnya, orang yang menjadi kuat di dalam Tuhan adalah:

Pertama, orang yang benar benar bersandar hanya pada Tuhan, dan bukan bersandar pada kekuatan apapun di luar Tuhan. Apapun yang terjadi di dalam hidupnya, ia selalu mencari Tuhan dan mengandalkan Dia. Be strong in God adalah sebuah pilihan. Siapapun dapat memilih sumber kekuatan di dalam hidupnya, tetapi hanya di dalam Tuhanlah, ada kekuatan yang sejati.

Kedua, orang yang mengandalkan Tuhan sebagai sumber kekuatan adalah orang yang meletakkan iman percayanya pada Tuhan. Put your trust in God. Banyak hal yang tidak dapat dimengerti di ladangNya. Banyak hal tak terduga. Dan saat ketidakmengertian terjadi, yang Tuhan tuntut hanyalah ketaatan. Ketaatan lahir dari sikap percaya yang mutlak. Taat mendahului pengertian.

Ketiga, Tuhan punya sumber kuasa yang tidak pernah habis. Orang yang melekat kepadaNya akan menerima aliran itu, mengalir ke dalam dan melalui dirinya. Itulah kuasa Roh Kudus yang memampukan dan membawa pada kekuatan supernatural Allah yang bermanifestasi di dalam hidup anda. Maka, anda harus hidup konsisten bersama Tuhan (living consistantly with God).

Saya mengucapkan selamat kepada STT Sangkakala yang untuk kesekian kalinya mewisuda lulusan lulusan sebagai pekerja di ladang Tuhan. Juga ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

Be strong !



[1] Dr. Richard Clinton and Dr. Paul Leavenworth, Finishing Well (Convergence Publishing, 2012).
[2] Kamus Strong G3063 loy-pon'. Neuter singular of the same as G3062; something remaining (adverb): - besides, finally, furthermore, (from) henceforth, moreover, now, + it remaineth, then.