Selasa, Agustus 27, 2013

KESAKSIAN HOLYLAND AGUSTUS 2013


Oleh : Ps. Sonny Zaluchu
·      Penulis Buku HOLYLAND – Jejak Kaki Tuhan di Tanah Suci

SAYA tiba kembali dengan seluruh rombongan dengan selamat di tanah air, tepat pada tanggal 21 Agustus 2013. Meski kelelahan, di dalam diri peserta saya melihat sukacita telah menyelesaikan perjalanan ziarah ini dengan indah dan tuntunan Tuhan yang selalu nyata dalam setiap rute atau perjalanan, dari berangkat hingga pulang kembali ke Indonesia. Perjalanan 12 hari yang dimulai tanggal 9 Agustus lalu sungguh merupakan perjalanan iman dan perjumpaan dengan Tuhan.

Membatalkan atau Tetap Nekad Berangkat?
Dua minggu sebelum keberangkatan, larangan keberangkatan dan perjalanan menuju Mesir sudah dikeluarkan oleh berbagai negara dan diketahui semua peserta. Situasi politik di Mesir sudah memperlihatkan tanda-tanda ketidakstabilan dan kekacauan. Tapi tidak ada pilihan lain. Perubahan dengan mengundurkan jadwal keberangkatan tidak memungkinkan karena itu adalah situasi lebaran dan semua jadwal penerbangan ke Timur Tengah, penuh. Maka ada dua pilihan. Membatalkan seluruh keberangkatan dan disebut sebagai force majeur (dengan seluruh resikonya, yaitu duit tidak kembali semuanya karena telah dipotong biaya-biaya) atau tetap ‘nekad’ berangkat pada tanggal yang telah ditetapkan (dengan resiko menghadapi situasi buruk di Mesir). Rute perjalanan ini adalah 2 hari di Mesir dan memasuki Israel dari terminal Taba (border imigrasi Israel-Mesir), yang dijangkau dari Kairo lewat wilayah Sina’i. Semua peserta yang dihubungi menyatakan pilihannya, tetap dengan jadwal yang ada dan membawa masalah ini dalam doa pribadi masing-masing. Hati sayapun tenang. Saya tersenyum. Kadang berhadapan dengan orang Kristen Indonesia, susah membedakan antara iman dan nekad. Seorang teman saya di belahan negara lain ikut mengatakan kami nekad dengan keputusan itu. Waktu hal itu saya ungkap di depan peserta, mereka memberikan respon beragam tetapi pada umumnya ikut tersenyum. Belakangan memang ketahuan bahwa saat kami tiba di Bandara Internasional Cairo, sama sekali tidak ada wisatawan manca negara di bandara, yang biasanya terlihat antri di masa liburan seperti ini. Tahun lalu di bulan yang sama, rombongan kami antri 1 jam hanya untuk antri di imigrasi bersama wisatawan dari Asia lainnya. Kali ini, sepi ! Kecuali orang-orang Mesir sendiri yang kembali ke nagara mereka. Rasa was-was itu tetap ada…tapi saya percaya kalau Tuhan ijinkan group ini berangkat, maka Dia akan campur tangan.

Pengalaman di Mesir
Saya percaya ini tidak kebetulan. Pasti Tuhan telah memberikan hikmat waktu menetapkan tanggal ziarah. Jika berangkat dari Indonesia tanggal 9 Agustus pagi maka akan tiba di Mesir tanggal 9 Agustus sore dan itu bertepatan dengan perayaan Idul Fitri ! Setiba di Bandara Cairo, pertanyaan pertama kepada Agent yang menjemput kami di sana adalah: “Bagaimana situasi di Kairo?” Dia jawab sederhana: memang tidak bisa diprediksi tetapi ini masa Idul Fitri dan sampai dua tiga hari ke depan, semua pasti aman karena banyak orang menghormati perayaan ini. Disitu saya ingat, bahwa Tuhan ikut mengatur perjalanan ini. Tidak kebetulan bahwa kami memasuki Mesir pada waktu Idul Fitri berlangsung. Karena sudah sore, maka kami langsung di antar ke wilayah Piramid tempat hotel kami berada, Le Meridien Piramid Hotel. Kami melewati malam itu dengan ucapan syukur pada Tuhan akan pemeliharaan-Nya.

Keesokan harinya kami melakukan ziarah ke Bukit Muqatam. Peserta dilawat Tuhan dalam ibadah di gereja tersebut. Saya dapat anugerah. Tiba-tiba bisa bertemu dengan Abuna Shamean, pendiri dan gembala dari gereja tersebut yang memang agak susah dicari dan ditemui. Tetapi ini rupanya yang Tuhan rancang. Di tengah suasana pemuridan yang penuh peserta, saya diajak bertemu Abuna Shamean dan luar biasa bisa bertemu muka dengan hamba Tuhan bersahaja, suka menyendiri doa di gurun, dan dikenal dengan doanya untuk mujizat.  Di sebelah kiri di jalan turun menuju gereja terdapat satu ruangan tempat kruk, alat banju jalan dan kursi roda yang tiap saat bertambah dan ruang itu sudah penuh sesak. Orang-orang yang dulu menggunakannya sudah tidak memerlukan lagi. Banyak kesembuhan dan mujizat terjadi di sini. Saya seperti melihat wajah Tuhan. Saya bertemu dengan dia, beliau bertanya siapa saya dan bagaimana pelayanan di Indonesia. Kemudian tibalah sata yang ditunggu. Dia berdoa menumpangkan tangan di atas kepala sambil memerang Salib dan memberikan pengurapan dengan minyak. Saya merasakan sesuatu yang berbeda saat itu. Seperti ada tenaga dan panas di sekujur tubuh saat beliau berdoa dengan Bahasa Arab dan diterjemahkan oleh guide saya yang juga adalah seorang Koptik. Wah, luar biasa pengalaman ini. Berjalan keluar dari gua tempat dia mengajar seperti memakai sesuatu yang tidak kelihatan di sekujur tubuh. Demikianlah, sepanjang hari itu, kami berhasil menjalani semua rute tanpa masalah apapun. Masih satu hari Tuhan….(belakangan saya dikabari bahwa sejak sore sudah mulai terjadi pengumpulan masa di daerah sekitar hotel tetapi informasi ini tidak disampaikan ke peserta).

Hari terakhir di Mesir. Pagi yang indah. Setelah melakukan tour ke beberapa tempat, kami pun meninggalkan Mesir menuju Sinai untuk mendaki Gunung Sinai dan masih menginap satu malam di kaki Sinai sebelum akhirnya menuju border. Karena situasi Idul Fitri kami putuskan melalui jalur tengah lewat kota pantai laut Merah Sharm El Sheik yang tidak melelahkan. Polisi yang mengawal di bus juga menyetujui dengan ketentuan, local guide kami harus setiap saat update posisi kami di jalan hingga tiba di Sinai. Tentu saja saya agak takut melewati jalan ini, tetapi itu salah satu rute terpendek. Saya menyimpan itu semua dalam hati dan berdoa agar Tuhan menjaga perjalanan di gurun, tepatnya di Sinai bagian Utara. Tuhan menjawab doa. Kami tiba di kaki Sinai menjelang malam (masih sore) dan perjalanan yang jauh itu berjalan dengan lancar. Tidak terlalu banyak stop untuk pemeriksaan keamanan, tidak konvoi dan bus melaju dengan baik. Lagi-lagi Tuhan menyertai. Malamnya beberapa peserta naik ke puncak Sinai dan ada yang memilih tidur.  Saya ingat satu halluar biasa terjadi di Mara. Saat group berdoa, di tempat dimana Allah menyatakan perjanjianNya dengan Israel mengenai Allah yang menyembuhkan, disitu seorang anggota Polisi yang ikut rombongan ziarah disembuhkan seketika mata sebelah kanannya yang sakit dan selama ini tak tersembuhkan. Satu tanda kehadiran Tuhan yang luar biasa.

Keesokan harinya, perjalanan menuju Taba Border juga berjalan singkat dan sangat lancar. Semua urusan di Imigrasi Israel berlangsung dengan cepat. Kami kebetulan berpapasan dengan penduduk Israel yang baru pulang dari liburan di tempat wisata di wilayah tersebut. Sedikit banyak, keberadaan mereka yang ‘menumpuk’ di perbatasan telah memperlancar proses kami memasuki Israel. Bus dan Local Guide yang mengurus kami selama di Israel sudah menjemput dan akhirnya saya tiba lagi di tanah perjanjian.  Waktu itu tanggal 11 Agustus, sore hari, bus kami naik ke kota Jerusalem disambut oleh cahaya keemasan matahari sore di kota damai itu. Hati ini rasanya tenang dan penuh damai memasuki kembali kota Jerusalem, kota Tuhan yang luar biasa di sepanjang sejarah manusia. Mata ini berair dan hati terharu merasakan kasih Tuhan. Kami langsung masuk hotel dan saya langsung menyalakan TV mencari informasi terkini di CNN. Betapa terkejutnya menyaksikan bahwa beberapa jam setelah kami meninggalkan Kairo menuju Sinai, kekacauan dan kerusuhan yang lebih besar melanda seluruh wilayah Mesir termasuk daerah sekitar hotel yang diblokade oleh massa. Seperti kita tahu bahwa pemerintah Mesir mengeluarkan keadaan darurat dan pemberlakukan jam malam. DI titik itu saya bersujud mengucapkan terima kasih pada Tuhan bahwa semua hal tersebut dilalukanNya di belakang kami ! Peserta yang mengetahui hal ini juga memberikan respon ucapan syukur yang tak teringga atas penjagaan Tuhan. Rupanya, kami adalah group terakhir wisatawan yang meninggalkan Mesir sebelum kekacauan dan kerusuhan berlangsung. Terima kasih Tuhan…. Saya ingat, selama berada di Mesir, saya selalu mengucapkan doa yang sama siang dan malam. Tuhan, seperti Engkau menjaga anak-anak Yakub, demikian aku percaya Engkau juga menjaga kami. Saya membaca keras-keras ayat ini. “Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar (Kejadian 35:5).” Kini saya mengerti arti ayat itu setelah mengalami sendiri bagaimana Tuhan melakukan hal serupa dalam group ziarah yang saya pimpin.

Naik lagi ke Golden Gate
Hal kedua yang istimewa berlangsung di Israel. Entah kenapa seluruh pelataran di wilayah Timur Dome of The Rock sepi sekali saat berkunjung ke bekas lokasi Bait Allah. Local guide yang memang dekat dengan saya, langsung bertanya, “Abuna, mau naik lagi?” Saya sudah tahu arah pertanyaan itu. Saya mengiyakan tanpa menunggunya bertanya dua kali. Maka terjadilah, untuk ketiga kalinya, saya diijinkan Tuhan naik lagi ke atas puncak gerbang Golden Gate yang selalu tertutup itu. Di atas Golden Gate itu saya berdoa dan kemudian dengan cepat turun bergabung dengan rombongan. Mengapa Golden Gate menjadi sangat penting bagi saya? Ketika naik pertama kali di atas gerbang emas itu, Tuhan memberika visi untuk membangun gereja di Semarang. Itulah sebabnya nama gereja itu saya namakan Golden Gate Community Church (G2CC). Dan visi itu tidak main-main. Seluruh biaya pembangunan dan isinya, telah Tuhan sediakan seiring dengan perjalanan melangkah di dalam membangunnya, selama setahun ini. Bahkan pembayaran uang pembangunan yang semula diperkirakan dalam dua belas bulan, telah mampu dilunasi dalam waktu delapan bulan saja. Isinya? Tuhan sediakan dengan begitu indah, padahal serah terima bangunan baru akan dilakukan akhir bulan Agustus 2013 ini. Kedua kali naik Golden Gate Tuhan memberikan arahan profetik yang sangat kuat dan itu juga terjadi. Maka ketika naik yang yang ketiga kalinya di dalam group ini, saya percaya, pasti ada sesuatu yang luar biasa lagi yang akan Tuhan kerjakan. Aku ingat pesan profetik yang sangat kuat yang ditulis nabi Zakaria: Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Allah menyertai kamu!" (Zak 8:23). Di atas Golden Gate itu aku berdoa memateraikan keselamatan bangsaku dan memataraikan G2CC dengan tempat itu, yang dipercaya sebagai tempat Mesias akan melaluinya saat Dia datang.

Berkat Jerusalem
Saya selalu mendambakan Jerusalem Blessing. Seperti pemazmur katakan: Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem (Maz 122:1-2). Dalam pandangan iman yang saya miliki, Jerusalem Blessing adalah berkat yang hanya ada dan diterima di Jerusalem, kota Tuhan dimana Ia menyatakan janji bahkan diriNya di tengah manusia. Tuhan telah memilih kota itu sebagai jembatanNya untuk tiba dan berkarya menebus dunia. Sebuah kota kecil di puncak pegunungan Yehuda. Saya jadi ingat tulisan seorang Rabi yang mengatakan bahwa kota itu adalah sebuah Jembatan Menuju Tuhan (Gesher Tsar Me’Od). Disanalah dinyatakan berkat leluhur bagi Abraham dan keturunan jasmani dan saya sebagai keturunan rohani melalui iman kepada Yesus Kristus. Berkat itum Jerusalem Blessing, berkat bapa Abraham, bapa Ishak dan bapa Yakub. Tiap kali ke kota ini, berkatku dibaharui J Tuhan memberkati

------
Dapatkan buku tentang situs-situs Alkitab
HOLYLAND: Jejak Kaki Tuhan di Tanah Suci
180 halaman warna
16 x 23 cm
Berisi: Arkeologi, Foto, Penjelasan dan Refleksi tempat-tempat suci Alkitab di Mesir, Israel dan Jordania
Harga Rp. 125.000 (+ ongkos kirim)
Pemesanan di 081.32.585.4343 atau gloryofgodmin@gmail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar