Selasa, Maret 20, 2012

KESAKSIAN BERDOA DI GOLDEN GATE, JERUSALEM



By : Ps. Sonny Zaluchu

Terus terang saya pernah iri mendengar kesaksian seorang hamba Tuhan di Indonesia yang buat heboh, pergi ke Golden Gate dan berdoa di sana. Peristiwa ini kontroversial karena dilakukan diam-diam dan menginjak kehormatan pihak tertentu. Tanah di depan Golden Gate adalah tanah pekuburan yang memang terlarang diinjak oleh orang asing. Mungkin hamba Tuhan ini bangga melakukannya tetapi bagi saya, hal yang benar harus dilakukan dengan cara yang benar. Maka saya, mulai menjadikan doa di Golden Gate sebagai target rohani. Saya mau melakukan dengan cara yang benar !

Memang saya punya kerinduan untuk menginjak tempat itu dan berdoa di sana. Tetapi saya tidak punya kesempatan. Jalur ke sana selalu tertutup dan harus diakui bahwa tidak setiap orang dapat ke sana. Tempat itu salah satu pekuburan muslim tertua yang sangat dihormati. Itu dari arah depan, di lereng gunung Sion dekat lembah Kidron. Jalan lain ke gerbang itu adalah dari dalam, di lingkungan Dome of The Rock. Dan hal ini semakmin tidak mungkin dilakukan karena tempat itu termasuk terlarang untuk dimasuki orang asing.

Gerbang Emas, demikian orang menyebut pintu yang sudah berabad-abad tertutup. Padahal sebetulnya gerbang ini tidak dinamakan demikian. Semua karena kesalahan mengeja. Dalam bahasa Yunani, gerbang ini dinamakan horaia yang namanya indah (beautiful). Tetapi pelafalannya menjadi kacau dengan istilah aurea yang artinya emas (golden). Di dukung oleh posisi gerbang ini yang menghadap ke arah Timur, membuat cahaya pagi memberi efek “emas” pada gerbang ini. Menariknya, inilah satu-satunya gerbang Jerusalem yang sengaja ditutup sejak penguasa muslim menguasai tempat itu dari para Crusader dalam perang Salib. Mengapa? Inilah pintu yang langsung mengarah ke Bait Allah Salomo. Pintu ini segaris langsung dengan pelataran, ruang kudus dan ruang maha kudus yang sejarang menjadi Dome of the Rock. Dan di akhir zaman, inilah pintu beradab-abad yang dituliskan di dalam Mazmur 24:9 “Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!” sebagai pintu tempat Mesias masuk pada kedatanganNya yang kedua kali. Dengan demikian, jalan pikiran penguasa tempat itu dapat dipahami. Bahwa pintu masuk ke Bait Allah sudah tertutup dan tidak ada lagi. Terlebih setelah Jerusalem dihancurkan dan tempat itu bukan lagi milik orang Israel. Pintu ditutup untuk menghalangi Yesus masuk jika Ia datang lagi kelak. Bahkan di sana sebuah pekuburan muslim dibangun, persis di sepanjang lereng yang berbatasan dengan tembok Timur. Adalah terlarang bagi seorang Yahudi untuk menginjakkan kaki ke pekuburan yang bukan milik mereka. Dan Yesus adalah seorang Yahudi ! Di tangga yang pernah ada di depan gerbang ini, Petrus menyembuhkan seorang lumpuh. Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah 3:6). Tapi bagi saya secara pribadi, gerbang ini punya arti penting. Saya rindu melihat gerbang itu terbuka kembali. Itu saja. Maknanya dalam secara rohani. Bukan semata-mata menyangkut pemulihan Bait Allah milik Israel. Tetapi soal pengharapan mesianik yang demikian kuat mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali, yang hadir dengan Yerusalem Baru.

Pengharapan mesianik yang demikian kuat, telah mendorong orang-orang Yahudi dari segala penjuru dunia untuk membayar mahal sekali, tanah pemakaman yang ada di depan tembok timur, tempat dimana Gerbang Emas menghadap. Dalam keyakinan ini, Mesias akan datang dari arah Timur dan melalui Gerbang Emas. Mereka yakin bahwa pada saat itu, terjadi kebangkitan orang mati, sehingga siapapun yang dikubur di dalam jalur kedatangan Mesias, akan ikut dibangkitkan ! Makanya posisi kepala menghadap ke arah Gerbang Emas. Nubuatan Yehezkiel meneguhkan hal tersebut. “ Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur dan terdengarlah suara seperti suara air terjun yang menderu dan bumi bersinar karena kemuliaan-Nya”. (Yehez 43:2) Hal inilah yang juga saya percaya bahwa ziarah ke Jerusalem, merupakan bagian dari tindakan profetik akan pengharapan Mesianik dari suku-suku bangsa yang terletak di Timur. Indonesia adalah salah satu kelompok negara kepulauan di ujung Timur bumi di lihat dari Gerbang Emas! Itulah sebabnya, pengharapan mesianik selalu identik dengan kemurahan Tuhan bagi yang percaya kepadaNya sebagai juru selamat. Makanya nama lain gerbang itu adalah Mercy Gate.

Sejak menjadi pokok doa, setiap kali ke Jerusalem, saya selalu memandang gerbang itu dengan harapan yang kuat bahwa suatu saat saya akan berada di sana, mengangkat tangan dan berkata, “Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.” (Mazmur 122:2). Tahun lalu (2011) Tuhan hampir membawa saya mendekat ke sana. Saya tidak bisa masuk ke daerah Dome of The Rock karena kedapatan membawa Alkitab. Daripada membuang Alkitab itu, saya memutuskan keluar dari rombongan dan melewati lereng bukit Sion dari sisi lembah Kidron, persis 50 meter dari dinding tempat Golden Gate berada. Saya berhenti sejenak dan memandang gerbang itu dari kejauhan. Lalu dalam kunjungan saya bulan lalu (Pebruari 2012), saya kembali berjalan ke sisi tembok Timur itu pada jarak 25 meter. Semakin dekat, seolah-olah Tuhan menguji kesungguhan saya untuk berdoa di “pintu yang berabad-abad tertutup” itu. Satu bulan kemudian (Maret 2012), Tuhan menjawab kerinduan dan doa. Bersama isteri dan Revival, anak bungsu yang lahir sebagai benih dari Jerusalem 4 tahun lalu, akhirnya kami benar-benar mendekat dan berada di kaki gerbang itu.

Bukankah Tuhan selalu menjawab kerinduan dan melihat hati? Setelah sekian lama bolak balik ke Israel, kali ini Tuhan ijinkan saya mendekat ke Golden Gate. Tidak ada yang kebetulan. Saya bertemu dengan seorang guide senior yang sangat berpengalaman. Kami dapat ijin mendekat ke sana tetapi harus menunggu rombongan besar dalam group kami berlalu terlebih dahulu. Kerinduan saya untuk berdoa di Golden Gate terjawab. Pagi itu pintu ke arah Golden Gate dari sisi lembah Kidron terbuka dan kami masuk ke sana. Udara segar dan matahari memancar dengan indah di pagi hari itu. Gerbang Indah, yang semula menjadi impian dan hanya terlihat dari jauh, kini ada di depan mata. Saya ada di sana berdiri persis di depan gerbang dan memandang seolah tidak percaya. Ditengah mata menyelidik dari petugas yang berada di atas gerbang, saya mendekat, dan berjalan makin dekat. Jantung saya berdegub keras. Saya berdoa dengan kaki gemetaran dan air mata berlinang. Isteri saya terduduk menangis merasakan momen terindah yang telah lama dinantikan itu. Impian telah menjadi kenyataan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, kesempatan berharga itu kami gunakan untuk berdoa dan mengangkat tangan. Saya ingat apa yang ditulis di dalam Mazmur. “Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.” Kami ucapkan itu keras-keras. Kami deklarasikan bahwa pintu itu akan terbuka dan Mesias akan masuk melaluinya. Generasi kami akan menjadi saksi dari gelombang kedatangan Mesias dari Timur. Dari sekian banyak pintu gerbang Yerusalem yang saya masuki, inilah satu-satunya pintu yang tertutup dan belum pernah saya doakan. Saya merinding dan merasakan suasana waktu Bait Allah masih ada. Saya ‘melihat’ orang-orang beribadah menuju Bait Allah dan naik tangga untuk berdoa di sana melalui pintu itu. Saya ‘melihat’ kesembuhan orang lumpuh itu lewat doa Petrus. Saya menemukan diri saya ada di sana. Ada sesuatu sangat terasa berbeda. Roh saya bergejolak. Saya berdoa dan berdoa…rasanya ingin berlama-lama. Hingga seseorang menepuk pundak saya dan berkata, sudah waktunya pergi.

Dari kejauhan, saya menoleh lagi memandang ke gerbang itu. Di sana saya pernah berdoa dan mengangkat tangan. Sekarang kaki-ku berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Kami berlalu meninggalkan tempat itu dengan bernyanyi dengan sedikit mengubah teksnya, “Oh Yerusalem, kota mulia…hatiku rindu disini.” (Maret 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar