Minggu, Juni 21, 2009

DAN REVIVALPUN TERJADI

(diambil dari Bab-6 buku BANGKIT DARI STAGNASI ROHANI)

Mampu meng-create atmosfer Ilahi adalah salah satu ciri orang yang mengalami breakthrough. Dimana Elisa pergi, disana mujizat terjadi. Dimana Musa berada di sana penyertaan Allah menjadi nyata.

Bagaimana dengan saya?
Pandangan Ruth Heflin sangat bagus menjelaskan manifestasi tersebut. Di dalam bukunya berjudul Glory – Experiencing the Atmosphere of Heaven, Heflin membahas adanya korelasi positif antara manifetasi Roh Kudus (yang disebutnya dengan awan kemuliaan Allah) dengan aktifitas pujian dan penyembahan yang dilakukan oleh orang-orang percaya. Menurut Heflin, pujian dan penyembahan, mampu menarik turun kemuliaan Allah. Pada saat kemuliaan itu turun, maka terjadilah manifestasi Roh Kudus. Saya suka kalimatnya berikut ini. Prasie until the spirit of worship comes, worship until the glory comes, then stand in the glory!

Alkitab kita sendiri menjelaskan bahwa ada saat-saat dimana kemuliaan Allah turun di kemah pertemuan dan orang-orang Israel yang melihat awan kemuliaan itu turun, menyatakan hormat mereka dengan bersujud di depan kemah masing-masing. Ketika awan kemuliaan Allah turun di dalam sebuah upacara Israel kuno, iman-imam dilaporkan tidak tahan berdiri karena kemuliaan Allah memenuhi tempat ibadah tersebut. Di zaman modern ini, kita punya banyak bukti dimana manifestasi kemuliaan Allah dinyatakan. Penginjil Charles Finney, pada waktu berkunjung ke sebuah kota, maka kemuliaan Allah mengikutinya di dalam kota itu. Orang-orang yang berada di dalam jangkauan atmosfir ini, sudah dijamah hatinya oleh Tuhan. Jatuh tersungkur dan bertobat dari dosa-dosanya. Tommy Tenney, penulis buku God Chaser (pemburu Tuhan) mengalami peristiwa yang luar biasa dimana sebuah mimbar yang sangat kuat dan kokoh, di sebuah gereja dimana ia melayani, terbelah dua di depan mata jemaat sewaktu kemuliaan Allah turun. Ruth Heflin sendiri, pada waktu memimpin jemaat bernyanyi menyembah Tuhan, tanda-tanda adikodrati Surga turun di tengah-tengah jemaat seperti manna, urapan minyak bahkan debu emas. Ya! Sata setuju bahwa semua manifestasi ini memang sangat kontroversial dan sulit diterima akal. Tetapi itulah yang menjadi sebuah kegerakan di gereja-gereja Tuhan akhir zaman ini.

Penginjil kesembuhan terbesar abad ini, Benny Hinn, saat memimpin orang-orang menyembah Tuhan, mampu membawa hadirat Tuhan sedemikian rupa sehingga orang-orang yang sakit itu disembuhkan seketika di tempatnya duduk atau berdiri. Inilah bukti tak terbantahkan di dalam wilayah iman kita bahwa Allah bekerja ketika kemuliaanNya turun dan dinyatakan di tengah-tengah jemaatNya. Dan pemahaman kita atas setiap pekerjaan Allah tersebut hanya bisa kita ukur dari perjalanan waktu (sebagaimana kata Gamaliel) atau dari buah pelayanan para pelayannya.


Loteng Yerusalem. Saya harus kembali ke atas loteng.
Revival dan terobosan dimulai di atas loteng Yerusalem. Kita harus mempelajari apa yang pernah terjadi di sana untuk mengusahakannya terjadi di dalam kehidupan kita.
Paska kenaikan Yesus, murid-murid dan rombongan orang percaya lainnya kembali ke loteng itu, sebuah tempat yang sangat luar biasa di dalam Injil dan iman percaya kita. Di tempat tersebut, Yesus memunculkan dirinya kepada murid-murid setelah bangkit, sebanyak dua kali. Disana pula, Yesus menyelenggarakan perjamuan malam sebelum Ia diserahkan untuk disalibkan. Dan pada waktu naik ke Surga, Yesus melepaskan sebuah janji profetik tentang turunnya Roh Kudus, janji Bapa dari tempat tinggi, kepada para muridNya. Mereka harus menantikan janji itu di sebuah tempat. Itulah loteng Yerusalem!

Segala sesuatu tentang kegerakan Injil dan kuasa, dimulai dari tempat itu. Disanalah murid-murid mengalami kejadian supernatural pertama kali bersama Roh Kudus yang selanjutnya menjadi mitra pelayanan mereka menyebarkan Injil. Pada waktu kejadian itu terjadi, terdengar sebuah suara tiupan angin yang amat keras dan loteng tempat mereka berkumpul, terguncang seperti gempa bumi. Lalu sesuatu terjadi. Sesuatu seperti lidah api muncul di atas kepala setiap orang di dalam ruangan itu. Perhatikan di dalam kisah para rasul pasal 2. Semua orang mendapatkannya. Tidak ada satupun yang terlewatkan dari lidah api.

Dan mereka tiba-tiba dipenuhi oleh kuasa Surga sehingga berkata-kata dengan bahasa yang baru yang bahkan mereka sendiri tidak mengerti. Inilah sebuah dampak perjumpaan kuasa dengan Roh Kudus; setiap orang mengalami pengurapan sedemikian rupa sehingga kapasitas rohaninya naik dengan pesat saat itu juga. Ada sebuah jubah pengurapan yang diturunkan.
Dapatkah anda membayangkan peristiwa tersebut? Bukankah ini sesuatu yang sangat dahsyat yang memang amat sulit diterima akal pikiran manusia? Point kita adalah, seandainya kita mampu menciptakan sebuah “loteng Yerusalem” di dalam kehidupan kita, maka pengalaman yang sama dengan Kisah Rasul, pasti akan terulang dimanapun kita berada. Pasti akan terjadi lawatan Allah dan pertobatan jiwa-jiwa baru. Hanya dalam satu jamahan saja, Petrus yang memimpin KKR pertama di dunia, mampu membuat tiga ribu orang dijamah Tuhan dan bertobat.

Saya ingin mengalaminya
Saya mau mendapatkan lidah api itu

Pengalaman loteng Yerusalem memang sangat sensional dalam logika dan pengertian manapun. Sekelompok ateis bahkan pernah menganggapnya sebagai sebuah over creative para penulis Injil. Tetapi karena sifatnya yang sangat supranatural dan adikodrati itulah, kebanyakan orang percaya menjadi tidak siap berada di dalam kegerakan-Nya.

The power on high!
Api Roh Kudus di atas loteng Yerusalem adalah sebuah “doktrin” Ilahi di gereja mula-mula mengenai manifestasi awan kemuliaan Allah. The Glory of God! Itulah yang menjadi incaran Daud ketika dulu, ia bersusah payah mengembalikan tabut perjanjian dari rumah Obed Edom ke kemahnya di Yerusalem. Nyala api biru di atas kotak itu amat menarik hatinya dan menjadi obsesinya seumur hidup. Itu adalah manifestasi glory of God. Untuk mempertahankannya, Daud mengatur jadwal para penyembah dan penari, disekeliling tabut itu, duapuluh empat jam sehari. Luar biasa bukan. Mari kita bandingkan dengan sikap kita dewasa ini. Untuk memuji dan menyembah Tuhan dalam waktu ibadah dua jam saja, terasa sangat menyiksa dan membosankan. Maka tidak mengherankan jika kemuliaan Tuhan yang sangat kita rindukan itu, tidak pernah turun atau menyatakan dirinya.

Kemuliaan Tuhan bukanlah sesuatu yang instan!
Kuncinya ada pada pujian dan penyembahan. Lepaskan rasa lapar dan hausmu untuk memuji-Nya. Itulah yang mendatangkan roh penyembahan. Saat kita menyembah, awan itu turun. . Awan itu turun. Pada saat itulah, kuasa adikodrati Roh Kudus menjadi pengalaman tak terlupakan bagi siapapun.

Bagaimana caranya?
Loteng Yerusalem menjelaskan kepada kita sebuah konsep mengenai pelayanan adikodrati Roh Kudus di dalam diri orang percaya. Para rasul mendapatkan pengalaman itu pertama karena mereka mampu menangkap janji yang telah sampaikan kepada Yesus. Dia berkata, “tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi’.

Jadi, saya percaya dan berani menangkap janji Tuhan
Seberapa banyak di antara kita dewasa ini memberi respon terhadap janji Bapa? Para murid itu mungkin atau memang tidak mengerti akan apa yang telah dan akan terjadi. Tetapi mereka memberikan respon yang tepat. Mereka menerima dan percaya pada janji itu. Menunggu sampai mereka memperolehnya. Sama seperti ketika Elisa mengejar Elia untuk mendapatkan urapannya. Keberadaan mereka di atas loteng Yerusalem, tidak berlangsung dengan sendirinya. Mereka disana dalam rangka menanti-nantikan janji. Ada doa. Ada harapan. Ada iman dan juga sikap menerima. Elemen-elemen kualitas inilah yang menjadi persiapan revival yang sejati.

Naik dalam level yang lebih tinggi
Para murid sewaktu berada di atas loteng, secara aktual memang berada di tempat yang lebih tinggi. Tetapi secara rohani, keberadaan mereka di sana, sesungguhnya mencerminkan gambaran a next level anointing, dibandingkan orang-orang Yahudi yang lain, yang saleh, yang pada masa itu berdatangkan dari seluruh dunia ke Yerusalem. Jika kita mau memposisikan diri untuk bergerak di dalam next level, maka minyak anggur yang baru itu akan turun dan mengalir. Ini akan membuat kita bergerak dalam dinamika Tuhan.

Sebab Tuhan kita sangat dinamis.
Itu sebabnya kita harus bergerak dari satu puncak gelombang ke puncak berikutnya. Gerakan ini hanya bisa dilakukan dengan meninggalkan status quo. Kita harus berani keluar dari kenyamanan. Berani memukul air sungai supaya membelah seperti dilakukan Elisa. Berani memegang erat-erat tangan malaikat sampai mendapat berkat-Nya seperti dilakukan Yakub.
Orang yang rindu mengalami terobosan, kakinya berdiri atas kehidupan Ilahi yang digali dan dikembangkan dari hubungan yang akrab dengan Tuhan. Inilah hubungan yang supernatural itu. Sembuhnya orang dari sakit bukan karena “metode” meletakkan sapu tangan (seperti Paulus lakukan) di atas orang sakit atau menempatkan orang sakit di dalam daerah bayang-bayang kita (seperti yang Petrus lakukan). Tetapi mereka sembuh karena ada kuasa yang mengalir di dalam hidup mereka.

Ada dinamika roh di dalam diri orang yang mengalami breakthrough
Jadi yang harus kita tangkap adalah dinamika tersebut. Petrus berbicara soal dinamika internal yang ada di dalam dirinya pada waktu ia berkata pada seorang yang lumpuh, “Emas dan perak tidak ada padaku. Tetapi apa yang aku punya kuberikan kepadamu. Dalam nama Yesus Kristus, berjalanlah!”

Bagaimana dengan anda?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar