Rabu, September 28, 2016

BE STRONG IN THE LORD

Oleh: Ps. Sonny Eli Zaluchu, M.A, M.Th, D.Min, D.Th
Orasi dan Firman Tuhan
Wisuda STT Sangkakala, Kopeng – 30 September 2016

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.
Efesus 6:10

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,
Hari ini kita akan melepas sejumlah lulusan STT Sangkakala ke tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi panggilan Tuhan. Masa studi mereka di sekolah ini telah selesai dan inilah saatnya mempraktekan semua yang diperoleh itu di dalam ladang pelayanan. Adalah sebuah keberuntungan, setiap orang yang dipanggil dan dipilih Tuhan untuk menjadi penuai di ladang-Nya. Mengapa?

Pertama, tidak semua orang yang terpanggil menjadi terpilih. Dan, wisudawan wisudawati yang hari ini menerima pengutusan mereka, adalah orang-orang pilihan Tuhan sendiri. Sementara banyak orang menginginkan untuk dipanggil tetapi kemudian tidak terpilih, anugerah dan kesempatan justru dibukakan kepada mereka. Ingat perumpamaan tentang pesta perjamuan yang diselenggarakan oleh raja? Sebelum pesta dimulai, orang-orang yang akan diundang sudah berada di dalam list. Dan anda semua hari ini adalah orang-orang yang sudah berada di dalam daftar itu. Diundang menjadi bagian penting dalam kerajaan Allah. Tentu saja, kursi yang telah Tuhan sediakan itu harus disambut dan diresponi dengan benar. Kalau tidak, posisi anda, akan diganti oleh orang-orang pinggiran !

Kedua, yang mengutus bukanlah manusia tetapi Tuhan. Dia bisa saja memakai malaikat atau orang-orang tertentu. Tetapi, Tuhan memutuskan memanggil anda dan memakainya untuk menjadi bagian penting dalam menyelesaikan misi Tuhan di bumi. Mitra anda bukan manusia tetapi Tuhan sendiri. Dan, itu adalah sebuah kehormatan. Banyak orang hebat di luar sana. Tetapi Tuhan tidak memanggil mereka. Bagi Tuhan, kehebatan hanyalah sebuah hasil akhir. Hebat di dalam Tuhan sangat bertolak belakang dengan hebat karena dunia. Mula-mula, anda adalah sosok biasa-biasa saja. Tetapi karena berada di tangan Tuhan, anda diubah menjadi orang-orang luar biasa. Apa kuncinya? Selama empat tahun di STT, penempaan dan pembentukan telah mempersiapkan anda menjadi orang hebatnya Tuhan. Sakit, menderita, susah serta penuh tantangan telah dilalui. Kalau hari ini menyelesaikan satu proses itu, artinya anda siap ke tahap berikutnya. Tuhanlah yang mengutus anda, bukan manusia.

Ketiga, percayalah, dimana Tuhan mengutus di sana Dia memberi ladang. Tuhan tidak pernah mengutus seseorang ke padang gurun atrau ke tanah gersang. Dia mengutus ke ladang yang menguning. Dimana Tuhan utus, disitu Tuhan sediakan ladang. Ladang memang perlu diolah, dijaga dan diberi pupuk. Tuaian adalah hasilnya. Sementara kita menyaksikan banyak orang yang begitu susah mendapatkan ladang, Tuhan justru menyediakannya bagi anda. Itu adalah ladang Tuhan. Orang yang dikhususkan mengelola ladang Tuhan, adalah orang yang dipercaya oleh Tuhan sendiri. Coba renungkan, siapakah anda sehingga aset Tuhan yang sangat berharga itu, dipercayakan ke dalam tanganmu? Ladang adalah tempat. Di ladang anda akan menuai. Bukan hanya jiwa. Tetapi segala penyediaan Tuhan, disediakanNya dan menjadi tuaian bagi anda. Bukankah Dia adalah Allah Jehovah Jireh?

Keempat, Tuhan tidak pernah mengutus dengan tangan hampa. Dia tidak memberikan sesuatu yang tidak terlihat. Dikatakan-Nya “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka” (Lukas 9:3-5). Ketika Tuhan mengutus, Dia memperlengkapi. Kuasa Roh Kudus adalah perlengkapan utama dari Tuhan. Sadar atau tidak sadar, kuasa itu akan aktif dengan sendirinya saat meresponi pengutusan. Melalui kuasa Roh Kudus akan terlihat bagaimana Allah meneguhkan pemberitaan anda tentang kerajaan Allah. Anda akan melihat kesembuhan, pembebasan dan pemulihan yang hebat.

Kelima, di dalam setiap panggilan, butuh harga dan pengorbanan. Ladang dimana Tuhan utus, adalah ladang yang tidak seperti kita pikirkan atau bayangkan. Kelihatannya mudah tetapi di sana banyak tantangan dan kesulitan. Kelihatannya siap dituai tetapi ternyata belum menguning. Terlihat tumbuh tetapi berbarengan dengan ilalang. Butuh usaha dan kerja keras untuk akhirnya menuai. Setiap ladang harus dikelola dengan maksimal, dan semua itu butuh proses untuk memberikan hasil terbaik. Ketahuilah, kadang proses jauh lebih penting daripada hasil. Sebab, hasil yang baik, hanya mengikuti proses yang dilalui. Di dalam sebuah proses, dibutuhkan respon terbaik supaya semua tantangan dan masalah yang dihadapi, bukan justru membuat anda surut dan menyerah. Melainkan, memicu untuk melakukan hal yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,

Banyak orang-orang menjadi gagal memenuhi panggilan Tuhan di dalam hidupnya. Dr. J. Robert Clinton, memulai sebuah penelitian untuk menilai kepemimpinan di dalam Alkitab. Penelitian itu melahirkan buku yang terkenal berjudul Finishing Well  (Menyelesaikan dengan Baik). Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan banyak menjadi rujukan yang mengubah hidup orang-orang yang terjun di dalam pelayanan. Salah satu yang diungkap oleh Dr. Clinton adalah, tidak semua orang yang dipanggil di ladang Tuhan, berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. 1/3 gagal di awal panggilan, 1/3 gagal di pertengahan dan hanya 1/3 yang berhasil menyelesaikan dengan baik (finishing well).[1] Anda mau berada di 1/3 yang mana?

Kunci utama sebuah penyelesaian yang baik adalah karakter, bukan karunia. Sebab, karunia hanya akan membawa anda dengan cepat naik ke atas, karakterlah yang membuat anda dapat bertahan di puncak keberhasilan. Tanpa karakter yang kuat, semua tantangan dan persoalan di dalam ladang pelayanan, hanya akan membuat anda menyerah bahkan lari dari panggilan. Ketika karakter lemah, bukannya membuat Tuhan bangga, tetapi justru mempermalukan-Nya. Ketika gagal membangun karakter yang baik, bukannya menjadi penuai di ladang-Nya malah menjadi pengangguran. Karakter yang lemah akan membuat siapapun kalah di dalam menghadapi beratnya tantangan dalam pelayanan. Seperti orang yang menerima satu talenta, dia tidak melakukan apapun untuk mengelola apa yang telah dipercayakan kepadanya. Talenta itu diambil.

Karakter, adalah faktor kunci yang membuat setiap orang di ladang pelayanan, berhasil atau gagal. Karakter adalah alasan utama yang menempatkan setiap orang berhasil menyelesaikan dengan baik (finishing well). Maka, bangunlah pelayananmu atas dasar karakter yang baik. Ikuti setiap proses Tuhan dengan respon terbaikmu untuk melihat hal-hal hebat yang akan Tuhan hadirkan di dalam hidup anda.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,
Yosua adalah seorang muda yang terjun di dalam ladang pelayanan yang penuh tantangan dan persoalan. Dia diminta untuk menjadi pemimpin sebuah bangsa yang dikenal suka melawan, protes dan tegar tengkuk. Misinya sangat berat, memimpin bangsa ini memasuki Tanah Perjanjian. Dan untuk tiba di sana, mereka harus bertempur melawan suku-suku Kanaan yang mendiami daerah itu. Bukahkah ini adalah representasi sebuah ladang yang berat?

Pernahkah anda mengamati, bahwa Yosua, di awal pelayanannya memulai sebagai abdi Musa. Di dalam Yosua 1:1  dikatakan “Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:” Penekanannya adalah pada kata ‘abdi Musa’. Yosua tidak pernah memposisikan diri untuk dilayani. Dia adalah seorang pelayan yang setia. Pelayan dari seorang Musa yang berstatus ‘hamba Tuhan’. Tanpa sadar, saat menjadi abdi Musa, Yosua terbentuk dan dibentuk. Saat tiba giliran baginya untuk diutus memimpin, sejumlah tantangan dan masalah menghadang didepannya. Tetapi Yosua tidak goyah. Dasar dari karakternya, untuk memenuhi panggilan itu, sudah terbentuk dengan kuat. Seluruh narasi sejarah dari kitab Yosua akhirnya menjadi catatan keberhasilan ‘abdi Musa’ itu memimpin sebuah bangsa, dan membawa bangsa pilihan Tuhan memasuki destiny mereka di Tanah Perjanjian. Yosua menjadi salah satu figur finishing well. Di akhir pelayanannya, statusnya berubah. Dia bukan lagi disebut ‘hamba Musa’ tetapi dicatat sebagai ‘hamba Tuhan’. Di dalam Yosua 24:29  dikatakan, “Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun.”

Kunci keberhasilan Yosua adalah karakter. Musa sudah berpengalaman terhadap dinamika bangsa Israel sejak berangkat dari Mesir. Itu sebabnya, saat suksesi kepemimpinan berlangsung dari Musa ke Yosua, nasehat penting ini juga menjadi inspirasi buat kita semua. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka” (Yosua 1:6). Mengapa harus menguatkan hati?

Hati adalah bagian hidup seseorang yang paling rentan untuk dipengaruhi sesuatu. Ketika kita merasa telah menjaganya, justru dia tidak terjaga. Demikian sebaliknya. Ketika hati tidak terjaga, maka akan muncul kekuatiran dan ketakutan. Hati dapat dipenuhi hal-hal negatif dan itu dapat membahayakan visi dan misi. Hati yang tidak terjaga akan melemahkan pelayanan. Juga mendorong orang lari dari pengutusannya karena tidak kuat menghadapi proses yang ada. Hati yang tidak terjaga akan membuat siapapun, gagal memberi respon terbaiknya untuk menghadapi tantangan dan pembentukan Tuhan di ladangNya.

Maka nasehat Paulus kepada jemaat di Efesus patut direnungkan. “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 6:10). Paulus memulai dengan kata ‘akhirnya’. Kamus Strong[2] mendefinisikan kata itu sebagai kata penutup untuk menegaskan setelah didahului oleh uraian yang panjang lebar. Juga sering dipakai sebagai penutup surat yang menjadi konklusi dari semuanya. Berarti, ini sesuatu yang sangat penting. Apakah itu? Be strong !

Menjadi kuat secara biologis, dapat terjadi karena pertumbuhan dan nutrisi yang sehat. Di dunia ini, orang juga bisa menjadi kuat, secara sosial dan politik, karena memiliki segala hal. Misalnya materi dan kekuasaan. Ada juga orang yang merasa kuat karena bergabung dengan sesuatu yang besar dan tak terkalahkan. Paulus memberi perbandingan. Jangan pernah mengandalkan kekuatan dari dunia. Bahwa kekuatan yang berasal dari dunia ini adalah fana. Hanya kekuatan dari Tuhan sajalah yang kekal.

Di dalam pelayanan, dan segala tantangan yang ada di sana, tidak ada seorangpun yang kuat karena kemampuannya sendiri. Sumber kekuatan utama adalah Tuhan sendiri. Daud menyadari itu sehingga ia pernah menulis Mazmur dan berkata “Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah” (Mazmur 62:8). Daud memiliki hati yang melekat kepada Tuhan.

Sidang senat, wisudawan dan wisudawati serta tamu undangan yang saya hormati,

Akhirnya, orang yang menjadi kuat di dalam Tuhan adalah:

Pertama, orang yang benar benar bersandar hanya pada Tuhan, dan bukan bersandar pada kekuatan apapun di luar Tuhan. Apapun yang terjadi di dalam hidupnya, ia selalu mencari Tuhan dan mengandalkan Dia. Be strong in God adalah sebuah pilihan. Siapapun dapat memilih sumber kekuatan di dalam hidupnya, tetapi hanya di dalam Tuhanlah, ada kekuatan yang sejati.

Kedua, orang yang mengandalkan Tuhan sebagai sumber kekuatan adalah orang yang meletakkan iman percayanya pada Tuhan. Put your trust in God. Banyak hal yang tidak dapat dimengerti di ladangNya. Banyak hal tak terduga. Dan saat ketidakmengertian terjadi, yang Tuhan tuntut hanyalah ketaatan. Ketaatan lahir dari sikap percaya yang mutlak. Taat mendahului pengertian.

Ketiga, Tuhan punya sumber kuasa yang tidak pernah habis. Orang yang melekat kepadaNya akan menerima aliran itu, mengalir ke dalam dan melalui dirinya. Itulah kuasa Roh Kudus yang memampukan dan membawa pada kekuatan supernatural Allah yang bermanifestasi di dalam hidup anda. Maka, anda harus hidup konsisten bersama Tuhan (living consistantly with God).

Saya mengucapkan selamat kepada STT Sangkakala yang untuk kesekian kalinya mewisuda lulusan lulusan sebagai pekerja di ladang Tuhan. Juga ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

Be strong !



[1] Dr. Richard Clinton and Dr. Paul Leavenworth, Finishing Well (Convergence Publishing, 2012).
[2] Kamus Strong G3063 loy-pon'. Neuter singular of the same as G3062; something remaining (adverb): - besides, finally, furthermore, (from) henceforth, moreover, now, + it remaineth, then.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar