Rabu, Juli 08, 2009

KOMUNIKASI: KUNCI HARMONISASI DALAM KELUARGA

Artikel ini adalah bahan Seminar Keluarga oleh Sonny dan Yosy ZALUCHU dan bahan pelayanan Radio rubrik Keluarga Bahagia di 94.9 GoodNews FM.

Pernahkah anda mengalami konflik antar suami isteri karena susah atau tidak bulat mengambil keputusan? Atau tidak berada di dalam satu titik temu menghadapi masalah anak, saudara, persoalan keuangan, pekerjaan atau tantangan hidup? Atau tiba-tiba pasangan anda bersikap keras, negatif atau penuh amarah bahkan salah paham terhadap anda?

Komunikasi adalah satu hal yang sangat penting di dalam memelihara keharmonisan keluarga. Banyak masalah dapat muncul di dalam sebuah perkawinan karena terjadi kemacetan komunikasi terutama antar-pasangan. Komunikasi yang macet akan membuat segala tujuan di dalam keluarga tersebut gagal tercapai. Karena setiap pihak akan melakukan tindakannya sendiri-sendiri tanpa mempedulikan kepentingan atau keterlibatan pasangannya. Apabila terjadi seperti ini, maka suasana di dalam keluarga menjadi tidak kondusif ke arah yang sehat. Pasangan suami isteri akan cenderung mempertahankan egonya masing-masing dan membela diri pada satu sisi bahkan menyerang pasangannya di sisi yang lain.

Komunikasi, menurut para pakar, adalah satu bentuk penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain. Komunikasi yang baik terjadi bila pesan tersebut dapat dengan utuh sampai pada penerima, dimengerti seutuhnya dan menghasilkan sebuah feedback. Dari sana terjalin kesepahaman, saling pengertian dan lahirnya keputusan-keputusan yang menjadi dasar dari tindakan bersama. Intinya, seperti firman Tuhan katakan, komunikasi yang baik akan membuat setiap pihak di dalam perkawinan :

(a) dapat berjalan bersama-sama – Amos 3:3 Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?
(b) melibatkan Tuhan di dalam setiap keputusan atau tindakan mereka - Mat 18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.

Untuk membangun suatu komunikasi yang baik di dalam pernikahan, maka kita harus perhatikan hal-hal penting berikut ini.

1. Intensitas pertemuan dengan pasangan harus ditingkatkan. Pertemuan akan melahirkan komunikasi yang jauh lebih baik daripada sekedar pertemuan semu seperti melalui telepon, sms, facebook. Ada hal-hal yang tidak tergantikan oleh teknologi manakala kita membangun percakapan dengan pasangan kita, langsung, bertemu muka dengan muka. Melalui pertemuan kita akan dapatkan ekspresi perasaan yang hanya dimengerti melalui jiwa.

2. Gangguan komunikasi yang sangat tinggi frekuensinya di dalam pernikahan adalah sikap kita yang beranggapan bahwa pasangan kita sudah mengerti apa yang kita inginkan atau kehendaki. Dalam konteks ini seringkali kita mendengar dalih seperti ini, “saya pikir kamu sudah mengerti” atau “seharusnya kamu mengerti apa yang saya katakan” Nah, bagaimana mengerti, jika message itu kita sampaikan secara tidak lengkap dan beranggapan bahwa lawan bicara kita sudah memahaminya. Hal ini terjadi karena pesan yang dikomunikasikan tidak utuh.

3. Kita perlu mengenali faktor-faktor yang dapat memacetkan komunikasi dan membuatnya gagal mencapai tujuan yang seharusnya dalam sebuah hubungan pernikahan. Enam teratas yang memacetkan komunikasi di dalam pernikahan adalah :

a. Konflik yang dipelihara – keadaan ini akan membuat kita tidak mau mendahului untuk membuka komunikasi dengan pasangan dan menunggu pihak lain memulainya terlebih dahulu. Oleh sebab itu, penting menyelesaikan konflik sebelum keadaan memburuk. Biasanya, alasan yang lazim untuk tidak memulai percakapan adalah sikap yang merasa diri benar atau gengsi yang terlalu tinggi.

b. Emosi yang tidak terkendali – faktor ini membuat komunikasi berjalan searah atau sepihak dan menghasilkan kecenderungan egois atau otoriter. Emosi yang tidak terkendali akan menciptakan ego, sikap tidak mau mengalah terhadap pasangan. Komunikasi yang dibangun dalam suasana yang emosional (kemarahan atau kesedihan) tidak akan membuahkan hasil yang baik. Yang terjadi justru luapan ekspresi kemarahan.

c. Mis-komunikasi – atau kesalahan pengertian sehingga menghasilkan respon yang berlawanan dengan tujuan atau maksud yang kita harapkan. Ini perlu segera diatasi melalui penjelasan-penjelasan susulan atau klarifikasi. Jika sedang dalam suasana emosional yang tinggi, klarifikasi sebaiknya menunggu waktu yang tepat dan disampaikan dengan pelan (bukan dengan sikap complain).

d. Penggunaan kalimat yang tidak efektif – yang jika terus menerus dipergunakan akan membuat pesan menjadi kabur, terpenggal bahkan membingungkan penafsirannya. Komunikasi yang baik adalah komunikasi menggunakan kalimat sederhana, praktis dan efektif. Tidak perlu memakai bahasa yang tinggi-tinggi terhadap pasangan anda.

e. Campur tangan pihak ketiga – akan cenderung membiaskan masalah yang ada dan memunculkan opini-opini baru yang berdampak negatif di dalam hubungan. Biasanya pihak ketiga, cenderung memihak di dalam memberikan opininya. Apalagi yang memiliki pertautan keluarga seperti saudara atau orang tua. Campurtangannya mereka di dalam konflik perkawinan, umumnya tidak membantu tetapi memperuncing. Masalah komunikasi suami isteri hanya bisa diselesaikan oleh suami isteri itu sendiri. Pihak ketiga hanya sebatas mendorong atau membuka komunikasi yang macet.

f. Ketidakpercayaan – ini yang paling berbahaya. Pada waktu kita tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap pasangan, maka komunikasi apapun yang dibangun tidak akan membawa ke arah hubungan yang lebih baik. Dalam hal ini ada dua kasus menarik yaitu tidak dipercaya (karena fakta yang diberikan kurang mendukung) atau tidak bisa dipercaya (karena berulang kali melakukan kesalahan yang sama).

Firman Tuhan memberikan petunjuk dasar bagi anak-anak Tuhan untuk membangun komunisi di dalam keluarga. Tidak ada salahnya menjadi bagian dari praktek komunikasi kita. “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran” (Amsal 10:12). Mari kita bangun komunikasi dengan pasangan kita atau di dalam keluarga kita atas dasar kasih ! Sekalipun ada pelanggaran dan kesalahan, kasih akan menutupinya dan membawa hubungan ke arah yang lebih baik lagi. Selamat mencoba. ***

1 komentar: