Senin, Maret 03, 2008

Penglihatan Profetik

Tulisan ini merupakan bagian dari Buku PENGLIHATAN PROFETIK Karangan Dr. Sonny Eli Zaluchu, yang diterbitkan oleh Penerbit Kalam Hidup Bandung, Maret 2008

Allah ingin berkomunikasi dengan kita. Surga selalu penuh dengan sinyal-sinyal komunikasi yang tertuju ke bumi. Salah satu sifat Allah yang melekat di dalam diri-Nya adalah ingin menyatakan diri-Nya dan seluruh eksistensi-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. Allah ingin berkomunikasi dengan kita semua. Alkitab mengatakan bahwa Ia berdiri di depan pintu dan mengetok. jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku (Why. 3:20). Allah berinisiatif untuk berkomunikasi dengan manusia. Bahkan kehadiran Yesus ke dunia adalah salah satu bentuk komunikasi-Nya kepada kita. “Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta (Ibr. 1:2)”

Tetapi satu hal yang paling spektakuler adalah perkataan profetik Yesus kepada Petrus perihal gereja. “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Perkataan ini berarti bahwa gereja dibangun di atas pewahyuan dan bukan atas dasar metode atau atau cara atau program manusia. Dengan kata lain, gereja harus selalu menempatkan diri di dalam arus pewahyuan ilahi agar dapat berjalan di atas rel yang tepat. Pewahyuan adalah isi hati Allah kepada gereja!

Perhatikan kembali nubuatan Yoel dalam Yoel 2:28-32 yang diulang dalam khotbah KKR Petrus yang pertama di Yerusalem. “Akan terjadi pada hari-hari terakhir --demikianlah firman Allah-- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi” (Kis. 2:17). Nubuatan itu menegaskan kepada kita semua bahwa hingga kedatangan-Nya yang kedua kali, Allah akan terus berbicara kepada manusia melalui pesan-pesan profetik.

Fakta tak terbantahkan adalah pewahyuan-pewahyuan yang dinyatakan pada misi penginjilan Rasul Paulus di mana ia benar-benar bergantung dari komunikasinya dengan Roh Kudus dan penyataan ilahi, untuk menentukan arah dan setiap tujuan pelayanan-nya. “Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga. Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi --dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang-- supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha” (Gal. 2:1-2).

Komunikasi Allah di dalam Alkitab
Alkitab penuh dengan pengalaman hubungan antara manusia dengan Tuhan. Dimulai di kitab Kejadian, terlihat berbagai bentuk komunikasi dan pernyataan Tuhan kepada manusia. Perhatikan saat Tuhan berbicara kepada Adam dan Hawa. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej. 2:16-17). Komunikasi ini terus berlanjut pada keturunan Adam dan anak-anaknya. Sebelum air bah turun, Tuhan memberikan perintah kepada Nuh. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi (Kej. 6:13).

Lalu hadirlah Abraham di dalam sejarah hubungan manusia dengan Tuhan, yang kemudian melahirkan Iskak, Yakub dan dua belas anak Israel. Demikian seterusnya hingga pernyataan Tuhan sampai kepada para nabi-Nya. Abraham adalah salah satu tokoh Alkitab yang hampir setiap bagian penting di dalam hidupnya penuh dengan berbagai variasi komunikasi dengan Tuhan. Beberapa metode komunikasi tersebut adalah :
1 melalui firman (atau kalimat) yang audibel (telinga mendengar) – Kejadian 12:1
2 melalui penglihatan (mata melihat dan telinga mendengar) – Kejadian 15:1
3 melalui penampakan (bertemu Tuhan dan mendengar) – Kejadian 17:1
4 melalui kunjungan ilahi – Kejadian 18:2
5 melalui kunjungan malaikat – Kejadian 22:11

Metode inilah yang kemudian terulang di sepanjang pengalaman komunikasi manusia dengan Tuhan sampai dengan saat ini. Dan mencapai puncaknya dengan hadirnya Yesus, sebagai Anak Allah sendiri, ke dunia. Melalui kehadiran Yesus, manusia mampu berkomunikasi dan bertatap muka dengan muka kepada Tuhan di dalam tataran yang sama (karena Allah menjelma menjadi manusia). Tetapi hubungan ini tidak berlangsung lama karena Yesus kemudian mati di kayu salib, dikuburkan dan secara supranatural terangkat ke surga. Apakah lalu komunikasi dengan Allah terhenti dengan naiknya Yesus ke surga? Tidak!

Sekalipun telah naik ke surga, gereja dan para murid-Nya selalu menerima pewahyuan-pewahyuan yang baru. Pewahyuan itu berguna bagi kita untuk melangkah dan memahami firman-Nya. Melalui aktivitas dan kehadiran para rasul di Yerusalem, terbukti pada kita bagaimana Allah ingin dan masih terus berbicara pada gereja-Nya. Penyingkapan-penyingkapan profetik semacam itu masih terus berlangsung hingga kini dengan menggunakan situasi, bentuk, dan saluran yang berbeda.

Apabila iman orang percaya mengakui bahwa doa adalah sebuah jalur komunikasi dengan surga, maka fakta tersebut membuktikan bahwa jalur komunikasi kita kepada Tuhan masih terbuka. Terlebih jika dikaitkan dengan jawaban doa dan pergumulan manusia, semakin jelas bahwa Tuhan yang kita sembah, adalah Tuhan yang hidup dan terus berbicara kepada milik kepunyaan-Nya sampai saat ini.

Pesan Profetik
Pesan Tuhan yang dinyatakan dalam berbagai bentuk itu disebut pesan profetik. Secara sederhana, istilah profetik adalah bagaimana mengetahui isi hati Allah terhadap diri seseorang atau umat-Nya atau keadaan tertentu yang menyangkut masa lalu, sekarang dan masa depan. Melalui pengungkapan tersebut, kehendak Allah dapat ditemukan sehingga manusia dapat berjalan dalam rencana Allah yang sempurna. Jadi orang yang bergerak di dalam gerakan profetik memposisikan dirinya sebagai saluran rahasia hati Allah atau sebagai pengantara antara Allah dengan orang-orang yang ingin dijangkau Allah. Orang-orang ini berada di dalam kasih karunia-Nya. Oleh sebab itu, seorang pengantara harus menjamin dirinya bersih sebagai sebuah saluran belaka dan opini pribadi tidak boleh mencampuri “kemurnian” pesan yang melalui saluran tersebut.

Kita melayani Allah yang ajaib yang suka menyatakan isi hati-Nya dan pikiran-Nya, kepada kita. Pikiran Allah tidak pernah membatalkan firman-Nya. Pikiran-Nya bermanfaat untuk menyatakan pengajaran, kesalahan, memperbaiki perilaku, menghibur dan mendidik kita. Juga menguatkan dan membuat kita sadar bahwa ia mengasihi kita.
Orang-orang yang bergerak di dalam jalur profetik (pendoa atau nabi) menyatakan perkataan-perkataan yang diilhami dan diberikan kepada mereka melalui kuasa dan manifestasi Roh Kudus. Perkataan profetik yang keluar dari dalam mulut mereka adalah perkataan yang berasal dari isi hati Allah yang memakai mereka sebagai media komunikasi. Oleh sebab itu mereka dituntut memperhatikan tiga hal penting berikut ini, yaitu :
1 kerendahan hati di hadapan Allah
2 kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus
3 rasa belas kasihan terhadap orang lain

Penglihatan
Salah satu saluran dari pesan profetik itu adalah melalui penglihatan. Penglihatan adalah penyataan dimensi roh secara visual yang berisi pesan Tuhan kepada gereja-Nya atau perseorangan tertentu, yang dapat ditangkap melalui indra manusia, atau melalui indera rohani (dalam hal ini mata atau kesadaran batin di dalam roh seseorang). Penglihatan dapat terjadi saat kita sedang terlibat dan berinteraksi dengan Tuhan. Mungkin dapat muncul ketika kita melakukan suatu aktivitas ibadah sehingga menempatkan kita dalam sebuah atmosfir rohani yang demikian kuatnya, mengimpartasi roh kita sehingga mengalami resonansi dengan hadirat Allah.

Jadi syarat utama penglihatan adalah koneksi dengan Allah. Hubungan seperti ini dapat dicapai melalui aktivitas di bawah ini seperti : Doa syafaat atau doa pribadi
Doa menggunakan bahasa roh, Memuji dan menyembah Allah, Merenungkan (meditasi) firman Allah. Semua aktivitas tersebut membawa kita memasuki dan tinggal di dalam hadirat Allah. Pada saat itulah, biasanya pesan profetik diteruskan ke dalam roh kita. Salah satunya melalui penglihatan.

Semakin kita memiliki gaya hidup yang melekat kepada Tuhan (artinya takut akan Allah) seperti dikatakannya, berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui (Yer. 33:3), semakin kita akan menerima pengungkapan rahasia-rahasia-Nya. Artinya, kalau kita mau menjadi saluran hal-hal besar yang menjadi rahasia-Nya, maka kita perlu meningkatkan kapasitas roh kita sedemikian rupa sehingga dapat memasuki sebuah tingkat hubungan yang bisa didengar dan dijawab Tuhan, yang bisa mendengar dan menjawab Tuhan.

Penglihatan Total atau Trance
Penglihatan jenis ini, tubuh fisik dan semua indra kita tidak lagi memiliki kepekaan terhadap lingkungan, selain kepada suasana atau atmosfir Roh. Atmosfir roh yang sangat kuat meliputi itu, telah membuat kita kehilangan kesadaran materi. Inilah yang dialami oleh Rasul Petrus sewaktu berdiri di atas loteng sebuah rumah ketika mendapat penglihatan kain lebar yang dihuni berbagai jenis binatang hidup. "Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku. Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung. Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah! Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku. Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari surga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit(Kis. 11:5-10).

Perhatikan kembali kesaksian Petrus tersebut. Penglihatan yang dialaminya didahului oleh sebuah peristiwa, Petrus berdoa! Doa adalah sebuah pintu baginya untuk memasuki dimensi roh. Doa menghantar kita untuk berada di dalam hadirat Allah, yang mampu membiarkan roh kita memasuki dimensi roh. Pada waktu itu, ada sebuah fase yang sangat penting yang dimasuki Petrus, yakni rohnya diliputi kuasa ilahi.(Kejadian ini juga menjelaskan sebuah praktik okultisme para dukun yang sengaja membiarkan dirinya diliputi kuasa roh jahat untuk menjadi medium. Mereka juga bisa mengalami trance dan kehilangan kesadaran fisik. Tetapi yang menguasai mereka bukan kuasa ilahi, melainkan roh-roh najis atau unclean spirit).

Pada waktu Roh Allah telah menguasai kita, maka anggota tubuh kita tidak lagi memberi respons terhadap keadaan sekitar. Kita mendapati diri berada dalam alam lain dan bisa melakukan sejumlah aktivitas, memberi respons terhadap penglihatan yang sedang dibukakan. Kesadaran kita satu-satunya hanyalah alam roh. Kita ada disana! Kesadaran fisik baru akan muncul setelah penglihatan selesai, kita sadar dan kuasa ilahi terangkat, tidak lagi melingkupi kita. Orang dalam penglihatan seperti itu disebut trance dalam kuasa Roh. Meski berada di bumi, ia kehilangan kesadaran terhadap alam nyata. Tetapi dalam beberapa kasus tertentu, akibat hebatnya pengalaman dan respons di dalam alam roh, kita dapat melihat orang-orang tersebut memberi reaksi fisik seperti berlari, mengangkat tangan, menangis, meloncat-loncat dan sebagainya.

Penglihatan Terbuka
Jenis penglihatan yang lain adalah penglihatan terbuka. Di dalam penglihatan ini, kita memiliki dua kesadaran sekaligus, yakni terhadap alam nyata dan terhadap alam roh. Dalam peristiwa ini, saluran-saluran roh sedang terbuka di sekeliling kita dan fisik kita dapat memberikan respons terhadap penglihatan itu, misalnya menulis, mendengar, menggerakkan tangan, atau berlari bahkan melihatnya dengan mata jasmani. Dalam jenis penglihatan ini, mata jasmani kita juga terbuka!

Penglihatan terbuka dapat berupa langit yang terbuka atau layar dengan episode yang bergerak. Juga dapat berupa “lubang” di angkasa yang terbuka lebar dan kita dapat melihat dengan leluasa sesuatu yang berada di balik lubang itu. Kitab Wahyu yang dituliskan oleh Yohanes diturunkan kepadanya dengan mencatat peristiwa demi peristiwa yang muncul melalui penglihatan terbuka di Patmos.

Pada saat penglihatan terbuka terjadi, kita tidak kehilangan kesadaran fisik. Kita tetap menyadari berada di mana dan sedang melakukan apa. Dua dimensi ini (alam nyata dan alam roh) ada di satu tempat yang sama, tetapi keduanya tidak saling mempengaruhi. Penglihatan jenis ini sangat istimewa karena orang lain yang sedang berada dengan kita, bisa tidak melihat apa-apa atau merasakan apa yang sedang kita alami di dalam dimensi roh karena mata rohaninya tertutup. Perhatikan peristiwa di mana Elisa membuka mata rohani bujangnya, Gehazi, sewaktu rumah mereka dikepung para prajurit. Elisa melihat apa yang tidak terlihat! Karena itu dirinya tenang sebab yang menyertai mereka jauh lebih banyak daripada prajurit yang terlihat secara fisik oleh Gehazi. Apa yang dilakukan Elisa untuk membuat Gehazi berada di dalam “frekuensi” ilahi tersebut? Ia berdoa agar mata rohani bujangnya yang ketakutan itu dibukakan oleh Tuhan!

Maka dikirimnyalah ke sana kuda serta kereta dan tentara yang besar. Sampailah mereka pada waktu malam, lalu mengepung kota itu. Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya, "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?" Jawabnya: "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka." Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa (2 Raj. 6:15-17.)

Seseorang yang mengalami peristiwa penglihatan terbuka, erat kaitannya dengan mata rohaninya yang terbuka. Artinya, seseorang itu telah memiliki kepekaan terhadap fenomena/dimensi roh yang ada di sekitarnya. Tidak semua orang memiliki kepekaan tersebut, meskipun hal tersebut dapat dilatih.

Penglihatan Sesaat
Penglihatan jenis ini umum dan lazim terjadi saat seseorang berdoa, berada di dalam suasana penyembahan atau ketika menerima impartasi. Dalam kondisi mata tertutup, akibat kuatnya atmosfir roh karena doa atau pujian penyembahan yang sangat agresif. Pada saat itu, seseorang yang berada di dalam lingkup hadirat Allah, dapat menerima informasi dari alam roh berupa benda, simbol, kejadian, angka, huruf, kalimat, suara atau apa pun yang sifatnya tidak bergerak dan berlangsung dalam situasi yang sangat cepat. Saking cepatnya penglihatan ini sehingga bagi yang kurang peka, seseorang dapat saja mengabaikannya. Informasi yang disampaikan biasanya sepotong-sepotong dan sifatnya simbolis (mewakili sebuah peristiwa dan kejadian tertentu yang membutuhkan hikmat untuk memahami artinya).

Penglihatan jenis ini lazim terjadi dalam hadirat Allah yang kuat. Siapapun bisa mengalaminya. Kalau hadirat Allah tersebut terangkat kembali, maka kita tidak dapat menerima informasi apa pun. Saul pernah dianggap seperti Nabi hanya karena tidak sengaja dirinya berada di dalam jangkauan impartasi atmosfir profetik yang sangat kuat, sewaktu serombongan nabi sedang bernubuat di Gibea.

Ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia dengan serombongan nabi; Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka. Dan semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada yang lain: "Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?" (1 Sam. 10:10-11)

Apakah Saul lantas disebut nabi setelah ia bernubuat? Tentu saja tidak. Keadaan seperti inilah yang mayoritas menjadi pengalaman rohani anak-anak Tuhan di dalam kelompok-kelompok doa, para pendoa syafaat, yang mendapat sebuah gambaran di dalam roh mengenai hal-hal profetik. Tidak lantas para pendoa tersebut dianggap sebagai seorang nabi atau pelihat.

Penglihatan sesaat bisa menjadi pengalaman rohani yang temporer bagi kebanyakan jemaat. Tetapi bila seseorang terus melatih kepekaan rohnya melalui hubungan pribadi dengan Allah, maka frekuensi informasi yang mengalir di dalam rohnya saat berdoa atau menyembah Tuhan, tentu akan semakin tinggi.

Penglihatan karena Kunjungan (Teofani)
Teofani adalah penglihatan yang sangat istimewa. Atas sebuah kepentingan surga yang mendesak dan harus segera dinyatakan di bumi, Tuhan sendiri atau makhluk-makhluk surgawi, menyatakan diri secara FISIK kepada manusia. Melalui penyataan ini, kita dapat melihat, meraba atau berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Hal tersebut berlangsung atas kedaulatan Tuhan sendiri dan manusia tidak dapat mengatur atau merekayasanya.

Beberapa contoh kejadian di dalam Alkitab tentang peristiwa ini dapat dicatat sebagai berikut:

a. Pemanggilan Musa - Allah menyatakan diri dalam bentuk api di semak-semak. (Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah" - Kel. 3:4.)

b. Pemusnahan Sodom dan Gomora - Allah menyatakan diri dalam bentuk
makhluk surgawi/malaikat. (Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah – Kej. 19:1.)

c. Teguran terhadap Bileam - Malaikat Tuhan menghalangi keledai Bileam yang hendak memenuhi undangan para pemuka Moab dalam sebuah konspirasi untuk melepaskan kutukan kepada orang Israel. (Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan – Bil. 22:23.)

d. Jari tangan yang menulis di dinding - Peringatan keras dari Allah kepada Raja Belsyazar yang menggunakan perkakas Bait Allah untuk menyelenggarakan pesta dunia di kerajaannya. (Pada waktu itu juga tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana raja, di depan kaki dian, dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu – Dan. 5:5.)

e. Berita kelahiran Yesus - Malaikat Tuhan diutus untuk bertemu Maria dan gembala-gembala yang ada di padang. (Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret – Luk. 1:26.)

f. Pembebasan Petrus - Malaikat Tuhan diutus kepada Petrus yang sedang berada di dalam penjara dan membebaskannya. (Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus – Kis. 12:7.)

g. Peneguhan untuk Paulus - Suara yang didengar oleh Paulus untuk meneguhkan hatinya di dalam pelayanannya di Korintus. (Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! – Kis. 18:9.)

h. Hukuman mati untuk Herodes - Malaikat Tuhan dikirim untuk menampar Herodes yang menganggap dirinya sama dengan Allah. (Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing – Kis. 12:23.)

Masih banyak lagi contoh di dalam Alkitab penglihatan yang muncul akibat kunjungan surgawi. Penting dipahami bahwa kunjungan surgawi hanya terjadi untuk sebuah rencana besar Allah yang melibatkan manusia di dalamnya. Pesan pesan yang muncul dari penglihatan ini membawa manusia memiliki pengalaman langsung dengan Allah yang berhubungan dengan peneguhan, panggilan, teguran atau misi yang sangat penting.