Selasa, Oktober 12, 2010

Rehoboth Blessing


Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ. Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya. Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: "Air ini kepunyaan kami." Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana. Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna. Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: "Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini." (Kej. 26:17-22)

Latar Belakang
Setelah Abraham mati, Ishak berada di negeri orang Filistin. Pada waktu itu, terjadilah kelaparan di sana sehingga Ishak berpikir untuk meninggalkan negeri itu dan pindah ke Mesir. Tetapi Allah memperingatkan dia untuk tetap tinggal di negeri orang Filistin itu sebagai orang asing (Kej 26:1-3). Disanalah terjadi kebiasaan pada zaman itu, bila salah satu diantara kedua belah pihak yang membuat perjanjian, meninggal dunia, maka pihak yang masih hidup mengikatkan kembali perjanjian itu kepada keturunanya. Itulah sebabnya Allah kembali mengulang apa yang telah diikarkan-Nya bersama Abraham, kepada Ishak dan meneguhkan kembali perjanjian itu. Hal yang sangat penting diulang Allah kepada Ishak yakni janji berkat di tanah orang Filistin, janji berkat terhadap keturunan dan berkat bagi bangsa-bangsa akibat keturunan Abraham. Juga Allah mengingatkan semua itu diwujudkan melalui satu syarat utama yakni ‘ketaatan’ terhadap firman Allah (Kej 26:3-5). Atas hal tersebut, Ishak ‘memilih’ taat pada Tuhan dan tinggal di Gerar sekipun situasi dan kondisi tidak memungkinkan (Kej 26:6). Dari hal tersebut kita belajar bahwa ketaatan kepada Tuhan adalah kunci untuk mendapatkan janji-Nya. Dan yang lebih penting lagi, ketaatan itu tidak bergantung dari situasi apapun yang kita hadapi. Ingat, ditengah kelaparan yang melanda tanah Filistin, secara rasional, natur Ishak menuntun-nya untuk pergi ke Mesir mencari peruntungan. Itu adalah tindakan logis. Tetapi, Allah memintanya tetap tinggal dan dia taat. Bagaimana dengan anda jika berada di dalam situasi yang sama? Apa yang menjadi pilihan anda ketika suara Tuhan berbeda dengan kenyataan? Ingat prinsip yang pertama dari Rehoboth Blessing: percaya janji-Nya dan taat pada-Nya.

Dinamika Dalam Janji
Janji Tuhan akan membawa kita ke dalam sebuah dinamika dimana karakter kita akan diuji. Itu yang disebut dengan process item. Tujuannya adalah untuk mematangkan kehidupan rohani kita di dalam Tuhan. Ishak mengalami process tersebut. Seluruh kaumnya ‘dipaksa’ bertahan di tanah yang sedang paceklik. Dalam situasi demikian keyakinan akan pemeliharaan Tuhan menjadi taruhannya. Artinya, pada waktu Ishak menerima perintah untuk tetap tinggal di negeri asing itu, seharusnya ia percaya bahwa Allah-pun akan tetap menjaga keselamatan dan keutuhan keluarganya. Tetapi yang namanya kekuatiran tetap saja kekuatiran. Itu adalah natur manusia. Ishak kuatir paras isterinya yang cantik dapat menggoda penduduk negeri itu sehingga ia berbohong dan mengakui Ribka sebagai saudara (Kej 26:7). Ishak takut dibunuh oleh penduduk negeri itu yang menginginkan isterinya. Tetapi upaya itu akhirnya terbongkar karena Ishak dipergoki sedang bermesraan dengan Ribka oleh Abimelekh Raja Filistin. Disinilah terlihat bukti pemeliharaan Allah. Abimelekh akhirnya memberi perintah kepada seluruh bangsa itu untuk tidak mengganggu Ishak dan keluarganya (Kej 26:11). Pelajaran kedua dari Rehoboth Blessing sangat jelas dari kasus di atas. Kita tidak boleh takut akan situasi-situasi yang sedang berkembang disekeliling kita. Allah mendidik Ishak dan kita bahwa, situasi sulit dan menakutkan, dapat membuat kita mengambil keputusan-keputusan yang tidak populer seperti yang Ishak lakukan, berbohong. Allah tidak suka orang yang penakut dan pembohong. Seharusnya ketakutan Ishak itu, selogis apapun alasannya, harus dibawanya dihadapan Tuhan. Ishak bukan sosok ‘orang percaya baru’ yang sesaat mengenal Tuhan. Melalui ayahnya ia mengetahui siapa Allah yang disembah Abraham. Tetapi Ishak goyah. Untuk urusan kelaparan ia memutuskan ke Mesir. Kemudian untuk urusan isterinya, ia berbohong. Semua hal itu bertentangan dengan maksud Allah. Jadi prinsip kedua di dalam Rehoboth Blessing adalah, hadapi ketakutan anda bersama Tuhan. Sebab Ia tidak memberi roh ketakutan. Ia memberikan keberanian dan proteksi seutuhnya.

Menabur Di Tanah Gersang
Perhatikan ayat 12. Disana dikatakan, menaburlah Ishak di tanah yang sedang kelaparan itu dan herannya, pada tahun dimana ia menabur, apa yang dikerjakannya berhasil. Tuaian yang diperolehnya luar biasa besar, seratus kali lipat. Tidakkah anda sadar apa yang sedang terjadi? Ishak tidak menabur di lahan yang subur. Dia menanam benihnya di atas tanah yang sedang mengalami kekeringan. Dan dia berhasil ! Prinsip Tuhan berbeda dengan prinsip bisnis. Jika sebuah bisnis tidak profitable atau buruk raport-nya maka tidak ada seorangpun yang tertarik untuk berinvestasi di bisnis tersebut. Demikian juga jika sebuah tanah dipandang tidak subur, maka orang enggan menabur benih di atasnya. Di dalam peristiwa ini terkandung prinsip ketiga dari Rehoboth Blessing yaitu berkat Allah ! Di akhir ayat 12 tersebut dikatakan, semua keberhasilan yang diperoleh Ishak terjadi karena “ia diberkati Tuhan”. Di dalam dunia yang semakin sekular ini, orang mengabaikan prinsip hakiki ini: berkat Tuhan! Orang berpikir bahwa usaha atau kerja keras, pengalaman dan kemampuan analisa atas sebuah bisnis sudah cukup untuk sebuah keberhasilan. Alkitab memberitahukan kita hal yang sebaliknya. Di atas semua kekuatan dan kemampuan sumber daya yang ada, berkat Tuhanlah yang menentukan keberhasilan. Sudah bukan rahasia umum lagi kita mendengar dan menyaksikan melalui berita-berita transformasi bagaimana sebuah tanah yang semula kering dan tandus berubah subur dan menghasilkan berlipatkali ganda karena usaha rohani yang terus menerus dikerjakan atas tanah tersebut yakni doa, peperangan rohani dan pengucapan berkat. Saya jadi ingat film Faith Like Potatoes. Ladang pertanian yang dikelola oleh Angus sedang mengalami kekeringan dan itu bukan musim menanam kentang. Banyak orang meremehkan usahanya. Dia percaya ‘berkat Tuhan’. Dia berdoa dan mempertaruhkan imannya. Kentang yang ditanamnya tumbuh dan besar-besar. Angus menjelaskan, iman itu seperti kentang. Meskipun berada di dalam tanah, ia dapat tumbuh jika dipelihara. Ishak memperoleh janji Tuhan. Dia pegang janji itu dan melakukan apa yang menjadi bagiannya. Sekalipun tanahnya kering dan gersang, berkat Tuhanlah yang membalik kondisi tanah itu menjadi tanah terbaik bagi setiap benih yang ditanam di atasnya.

Sumur Yang Baru
Process item berikutnya terjadi. Keberhasilan Ishak mendatangkan iri hati dari penduduk setempat. Ishak diusir dan pindah ke lembah Gerar (Kej 26:16). Kali ini tanpa trick apapun Ishak taat. Terlihat kematangan di dalam kehidupan rohaninya. Di tempat yang baru, dia butuh air untuk ternak dan seisi kemahnya. Maka digalinyalah sumur-sumur peninggalan ayahnya Abraham. Mereka menemukan sumber air itu dan berbual-bual. Tetapi terjadi pertengkaran antara gembala-gembala Gerar dengan gembala-gembala Ishak. Mereka mengklaim sumur itu milik mereka. Ishak kemudian menamakan sumur itu Esek yang artinya “pertengkaran dengan kata-kata”. Keteguhan hati Ishak akan pemeliharaan Tuhan telah menuntunnya bersikap benar di negeri asing. Ia mengalah dan menggali sumur di tempat lain. Kembali dia menemukan sumber mata air. Tetapi tidak lama kemudian, gembala-gembala Gerar datang dan mengklaim lagi sumur itu milik mereka. Terjadi lagi pertengkaran dan Ishak menamakan sumur itu Sitna yang artinya oposisi atau bertentangan. Lagi-lagi Ishak mengalah dan memilih tempat lain untuk menggali sumurnya. Kali ini dia menemukan sumur dimana mereka tidak bertengkar. Salah satu tafsiran terbaik mengenai tiadanya pertengkaran karena lokasi sumur baru ini jauh dari dua yang sebelumnya dan di luar kekuasaan Gerar. Menurut catatan tradisi, sumur yang ditemukan itu jauh lebih banyak debit airnya daripada dua yang pertama. Sumur itu dinamakan Rehoboth yang artinya ruang yang lapang. Prinsip keempat dari Rehoboth Blessing ada di dalam peristiwa sumur tersebut. Di dalam PL, sumur yang baru digali untuk empat alasan. Pertama jika sumur lama sudah kering sehingga perlu di cari sumber air yang baru. Kedua, sumur lama sudah tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan. Biasanya jumlah orang dan ternak bertambah banyak. Maka diperlukan sumur baru supaya kebutuhan dan suplai air tetap tersedia. Ketiga, ketika sumur lama direbut orang lain (seperti kasus Ishak), maka diperlukan usaha mencari sumur baru. Dan yang terakhir, berbicara tentang ekspansi. Jika daerah kita diperluas, maka kita perlu mencari sumur-sumur baru di tempat baru. Rehoboth Blessing tidak berbicara tentang dua alasan pertama, tetapi menyangkut dua alasan terakhir: sumur lama direbut orang dan atau ekspansi wilayah. Bagaimana dengan anda? Apakah saat ini anda tengah bergumul karena sesuatu yang seharusnya menjadi milikmu direbut orang lain? Itulah gunanya belajar dari Ishak. Dia belajar melepas haknya dan berusaha mencari di tempat lain. Beranikah anda melakukan hal yang sama?

Sisi lain yang penting dari keberadaan sebuah sumur adalah ekspansi. Jika seseorang memperluas wilayahnya, maka dia harus menggali sumur baru di tempat itu untuk memenuhi kebutuhan komunitasnya di tempat baru dan sekaligus memberi tanda bahwa daerah tersebut berada di dalam wilayah kekuasaannya. Tuhan pernah berkata, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepada kita. Inilah yang menjadi kunci dari Rehoboth Blessing. Tuhan akan menambahkan sumur-sumur baru bagi kita anak-anaknya untuk memperluas apa yang sudah kian kita miliki. Bahkan Tuhan memberi ganti apa yang telah direbut orang lain. Tuhan membuka sumur-sumur baru menggantikan yang lama yang mungkin telah habis.

Tidak jauh dari Rehoboth itu, Ishak ke Bersyeba. Disana ia memasang kemah dan kembali menggali sumur dan mendapatkan air. Tidak ada yang mengganggu. Tetapi lihat prosesnya. Tidak gampang berjuang mendapatkan ‘sumur’. Yang berbeda adalah, setelah Rehoboth, Ishak baru mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan. Coba hal itu dilakukannya setiap kali Tuhan berbicara kepadaNya, tentu jalan cerita soal sumur ini akan lain. Itulah pentingnya hubungan dengan Tuhan atas segala usaha dan kepentingan kita. Tanpa ‘mezbah’ maka apa yang kita gali atau kita usahakan akan hilang bahkan direbut orang lain. Mezbah memberi ‘covering’ Tuhan atas hidup kita karena melaluinya kita bisa tetap terhubung denganNya. Mezbah akan membuat kita terus ingat kepada Tuhan dan mengandalkanNya. Bagaimana dengan anda?

Implikasi
Pertama, sebagai keturunan Abraham, kita terikat kepada janji yang sudah diberikan Allah kepadanya. Berkat dan janji itu bukan hanya milik Abraham tetapi milik kita juga. Maka, kita harus percaya bahwa janji itu digenapi di dalam hidup kita. Jika kita percaya, maka kita akan terikat kepada janji itu. Orang yang terikat pada sebuah janji, akan berusaha memelihara janji itu. Demikian sebaliknya.
Kedua, dibutuhkan ketaatan di dalam menaati janji Tuhan. Sekalipun situasi berbeda dengan apa yang kita yakini, kita tetap harus melihat apa yang kita percaya dan bukan apa yang terlihat. Situasi dapat membuat kita takut dan lemah. Tetapi orang yang kokoh di dalam Tuhan, punya ketaatan seratus persen.
Ketiga, kita perlu mengejar berkat Tuhan. Hal itulah yang akan mengubah situasi. Bukan kemampuan atau kekuatan kita. Melalui berkat Tuhan, segala usaha kita akan berhasil dan tidak gagal. Salah satu syarat penting di dalam membuat berkat Tuhan turun adalah ‘tindakan iman’. Tindakan ini biasanya muncul ketika situasi tidak mendukung dan kita melangkah karena ‘percaya’.
Keempat, hubungan dengan Tuhan sangatlah penting. Mezbah di dalam keluarga akan membuka pintu-pintu dan sumur-sumur baru karena kita terhubung dengan Tuhan. Ini yang disebut dengan spiritual connection. Melalui mezbah, usaha, bisnis, pekerjaan dan pelayanan menjadi sukses dan berhasil. Wilayah kita akan diperluas dan mengembang ke kanan ke kiri. Bahkan, apa yang direbut di dalam hidup kita akan Tuhan ganti dengan kapasitas dan kualitas yang jauh lebih baik. Mulailah menjadikan hubungan dengan Tuhan sebagai ‘yang penting dan mendesak’. ***

Renungan ini disampaikan dalam Ibadah Pelprup Nehemia GPdI Ketapang Jakarta, Rabu 13 Oktober 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar