Jumat, Mei 25, 2012

WHEN THE DAY OF PENTECOST


Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah
dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana
mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan
hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka
mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada
mereka untuk mengatakannya. (Kisah Para Rasul 2:1-4)

       Hari pentakosta adalah sebuah titik balik. Roh Kudus dinyatakan di atas kepala 120 orang murid yang sedang berkumpul di atas loteng Jerusalem setelah sekian hari mereka berdoa menantikan janji Yesus tersebut. Langsung hari ini, di dalam khotbahnya yang penuh semangat dan berapi-api, 3000 orang memberi diri dibaptis. Kuasa Roh Kudus telah menjadi penentu sejarah. Anak-anak Tuhan yang menerimanya, tidak lagi sama. Mereka diperlengkapi dengan kuasa dan dimanapun pergi memberitakan Injil membawa dampak yang besar !
       Dampak yang besar, itulah target Roh Kudus melalui pengurapanNya atas hidup anak-anak Tuhan. Sesaat sebelum Tuhan terangkat naik ke Surga, Dia telah mengingatkan hal tersebut.  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8). Terjemahan yang sangat bagus ditulis oleh TLB. "But when the Holy Spirit has come upon you, you will receive power to testify about Me with great effect, to the people in Jerusalem, throughout Judea, in Samaria, and to the end of the earth, about my death and resurrection."  Apakah dampak yang besar itu? Tentu saja jawabannya adalah kebangunan rohani atau REVIVAL ! Di dalam sebuah kebangunan rohani, kekuatan sepernatural Allah dinyatakan. Orang sakit sembuh. Bahkan yang mati bangkit. Kehidupan rohani dipulihkan dan pertobatan sejati berlangsung dimana-mana. Orang-orang berbalik menuju jalan Tuhan dan memiliki hati yang lapar haus akan Dia. Ibadah dipenuhi dengan lawatan dan manifetasi kuasa Tuhan. Urapan dicurahkan seperti air terjun yang tidak pernah habis. Hati anak-anak Tuhan berkobar-kobar di dalam Tuhan. Dampak yang besar mengarah pada satu perubahan radikal yang tidak saja mempengaruhi wilayah rohani tetapi hal-hal fisik. Tanah menjadi subur, kejahatan turun, tempat-tempat dosa ditutup, komunitas bergerak dari sikap hidup yang jauh menjadi takut akan Tuhan.
       Pertanyaannya, setiap tahun kita memperingati hal itu, tepat sepuluh hari setelah ibadah kenaikan Yesus ke surga. Apakah kita masih memiliki kuasa yang sama dengan dampak yang besar, dalam kapasitas kita sebagai pribadi dan denominasi, di gerenasi dimana kita saat ini berada? Masihkah kita memiliki spirit pentakosta sebagaimana ketika dicurahkan pertama kali di atas loteng Yerusalem? Atau justru telah padam tetapi mengklaim masih memilikinya?
       Ingat, orang bisa saja beraktifitas, melayani Tuhan atau beribadah sekalipun tidak lagi memiliki api. Farisi contohnya. Banyak gereja dan anak-anak Tuhan di dalam kondisi tersebut. Api telah padam tetapi herannya, mengklaim masih memilikinya. Padahal, tidak ada dampak yang besar yang dilakukan, jangankan kepada komunitas, tetapi di dalam ruang ibadah, terlihat banyak orang yang cuma rutin dan agamawi. Kehadiran Allah tidak dijumpai lagi. Sebuah ironi yang justru dipertahankan keberadaannya.
       Kisah para rasul mengingatkan kita untuk beranjak dari kesuaman rohani, beranjak dari kematian api Roh Kudus. Sudah bukan saatnya kita berpaling ke masa lalu dan bernostalgia tentang kehebatan generasi sebelum kita di dalam kekuatan Roh Kudus. Itu sudah lewat ! Api sudah diturunkan dan kuasa Roh Kudus terus menerus tercurah sejak kejadian di loteng Jerusalem. Sekarang kita harus dapatkan api itu kembali karena Tuhan punya rencana besar di generasi kita. Ada satu jenis kekeringan rohani yang siap disambar oleh kuasa Tuhan. Ketika menjumpai ada jiwa yang lapar dan haus akan Tuhan, disana Tuhan akan menyatakan diri. Dimana urapan dihargai dan diterima, disana tempat kesukaanNya untuk bermanifestasi. Roh Kudus tidak boleh dibatasi, bahkan oleh doktrin sekalipun. KehadiranNya di Jerusalem telah mengubah pandangan orang-orang Yahudi mengenai kegerakan Allah. Salah satunya si Rasul besar, yakni Paulus. Kalau memang kita harus memperbaiki tata cara kita demi mendapatkan kembali api itu, tidak ada yang salah! Gereja harus kembali membawa umat mendapatkan api itu….! Tanpa kuasa Roh Kudus, kita tidak akan dapat membawa dampak yang besar.
        Ketika tiba hari pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Mereka sehati dan sepakat. Itu kuncinya. Mereka meminta dan menanti janji Tuhan. Mereka fokus pada api tersebut. Bagaimana dengan kita? Masihkah api itu ada di dalam diri anda? Jangan mengaku orang pantekosta kalau tidak memiliki api pantekosta sejati ! Jangan mengaku punya pai Roh Kudus kalau hidupmu tidak berdampak dan ibadahmu tanpa hadirat Tuhan serta tidak membawa breakthrough ! 

1 komentar:

  1. itulah fenomena yang sedang melanda banyak gereja. Banyak program gereja, namun tidak memiliki api untuk gereja. Ibadah hanya merupakan rutinitas formil sbg orang kristen..Saatnya mengembalikan Api itu...!!!! Thx pak bt refleksinya. GB dlm pelayanan dan keluarga.Amin

    BalasHapus