Jumat, November 06, 2009

HATH CAST MORE IN, THAN ALL

Apakah yang kita pikirakan untuk sebuah pemberian terbanyak? Jumlah yang besar adalah jawaban yang lazim kita dengar. Bahkan, seperti itulah yang juga ada dalam pikiran kita, bagian dari tindakan kita. Pemberian dengan nominal terbesar adalah sebuah pemberian terbaik. Tidak ada orang yang tidak senang menerima sesuatu dari orang lain, terlebih jika menerimanya dalam jumlah yang banyak. Semakin besar besar pemberian itu semakin disebut terbanyak, semakin setiap orang bersukacita menyambutnya. Tidak ada orang yang tidak senang diberi dalam jumlah terbanyak dalam hal berkat materi.

Tetapi tidakkah kita sadar, pandangan demikian telah menghambat satu tindakan di dalam diri kita yang menyenangkan hati Tuhan, bahwa terlalu berbahagia memberi daripada menerima? Banyak orang terhambat atau bahkan gagal memberi, karena mereka lebih senang menerima. Bukan hanya itu. Mereka juga gagal memberi karena merasa belum berkelimpahan. “Kebutuhanku saja belum tercukupi, mengapa harus memberikannya kepada orang lain?”, adalah argumentasi logis yang umum kita dengar sebagai dalih untuk tidak mau berbagi kepada orang lain.

Memberi adalah sebuah sikap hati yang seharusnya kita lakukan. Bukan justru sebaliknya maunya menerima saja. Menariknya lagi, takaran kebenaran dalam hal memberi ternyata tidak terletak pada jumlah yang harus kita berikan. Terbanyak bukan soal jumlah yang besar. Inilah yang seringkali membuat kita (1) senang menerima yang lebih banyak dan (2) gagal memberi karena takut kekurangan. Dalam perspektif orang percaya, terbanyak dalam memberi amat jauh berbeda pengertiannya dengan apa yang selama ini ada dalam pandangan atau keyakinan kita. Bukan soal jumlah yang besar. Seorang wanita janda, suatu kali, memberikan lebih sedikit dari apa yang diberikan orang lain yang lebih kaya, lebih mampu, lebih berkelimpahan. Tetapi wanita janda ini disebut memberi terbanyak daripada mereka yang lain. Anda tahu mengapa? Karena ia memberi dari kekurangan dan semua yang ada padanya. Kalau begitu, anda pasti mengerti, mengapa pemberian sebanyak dua peser ini dianggap lebih besar, lebih banyak, lebih baik dari yang lain.

Wanita itu memberi pelajaran penting bahwa memberi tidaklah bergantung pada keadaan dan situasi kita secara ekonomis. Hal itu adalah sebuah sikap hati. Memberi, semata-mata karena mau melakukan itu sebagai bagian terbaik anda. Waktu, tenaga, uang, pikiran, bahkan hidup ini, jika kita berikan (dalam pelayanan, pekerjaan, belajar, menolong orang lain) dalam kekurangan dan dari semua yang kita miliki, bukan hanya kita akan diberkati kembali, tetapi itu menyenangkan hati Tuhan. Mungkin selama ini kita memberi semua itu dari kelimpahan kita. Tapi yang terbanyak, adalah saat memberikannya dalam kekurangan. Maukah?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar