Selasa, Agustus 27, 2013

ALKITAB Sebuah Tinjauan Tentang Kanon dan Inerrancy Alkitab

Oleh : Sonny Eli Zaluchu, D.Th
Alumnus Program Doktor STBI Semarang. Penulis buku Biblical Theology.
Dapat dihubungi di gloryofgodmin@gmail.com atau 081.325854343

A.    Pendahuluan
Alkitab adalah terjemahan dari kata Bible (Inggris) yang menjadi nama buku dari kitab suci Agama Kristen. Kata Bible sendiri merupakan terjemahan dari kata Yunani, biblia, yang merujuk pada sekumpulan buku-buku dan dalam bentuk jamaknya menunjukkan bahwa biblia tersebut isinya bukan satu melainkan sekumpulan buku-buku. Biblia adalah buku kitab suci yang memuat seluruh kanon Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.[1]Tetapi karena pada akhirnya dipandang sebagai satu kesatuan, maka istilah biblia yang berbentuk jamak itu diganti dengan kata Alkitab, yang berbentuk tunggal. Kumpulan buku-buku tersebut telah melalui sebuah proses yang panjang untuk akhirnya diterima sebagai satu kesatuan yang menjadi Kitab Suci bagi agama Kristen. Proses tersebut dinamakan kanon Alkitab, sehingga melaluinya kumpulan buku itu menjadi sah sebagai sebuah firman Allah.
Dalam kapasitasnya sebagai kitab suci, Alkitab memiliki pengaruh yang sangat luas dan berakar di dalam kekristenan dan cara hidup orang Kristen. Alkitab telah mengubah dan memperbaharui kehidupan berjuta-juta orang dari setiap generasi.[2] Bahkan kehidupan kekristenan itu sendiri sudah tidak dapat terpisah dari keberadaan Alkitab sebagai sesuatu yang diyakini memiliki kebenaran, dan membangun iman. Hal ini terjadi karena Alkitab merupakan dan berisi firman Allah. Dalam bukunya Bagaimana Jika Alkitab Tidak Pernah Ditulis, James Kennedy memberikan kesaksian yang sangat bagus mengenai betapa Alkitab memberikan pengaruh di dalam diri seseorang sehingga dapat menuntun pada konversi (pertobatan) dan mengarahkan pada cara hidup, nilai-nilai (values) dan tindakan yang benar. Dikatakannya, Alkitab adalah sebuah buku yang telah mengilhami ribuan orang diseluruh dunia, dari zaman ke zaman, dari segala macam jabatan dan kedudukan. Hal ini telah mendudukkan Alkitab dalam supremasi sebagai buku yang paling laku di dunia, paling banyak dibaca dan paling banyak diproduksi serta diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.[3]
Diantara sekian banyak pembicaraan mengenai Alkitab, makalah ini membahas dua issue penting tentang Alkitab yang ditinjau secara singkat yakni tentang proses kanoninik dan inerrancy.

B.     Struktur dan Terjemahan Alkitab
Berdasarkan isinya, Alkitab terdiri dari dua kumpulan kitab yakni Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru (New Testament) yang kesemuanya terdiri dari enam puluh enam kitab. Kitab PL terdiri atau tersusun dari 39 kitab sedangkan di Perjanjian Baru terdiri atau tersusun dari 27 kitab. Susunan buku-buku inilah yang menjadi satu kesatuan dan disebut sebagai Alkitab.
Kitab PL dikenal juga sebagai Kitab Suci Ibrani yang berisi tiga jenis sastra pokok yakni buku-buku kisah, kitab-kitab kenabian dan sastra kebijaksanaan. Ketujuh belas buku pertama, mulai dari Kejadian hingga Ester, sebagian besar berbentuk kisah. Lima buku pertama, yang terdiri dari Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan adalah kitab yang unik dan dikenal dengan nama Pentateukh yang ditulis oleh Musa (dan disebut juga kitab-kitab Musa), menceritakan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan serta pemberian hukum-hukum Allah yang mengatur kehidupan mereka. Bagian selanjutnya adalah kitab-kitab kenabian yang terdiri dari Nabi-Nabi Pendahulu (Yosua, Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-Raja), Nabi-Nabi Kemudian (Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel) yang disebut juga dengan Nabi-Nabi Besar dan kemudian disusul Nabi-Nabi Kecil (dari Hosea Hingga Maleakhi). Tradisi Kristen mencakup Daniel sebagai Nabi-Nabi Kemudian. Kitab-kitab ini memberikan informasi historis yang sangat penting tentang periode-periode yang berbeda dalam sejarah Israel. Sedangkan bagian ketiga adalah Sastra Kebijaksanaan yang terdiri dari Mazmur, Amsal (kata-katanya ringkas tapi tajam), Ayub dan Tawarikh. [4] Kitab suci PL inilah yang menjadi bahan kutipan Yesus di dalam pengajaran-pengajaran-Nya.[5]  
Perjanjian Baru muncul belakangan. Terdiri dari keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) dan Kisah Para Rasul. Tiga Injil pertama di dalam PB sangat unik karena saling mirip satu sama lain sehingga disebut Injil Sinoptik.[6] Kemudian disusul dengan Surat-Surat Paulus kepada Jemaat-jemaat (Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose dan Tesalonika); Surat-Surat Pastoral (Filemon dan Ibrani) serta Surat-Surat Am (Yakobus, Petrus, Yohanes dan Yudas). Kitab ini ditutup dengan Kitab Apokaliptik yakni Wahyu.
Naskah asli dari Alkitab sudah tidak ditemukan lagi. Penyusunan Alkitab modern yang saat ini ada, sesungguhnya berasal dari berbagai terjemahan dan salinan yang ada yang dekat dengan sumber-sumber aslinya. Terjemahan kitab suci Yahudi yang paling awal dikenal dengan nama Septuaginta (atau LXX) yakni terjemahan dari bahasa Ibrani ke Yunani.[7] Terjemahan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan orang Yahudi di seluruh dunia yang sudah tidak bisa lagi berbicara bahasa Ibrani. Terjemahan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi terjemahan sesudahnya, terutama Vulgata (terjemahan dalam bahasa Latin).[8] Sedangkan teks-teks PB berasal dari beribu macam manuskrip yang berasal dari abad ke-4 dan 5 M. Tetapi ada juga penggalan papirus dari abad ke -2 dan ke-3 M. Manuskrip yang lain terdiri dalam perkamen yang dijilid dalam bentuk buku.[9] Walaupun berasal dari salinan yang ada, tidak berarti bahwa hal tersebut mengurangi kredibilitasnya sebagai kitab suci yang akurat. Sebab, masing-masing salinan tersebut dapat dibandingkan satu dengan lainnya.
Gambaran di atas memperlihatkan bahwa sebagai buku yang ditulis oleh lebih dari satu penulis dan ditulis pada zaman yang berbeda-beda, Alkitab menjadi unik. Para penulisnya berasal dari latar belakang budaya, karakter dan zaman yang berbeda. Tetapi hasil karya mereka akhirnya menjadi satu kesatuan yang utuh yang saling menunjang dan saling melengkapi satu sama lain. Itulah sebabnya, Alkitab tidak dilihat sebagai buku yang bisa direkonstruksi berdasarkan masing-masing penulis dan kitab tetapi sebuah buku, yang walaupun ditulis oleh penulis yang berbeda, memiliki kesatuan yang sangat erat. Hal tersebut ditentukan oleh kanonisasi.

C.    Kanon Alkitab
Alkitab hadir di dalam bentuknya yang sekarang karena telah disusun dan disempurnakan menjadi sebuah buku melalui sebuah kanon. Kanon terjadi dua kali, yakni kanon PL dan kanon PB.
Kata kanon berasal dari kata Yunani kanoon yang pengertiannya merujuk pada satu keseluruhan yang sudah final, yang tidak bisa ditambahkan lagi. Asal katanya berarti tongkat besi yang lurus yang digunakan sebagai alat pengukur. Menurut Bruggen, kata kanon baru dipakai pada untuk Alkitab ketika sudah ada kepastian bahwa Kitab-kitab Suci telah lengkap sebagai kumpulan, dan ketika orang berusaha menjaga agar kumpulan itu tidak kemasukan tulisan yang lain yang tidak tergolong didalamnya.[10] Dengan demikian disimpulkan, dalam pemakaiannya terhadap Alkitab, maka kata ini merujuk pada kitab yang sudah dianggap standard, diterima dan berwibawa sebagai firman Allah.
Kanon Alkitab akan memberikan kepada kita wawasan tentang bagaimana ke-66 kitab sebagai isi PL (39 kitab) dan PB (27 kitab), dipandang dan diterima sebagai kitab-kitab suci, yang jumlahnya tidak lebih atau kurang daripada itu. Proses kanon ini sangatlah rumit dan lama. Butuh waktu untuk melakukan pengujian bagi masing-masing kitab untuk menjadi bagian standard Alkitab yang berwibawa. Keberadaannya bukan oleh keputusan manusia, konsili ataupun gereja tetapi dituntun oleh Roh Kudus. Melalui tuntunan tersebut, maka hanya buku-buku yang benar sajalah yang diterima sebagai bagian dari Alkitab. Misalnya, PB yang proses kanonnya memakan waktu puluhan tahun. Pada waktu masa gereja mula-mula, terdapat banyak surat-surat dan pengajaran yang beredar dan dipegang oleh orang Kristen sebagai ajaran. Karangan-karangan itulah yang kemudian dikumpulkan dan disatukan menjadi PB. Tetapi pertanyaannya adalah, mengapa ada surat-surat ataupun karangan yang juga beredar pada waktu itu tetapi tidak ikut di dalam kumpulan 27 kitab PB? Dalam hal inilah kanon memegang peranan yang sangat penting sebagai standard seleksi. Ada lima pengujian terhadap kanon dan itu menunjuk apakah surat-surat tersebut memiliki otoritas rasuli dengan melihat kebenaran dan bukti inspirasi didalamnya; menjelaskan apakah surat-surat atau karangan itu memiliki makna profetis, apakah surat-surat atau karangan-karangan tersebut otentik dan bisa ditelusuri keasliannya, apakah ada sifat dinamis didalamnya dan yang terakhir apakah diterima dan dipakai secara luas oleh orang Kristen atau gereja pada masa itu. Pengujian kanon inilah yang kemudian menyeleksi semua karangan dan surat-surat yang beredar di masa PB menjadi Alkitab PB. Duyverman mengatakan bahwa ada tiga patokan yang dipegang dalam pergumulan gereja saat melakukan kanon PB, yakni apakah kitab itu berasal (langsung atau tidak langsung) dari rasul?; apakah kitab itu dipergunakan oleh umum di dalam gereja?; dan apakah kitab itu tua, didukung oleh tradisi gereja.[11] Bentuk PB yang sekarang ini menurut Groenen adalah hasil dari berbagai perdebatan yang berlangsung antara tahun 300 hingga 350 M dimana ada surat-surat yang diterima dan masih ada surat-surat yang dibantah dan ada sejumlah lain yang ditolak. Tahun 367 M merupakan gambaran final ke-27 daftar kitab suci PB yang diterima melalui susunan yang dibuat oleh Atanasius. Tidak lama berselang, susunan itu diterima oleh umat Kristen di bagian Timur, kemudian tersebar ke Barat dimana Hieronimus ikut berperan didalamnya. Tahun 393 M dan 397 M berlangsung dua konsili di Afrika yakni di Hippo dan Kartago yang menerima dan menetapkan daftar yang sama. Paus Inosentius I pada tahun 419 M juga mengirimkan daftar itu ke Perancis.[12] Dari sanalah mulai berlaku kanon PB.
Bagaimana dengan kanon PL? Kita harus berterima kasih kepada tradisi Yahudi melalui rabi-rabinya yang telah menjaga sedemikian rupa naskah-naskah dan salinan PL yang telah menjaganya selama 3000 hingga 4000 tahun. Naskah-naskah inilah yang beredar dan muncul pada zaman Tuhan Yesus. Pada masa Yesus, kanon PL sebetulnya sudah lengkap.[13] Prosesnya lebih lama dari kanon PB. Proses ini dimulai dengan supremasi Pentateukh (Kitab-kitab Musa) menjelang zaman Ezra pada abad ke-5 SM, ketika banyak orang Yahudi kembali ke Israel dari Babel. Beberapa waktu kemudian Kitab Para Nabi yangmencakup Yosua dan kitab-kitab sejarah diterima secara luas. Menjelang abad pertama M, tulisan tulisan yang terdiri dari 11 kitab dalam kitab suci Ibrani ini diterima secara luas, meskipun dipandang rendah dibandingkan Pentateukh dan Kitab Para Nabi. Keautentikan tulisan-tulisan itu masih diperdebatkan oleh para rabi Yahudi di awal abad ke-1 M. Kitab-kitab lain yang juga ikut diperdebatkan yaitu Yehezkiel (meskipun tidak sampai menggesernya dari daftar final). Menurut Keene, diantara banyak faktor pendukung bagi pemilihan dan seleksi kitab-kitab PL tersebut, beberapa yang penting diantaranya adalah, tradisi bahwa sebuah kkitab dapat ditelusuri kembali dengan Musa; apakah sebuah kitab dapat dikaitkan dengan salah satu dari nabi-nabi Yahudi yang diakui secara luas; apakah sebuah kitab membawa catatan yang jelas tentang kewibawaan rohani; dan apakah sebuah kitab disimpan di Bait Suci di Yerusalem dan karena itu dianggap sebagai suci.[14] Kelompok rabi Yahudi dari Yamnia dipercaya memiliki andil penting di dalam penyusunan akhir kanon PL. Mereka adalah rabi yang mengajar di Yamnia sekitar tahun 90 M. Mereka memutuskan menyingkirkan semua kitab Yahudi yang ditulis dalam bahasa Yunani. Kitab-kitab yang disingkirkan itu dikenal dengan nama apokrifa.[15] Selain keputusan Yamnia, para Bapa Gereja mula-mula, juga sudah menggunakan kitab-kitab kanon PL di dalam surat-surat dan pengajaran mereka.
Kanon Alkitab sebetulnya campur tangan Allah dan bukan pekerjaan manusia. Roh Kudus ikut membimbing para rabi Yahudi, Bapa Gereja dan umat Kristiani untuk menetapkan standard manakah di antara puluhan bahkan ratusan manuskrip yang ada dan beredar di tengah jemaat sebagai firman Allah yang sejati. Kritik yang umumnya ditujukan terhadap kanon ini berpusat pada pembatasan kanon yang dianggap hanya sebatas tulisan yang beredar saja pada waktu itu. Bahkan Wahono mengatakan bahwa tulisan tersebut ‘asal pilih’ saja, sebab keadaan pada zaman itu ikut menentukan. Buku-buku yang tidak hilang dan dirasakan perlu oleh jemaat waktu itu cenderung lolos dalam seleksi.[16] Asumsi tersebut membuat Alkitab kehilangan otoritasnya sebagai firman Allah. Argumen itu ditolak tegas oleh Bruggen yang mengatakan bahwa, penghentian perluasan kanon bukanlah dilakukan oleh gereja. Tuhan melakukan pembatasan terhadap nabi-nabi yang membawa suaraNya dan bahkan membatasi diriNya sendiri untuk hanya memberikan kewibawaanNya hanya kepada generasi para rasul dan para penatua saja.[17]

D.    Inspirasi dan Inerrancy Alkitab
Alkitab sebagai firman Allah adalah salah satu pokok penting yang menjadi kunci mengapa Alkitab disebut memiliki otoritas ilahi. Bukan hanya itu, Alkitab menjadi sebuah penyataan khusus Allah kepada orang percaya yang didalamnya Allah secara pribadi menyatakan diriNya kepada ciptaanNya.[18] Berdasarkan itu, Alkitab bukan hanya sekedar catatan tentang penyataan atau pewahyuan melainkan penyataan/pewahyuan itu sendiri. Itu sebabnya dikatakan bahwa Alkitab adalah pesan Allah dalam bentuk tertulis dan memiliki otoritas yang dinyatakan didalamnya.[19] Bahsen mengatakan bahwa otoritas ini terlihat dari isi pesan rasuli yang mengkhotbahkan Injil (1 Petrus 1:10-12), mereka dibimbing pada kebenaran (Yoh 16:13), berbicara dengan kata-kata yang diajarkan Roh Kudus (1 Kor 2:12-13) dan mengarahkan apa dan bagaimana mengatakan apa yang harus dikatakan (Mat 10:19-20). Melalui kalimat-kalimat tertentu, kita juga dapat melihat otoritas tersebut. Contohnya, Allah berkata, Roh Kudus berkata (Kisah 1:16, 3:24-25, 2Kor 6:16); apa yang Alkitab katakan identik dengan apa yang Allah katakan (Gal 3:8; Roma 9:16). Otoritas yang sama berlaku juga dalam tulisan para rasul (1 Kor 15:1-2; 2 Tes 2:15, 3:14) yang dianggap sejajar dengan PL (3 Pet 3:15-16; Wahyu 1:3) dan juga terdapat dalam kalimat ‘ada tertulis’ (Yoh 20:3).[20]
Untuk bisa sampai dalam bentuknya yang tertulis, penyataan khusus Allah tersebut melalui sebuah proses yang disebut pengilhaman (inspiration) melalui para penulis kitab-kitab di dalam Alkitab dengan pertolongan Roh Kudus. Allah adalah sumber segala sesuatu yang ditulis di dalam Alkitab. Melalui pengilhaman, kita memiliki firman Allah yang ditulis oleh manusia, yang diilhami bukan hanya konsepnya, melainkan dalam setiap kata yang digunakan untuk mengungkapkan konsep tersebut.[21] Menurut Lewis, Roh Kudus bukan saja mengarahkan kepribadian si penulis, tetapi kerangka konseptual dalam pikiran dan juga tulisannya.[22] Oleh sebab itulah maka dikatakan Alkitab tidak dapat salah (innerant).
Dalam bukunya berjudul Systematic Theology, Chaefer mengusulkan ada tujuh teori tentang pengilhaman.[23] Ketujuah teori itu adalah sebagai berikut : §  Teori Mekanis (pendiktean) – Allah mendiktekan tulisan-tulisan kepada manusia (devine author). §  Partial Inspiration – hanya mencakup pengajaran-pengajaran dan perintah perintah yang bersifat doktrinal dan kebenaran-kebenaran yang tidak dapat dimengerti oleh penulis-penulis manusia. §  Degrees of Inspiration (bertingkat-tingkat) – bagian-bagian tertentu di dalam Alkitab mempunyai tingkat pengilhaman yang lebih tinggi daripada yang lain. §  The Concept and not The Words Inspiration – Allah hanya memberikan konsep atau ide-ide, sedangkan penulis manusiawi mengungkapkannya dalam bahasanya sendiri. §  Natural Inspiration – orang-orang tertentu yang mempunyai pengetahuan rohani yang luar biasa, memiliki kemampuan sebagai bawaan secara alamiah, lalu kemudian menulis Alkitab. §  Mistical Inspiration – setiap orang Kristen bisa menulis Alkitab dengan kekuatan Allah secara khusus. Allah bekerja di dalam mereka §  Verbal and Plenary Inspiration (Pengilhaman kata demi kata dan secara menyeluruh) - Dengan pengilhaman kata demi kata, berarti bahwa tulisan tulisan asli Alkitab, Roh Kudus menuntun dalam pemilihan kata-kata yang dipakai. Karakter dari penulis dan kosa kata mereka gunakan, tetapi tanpa kesalahan
Berdasarkan ketujuh teori itu, maka yang paling tepat mendukung inerrancy adalah pengilhaman verbal dan lengkap. Menurut Tindas, pengilhaman secara menyeluruh berarti bahwa keakuratan sebagaimana terjamin dalam pengilhaman secara verbal, diperluas kepada setiap porsi Alkitab sehingga tiap bagian Alkitab tak dapat keliru dalam hal kebenaran dan menentukan dalam hal kewibawaan ilahi.[24]
Kendati demikian, sifat inerrancy Alkitab ini tidak begitu saja diterima secara luas dikalangan teolog, terutama mereka yang menganut faham liberal dengan high criticism-nya.[25] Kalangan ini menilai bahwa Alkitab tidak jauh berbeda dengan buku-buku lain dan isinya tidak semuanya mengandung firman Allah, sehingga perlu diteliti lebih lanjut manakah  yang benar-benar merupakan firman Allah dan mana yang tidak. Pendekatan seperti ini terhadap Alkitab dikenal dengan kritik historis. Menurut Linnemann, kritik historis dilatarbelakangi oleh keraguan terhadap Alkitab sehingga perlu diperiksa kembali kebenarannya. Keraguan itu tercipta karena telah muncul banyak perubahan dalam hal sosial, politik, perkembangan ilmu pengetahuan dan pengaruh filsafat.[26] Metodologi kritik ini dimulai dengan pra-anggapan negatif. Artinya, Alkitab diragukan sebagai firman Allah sampai itu bisa dibuktikan kemudian. Pendekatan yang digunakan oleh para teolog dalam faham ini bukan berpijak pada iman melainkan pada keragu-raguan. Bagian-bagian Alkitab akan dibuang kalau tidak dapat dijelaskan secara rasional. Akibatnya, derajat Alkitab sebagai buku yang berwibawa dan berisi firman Allah, direndahkan. Alkitab menjadi objek kritik dan penelitian sejarah, sebab bagi kritik historis, Alkitab adalah buku yang sedikit berbeda dan bahkan tidak lebih suci dari buku-buku lain. Kemunculan kritik historis ini tentu saja menjadi tantangan bahkan dapat menjadi sebuah ancaman bagi pengajaran Alkitab yang benar dan kehidupan iman orang percaya. Maka untuk menghadapi hal-hal semacam ini perlu ditekankan kembali bahwa sifat inerrancy Alkitab itu sesungguhnya tidak berasal dari manusia. Alkitab membuktikan dirinya sendiri bahwa dirinya berwibawa dan memiliki otoritas Ilahi.[27] Di dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menegaskan satu pokok penting tentang pembahasan ini. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”.[28] Menurut Kennedy, kita mengetahui Alkitab adalah firman Allah karena Allah sendiri berkata demikian. Kennedy mencontohkan, penugasan Musa, nabi-nabi dalam PL, semua adalah perintah untuk mencatat firmanNya. Frasa “Yang difirmankan Tuhan” atau “Allah berfirman atau berfirmanlah Allah” muncul dua ribu kali dalam PL. Bahkan Yesus sendiri meneguhkan bahwa kitab suci adalah firman Allah.[29] Demikian juga dengan rasul-rasul, meneguhkan kebenaran Alkitab sebagai firman Allah yang berwibawa.[30]
Persoalan lain yang sering muncul dikalangan teolog adalah soal inerrancy manakah yang diikuti, apakah terhadap teks asli (autographa) atau terhadap salinannya atau kedua-duanya. Ada dua kubu pendapat ahli mengenai persoalan tersebut. Satu kubu yang mendukung inerrancy salinan seperti Philo (mempostulatkan inspirasi septuaginta), Paus Sixtus V (vulgata adalah kitab suci otentik yang terinspirasi), Hollaz, Quensteft dan Turretin (transmisi teks asli kitab suci tidak mengandung kekeliruan), Augustin dalam suratnya kepada Jerome (mempertanyakan apakah teks atau penyalin yang keliru atau saya yang tidak mengerti?). Kubu yang lain yang menolak ide inerrancy autographa seperti Smith (doktrin inerrancy autographa terlalu spekulatif, karena menyangkut teks yang telah lama tiada dan hampir mustahil dapat ditemukan kembali), Briggs (autographa tidak pernah kita lihat atau miliki, seandainya betul terinspirasi, apa gunanya bagi kita?), Koster (tidak seorangpun dapat menggunakan autographa yang telah hilang, sehingga Alkitab yang dimiliki gereja saat ini semuanya tidak inerrant dan tidak infallible.[31] Terhadap masalah ini, Bahsen mengatakan nilai suatu salinan sebanding dengan derajat ketepatan refleksi autographa. Deviasinya sendiri akan merusak instruksi doktrin dan arah hidup yang benar.[32] Itu sebabnya dalam uraian Bahsen terdapat sejumlah argumentasi teologis yang menekankan bahwa Alkitab sebagai sebuah salinan memiliki refleksi teologis tehadap teks autographa itu sendiri sehingga tidak perlu diragukan sifat inerrant-nya. Keabsahan salinan dan otoritas utama autographa disatukan dalam rumus PB melalui frase ‘ada tertulis’ (disebutkan 73 kali dalam Injil) sudah memberikan arti bahwa apa yang dulu tertulis demikian pula sekarang tertulis.[33] Dengan demikian, meskipun yang kita terima saat ini hanyalah hasil dari salinan (karena autographa tidak pernah ditemukan) kita tetap percaya bahwa salinan demi salinan itupun punya sifat inerrant. Inetagritas manuskrip-manuskrip awal telah dikonfirmasi oleh sejarah, arkeologi modern dan ilmu pengetahuan. Sejumlah besar catatan kuno yang konsisten ditemukan dalam Gulungan Laut Mati. Catatan kuno itu identik dengan Alkitab bahasa Ibrani saat ini.[34]

E.     Penutup
Memahami Alkitab sebagai firman Allah yang innerant atau tidak, sangat ditentukan oleh bagaimana penerimaan kita terhadap Alkitab itu sendiri. Jika kita mempercayainya sebagai firman Allah yang hidup, berwibawa dan memiliki otoritas, maka dengan sendirinya prinsip inerrancy Alkitab diterima. Demikian sebaliknya.
Sekalipun serangan terhadap Alkitab selalu ada disepanjang sejarah kehidupan manusia, jika diamati, maka berbagai serangan itu sebetulnya hanya bersifat pengulangan dari apa yang pernah berlangsung di masa lampau. Melalui serangan demi serangan tersebut, Alkitab justru telah mampu membuktikan kehandalan dirinya di sepanjang sejarah umat manusia. Sifat ilahi yang dibawanya sejak proses pembentukannya di dalam kanon bahkan jauh ke belakang, saat penulis penulisnya mulai menggoreskan pena dalam proses pengilhaman, telah membuat Alkitab tahan uji dan membela dirinya sendiri. Hal itu membuktikan bahwa Alkitab memiliki otoritas dan kewibawaan yang tak tergoyahkan sebagai sebuah firman Allah.

Daftar Pustaka
Bruggen, Jacob van. Siapa Yang Membuat Alkitab. Surabaya: Momentum, 2008.
Chaefer, Lewis Sperry. Systematic Theology. Texas: Dallas Seminary Press, 1980.
Duyverman, Drs. ME. Pembimbing Ke Dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK, 2006.
Geisler, Norman dan Ron Brooks. Ketika Alkitab Dipertanyakan. Yogyakarta: Andi, 2006.
Groenen OFM, Dr. C. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
Keene, Michael. Alkitab – Sejarah, Proses Terbentuk dan Pengaruhnya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006.
Kennedy, James D. Bagaimana Jika Alkitab Tidak Pernah Ditulis. Jakarta: Interaksara, 1999.
Lewis, Gordon R.. “The Human Authorship of Inspired Scripture” dalam Norman L. Geisler (Ed.), Inerrancy. Michigan: Zondervan, 1980.
Linnemann, Prof. Dr. Eta. Teologi Kontemporer. Batu Malang: PPII, 2006.
Muncaster, Ralph O. Benarkah Alkitab Merupakan Pesan dari Tuhan? Jakarta: Gospel Press, 2002.
Pache, Rene. The Inspiration and Authority of Scripture. Chicago: Moody Press, 1977.
Tindas, Dr. Arnold. Inerrancy – Suatu Kajian Induktif dengan Pendekatan Tekstual – Gramatikal – Historikal. Jakarta: HITS, 2005.
Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 2008.
Wahono, Wismoady. Disini Kutemukan. Jakarta: BPK, 2000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar