Jumat, Juni 27, 2008

TIANG AWAN dan TIANG API

TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. (Kel 13:21)

Siapa yang tidak mengenal peristiwa bangsa Israel keluar dari Mesir. Mereka, bangsa yang besar itu, tidak memiliki kompas untuk mengenal arah. Bahkan tempat yang mereka tuju, belum pernah salah seorang pun dari mereka pernah pergi ke sana dan mengetahui persis jalannya. Lagipula bangsa ini sangat besar. Diperlukan waktu yang sangat lama untuk membuat informasi menyebar bagi seluruh rakyat mengenai arah dan diperlukan pula sebuah sistem komunikasi yang betul-betul terkoordinasi di antara mereka sendiri. Sungguh tidak terbayangkan mengatur eksodus besar-besaran tersebut. Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa ketika mereka pertama kali datang ke Mesir, jumlah mereka tidak sampai 100 jiwa. Inilah nama para anak Israel yang datang ke Mesir bersama-sama dengan Yakub; mereka datang dengan keluarganya masing-masing: Ruben, Simeon, Lewi dan Yehuda; Isakhar, Zebulon dan Benyamin; Dan serta Naftali, Gad dan Asyer. Seluruh keturunan yang diperoleh Yakub berjumlah tujuh puluh jiwa. Tetapi Yusuf telah ada di Mesir. Kemudian matilah Yusuf, serta semua saudara-saudaranya dan semua orang yang seangkatan dengan dia. Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka. (Kel 1:1-7). Coba dibayangkan. Selama 430 tahun bangsa Israel mendiami Mesir dan sekarang mereka keluar ! Sungguh suatu jumlah yang sangat besar untuk melakukan eksodus.

Jumlah yang sangat besar ini tentu sangatlah sulit mengarahkan dan memimpinnya. Maka, Tuhan melakukan sesuatu yang berbeda. Ada sebuah petunjuk besar, yang bisa menjangkau semua orang, bahkan yang berada di bagian paling belakang sekalipun, dapat melihatnya. Petunjuk ini adalah kompas yang mengarahkan gerak langkah bangsa Israel keluar dari Mesir dan hadir secara supernatural. Pada siang hari, hadirlah sebuah tiang awan yang besar dan menjulang tinggi untuk menuntun perjalanan mereka dan malam hari, hadir sebuah tiang yang sama dalam bentuk api (tiang api) yang juga berfungsi sebagai alat penerangan. Sungguh sebuah perjalanan yang spektakuler. Tiang awan dan tiang api.

Ada beberapa pelajaran yang sangat penting sebagai pokok renungan kita.

Tiang awan dan tiang api adalah sebuah penuntun perjalanan. Tiang tersebut menuntun mereka ke tempat yang sama sekali belum pernah mereka lalui. Sebuah perjalanan baru telah di mulai. Tiang itu ada di depan mereka setiap saat. Sebagai tuntunan, maka mereka harus tetap mengacu pada keberadaan awan tersebut. Ada saat-saat dimana awan itu bergerak dan diam. Pada waktu awan tersebut bergerak maka merekapun harus mengikutinya. Sebaliknya, ketika awan itu berdiam, maka itulah tanda dimana mereka harus memasang kemahnya. Ada pula saat-saat dimana awan tersebut terlihat naik dari tempatnya berdiam, maka itu adalah waktu dimana kemah harus dibongkar untuk bersiap melakukan perjalanan kembali. Tiang awan dan tiang api adalah sebuah penuntun. Sekalipun bangsa Israel melakukan sebuah perjalanan yang mungkin membuat mereka bertanya-tanya, ke arah mana, harus melalui daerah seperti apa, tidak tahu apa yang bakal mereka hadapi, tantangan yang menghadang di depan, tiang awan dan tiang api adalah sebuah tuntunan yang mengarahkan mereka pada perjalanan-perjalanan indah bersama Tuhan. Demikian juga dengan kita. Setiap perjalanan kehidupan bersama Tuhan adalah sebuah perjalanan baru yang sama sekali susah kita bayangkan. Firman Tuhan menegaskan hal itu di dalam Yesaya 55:8 bahwa rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku. Kehidupan, karir dan pelayanan adalah sebuah ‘jalan Tuhan’ yang ada di depan kita yang harus siap kita lalui sekalipun seringkali kita memasukinya dengan banyak pertanyaan, kebingungan dan hal-hal lain yang tidak dapat kita mengerti. Tetapi karena itu adalah jalan Tuhan, maka sewaktu kita melaluinya, Tuhan tetap bertanggung jawab untuk menuntun kita. Dia kirim tiang awan dan tiang api sebagai acuan perjalanan untuk membawa kita pada tujuan yang sudah ditetapkannya.

Tiang awan dan tiang api adalah sebuah kehadiran Allah. Keberadaan tiang awan dan tiang api untuk menuntun perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir, tidak hanya terbatas pada fungsi mengarahkan perjalanan belaka. Tiang itu melambangkan kehadiran Allah. Sebagaimana bentuk dan keberadaannya yang supernatural, tiang tersebut adalah bukti kehadiran Allah yang menyertai dan berjalan bersama dengan mereka. Bahkan melalui tiang itu, Allah juga hadir dan berbicara dengan mereka. Allah turun dalam supernatural berupa bentuk tiang awan. Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. (Bilangan 12:5). Bahkan di dalam Mazmur dikatakan secara lebih deskriptif. Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya dan ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka. (Mazmur 99:7). Kita mengenal sebuah kebenaran, bahwa dimanapun Allah hadir maka bukti dari kehadiranNya tersebut sangatlah nyata dan signifikan. Tetapi kita sering melupakan fakta ini. Kita lupa bahwa Allah sebetulnya hadir dan tidak sekedar menuntun langkah kaki kita melainkan juga berbicara untuk menyampaikan apa yang menjadi isi hatiNya kepada kita. Di tengah perjalanan, Allah akan selalu berbicara memberi arahan-arahan dan mengungkap rencana-rencana baru yang dulu mungkin tidak kita mengerti. Maka bagian kita sebetulnya cuma satu yakni taat. Ketidak mengertian di dalam menempuh jalan Tuhan seringkali membuat kita gagal berangkat ataupun ‘berangkat’ dengan setengah hati. Maka tidak heran, seperti respon bangsa Israel, mereka yang secara fisik sudah keluar dari Mesir, masih selalu berpikiran untuk kembali ke sana, pada waktu perjalanan menghadirkan tantangan dan sejumlah persoalan yang mungkin tidak mereka perkirakan. Tidak ada jaminan bahwa mengikuti jalan Tuhan akan terbebas dari tantangan dan rintangan. Satu-satunya jaminan adalah, mengikuti jalan Tuhan akan menghadirkan tuntunan Tuhan dan isi hatiNya! Jadi usul saya adalah, jangan ribut dan bersungut-sungut terus seperti bani Israel. Berdiam dirilah dan dengarkan Tuhan berbicara. Kemana Tuhan mengutus ke sanalah Ia akan menemani dan menyampaikan rencana-rencanaNya. Kecuali jalan yang kita buat sendiri, Tuhan selalu hadir di dalam jalan-jalanNya.

Tiang awan dan tiang api adalah sebuah proteksi dan benteng perlindungan. Dalam kejadian bangsa Israel, Allah menjadi pelindung Israel dari musuh-musuh mereka. Ia Allah yang hidup dan nyata di dalam pekerjaanNya. Allah tidak pernah tertidur untuk menjadi penjaga mereka siang dan malam. Ingat, perjalanan bersama Tuhan di jalanNya adalah perjalanan yang penuh dengan tantangan. Hal yang paling utama muncul adalah bayang-bayang Mesir yang selalu menghantui dan mengintimidasi. Berkali-kali saja kita membaca di dalam sejarah eksodus bangsa Israel bagaimana mereka bersungut-sungut dan rindu kembali ke Mesir. Untung saja mereka tetap berada di dalam covering tiang awan dan tiang api. Seandainya mereka keluar dari covering tiang tersebut maka pastilah mereka menjadi santapan musuh-musuh Israel. Tiang itu adalah sebuah pemisah. Tiang itu adalah sebuah penanda umat Tuhan yangberada di dalam coveringnya. Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu. (Kel 14:19-20). Dengan demikian kita pahami bahwa orang yang dituntun oleh tiang awan dan tiang api adalah orang yang sebetulnya berada di dalam covering Tuhan. Ingat pada saat cuaca sedang dingin. Kita menutup tubuh dengan jacket sehingga kulit kita terlindungi. Cuaca buruk tetap berlangsung sampai mereda. Angin kencang tetap menerpa. Kita tidak punya pilihan untuk menghindarinya. Tetapi kita tetap terlindungi karena berada di dalam covering baju hangat yang tebal dan mungkin juga anti air. Perjalanan bersama Tuhan adalah juga perjalanan peperangan rohani. Musuh-musuh kita pasti akan menyerang dan ingin agar rencana Allah yang Tuhan telah susun di jalan yang tengah kita lalui, menjadi gagal. Itu sebabnya kita tidak boleh terpengaruh pada situasi yang ada di sekeliling kita. Kita harus tetap fokus pada tiang itu. Sama seperti ketika ada ular tedung yang tiba-tiba hadir dan menggigit orang Israel, mereka yang selamat bukanlah mereka yang memukul atau menghindari patukan ular tersebut; melainkan mereka, yang sekalipun ular ada di pangkuan atau tengah melilit mereka, mengarahkan matanya kepada patung ular yang didirikan Musa. Situasi hanya akan membuat kita tertahan, mundur ataupun gagal melanjutkan perjalanan. Tetapi kalau kita berjalan tidak dengan situasi melainkan tetapi fokus pada apa yang ada di depan (baca: tiang awan atau tiang api), maka kita akan mampu keluar dari situasi-situasi tersebut dengan pertolongan Allah yang nyata. Penjaga Israel tidak pernah tertidur. Ia berperang untuk kita. Mazmur 121:4 mengatakan sesungguhnya tidak terlalap dan tidak tertidur penjaga Israel! Tuhan tidak pernah tertidur untuk anda. Sekalipun anda tertidur, Dia tetap berjaga-jaga. TiangNya tetap menjulang tinggi untuk membawa kita tetap bertahan di dalam coveringnya.

(Graha Padma, Juni 2008 – Selamat menempuh tugas baru di kota yang baru Yogyakarta untuk sahabat terbaik saya Benny Sondakh)