Jumat, Desember 12, 2008

BAGAIMANA MENDENGAR SUARANYA?

Artikel ini dimuat di dalam Tabloid Keluarga Edisi 40/Thn II/Des 2008

Mendengar suara Tuhan?
Siapa yang tidak tertarik dengan karunia yang satu ini. Selain menarik, juga orang yang memilikinya terlihat berbeda di banding orang lain. Seolah-olah, pemilik karunia ini memiliki hubungan langsung dengan Tuhan, yang setiap saat dapat mendengar suaraNya, mengerti isi hatiNya dan mampu menjadi jembatan antara orang lain dengan Tuhan. Itu sebabnya, orang yang memiliki karunia ini dituntut mengembangkan karakternya sedemikian rupa sehingga melaluinya orang lain bisa dibangun, ditegur, dinasehati dan di bawa dekat kepada Tuhan untuk mengalami transformasi di dalam hidupnya. Kalau tidak, maka karunia ini dapat disalahgunakan. Sudah banyak kasus di kalangan Kristiani perihal penyalahgunaan karunia ini seperti manipulasi, okultisme dan hal-hal lain yang mengarah pada praktek perdukunan. Kalau demikian yang terjadi, orang tidak dibawa bertemu dan mengandalkan Tuhan, melainkan digiring pada pribadi pemilik karunia.

SETIAP ORANG BISA
Di dalam Perjanjian Lama, setiap orang tidak dapat memiliki akses langsung kepada Tuhan. Mereka butuh perantara yang disebut nabi, sosok yang diangkat oleh Tuhan menjadi “juru bicaranya” di kalangan umatNya. Jadi dulu, kalau mau meminta petunjuk Tuhan untuk sebuah tindakan atau keputusan, maka orang-orang akan mencari nabi untuk mendengarkan suaraNya. Tetapi sekarang, tidak ada lagi perantara seperti nabi di dalam konteks orang percaya pasca keberadaan Yesus. Siapapun dapat dan memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, tinggal di dalam hadiratNya, dan mendengar suaraNya. Melalui Yesus, kita telah di bawa langsung ke hadapan tahta Allah. Oleh karena itu, 'siapapun' dapat berpotensi untuk mendengar suara Tuhan. Memang ada orang-orang tertentu yang memiliki fungsi kenabian di dalam dirinya, tetapi hal itu tidak berarti, orang lain, yang percaya kepada Yesus dan sudah lahir baru, tidak memiliki kemampuan serupa. Karena Allah sudah memiliki hubungan langsung dengan kita melalui Yesus, kita tidak butuh lagi perantaraan manusia untuk mendengar suaraNya.

Persoalannya adalah, jika kita sudah punya akses langsung kepada Tuhan dan berpotensi untuk mendengar suaraNya, mengapa masih ada pertanyaan, “Mengapa saya masih belum dapat mendengar suaraNya?”

DENGAN CARA ALLAH
Satu prinsip penting untuk mendenngar suara Tuhan adalah memahami bahwa Allah selalu punya caraNya sendiri untuk berbicara kepada manusia. Artinya, harus berlangsung dalam kehendak Allah (bukan kehendak kita), pada waktuNya (bukan waktu kita) dan sesuai caraNya (tidak mengikuti cara yang kita inginkan). Jadi, kalau kita mau mendengar suara Allah, maka prinsip ini haruslah kita pahami terlebih dahulu.

Ada kalanya, kita begitu menggebu untuk mendengar suaraNya dengan cara yang kita kehendaki, dan hal itu ternyata, membuat manusia gagal mendengar. Karena apa? Allah tidak mengikuti cara manusia untuk menyatakan isi hatiNya.

Banyak jalan dimana Allah menyatakan isi hatiNya kepada manusia. Bukan melulu melalui suara yang terdengar audibel di telinga. Allah dapat memakai firmanNya sebagai ungkapan perasaanNya. Dia juga menggunakan mimpi, lagu-lagu, peristiwa-peristiwa, kejadian, tanda, simbol, orang lain, dan segala hal yang dapat digunakanNya sebagai saluran bicaraNya. Inilah yang disebut ‘mendengar’. Artinya, mampu menangkap apa yang menjadi pesan Tuhan dibalik semuanya itu. Tidak semata-mata mendengarNya melalui telinga! Allah selalu punya cara tersendiri untuk berbicara kepada tiap-tiap umatNya. Cara Tuhan berbicara kepada, misalnya si A, berbeda dengan caraNya berbicara pada si B. Oleh sebab itu, kita patut belajar mengenali setiap apa yang berlangsung di dalam hidup keseharian kita, jangan-jangan Tuhan menggunakan hal itu untuk menyatakan sesuatu.

MEMBANGUN KEPEKAAN
Persoalannya adalah apakah kita peka? Bagaimana kita tahu bahwa itu ‘suara’ Allah dan bukan berasal dari sumber lainnya (sumber lain itu dapat berupa keinginan daging, manusia, roh jahat, dsb). Bagaimanakah caranya membangun kepekaan itu?

Pertama kita perlu belajar mengerti bahwa suara Allah adalah sebuah kedaulatan Allah. Dia bisa secara sepihak membuka saluran itu pada seseorang dan disaat yang sama, menutup pada orang lain. Ingat kasus pengepungan Dotan? Waktu itu, Elisa tenang-tenang saja karena mata rohaninya mampu melihat kehadiran bala tentara Surga. Itu sebabnya ia berkata kepada Gehazi hambanya, bahwa yang menyertai mereka jauh lebih banyak. Belakangan ia berdoa meminta agar dengan kedaulatan Allah, mata rohani Gehazi juga terbuka (2 Raja-raja 6:16-17)!

Kedua, kita perlu berusaha untuk membangun kepekaan roh di dalam diri kita. Pada dasarnya kita adalah manusia roh yang berdiam di dalam tubuh fisik dan memiliki jiwa. Tetapi, kedagingan dengan segala sifatnya yang berdosa, seringkali menguasai hidup kita daripada roh yang ada di dalam diri kita. Itu sebabnya kalau kita mau peka mendengar suaraNya, maka segala bentuk manifestasi kedagingan di dalam diri kita, harus dengan berani kita kalahkan atau kita tekan sedemikian rupa sehingga tidak lagi menguasai hidup, karakter dan nilai-nilai kita. Pilihan ini tentu saja ada di tangan kita. Allah selalu nyaring “bersuara”. Tetapi kedagingan yang menguat di dalam manusia membuat kita tidak dapat dengan nyaring mendengarNya.

Ketiga, dan yang paling penting, adalah kita perlu mengambil waktu lebih banyak lagi untuk duduk diam di kakiNya. Apakah itu untuk berdoa, memuji dan menyembah Tuhan atau merenungkan (memeditasikan) firman. Jangan tunggu waktu luang (sebab itu tidak pernah ada) tetapi sediakanlah waktu untuk ‘bergaul intim’ dengan Dia, dimanapun anda berada, di mobil, atau saat sedang bekerja, gunakan setiap kesempatan tersebut terhubung dengan Tuhan. Mendengar suara Tuhan bukan soal cara, melainkan soal apakah anda mampu mengup-grade frekuensi dan kapasitas rohani anda melalui hubungan intim dengan Dia.

Paling tidak, anda dapat mendengar suaraNya untuk kepentingan anda sendiri. Selamat mencoba !

4 komentar:

  1. nice post. thanks Om.. menguatkan kez dengan apa yang pernah Kez alami brhubungan dengan kepekaan dlm mendengar suara Tuhan.

    kata-kata yang terakhir ("Mendengar suara Tuhan bukan soal cara, melainkan soal apakah anda mampu mengup-grade frekuensi dan kapasitas rohani anda melalui hubungan intim dengan Dia.")
    bener-bener jadi rhema yang memotivasi.
    God Bless

    BalasHapus
  2. Yup sangat setuju dgn artikel ini, bhwa peka = bisa membedakan masing2 suara,sperti domba tahu membedakan mana suara gembalanya yg asli meskipun ke dua gembala tsb sama2 memanggil namanya, cara kita utk peka ialah dengan bergaul karib dgn Gembala yg asli,sprti Tuhan Yesus dgn Bapa-Nya, Maria dgn Tuhan Yesus, Abraham dgn Bapa di Surga dll, sehingga kita tahu persis siapa yg berbicara kpd kita dibalik semua yg disampaikan tsb baik yg tampaknya aneh or yg tampaknya benar,dan kita tidak tertipu dgn kamuflase apapun, marilah kita jadi peka seperti Tuhan Yesus sangat peka ketika Ia masih di bumi dahulu.Amin

    BalasHapus
  3. selamat mencoba halusinasi.

    BalasHapus
  4. Kalau kita percaya bahwa doa di dengar oleh Tuhan, maka itu juga profetik !

    BalasHapus