Kamis, Desember 04, 2008

SECUPAK GANDUM SEDINAR

Pernah mendengar kalimat tersebut? “Secupak gandum sedinar (Wahyu 6:6)” Rasanya ‘ngeri’ membayangkan hal itu jika benar-benar terjadi. Maksudnya jelas. Tercatat di dalam Kitab Wahyu, saat pembukaan materai ketiga, setelah materai pertama dibuka berupa hadirnya anti Kris dengan perdamaian palsunya, kemudian diikuti pembukaan materai kedua berupa penunggang kuda merah padam yang akan membawa peperangan di muka bumi; muncullah penunggang kuda berikutnya setelah materai ketiga dibuka, seseorang yang menunggangi kuda hitam membawa timbangan di tangannya. Sambil berjalan, terdengarlah suara dari keempat makhluk yang berkata, “secupak gandum sedinar!”. Maksudnya apa? Secupak adalah ukuran sebesar segenggam telapak tangan orang dewasa Timur Tengah. Jadi kurang lebih mencapai satu liter. Sedangkan sedinar adalah nilai mata uang waktu itu yang jika dikurskan saat ini kurang lebih sama dengan US$ 0.17. Dan nilai itu adalah besar upah seseorang yang bekerja sehari penuh. Coba anda bayangkan, dengan nilai upah atas pekerjaan satu hari penuh (take home pay) seorang pekerja hanya mampu membeli gandum secupak banyaknya; yang jika diolah sebagai makanan, kurang mencukupi untuk tiga kali makan shari untuk satu orang saja. Bagaimana kalau pekerja itu punya satu isteri dan (misalnya) dua orang anak? Itu berarti, dirinya tidak akan mampu mencukupi kebutuhan pokok minimum untuk seluruh anggota keluarganya, padahal dia telah bekerja satu hari penuh dan mendapatkan upahnya.

KRISIS
Secupak gandum sedinar bicara tentang krisis. Di dalam enam bulan terakhir, dunia membicarakan solusi mengenai krisis pangan yang terjadi dimana, negara-negara agraris, melemah daya produksi pangannya sedemikian rupa sehingga stok pangannya menipis. Jika tidak segera dicari solusinya, maka akan terjadi kelangkaan bahan manakan pokok di pasaran. Kalau itu terjadi, harga bahan bahan tersebut akan menanjak tinggi. Sebagai ilustrasi, kalau dulu sebelum krisis harga satu liter beras lima ribu rupiah, maka dengan krisis tersebut, uang senilai lima ribu rupiah hanya mampu membeli kurang dari satu liter beras dan menjadi sebanyak ukuran genggaman tangan saja.

Bukan hanya itu, nilai tukar mata uang terhadap barang berubah menjadi rendah. Nilai uang yang sama sebelum krisis, tidak lagi punya harga dan hanya mampu membeli barang yang sama dalam ukuran yang lebih sedikit atau kualitas yang lebih rendah. Dengan melambungnya harga barang-barang pada satu pihak sementara pada pihak lain terjadi kemerosotan nilai uang, daya beli masyarakat menjadi rendah. Uang yang ada di tangan mereka, yang diukur dengan hasil sehari bekerja, tidak memiliki arti untuk menopang seluruh kehidupan dan kebutuhan mereka.

Demikianlah gambaran krisis yang dinubuatkan di dalam Kitab Wahyu tersebut yang ‘bakal’ kita hadapi di akhir zaman. Artinya, itu akan terjadi dan kita semua perlu bersiap-siap karenanya. Kapan? Tidak seorangpun dapat memastikannya. Apakah dengan membaca situasi ekonomi mutakhir adalah bukti dimana kita sedang memasuki nubuatan tersebut? Menurut saya itu merupakan kesimpulan yang terlalu jauh. Masa ‘secupak gandum sedinar’ adalah masa ketiga dari tujuh masa berurutan dari pembukaan materai tahap pertama, dari tiga tahap yang dirancang Allah dan dituliskan di dalam kitab Wahyu. Tentu saja sebelum materai ketiga itu dibuka, umat manusia akan di bawa dalam dua masa pendahuluan sebagai akibat dibukanya materai pertama (kedatangan anti Kristus dengan kedamaian palsunya) dan materai kedua (bencana peperangan di tengah-tengah umat manusia). Kita pasti mengerti bahwa perang (terlebih jika itu perang dunia dan melibatkan kekuatan nuklir) akan mengancam kelangsungan hidup umat manusia, merusak ekologi, mengacaukan pemerintahan, dan menghancurkan ekonomi. Orang akan susah mencari makan dan berjuang cukup keras untuk bertahan hidup. Jadi keadaan pada waktu materai ketiga dibuka, jauh lebih berat, lebih menyiksa dan lebih mengerikan daripada krisis ekonomi yang melanda dunia sekarang ini. Jika yang dihadapi sekarang baru berupa latihan (test case) dari Tuhan dan sudah berteriak-teriak minta tolong karena kepayahan, coba dibayangkan, seperti apa hebatnya bila nubuatan itu benar-benar terjadi.

APA MAKSUD TUHAN?
Sudah pasti, Tuhan sedang mengingatkan kita. Itulah jawaban utama ketika kita bertanya, apa maksud Tuhan melalui krisis demi krisis yang melanda kita belakangan ini. Seringkali kita melupakan Tuhan dalam segala berkat dan pencapaian yang kita dapatkan. Kita lupa bahwa semuanya itu berasal dari Allah. Dunia telah ‘menyerong’ kita sedemikian rupa, sehingga tanpa disadari, manusia sudah dibawa melangkah jauh dari Tuhan. Oleh sebab itu, di dalam masa seperti ini, penting sekali untuk membangun hubungan dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Dia sedang mengingatkan kita semua bahwa Dia ada ! Bukan hanya itu, Dia juga mengingatkan bahwa Dia akan membawa situasi yang jauh lebih berat di masa yang akan datang, agar supaya mental, hati dan iman kita menjadi siap.

Kenyamanan adalah satu penyakit yang membuat manusia sering lupa membangun hubungan dengan Allahnya. Nyaman dengan segala jabatan, kekayaan, fungsi, keberhasilan dan kenikmatan yang ada. Manusia lupa bahwa sebetulnya semuanya itu hanyalah ‘bonus tambahan’ sebagai akibat mencari Dia dengan sungguh-sungguh. Matius 6:33 mengatakan “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Oleh sebab itu, marilah kita segera berbalik dan merubah kiblat kita, dari hal-hal material kepada hal-hal rohani. Belum terlambat untuk memperbaiki semua itu sebab Tuhan sedang membawa kita, dalam generasi ini, melalui sebuah latihan krisis. Melalui respon yang benar di dalam latihan tersebut, kita sedang membentuk generasi di bawah kita dan mewariskan kepada mereka nilai-nilai yang benar, yang takut akan Tuhan. Generasi anak-cucu kitalah yang kelak berada di dalam situasi langsung pembukaan materai. Melalui apa yang kita lakukan sekarang, mereka sedang disiapkan untuk tangguh dan bertahan di dalam Tuhan. Hanya dengan mengandalkan Tuhanlah manusia mampu survive di tengah krisis.

YANG MENJADI BAGIAN KITA
Ada sebuah peristiwa krisis keuangan yang pernah terjadi di zaman Elisa. Seorang wanita, janda dari seorang hamba Tuhan, datang berkeluh kesah kepada Elisa. Ya, krisis bagi orang yang lemah imannya memang menghasilkan keluh kesah dan itu tidak akan menyelesaikan masalah. Pasti ada yang salah dengan gaya hidup manusia ini sehingga terbelit utang. Dia datang kepada Elisa dan berkata, “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya." (2 Raja-raja 4:1-7). Nabi dalam PL adalah representasi Tuhan. Teladan positif yang kita dapatkan dari wanita ini adalah dia datang pada sumber yang tepat. Hanya saja, saking terintimidasinya dengan kasus utang yang melilitnya, ketika Elisa bertanya, "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah," dia menjawab dalam konteks yang berbeda. Perhatikan baik-baik jawaban wanita ini. "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." Dia mengaku tidak memiliki apapun ! Tetapi pada bagian akhir kalimatnya dia berkata masih memiliki sebuah buli-buli berisi minyak. Kontras bukan? Tidak merasa memiliki padahal memiliki sesuatu. Ketidakkonsistenan ini mencerminkan sebuah prinsip yang disebut ‘pengabaian’ – menganggap remeh hal-hal kecil dan memuliakan hal-hal besar. Seringkali kita punya worldview yang serupa dengan wanita ini. Kita mengabaikan apa yang sudah ada di dalam genggaman tangan kita. Dalam anggapan kita, memiliki sesuatu adalah menggenggam yang lebih besar, yang lebih bernilai, yang lebih hebat atau yang lebih berharga. Dalam Financial Breakthrough Bible Morris Cerullo, pertanyaan Elisa tersebut malah diterjemahkan secara spesifik, apa kiranya yang masih bisa dijual yang dimiliki wanita ini. Fakta membuktikan kepada kita bahwa si wanita, dan juga seringkali kita, mengabaikan potensi dari segala sesuatu yang masih kita miliki. Kita terjebak dalam pikiran sendiri sehingga kehilangan peluang untuk keluar dari krisis.

Elisa memberi solusi yang kurang bisa dimengerti. Kendati demikian, wanita ini taat. Ingat, di dalam Tuhan, ketaatan mendahului pengertian ! Tidak dibutuhkan pengertian untuk taat. Yang dibutuhkan adalah percaya. Elisa memintanya meminjam bejana kosong dan menuangkan minyak dalam buli-buli itu ke dalam bejana yang ada. Pada titik dimana wanita ini menuang, mujizat terjadi ! Minyak tidak berhenti mnegalir hingga semua bejana yang ada penuh terisi. Luar biasa! Wanita ini menuang dari benda terakhir yang dimilikinya. Dia mengesampingkan pikirannya, “untuk apa semua pemborosan ini”. Bahkan menepis anggapan bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah tindakan konyol. Dia taat dan nurut ! Sekalipun dia tidak memiliki apa-apa lagi, bagian terakhir yang dimilikinya, ketika dia harus menuang, maka dia menuang. Wah...Bagaimana dengan anda? Masihkan mau menuang ketika justru disaat yang sama, anda sedang berada di dalam sebuah kebutuhan yang mendesak? Ataukah masihkah anda mau menuang manakala sedang berada dalam kekurangan?

Menuang adalah sebuah tindakan ! Bahkan merupakan sebuah faith action di dalam sebuah krisis. Seringkali kita gagal keluar dari krisis hanya karena tidak mau bertindak atas dasar iman kita. Terlebih lagi, kita lebih memilih untuk dituangi daripada menjadi penuang. Saya sangat setuju bahwa meminta-minta adalah sebuah mentalitas. Asumsi yang lazim kita dengar adalah keinginan menuang yang dikorelasikan dengan keadaan berkelimpahan. Kita berpikir bahwa, menuang akan kita lakukan kelak saat sudah berkelimpahan. Pikiran semacam ini akan membuat kita gagal bertahan di dalam krisis dan tidak mampu mengalami terobosan keuangan (financial breakthrough).

AKHIRNYA
Ketika kita mencari Tuhan, maka kita akan mendapatkan solusi. Bukankah Tuhan berjanji bahwa “setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Lukas 11:10). Sangat jelas, dalam situasi krisis apapun, entah di dalam hidup, ataupun dalam pelayanan, kita semua perlu datang kepada Tuhan. Bukan datang kepada manusia !

1 komentar:

  1. saya setuju dgn Firman tsb bhw disaat krisispun Tuhan Yesus masih sanggup melipatgandakan hal kecil apapun yg masih kita miliki, jikalau tdk keberatan saya biasa menyebut Dia seumpama "Mesin Pelipatgandaan yg Maha Tinggi" or "The Highest Multiplyer"

    BalasHapus