Jumat, Maret 28, 2008

Mengapa Harus Berdoa


Artikel ini adalah satu bab dari manuscript buku The Power of Prayer yang sedang saya tulis.

Percayakanlah masa depanmu yang tidak engkau ketahui itu,
kepada ALLAH yang engkau ketahui, melalui doa.
(Hudson Taylor)


Mengapa Harus Berdoa?

Mengapa saya harus berdoa jika Tuhan maha tahu? Pertanyaan tersebut menjadi alasan rasional untuk membuat orang percaya enggan berdoa dan merasa tidak perlu berdoa. Memang Tuhan maha tahu. Tetapi di dalam kemahatahuan-Nya itu, Tuhan butuh kerjasama kita untuk membuat Dia bekerja dan menjawab atau menyediakan setiap keperluan kita. Itulah gunanya kita berdoa. Kita perlu meminta kepada-Nya, meminta seperti anak kepada Bapa. Dia adalah Allah yang senang jika kita terhubung dengan-Nya. Maka doa adalah peluang kita satu-satunya untuk melakukan hubungan itu. Dengan demikian, penting bagi seorang Kristen untuk berdoa dan menjadikannya sebagai gaya hidup. Tanpa doa kekristenan akan kehilangan nafas.

Seringkali saya bertemu dengan orang orang Kristen yang bertanya soal topik tersebut. Sekilas, itu pertanyaan yang agak naif tetapi kenyataannya, banyak orang Kristen yang berdoa akhirnya terjebak di dalam rutinitas dan sikap agamawi. Mereka beranggapan bahwa berdoa adalah sebuah kewajiban agamawi ketimbang kebutuhan pemenuhan spiritualitas manusia. Agaknya, mereka lupa bahwa, doa adalah sebuah hubungan yang dapat menjembatani antara bumi dan Surga dan hubungan itu timbal balik. Tidak searah dari bumi ke Surga saja melainkan juga sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut sebetulnya dapat dipahami bahwa doa, merupakan salah satu bentuk komunikasi kita yang paling efektif dengan pencipta. Itu sebabnya, agama manapun, sangat menganjurkan umatnya untuk berdoa, dengan satu tujuan, melalui cara seperti itu, hubungan dengan pencipta, bisa terbentuk. Kita orang Kristen bahkan bisa kalah dengan mereka-mereka dari agama lain yang punya jadwal doa sangat ketat.

Doa adalah hubungan
Doa adalah sebuah hubungan. Sebagaimana sesuatu yang ‘dihubungkan’ maka akan tercipta aliran dari hubungan yang berlangsung itu. Ibarat selang air, maka air akan mengalir melalui hubungan tersebut. Seperti carang anggur, maka akan dapat berbuah, jika telah terhubung dengan pokok anggur. Pokoknya, hubungan akan menciptakan aliran. Nah, jadi jika kita berdoa, sebetulnya, kita sedang menyediakan diri kita terhubung dengan Tuhan dan menerima aliran-aliran-Nya di dalam roh kita. Maka kelihatan, orang yang sungguh-sunggu berdoa, akan memiliki hati, sikap dan karakter yang serupa dengan Allah dan bahkan, sifat-sifat kemuliaan Allah dapat melekat banyak di dalam dirinya. Kejadian wajah Musa yang bersinar sewaktu bertemu Allah, adalah salah satu contoh kemuliaan Allah yang telah diimpartasikan ke dalam diri manusia. Coba saja lihat, orang-orang yang suka berdoa, wajahnya terlihat berbeda dengan orang lain.


Kesimpulannya, melalui doa, kita terhubung dengan Allah. Hubungan dengan Allah yang semakin intens akan membuat kita mendekati serupa gambaran-Nya. Kita dapat memiliki mata seperti mata-Nya memandang manusia, kita dapat punya hati seperti hati-Nya mengasihi jiwa-jiwa, dan semua sifat-sifat-Nya dapat melekat ke dalam diri kita. Oleh karena itu, hubungan yang tercipta di dalam doa, hendaknya jangan dilakukan sebagai sebuah kewajiban agamawi belaka. Kalau hal seperti itu tercapai, kita tidak akan mendapat apapun, selain membuang-buang waktu. Tetapi, kalau kita membangun hubungan sebagai sebuah kebutuhan roh, maka kita tidak akan terpaksa berdoa. Doa akan menjadi sebuah kebutuhan jasmani dan terlebih rohani kita, dimanapun dan kapanpun. Semakin kita lama berdoa dan menjadikan doa sebagai sebuah gaya hidup, maka ‘kedahsyatan Tuhan’ akan turun atas kita. Kita melayani, sebagaimana Dia melayani! Itulah yang disebut dengan urapan. Orang-orang yang banyak berdoa akan menerima urapan yang melimpah ruah, berbual-bual, sehingga dapat dinikmati orang lain. Jamahan Allah terjadi, lawatan Allah ke atas diri orang lain, hikmat dan pewahyuan yang luar biasa adalah hal-hal yang akan dialami oleh orang-orang yang punya jam doa radikal.
Sebuah pengalaman pribadi. Setiap kali berdoa, saya merasa seolah-olah Tuhan di depan saya, memegang pundak dan memeluk seperti seorang Bapa yang penuh kasih. Saya tidak pernah merasakan intensitas pertemuan seperti ini sebelumnya. Pada titik doa tertentu, misalnya berbahasa roh, hubungan itu terasa sangat dekat, seperti menyatu antara saya dengan Dia. Saya merasa memiliki dan tidak ingin melepaskanNya. Serasa tidak mau berhenti berdoa! Sangat dekat dan tidak ada jarak lagi. Saya mampu merasakanNya, menikmatiNya dan hidup di dalamNya. Kalau ini sudah terjadi, saya lupa diri, lupa waktu dan lupa segalanya. Cuma Dia!

Doa melahirkan kuasa
Doa melepaskan kuasa. Tidak mengherankan jika orang-orang yang berdoa, mampu membawa serta di dalam dirinya kuasa Tuhan. Sebab apa? Hidupnya setiap hari adalah hidup yang melekat kepada Tuhan sebab, seperti dikatakan oleh Benny Hinn, siapapun membutuhkan kuasa Tuhan.

Orang yang punya hubungan khusus dengan Tuhan akan membuat Surga terbuka setiap kali dirinya berdoa. Kalau Surga terbuka, maka dirinya akan berada di depan tahta kasih karunia Tuhan. Orang yang seperti ini memiliki kasih karunia yang besar di dalam dirinya karena mata dan hati Tuhan selalu tertuju kepada-Nya. Pada waktu orang ini berdoa, hubungan yang telah tercipta sebelumnya akan mengalirkan apa yang menjadi isi hati orang tersebut kepada Bapa. Inilah yang disebut dengan doa yang di dengar Tuhan. Ya. Melalui doa, kita bisa dengar-dengaran dengan Tuhan. Kita bisa menyampaikan isi hati kita sehingga Ia mendengar. Jawaban Tuhan selalu dimulai dari apa yang didengar-Nya melalui mulut anak-anak-Nya. Doa seperti ini selalu menghasilkan kuasa; kuasa untuk menerima jawaban Tuhan.

Ya, seorang yang berdoa, mampu melepaskan kuasa Surga ke atas bumi sehingga sesuatu terjadi. Jawaban Tuhan dapat membuat sesuatu terjadi. Pergumulan di jawab, orang sakit disembuhkan dan dipulihkan, lawatan terjadi atas diri orang lain. Itu semuanya berasal dari satu sumber yang sama yakni kuasa. Apa yang diikatnya di bumi akan terikat di Surga. Apa yang dilepaskannya di bumi akan terlepas di Surga. Doa dapat melahirkan kuasa dan membuat kita menjadi orang-orang yang memiliki otoritas. Sungguh luar biasa! Terlebih jika ada kesepakatan (misalnya antara dua orang), maka kuasa akan berlipat kali ganda terjadi. Itu sebabnya kita belajar melihat penginjil penginjil besar dalam sejarah kebangunan rohani, selalu memiliki pendoa-pendoa syafaat pribadi, dimana mereka bersepakat sehingga pelayanan demi pelayanan sang penginjil senantiasa melepaskan kuasa. Tanpa pendoa syafaat pribadi, tidak ada kuasa di dalam pelayanan penginjilan. Saya ingat Charles Finney yang secara khusus dipakai Tuhan dengan hadirat yang sungguh nyata. Ketika ia memasuki sebuah kota maka kuasa Tuhan bisa dirasakan mencengkeram seluruh kota itu. Kuncinya adalah kehadiran seorang tua, yang selalu berpuasa dan mengikuti kemana Finney pergi menginjil. Ia berpuasa untuk Finney. Ia bersepakat di dalam roh untuk Finney. Ia mengerang dan berdiam dihadapan Tuhan (to stand before the Lord) untuk pelayanan-pelayanan dan kehidupan Finney. Hasilnya? Kuasa yang dahsyat.

Api Roh Kudus yang turun di atas loteng Yerusalem, lahir dari sebuah doa. Yesus memberi pesan kepada murid-murid untuk tidak meninggalkan Yerusalem sampai apa yang dijanjikan itu dikirim.

Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." (Lukas 24:49)
Kata diperlengkapi di dalam kalimat di atas artinya sama seperti jika seseorang sedang diberikan jubah. Yesus memberikan janji kepada murid-murid-Nya bahwa mereka semua akan dipelengkapi (baca: akan dipakaikan jubah) dan perlengkapan itu bukan berasal dari manusia melainkan dari tempat maha tinggi. Itu adalah jubah kuasa (the power on high) yang melaluinya, murid-murid akan memiliki kemampuan supernatural di dalam meneruskan misi Yesus di dunia ini. Di dalam Kisah Para Rasul sudah ada peringatan dini, bahwa murid-murid akan menerima kuasa kalau sesuatu yang datang dari atas itu turun atas mereka. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah 1:8)

Perlengkapan kuasa itu ada hubungannya dengan Roh Kudus yang dijanjikan dan terkait dengan pemberitaan Injil sebagai tujuan. Jadi kuasa akan turun jika Roh Kudus turun dan kuasa itu adalah menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi.

Kelihatannya, murid-murid masih belum mengerti tetapi mereka taat dan mau menanti. Penentian itu bukan penantian yang dipenuhi dengan diskusi atau perdebatan. Mereka berada di atas loteng Yerusalem untuk berdoa. Untuk berapa lama harus berdoa, tidak ada satupun di antara mereka yang dapat memastikan. Mereka berdoa sampai sesuatu terjadi !
Berdoa sampai sesuatu terjadi, itulah kunci dari revival. Kita harus menggempur sampai surga memberi responnya. Itulah sebabnya kita berdoa. Doa orang percaya dibutuhkan Allah untuk bertindak menggenapi janjinya di dalam kehidupan anak-anak-Nya. Ketika orang-orang yang ada di atas loteng Yerusalem itu berdoa, mereka mendapatkan janji itu. Api turun di atas kepala mereka. Satu orang satu lidah api.

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kisah 1:1-4)

Tidak ada lidah api korporat. Stau lidah api di atas satu kepala. Setiap kepala mendapat lidah api untuk menjadi bagiannya sendiri. Doa melahirkan kuasa. Apa yang diturunkan Tuhan melalui doa bersifat pribadi, bagi setiap orang yang menginginkannya. Maka jelaslah bahwa jawaban doa adalah sebuah jawaban pribadi, yang juga lahir dari sebuah hubungan pribadi. Doa membawa setiap pribadi mengalami kepenuhan kuasaNya dan kuasa itulah yang membuat sesuatu terjadi.
Anda butuh kuasa untuk apa?

Jawabannya cuma satu. Kita butuh lidah api di atas setiap kepala kita untuk mendapatkan kuasa. Banyak manfaatnya. Kuasa kesembuhan, kuasa pemulihan, kuasa pertobatan, kuasa berkat, kuasa untuk mematahkan belenggu-belenggu, kuasa menciptakan yang tidak ada menjadi ada dan kuasa pemberitaan Injil. Semuanya merupakan janji Tuhan bagi anak-anak-Nya; yang berdoa!

Doa membuat api tetap menyala
Api Roh Kudus bukan hanya untuk satu generasi. Tugas pemberitaan Injil sampai ke ujung bumi tidak akan selesai hanya di dalam satu generasi. Itu sebabnya setiap generasi ilahi yang bergerak di dalam dinamika kuasa, bertanggung jawab membuat api tetap menyala. Tujuannya cuma satu; agar api dapat diteruskan pada generasi berikutnya.

Tugas Yesus yang belum selesai menjadi tanggung jawab generasi berikutnya. Itu sebabnya api harus terus menyala. Apa yang membuatnya tetap menyala? Jawabannya cuma satu, doa! Tuhan memberi sebuah pesan profetik bagi setiap generasi. Pesan itu sudah ribuan tahun lalu tersegel melalui nabi Yoel.
Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. (Yoel 2:28)

Warisan api revival adalah milik generasi muda. Warisan itu bertahan dan terpelihara karena doa. Itu sebabnya kita berdoa, supaya api tetap menyala. Supaya generasi setelah kita dapat menggenapi nubuatan tersebut di waktu sezamannya. Kalimat penting di dalam nubuatan itu adalah di dalam kata ke atas semua manusia. Ini berarti pencurahan akan terus berlangsung sampai semua manusia mendapatkan apa yang menjadi janji Tuhan bagi setiap generasi. Pencurahan dimulai bagi 120 orang di atas loteng Yerusalem. Kemudian menjamah 3000 orang yang bertobat pada hari pertama Pantekosta. Jumlah itu masih belum menggenapi semua manusia. Waktu terus berjalan. Setiap generasi menjadi bagian dari semua manusia. Ini tidak akan berhenti. Hanya ada satu kali pencurahan dan itu di atas loteng Yerusalem. Saat ini pencurahan terus terjadi. Dari satu waktu ke waktu yang lain. Dari satu generasi kepada generasi yang lain. Sampai semua manusia mendapatkan api-Nya! Sampai Tuhan Yesus datang kembali ke dunia ini. Luar biasa. Doa membuat api terus menyala!

Membangun Manusia Roh
Doa dapat membuat manusia roh kita terbangun. Manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Tetapi saya lebih sering mengajarkan begini. Manusia itu adalah makhluk roh yang memiliki jiwa dan tinggal di dalam daging. Nah, seringkali kita membangun ketidakseimbangan. Kita makan dan memberi prioritas pada tubuh fisik kita dengan makan dan minum. Kita berinteraksi dengan orang lain untuk membangun jiwa kita. Bagaimana dengan roh? Kita lupa membangunnya. Akibatnya, kedagingan kita pengaruhnya lebih kuat dibandingkan roh kita. Padahal seharusnya, roh kitalah yang lebih kuat dari daging. Roh kita yang seharusnya mengendalikan daging. Tapi bagaimana roh bisa mengendalikan daging jika roh itu sendiri lemah? Maka kita harus berdoa!
Doa dapat menjadi pembangun utama manusia rohani kita. Apabila manusia rohani itu kuat, maka semua keinginan daging dapat dicegah dan dikendalikan. Yesus tahu betul hal ini. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Artinya di dalam dirinya ada sifat-sifat daging. Itu sebabnya, Ia punya gaya hidup doa. Setiap pagi Ia selalu menyepi dan berdoa di sana. Ia membangun manusia rohNya sehingga ia berada di dalam level yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang dilayaniNya.

Manusia roh dapat membuat kita berada di dalam level yang lebih tinggi untuk menghadapi dunia, sistemnya dan orang-orangnya. Kita akan kalah dan kena siasat dunia jika kita menghadapi dunia ini di dalam level yang sama. Alkitab mengatakan bahwa anak-anak dunia lebih cerdik daripada anak-anak terang. Itu sebabnya kita harus mengalahkan kecerdikan mereka saat berhadapan dengan semua sistem dunia. Caranya, jangan dengan daging tetapi dengan kualitas roh. Salah satu cara untuk membangun manusia roh adalah selalu berada di dekat Allah. Mengapa? Allah adalah Roh. Hanya Roh yang bisa terhubung dengan roh. Daging manusia tidak akan bisa terhubung dengan Roh. Itu sebabnya kita berdoa. Roh kita dapat terhubung dengan Roh Tuhan dan di dalam hubungan itu, tanpa disadari, roh kita dibangun! Roh yang kuat akan mampu berada di dalam level yang lebih tinggi dibandingkan apa yang ada di dalam dunia. Kekuatan roh akan melepaskan kuasa dan hardikan terhadap setiap belenggu, ikatan dan masalah.

Pengalaman pribadi saya membuktikan hal itu. Selalu disetiap sesi doa, saya menggunakan bahasa roh untuk membangun manusia roh. Memang pada awalnya terasa membosankan dan menghabiskan energi. Tetapi setelah berada di dalam dinamika itu, setiap saya saya dapat membangun manusia roh dimanapun dan kapanpun. Saya merasakan sesuatu yang bergolak di dalam roh ketika mulai berdoa. Saya percaya bahwa sewaktu berdoa dengan bahasa roh, maka roh akan menyampaikan keluhan-keluhan yang tak terucapkan kepada Bapa. Ini yang dahsyat. Bahasa roh adalah (salah satunya) bahasa doa. Saya melatih ini sejak saya melayani. Dampaknya, kita menjadi sangat peka.


Nah, kembali ke pertanyaan tersebut di atas. Apa yang perlu kita lakukan saat berdoa? Tentu saja kita harus punya keinginan yang kuat untuk berdoa. Doa yang lahir dari sebuah keinginan yang kuat akan punya kualitas yang dahsyat, seperti sebuah anak panah yang tajam, yang dilepaskan dengan kecepatan tinggi. Saya selalu bergairah untuk berdoa. Keinginan yang kuat adalah sama pengertiannya dengan apa yang Yakub lakukan sewaktu bergumul di tepi sungai Yabok dengan ‘seorang’ malaikat Tuhan. Yakub tidak mau melepaskan malaikat itu sampai ‘mendapatkan’ sesuatu.

Selain keinginan yang kuat, tentu saja kita perlu berkonsentrasi kepada Tuhan. Setiap kali saya berdoa saya membayangkan diri saya berada di hadapanNya dan sinar kemuliaanNya turun atas diri saya. Pada waktu itu terjadi, saya merasakan ada mantel yang sangat tebal yang turun ke atas pundak saya dan bisa saya impartasikan kepada orang-orang yang terhubung dengan saya detik itu juga. Tidak ada gunanya doa tanpa pikiran dan hati yang tertuju kepada Tuhan. Banyak orang berdoa sekedar berdoa dan mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Tetapi pikiran dan hatinya tidak tertuju kepada Tuhan. Ini yang tidak tepat!

Tentu saja percaya adalah kualitas berikutnya. Tanpa rasa percaya, maka doa itu akan sia-sia dan menghabiskan tenaga. Kita harus percaya bahwa Tuhan mendengar kita. Sebab melalui doa, kita sedang melangkah lebih dekat lagi kepadaNya. Bukankah firman Tuhan berkata, bahwa kalau kita mendekat kepadaNya maka Ia akan mendekat kepada kita? Percaya dengan Tuhan dan dengan cara-caraNya adalah kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pendoa syafaat.
Tetapi yang paling penting dari semua itu adalah beban. Saya memiliki pendoa syafaat pendoa syafaat yang saya tahu punya beban untuk mendukung pelayanan saya dihadapan Tuhan. Bebanlah yang membuat kita menjadi radikal di dalam Tuhan. Tanpa beban, maka doa-doa kita akan kosong dan meluncur begitu saja tanpa makna. Saya percaya kalimat ini, ditulis oleh Dutch Sheets di dalam bukunya Watchman Prayer, bahwa para pendoa adalah orang-orang yang menciptakan sejarah. Pendoa adalah a history maker. Mereka ada tetapi tidak terlihat. Mereka dapat menyentuh hati Tuhan. Luar biasa. Jadilah seorang pendoa yang menciptakan sejarah !

Karena Yesus berdoa
Yesus menjadi sebuah teladan bagi kita untuk doa. Dia tidak hanya mengajar murid-muridNya bagaimana berdoa tetapi Yesus juga menganjurkan kita untuk berdoa. Bahkan dengan tidak jemu-jemu. Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. (Lukas 18:1)

Kata harus selalu artinya terus berdoa di sepanjang waktu, kapanpun dan dimanapun. Terlihat sangat jelas bahwa doa adalah ibarat nafas bagi orang percaya dimanapun dia berada. Jangan sampai nafas itu berhenti. Kehidupan langsung berhenti sesaat setelah nafas terhenti. Yesus sendiri punya gaya hidup doa di dalam dirinya. Jadi kita berdoa karena Yesus menghendaki kita berdoa sebagaimana diri-Nya selalu terhubung dengan Bapa-Nya. Perhatikan ayat-ayat berikut ini. Yesus memperlihatkan bahwa Dia juga punya kebiasaan berdoa di waktu-waktu tertentu. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. (Mat 14:23) Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. (Markus 1:35)

Yesus selalu menyediakan waktu di sela-sela kesibukan-Nya melayani, untuk berdoa dan terhubung kembali dengan Bapa-Nya. Yesus tahu bahwa apa yang dilakukan-Nya di dunia ini bukan atas kehendak dan kemauan-Nya pribadi melainkan menjalankan kehendak Bapa.
Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. (Yoh 4:34)

Jadi ketika kita berdoa, sebetulnya kita sama seperti yang Yesus lakukan. Kita butuh terhubung kembali dengan Bapa, untuk menyegarkan roh kita, untuk mengetahui apa yang menjadi rancangan dan kehendakNya bagi kita. Doa akan mengarahkan pikiran, sikap dan tindakan kita ke arah yang selaras dengan apa yang Bapa kehendaki. Keselarasan dengan Surga akan membuat kita mengenali rancangan-rancangan apa yang sedang dipersiapkan bagi kita.

Apakah doa itu?
Apa adalah komunikasi dengan Tuhan. Melalui doa kita dapat berseru meminta pertolongan Tuhan atau jawaban dari Tuhan atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak kita mengerti. Doa adalah sebuah seruan yang membuka komunikasi dengan Tuhan.

Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui. (Yer 33:3)
Apakah artinya komunikasi? Tentu saja sesuatu yang berlangsung dua arah. Manusia bicara Tuhan mendengarkan. Saat Tuhan bicara, manusia mendengarkan. Semuanya hanya didapatkan di dalam doa. Doa bukanlah komunikasi searah, seperti yang selama ini disalah mengerti oleh sebagian dari kita. Terlalu salah kaprah menganggap doa sebagai sarana dimana kita meluapkan semua keluhan-keluhan kita kepada Allah. Doa adalah komunikasi. Ada saat dimana kita bicara kepada Tuhan dan sebaliknya, ada saat dimana kita diam dan mendengar Allah berbicara. Itulah doa! Untuk bicara dan mendengar. Doa akan melatih kita bukan saja terampil menggunakan kata-kata yang indah menyampaikan apa yang menjadi isi hati kita kepada-Nya melainkan untuk peka terhadap suara-Nya saat kita terdiam. Banyak kesalahan doa terjadi saat orang percaya terlalu banyak berbicara sehingga Allah bahkan tidak punya kesempatan untuk menyampaikan isi hati-Nya.

Doa adalah waktu dimana kita mendengar. Itu yang Yesus lakukan di saat-saat pagi hari menjelang matahari terbit. Dia perlu mendengar suara Bapa. Dimensi doa yang seperti ini juga harus kita bawa di dalam kehidupan dan praktek doa yang kita lakukan. Tutup mulutmu dan dengar apa kata Tuhan! Terlihat agak kasar tetapi memang demikianlah adanya. Doa terlalu kita pahami sebagai hubungan searah dari manusia ke Surga. Kita lupa, bahwa doa juga hubungan antara Surga dan bumi, tempat dimana manusia berada.

Hasil dari doa sebetulnya bukanlah jawaban doa, melainkan keintiman. Jawaban doa cuma dampak yang muncul dengan sendirinya saat orang percaya berdoa. Bisa saja Tuhan menjawab ya, tidak atau tunggu. Yang jauh lebih penting adalah keintiman lahir dari sikap doa yang benar di hadapannya. Tujuannya adalah membuat kita dan Allah menjadi satu. Kesatuan itu terlihat dari bentuk komunikasi yang terjadi secara bolak balik antara Allah dengan manusia.
Dengan demikian dipahami bahwa doa bukanlah sarana untuk memuaskan kebutuhan atau kepentingan manusia. Doa lebih merupakan bentuk hubungan dan keintiman antara manusia (hasil ciptaan) dengan Allah, penciptanya. Inilah pencapaian rohani tertinggi yang sebetulnya Allah kehendaki di dalam hidup kita; persekutuan manusia dengan Allah. Orang menyebutnya sebagai intimacy! Doa melahirkan keintiman. Pada waktu keintiman terjadi, kuasa dilahirkan. “Kebetulan” demi “kebetulan” mulai terjadi. Sesuatu yang supernatural menyertai tangan orang-orang yang terangkat kepada Tuhan. Doa adalah sebuah undangan persekutuan dengan Tuhan atas segala situasi dan masalah yang ada. Tiba-tiba kita mendapat semua menjadi baik karena Allah bekerja dengan caranya yang ajaib dan melampauhi segala akal pikiran manusia. Keintiman akan membawa kita pada suasana hati Allah. Manusia memiliki hati Allah, memandang seperti Ia memandang dan bekerja sebagaimana tangan-Nya bekerja. Dampaknya? Tanda tanda supernatural terjadi. Urapan meningkat dengan kuat. Orang-orang sakit disembuhkan. Lawatan Allah terjadi. Ikatan-ikatan dan belenggu roh jahat diputuskan. Pesan-pesan dan pewahyuan yang luar biasa tercurah dengan dahsyat. Bukan hanya itu, peperangan dimenangkan, sebab Allah turut bekerja “membela” bagian yang ada di dalam dirinya.

Ketika Musa berdoa dan mengangkat tangannya ke langit (Kel 17:8-13) bangsa Israel memenangkan pertempuran melawan Amalek di lembah Rafidim. Ada kekuatan di dalam diri orang-orang Israel. Seperti itulah yang terjadi saat kita berdoa dan mengangkat tangan untuk memenangkan pertempuran melawan musuh-musuh yang dikirim iblis di dalam kehidupan kita. Persekutuan dengan Tuhan akan memberi kekuatan baru kepada kita, kekuatan supernatural.
Juga ketika Yosua berdoa di lembah Ayalon (Yosua 10:11-12), Allah turut bekerja membela bangsa Israel menghadapi orang Amori. Batu-batu dijatuhkan dari langit dan menewaskan musuh-musuh Israel. Bukan hanya itu. Matahari berhenti di tempatnya untuk memberi waktu bagi Israel menumpas musuh-musuhnya. Sesuatu yang supernatural akan menjadi ciri dari orang-orang yang berdoa dan mengangkat tangan kepada Tuhan. Orang yang berdoa tidak berdiri di depan manusia, melainkan berdiri di depan Allah yang hidup dan maha kuasa.


Maka dari itu, berdoalah !