Rabu, Agustus 06, 2008

KELELAHAN DAN PENYEDIAAN TUHAN

Pernahkah anda merasa sangat lelah?
Tanpa disadari, tiba-tiba pekerjaan, keluarga, bahkan pelayanan, membawa anda di satu titik, dan titik itu bukanlah keberhasilan atau sebuah pencapaian melainkan sebuah titik yang justru selalu diabaikan di dalam kehidupan, yakni kelelahan. Tiba-tiba saja anda merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun secara emosional.

Kehidupan dan apa yang anda kerjakan di dalamnya, memang dapat membawa kelelahan bagi siapapun yang menjalaninya. Tapi sebagaimana kebanyakan manusia, umumnya mereka tidak mau mengakui bahkan terlihat lelah di mata orang lain. Padahal, selama kehidupan ini berjalan dan manusia masih berusaha serta beraktifitas, siapapun pasti akan berhadapan dengan kelelahan. Pelayanan yang demikian padat jadwal dapat membuat kita lelah. Keluarga yang beraktifitas secara rutin juga dapat melelahkan hati dan pikiran. Bagaimana dengan pekerjaan? Rutinitas di dalam pekerjaan, perjalanan pulang pergi dari rumah ke tempat bekerja, juga dapat sangat melelahkan. Bahkan, masalah demi masalah, problematika hidup, tantangan dan cobaan yang kita hadapi, ketika tidak kunjung usai, juga melelahkan baik fisik maupun emosional. Kelelahan dapatlah membuat siapapun menjadi lemah! Ingat, iman dapat membuat anda semakin kuat, tetapi kelelahan akan melemahkan kekuatan anda.

Kelelahan, diakui atau tidak adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Oleh karena itu kita perlu memberi respon yang tepat, agar ketika kelelahan datang, kita dapat mengelolanya dengan baik sehingga tidak membawa dampak merugikan bagi diri sendiri. Menyangkut hal ini, kita belajar dari seorang hamba Tuhan yang sangat diurapi dan dipakai Tuhan luar biasa; seorang nabi di dalam Perjanjian Lama yang bernama Elia. Pasca KKR yang mendatangkan api dari langit sehingga membuat hati bangsa Israel bertobat dan berbalik kepada Tuhan, Elia mendapat sebuah serangan di dalam dirinya. Elia yang semula kuat dan terlihat tidak punya rasa takut, justru memperlihatkan sebuah kontras yang tentu saja mengagetkan. Bagaimana mungkin seorang hamba Tuhan yang barusan dipakai untuk pekerjaan besar, tiba-tiba berubah menjadi manusia yang lemah, kehilangan harapan dan terlihat putus asa? Kuncinya adalah diri Elia sendiri. Pada waktu ia mulai kuatir akan keselamatan dirinya (egois) terhadap ancaman Izebel, di titik itu, kelelahan datang menghampirinya! Kekuatiran terhadap keselamatan diri sendiri menjadi titik tolak ketakberdayaan Elia. Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. (1 Raja 19:1-3) Bagaimana dengan anda? Apa yang menjadi kekuatiran anda di dalam hidup ini sehingga anda menjadi pribadi yang sangat kuatir dan ketakutan? Jika anda tidak baik-baik menghadapinya, maka bisa saja situasi kita menjadi sama seperti dialami Elia. Putus asa dan mau mengakhiri hidupnya. Fokus pada kekuatiran akan membuat posisi Allah tergeser; bahkan membuat iman dan pengharapan kepadaNya menjadi lemah. Itulah yang dialami Elia.

Akibatnya, Elia pergi lari dari Allah. Alkitab memberitahukan kepada kita, Elia pergi ke padang gurun. Di sana Elia meratapi dirinya sendiri dan meminta Tuhan mencabut nyawanya. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (1 Raja 19:4) Kita semua mengerti bahwa padang gurun adalah tempat yang sangat tidak nyaman. Selain panas menyengat, juga tidak ada air dan penuh dengan marabahaya. Tidak ada orang yang kuat bertahan di padang gurun, tanpa bekal, sedang putus asa, kelelahan secara fisik dan emosional, seperti yang dialami Elia. Hal ini sebetulnya menggambarkan perilaku kita. Justru ketika sedang bermasalah, kita malah lari ke padang gurun dan berlindung di bawah pohon arar seperti yang Elia lakukan. Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu (1 Raja 19:5a). Apakah anda tahu apakah itu pohon arar? Sebetulnya tanaman itu bukan pohon melainkan semak-semak khas padang pasir Yudea yang tingginya sekitar 5 meter. Seiring dengan perubahan posisi matahari di langit, maka bayangan yang meneduhkan dari semak-semak itu, tempat Elia berbaring, juga akan bergeser. Jadi setiap saat, Elia juga harus merubah posisinya supaya tubuhnya tetap terlindungi dari terik matahari. Sungguh tidak nyaman berada di bawah pohon arar di padang gurun! Sungguh tidak nyaman jika kitapun melakukan hal yang sama. Kita seringkali, ketika lelah, justru mencari tempat pelarian yang salah. Seharusnya Elia dan seharusnya juga kita, tahu persis bahwa Tuhanlah satu-satunya tempat pelarian yang meneduhkan. Bukan padang pasir dan bukan padang gurun. Daud mengatakan bahwa "Sungguh Engkau telah menjadi tempat perlindunganku, menara yang kuat terhadap musuh. Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu!" (Mazmur 61:3-4). Elia salah melangkah. Mungkin juga kita. Seharusnya kita berteriak kepada Allah yang menyertai kita.

Selain membuat putus asa, kelelahan juga dapat membuat kita berhenti di tempat. Kelelahan yang mendatangkan ketakutan dalam diri Elia, telah membuatnya melupakan tujuannya semula yakni ke menjumpai Allah di gunung Horeb. Elia berhenti di tempat. Dimana-mana, yang namanya perhentian, dapatlah menunda perjalanan. Juga dapat menunda pencapaian tujuan. Bahkan menggagalkannya ketika kita sama sekali tidak mau melanjutkan perjalanan lagi. Respon yang salah terhadap kelelahan dapat membuat perjalanan berhenti secara total. Pernahkan anda merasa tidak sanggup meneruskan apa yang menjadi tujuan semula di dalam hidup anda hanya karena lelah berhadapan dengan masalah, lelah berhadapan dengan tantangan dan persoalan, lelah berhadapan dengan rutinitas? Kelelahan dapat membuat siapapun berhenti. Tetapi, perhentian itu dapat membahayakan seluruh perjalanan ketika merasa tidak sanggup lagi berjalan. Berhati-hatilah. Banyak orang gagal menyelesaikan hingga garis akhir, karena berhenti di tengah jalan. Fokus mereka bergeser. Inilah yang membuat banyak dari tokoh Alkitab gagal menyelesaikan dengan baik. Ketika Esau lelah dari perburuan di padang, dia kehilangan akal sehat sehingga menjual hak kesulungannya. Pada waktu Daud berhenti karena kelelahan, dia justru berpeluang berdosa dengan Betsyeba. Ketika Elia lelah, dia lari dari panggilannya. Kelelahan dapatlah membahayakan tujuan kita. Anda memang boleh berhenti sewaktu lelah, tetapi perhentian itu hanyalah sementara. Perhentian yang bertujuan untuk menyusun kembali kekuatan, merefresh tenaga dan semangat, melakukan evaluasi dan hal-hal lain yang membuat tenaga, semangat, harapan, menjadi pulih. Kita boleh berhenti saat lelah. Dan perhentian itu harus benar-benar dimanfaatkan untuk membuat tubuh menjadi segar, pikiran jadi tenang dan roh kembali menyala-nyala. Kehidupan, pekerjaan, pelayanan yang terjebak di dalam rutinitas hanya bisa disegarkan kembali melalui perhentian untuk beristirahat. Di dalam istirahat itulah kita merestorasi kembali hubungan kita dengan Tuhan. "Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah" (Yesaya 40:31). Perhentian karena kelelahan adalah sebuah perhentian untuk sayap kita menjadi kuat mengangkat tubuh, dimana kaki kita menjadi kkuat untuk berjalan lagi! Itu sebabnya, ketika malaikat Tuhan datang, Elia diingatkan bahwa perjalanannya masih jauh. Tidan boleh berhenti terlalu lama di tengah jalan. Tujuan masih ada di depan!

Hal yang sangat menarik adalah perkataan malaikat Tuhan kepada Elia. Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. (1 Raja 19:7-8). Perhatikan kalimat tersebut. Malaikat itu tidak langsung berkata, “Makanlah!” tetapi “Bangunlah!”. Apa artinya? Hal yang jauh lebih penting bagi orang yang sedang kelelahan, depresi, stress, penuh tekanan, bukanlah pemulihan fisik, melainkan pemulihan emosional. Jiwanya harus bangkit terlebih dahulu. Orang yang lelah pasti akan terpuruk, patah semangat dan hilang harapan. Itulah bahaya utama dari kelelahan. Semangat yang patah akan mengeringkan tulang!” Apakah anda sedang merasakan hal yang sama seperti Elia? Anda harus bangun dulu. Tidak ada gunanya makan kalau sedang berbaring. Bangun artinya bangkit, seperti seorang yang sedang berbaring kemudian berdiri. Seperti gambaran seorang yang sedang duduk patah semangat, tiba-tiba bangkit dari kursi dan berlari menyongsong sesuatu yang membuatnya hidup kembali. Ketika kita bangun, maka Tuhan akan menyediakan segala apa yang kita perlukan. Dalam kelelahan, kalau kita belajar bergantung padaNya, akan ada yang disebut dengan penyediaan Tuhan. Bukankah Dia adalah Jehovah Jireh. Tuhan akan menyediakan makanan, minuman, modal kerja, semangat yang baru, tenaga baru, jalan keluar, pintu yang terbuka, segala yang kita perlukan untuk membuat kita bergerak kembali menuju tujuan yang sudah di tetapkan-Nya. Jadi, tunggu apa lagi sahabatku? Bangunlah ! *** (Khotbah di GPdI Hermon Semarang 3 Agt 2008 (gloryofgodmin@gmail.com / 081.6665222)