Rabu, November 20, 2013

SIAPAKAH YESUS DAN APAKAH KARYANYA?

-   Sebuah refleksi kritis Kristologi Alkitabiah -
Oleh : Ps. Sonny Eli Zaluchu, M.Th, D.Th
Alumnus Program Pascasarjana STBI Semarang
(ijin kutipan diberikan dengan mencantumkan sumber)

Dua hal yang sangat penting dalam hal kristologi adalah adalah siapakah Kristus (pribadiNya) dan apakah yang menjadi rencanaNya di dalam dunia (karyaNya). Keberadaan Yesus ditegaskan oleh Alkitab sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia[1], dan menjadi bagian dari rencana Allah untuk membawa manusia berada di dalam hidup yang kekal.[2] Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, dari sejak Yesus datang dan melayani ke dalam dunia, hingga abad 21 ini, selalu saja terjadi kontroversi dan perdebatan yang tidak pernah selesai tentang Kristus. Pokok perdebatan itu berkisar tentang siapakah sebetulnya Yesus Kristus itu. Betulkah Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia? Ataukah manusia di atas rata-rata karena kodrat ilahi di dalam diriNya? Ataukah Ia benar-benar Allah yang seolah-olah terlihat seperti manusia?

A.  Potret Kristus yang Salah
Sorotan terhadap pribadi Kristus dari masa ke masa tidak pernah selesai. Perdebatan mengenai keilahian Kristus, selalu mewarnai diskusi para teolog, mulai dari kalangan paling Injili hingga mereka yang berpaham liberal. Tidak jarang dalam perdebatan itu, Kristologi disusun terlalu jauh melenceng dari apa yang Alkitab saksikan tentang Yesus, sehingga melahirkan pendapat yang salah tentang Kristus dan pengajaran-pengajaran yang bersifat menyesatkan (bidat). Hal ini terjadi karena manusia mencoba memahami Kritus menggunakan argumen-argumen teologis yang berpusat pada intelektual, pengalaman, filsafat bahkan rasionalitas.
Berikut ini tinjauan singkat tentang perkembangan pemikiran Kristologi di dalam sejarah kekristenan.

Abad 2-4 M
Abad kedua hingga keempat masehi, diwarnai dengan perdebatan-perdebatan awal mengenai Kristologi oleh para tokoh gereja dan teolog mula-mula. Puncaknya adalah disingkirkannya sejumlah ajaran bidat dan disepakatinya rumusan Chalcedon (451 M) sebagaikerangka utama gereja di dalam memandang Kristus. Di dalam abad-abad awal ini bermunculan sejumlah ajaran yang antara lain[3]:

Doketisme, sebuah paham yang menghilangkan kemanusiaan Kristus dan memandang bahwa Yesus hanya terlihat menyerupai manusia. Akibatnya Allah dianggap tidak sungguh-sungguh datang kepada manusia karena dibangun dalam sebuah pandangan bahwa materi pada hakikatnya jahat dan bahwa Allah tidak memiliki perasaan dan pengalaman manusiawi;

Ebionisme, gerakan dari cabang Kristen Yahudi yang menghapuskan sama sekali keilahian Kristus dan menganggap Yesus adalah manusia biasa, anak Yusuf dan Maria, seperti kebanyakan manusia lainnya. Keistimewaannya adalah dia diangkat dalam derajat yang lebih tinggi daripada manusia lainnya, sebagai Mesias oleh Allah dan diurapi dalam pembaptisan di sungai Yordan oleh Yohanes;

Gnostik, paham yang mengatakan bahwa Kristus turun dari surga dan kemudian menggabungkan diri dengan Yesus historis. Saat di salib, Kristus kemudian meninggalkan Yesus dan membiarkannya menderita, mati sendirian. Paham ini mengajarkan bahwa Yesus cuma manusia biasa dan bukan Allah;

Arianisme, ajaran yang dipelopori oleh Arius, seorang imam dari Alexandria Mesir. Arian mengajarkan bahwa Kristus tidak ada sebelumnya dan kehadiranNya adalah karena diciptakan. Dalam keadaan diciptakan itu, Yesus disebut Anak, Logos,  Awal Ciptaan Allah. Tetapi meski Anak disebut Allah, Dia bukanlah Allah. Dia sekedar makhluk ciptaan saja. Pandangan ini menyangkal keilahian Yesus dan kesetaraanNya dengan Bapa dan Roh Kudus.

Apolinarisme, dirumuskan oleh Apolinaris, uskup dari Laodekia. Ajaran ini mengatakan bahwa Anak Allah menempati tubuh manusia sehingga Kristus tidak memiliki kodrat manusia sepenuhnya. Anak Allah yang kekal itu mendukung roh atau pikiran Yesus Kristus. Tubuh dan jiwanya merupakan bagian dari kemanusiaan sedangkan Anak yang Kekal adalah bagian dari keilahiannya. Ajaran ini menyangkal totalitas manusia di dalam Kristus dan dianggap menyesatkan karena menyangkal bahwa Allah benar-benar menjadi manusia.

Nestorian, adalah ajaran Nestorius yang menjadi uskup Konstantinopel. Pengajarannya fokus pada kemanusiaan Yesus dan memisahkan kedua kodrat di dalam diri Yesus. Dia menekankan bahwa di dalam diri Yesus terdapat kepribadian ganda dan menyangkali bahwa ada kesatuan nyata antara hakikat kemanusiaan dan keilahian Yesus. Dia menjadikan Kristus sebagai manusia yang dipenuhi Roh, dipenuhi Allah, tetapi tanpa keilahian dan kemanusiaan sejati di dalam satu pribadi.

Kaum Eutikhes. Berlawanan dengan Nestorian, mengajarkan tentang kesatuan pribadi Kristus. Walaupun ada dua kodrat sebelum penjelmaan, hanya ada satu kodrat gabungan dan menjadi hakikat ketiga. Kodrat gabungan ini membuat Kristus memiliki satu kehendak dan satu hakikat di dalam ‘hakikat’ yang ketiga tersebut. Pengajaran ini menekankan hakikat ketiga itu adalah campuran hakikat ilahi dan hakikat manusia di dalam satu pribadi Kristus.

Ajaran demi ajaran yang kemudian dikenal sebagai bidat ini, terjadi karena gereja pada waktu itu masih belum memiliki rumusan baku Kristologi. Baru setelah melalui dua konsili, Konsili Nicea (325 M) dan konsili Konstantinopel (381 M), pandangan resmi gereja tentang Kristus dirumuskan di Chalcedon. Rumusan itu menegaskan Kristologi Alkitabiah yang menyebutkan, Yesus Kristus adalah satu, tetapi Ia memiliki dua sifat, yaitu yang Ilahi dan yang manusiawi. Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati, terdiri atas tubuh dan jiwa yang rasional. Ia sehakikat dengan Bapa dalam keAllahanNya dan sehakikat dengan manusia dalam kemanusianNya, kecuali dosa. Dalam keAllahanNya ia sudah ada bersama Bapa sebelum dunia dijadikan dan dalam kemanusiaanNya Ia lahir dari perawan Maria. Perbedaan dari kedua tabiat tersebut tidak berkurang ketika dipersatukan, namun keistimewaan masing-masing tabiat itu tetap terpelihara sekalipun disatukan di dalam diri Yesus Kristus. Yesus tidak terbagi menjadi dua pribadi; Ia adalah satu pribadi, yaitu Anak Allah.[4]

Abad Pertengahan
Penegasan ortodoks dari konsili Chalcedon tidak menyurutkan perdebatan tentang keilahian dan kemanusiaan Kristus. Di abad pertengahan (14 s.d 15 M) muncul dua kontroversi yakni monophysitisme dan monothelitisme.
Monophysitisme menolak konsep Kristologi Chalcedon dan mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu sifat ilahi. Pengajaran ini juga menekankan bahwa sifat Kristus dilebur menjadi satu dimana sifat Ilahinya telah mengalahkan sifat insaninya.[5] Pengajaran ini cenderung ke arah Apolinaris.
Sedangkan monothelitisme mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak yang menggantikan kedua sifatNya. Tetapi ajaran ini ditolak karena bukan saja menolak sifat ganda Kristus tetapi juga merendahkan keilahianNya. Sifat Ilahi dan sifat manusia Kristus telah saling melebur menjadi bentuk ketiga yakni enegi Ilahi, yang menjadi satu kehendak Kristus.[6]

Reformasi
Di masa reformasi, dua tokohnya yang terkenal Mathin Luther dan John Calvin juga merumuskan pandangannya tentang Kristologi. Meskipun menerima rumusan Chlacedon, Luter menganggap bahwa kedua sifat Yesus tersebut saling melebur sehingga terjadi penonjolan sifat keilahiannya. Calvin menolak pandangan Luther tersebut. Menurutnya kedua sifat itu tidak saling bercampur tetapi menyatu di dalam satu pribadi Kristus. Calvin menolak pandangan Nestorian dan Eutyches sebagaimana diteruskan oleh para pengikutnya hingga sekarang.[7]

Abad Sembilan Belas
Tantangan paling utama muncul di abad sembilan belas ketika para teolog liberal mulai menanamkan pengaruhnya. Orang-orang seperti Schleiermacher, Kant, Hegel, Ritschl dan Bath adalah pelopor Kristologi liberal dimana dasar teologi dan hermeneutik dari biblikal induktif diganti menjadi deduktif-subjektik filosofis, sebuah pendekatan subjektif menggunakan filsafat deduktif untuk merumuskan doktrin teologis, termasuk di dalamnya tentang Kristus dan karyaNya.[8] Fenomena ini dikokohkan dengan lahirnya Jesus Seminar yang merendahkan keilahian Kristus ketika mereka mempublikasikan The Five Gospel tahun 1993.[9] Seorang mantan imam Jesuit bahkan mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menegaskan dirinya sebagai Tuhan atau Kristus atau jalan menuju Tuhan. Hal yang pasti adalah bahwa Yesus tidak pernah sedikitpun memberikan tanda bahwa ia telah hidup sebelum ia dilahirkan.[10] Kristologi di abad kesembilan belas tampaknya bergeser dari pendekatan biblikal kepada pendekatan rasional dan mengusung tema utama, menggugat keilahian Kristus.

Abad Keduapuluh dan Keduapuluh Satu
Akhir abad dua puluh dan awal abad ke dua puluh satu, Kristologi Alkitabiah mengalami goncangan dengan munculnya berbagai pengajaran liberal melalui sejumlah publikasi prosa dan ilmiah-historis dan bentuk-bentuk baru dalam teologi. Agendanya tetap sama yakni menolak keilahian Kristus bahkan mengakui adanya jalur keselamatan lain di luar Kristus. Trend yang menguat adalah membuat pemisahan yang sangat dikotomi antara Yesus sejarah dengan Yesus iman bahkan memisahkan secara kontras sifat keilahian dari Yesus sejarah. Gerakan pluralisme menjadi salah contoh dari bentuk baru berteologi yang mencoba mempersempit bahkan mereduksi makna Kristologi. Melalui paham ini, terjadi sejumlah kompromi teologis dimana Yesus tidak lagi dianggap dan diperlakukan sebagai satu-satunya juru selamat dunia. Para penganutnya (dari kalangan Kristen) membuka diri terhadap kebenaran yang ada di dalam agama-agama lain.[11]
Perkembangan yang paling mengegerkan adalah bermunculannya karya sastra dan salah satunya adalah publikasi novel The Da Vinci Code yang terang-terangan mendepak keilahian Yesus dan mengeksploitasi penelitian sejarah sepihak penulisnya, bahwa Yesus adalah manusia biasa yang menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki garis keturunan.[12] Kristologi biblika semakin mendapat tantangan keras dengan terbitnya sejumlah Injil gnostik di luar kanon PB seperti Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Yesus, dsb. Bukan hanya itu, di abad ini juga, dunia teologis dikejutkan dengan publikasi film dokumenter dua orang yang bekerja sama membongkar dan melalukan penyelidikan terhadap sebuah makam yang awalnya ditemukan di musim semi tahun 1980. Makam itu dikenal dengan makam Talpiot yang belakangan diketahui memuat sepuluh osuarium[13] dan enam di antaranya memiliki prasasti. Di antara prasasti itu ditemukan satu prasasti yang memuat tulisan “Yesus, putra Yosef”.[14] Penemuan ini menghebohkan karena seolah-olah membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah. Berarti Dia tidak bangkit dari kematian bahkan tidak terangkat ke surga. Fakta keilahian Yesus, yakni hakekat Allah di dalam diriNya, dijungkirbalikkan; sebaliknya, hakikat kemanusiaan Yesus sejarah dimunculkan dengan kuat.
Perkembangan yang mencolok di abad 21 dalam hal Kristologi adalah, adanya usaha menarik batas yang tegas antara Yesus sejarah (yang pernah hidup di dunia) dengan Yesus iman yang diyakini sebagai Kristus oleh orang-orang Kristen dewasa ini. Salah seorang diantaranya adalah James D. Tabor yang mencoba merekonstruksi Yesus sejarah sebagai sosok manusia biasa yang pernah hidup.[15] Dalam rekonstruksinya, Tabor sama sekali menyingkirkan mujizat-mujizat di dalam pelayanan Yesus, kelahirannya dari perawan Maria dan kebangkitanNya.[16] Bagi kebanyakan sarjana yang berorientasi liberal, muncul anggapan bahwa Kristologi adalah pemisahan Yesus sejarah dengan bahasa teistik yang selama ini membungkus pribadi Yesus bahwa ia adalah Allah yang menjelma ke dalam dunia, menjadi manusia.[17] Agendanya cuma satu, menentang kodrat ilahi Yesus. Para teolog liberal ini mungkin lupa bahwa Alkitab memiliki bukti-bukti biblis yang paling kuat, yang menjamin keilahian Kristus. Pertama adalah bukti pra-eksistensinya. Bukti ini mengagas ide bahwa Yesus sudah ada sebelum kelahiranNya.”Sebelum Abraham ada, Aku ada” (Yohanes 8:58). Bukti kedua adalah peristiwa kelahiranNya yang ditandai dengan kunjungan Gabriel (supernatural) kepada perawan Maria (Lukas 1:26-38). Proses kelahiran ini sebagai akibat campur tangan ilahi dan bukan tindakan biologis manusia. Ketiga adalah kuasa ilahi Yesus dimana Injil mencatat bagaimana Ia melakukan tanda-tanda ajaib dan heran (menyembuhkan sakit penyakit, mengusir setan, membangkitkan orang mati, membuat mujizat) bahkan berkuasa mengampuni dosa manusia (Markus 2:8-11). Bukti keempat adalah kemuliaan ilahi yang menyertaiNya (penyataan kemuliaanNya) di atas sebuah gunung di depan mata ketiga orang muridNya (Markus 9:2-13). Kelima adalah tentang makna Yohanes 5:22 ketika Dia berkata, “Bapa menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak” Hal ini adalah sebuah deklarasi bahwa Yesus melakukan apa yang hanya bisa dilakukan Bapa, yakni mengadili dan menghakimi. Bukti ketujuh menjadi pelengkap penting, bahwa Yesus memiliki gelar ilahi yang menunjukkan satu kesadaran ilahi di dalam diriNya. Satu bukti terakhir yang tak terbantahkan adalah kuasa kebangkitanNya dari kematian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah dan bukan oleh manusia.[18]

B.  Alkitab Sebagai Landasan Kristologi
Beragamnya konsep Kristologi seperti di uraikan di atas menjelaskan bahwa dari masa ke masa, perdebatan tentang eksistensi Yesus Kristus tidak pernah selesai. Selalu terdapat perdebatan dan pertentangan teologis, baik di lingkup kaum awam, terlebih di kalangan para teolog yang berasal dari berbagai latar belakang berbeda. Kendati terdapat sejumlah pandangan kritis tentang keilahianNya, berbagai pendapat dan investigasi mengenai Yesus sejarah tidak pernah mampu mengubah fakta bahwa Yesus adalah manusia sejati dan juga Allah sejati. Inilah yang menjadi dasar bangunan teologi tentang Kristus yang dipertahankan gereja dan diterima sebagai satu-satunya kebenaran mutlak hingga kini.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa perbedaan demi perbedaan itu dapat terjadi? Jawabannya terletak sumber primer apa yang dipergunakan untuk menelaah Kristus.
Mencermati perkembangan Kristologi dari masa ke masa mengarahkan kita pada satu hal bahwa penggalian dan investigasi tentang pribadi Kristus yang menolak kredibilitas dan kesaksian Alkitab, hanya akan mengarahkan kita pada pengaburan makna dari pribadi Yesus yang sesungguhnya dan kemudian menghasilkan potret Kristus yang salah. Sebaliknya, penelitian yang seksama tentang kesaksian Alkitab dalam PL dan PB, akan mengarah siapapun menemukan fakta keilahian dan kemanusiaan Kristus melalui nubuatan, kesaksian para nabi, ungkapan para penulis Injil dan surat-surat rasul Paulus, bahkan kesaksian Yesus sendiri tentang siapakah diriNya. Di dalam Alkitab, terdapat berbagai fakta, kesaksian dan catatan otentik yang mendukung pernyataan tentang jati diri Kristus yang sesungguhnya. Dengan demikian, Alkitab adalah dasar pijakan yang seharusnya digunakan untuk membangun teologi tentang Kristus. Bukan justru menggunakan filsafat, konsep gnostik atau pengetahuan dan rasionalitas manusia yang selama ini terbukti gagal melihat sisi keilahian Kristus. Selama Alkitab digunakan sebagai dasar Kristologi, maka jalur untuk mencari jawaban yang benar mengenai siapakah Yesus sesunguhnya, baik di dalam PL[19] maupun di dalam PB[20], akan terbuka lebar.

C.  Siapakah Yesus?
Akhirnya, melalui beberapa catatan ringkas yang telah disinggung di atas mengenai pribadi Kristus sebagai manusia dan Allah, mengarahkan kita pada satu kesimpulan seperti di tegaskan di dalam 1 Timotius 3:16, tentang “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” memberikan kesaksian kepada kita bahwa Yesus adalah benar-benar Allah yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:6-11).
     Mendukung finalitas Kristus, Milne mengatakan, keilahian Yesus Kritus merupakan dasar pokok bagi kepercayaan bahwa penyataan Kristen bersifat akhir dan penyelamatan Kristen adalah sejati. Milne berargumen, jika bukan Allah sendiri yang datang kepada kita dalam Kristus (yang membuktikan dirinya mati di salib, bangkit dan naik ke surga), maka penyataan yang dibawaNya bukanlah penyataan terakhir dan mungkin masih akan diganti dengan yang lain.[21] Inilah yang menjadi dasar Kristologi sejati. Sebuah Kristologi yang dibangun bukan atas dasar teori, filsafat atau pemahaman intelektual manusia; melainkan yang dibangun atas kesaksian Alkitab.

D.  Keselamatan sebagai Karya Kristus
Sebuah pertanyaan penting untuk di jawab, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:19). Petrus dengan tepat menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Dua hakikat Yesus, sebagai manusia sejati dan Allah sejati, terlihat di dalam kalimat jawaban Petrus tersebut. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus disebut Mesias? Apakah Mesias? Apakah maksud kedatanganNya di dunia?
Akibat manusia pertama jatuh di dalam dosa, maka hubungan Allah dengan manusia menjadi rusak. Sebelum kejatuhan, Allah dan Adam bersekutu satu sama lain; setelah kejatuhan, persekutuan itu putus.[22] Manusia akhirnya berada dalam penghukuman kekal. Dosa telah mengikat segala aspek kehidupan manusia, sejak kejatuhan pertama di dalam taman Eden, sehingga manusia tidak dapat menolong dirinya sendiri dan diluar Kristus dinyatakan mati atas pelanggaran dan dosa-dosanya.[23] Orang yang mati secara rohani tidak mampu memberi keselamatan bagi dirinya sendiri.[24] Untuk itu, manusia perlu dipulihkan, baik hubungannya dengan Allah maupun statusnya secara rohani. Sejak kejatuhan, dosa telah menjadi bagian dari manusia di dalam dunia. Alkitab mengajarkan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.[25] Inilah yang menjadi alasan mengapa Yesus datang ke dalam dunia.
Harus dipahami bahwa karya Allah bagi manusia ini bukan hanya terfokus pada menciptakan manusia dan memeliharanya, tetapi juga menyelamatkan manusia yang berdosa itu dari hukuman kekal.[26] Rencana penyelamatan disusun dengan melibatkan anak tunggal-Nya, yaitu Yesus Kristus, untuk mati menggantikan pada pendosa.[27] Rencana Allah tersebut adalah sebuah anugerah keselamatan dengan tujuan persekutuan manusia dengan Allah dapat kembali dipulihkan.[28] Stot menegaskan bahwa melalui salib, Ia mengambil tempat kita, menanggung dosa kita, membayar hutang kita dan mati ganti kita.[29]
Kematian Yesus Kristus melalui salib adalah sebuah anugerah yang sama sekali tidak bergantung dari usaha manusia tetapi semata-mata inisiatif Allah. Cara kerjaNya di dalam mewujudkan keselamatan itu, ketika disusun, seimbang dan menyeluruh, artinya, tidak ditujukan hanya kepada sekelompok tertentu (dalam hal ini Israel) tetapi kepada seluruh manusia yang meliputi orang Kristen, hingga ke bangsa-bangsa. Orang-orang tersebut sebetulnya sudah dipersiapkan Allah di dalam kekekalan. Tetapi Allah memberikan kepada mereka kebebasan untuk kemudian memberi respon terhadap keselamatan yang sudah Allah sediakan melalui Kristus.  Allah dalam hal ini rela menunggu sampai orang tersebut sungguh-sungguh sadar dan mengalami pertobatan. Kebebasan tersebut (free will) tidak pernah melampauhi kewenangan, kedaulatan dan penetapan dari Allah. Dalam hal ini, keselamatan adalah anugerah dan setiap orang dituntut memberikan respon untuk mengambil anugerah itu.
Dari sini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sebetulnya karya Kristus di dalam dunia mencakup dua hal utama, keselamatan itu terjadi karena kasih Allah (Yohanes 3:16) dan penebusan salib bersifat final yang sudah selesai dikerjakanNya. Artinya, karya keselamatan itu telah dilakukan. Segala yang diperlukan untuk keselamatan manusia telah terlaksana dan dipenuhi oleh Yesus di Kalvari.[30] Itu sebabnya Yesus disebut mesias, karena Dia adalah orang yang diurapi (anointed) untuk menjadi juru selamat umatNya.[31]

E.  Aplikasi dalam Pelayanan
Jawaban tentang siapakah Kristus dan apakah yang menjadi karyaNya di dalam dunia, melalui refleksi ini, membangun satu paradigma yang makin kuat, kokoh dan tak tergoncangkan, di dalam diri saya bahwa itu harus diberitakan dan dibela terus menerus. Keilahian dan kemanusiaan Kristus adalah sesuatu yang tidak bisa di tawar lagi dan finalitas karyaNya tidak bisa diganggu-gugat. Trend perkembangan teologi Kristus mungkin akan bergerak semakin cepat ke arah yang bertentangan dengan iman Kristen biblikal. Yang menjadi tantangan utamanya, adalah melakukan pemberitaan yang selalu didasarkan pada kesaksian Alkitab dan pembelaan iman Kristen melalui apologetika.
Secara praktis, saya akan menjadikan isu Kristologi Alkitabiah menjadi tema sentral di dalam penginjilan kepada jiwa-jiwa baru. Karyanya yang sudah final di atas kayu salib menjadi pokok pemberitaan kabar baik bagi setiap orang, bahwa tersedia keselamatan kekal yang harus direspon oleh manusia. Bagi mereka yang sudah percaya dan menerima karya keselamatanNya, tuntutan untuk menghargai karya itu melalui tanggung jawab dan kehidupan rohani yang lebih baik, adalah sebuah keharusan dan keteladanan bagi dunia. Bagi mereka yang belum mengenal Dia, keselamatan itu menjadi tema pewartaan supaya setiap orang menjadi selamat.
Pesan yang harus disampaikan di dalam setiap kesempatan bersaksi adalah, “Yesus Kristus hadir di dalam dunia sebagai penyataan diri Allah Anak dalam bentuk manusia, dikandung oleh kuasa Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria. Ia adalah Allah sejati dan manusia sejati, sebagai Tuhan, Juruselamat, Nabi, Imam Besar dan Raja”.
    



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar