Rabu, April 23, 2008

PELAJARAN DARI BIJI SESAWI

Pendahuluan
Kalau kita pergi ke Israel dan masuk ke dalam toko souvenir kita perlu berhati-hati soal yang satu ini; biji sesawi. Karena, apa yang terjual di sana, seringkali berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus di dalam perumpamaannya tentang biji sesawi. Memang, banyak toko menjual souvenir biji sesawi tetapi dari jenis yang berbeda. Pada umumnya, biji sesawi yang dijual adalah seukuran kacang ijo dan berwarna kuning. Itu ada sesawi India. Tetapi yang Yesus maksudkan di dalam ayat di atas adalah sesawi hitam (Sinapis Nigra) yang bijinya jauh lebih kecil dan berwarna hitam. Saya membawa pulang ke Indonesia cukup banyak setelah beberapa hari memesannya melalui seorang teman, penduduk asli Israel, sebab tumbuhan jenis ini sudah jarang dijumpai di kota dan hanya terdapat di pedesaan. Gambar di samping kanan ini memperlihatkan biji sesawi yang asli setelah saya ambil gambarnya menggunakan lensa makro. Jika dibandingkan, maka akan terlihat ukuran dari sesawi asli, jauh lebih kecil daripada biji sesawi yang umum dijual sebagai souvenir. Biji sesawi asli diameternya paling besar adalah 1 (satu) mm.

Tanaman sesawi tergolong sebagai tanaman sayuran yang tumbuh di daerah Galilea. Secara biologis, dari biji sekecil itu, dapat menghasilkan tanaman yang tingginya mencapai 5 meter. Tetapi pada umumnya tanaman ini rata-rata mencapai ketinggian 1.3 meter saat dewasa. Artinya, lebih besar dari ukuran sayuran manapun. Pada waktu zaman Yesus, biji ini banyak ditanam dan tumbuh dengan cepat untuk tujuan menghasilkan minyak dan keperluan memasak. Ini adalah tanaman yang umum ditemui dan sangat dekat dalam keseharian orang-orang pada masa itu.

Kecil Menjadi Besar
Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh,sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Matius 13:31-32

Dari ayat tersebut di atas, makna pertama tentang perumpamaan biji sesawi adalah makna kecil yang menjadi besar. Dalam pengertian ini, Yesus mengatakan bahwa “memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Melalui ayat tersebut, Yesus ingin melukiskan kepada murid-muridNya dan juga kepada kita semua bahwa sesutu yang kecil pada awalnya, dapat tumbuh menjadi sesuatu yang besar. Dari biji seukuran itu, dapat dihasilkan sebuah “pohon” sayuran yang besar sehingga burung-burungpun mampu membangun sarang di ranting-rantingnya. Dengan kata lain, kita tidak boleh mengabaikan sesuatu yang kecil, sekecil apapun, sebab dari sanalah hal-hal besar akan lahir dan tercipta. Apa sebetulnya maksud Yesus akan hal tersebut?


Manusia punya sebuah kecenderungan alamiah untuk mengabaikan hal-hal kecil. Pengabaian ini membuat manusia menganggap remeh apa yang “kecil” di dalam pandangan mata dan pikirannya. Ingat pengalaman seseorang yang kebagian satu talenta? Dirinya beranggapan bahwa dia tidak punya cukup banyak untuk berusaha sehingga memendam talenta itu ke dalam tanah. Alkitab mencatat, hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. (Matius 25:18). Pada waktu pembagian talenta terjadi, dia menyaksikan bahwa temannya masing-masing mendapatkan lima dan dua talenta sementara bagiannya cuma satu. Ada satu hal penting yang sering kali luput dari perhatian kita. Tuan memberikan talenta itu pada hambanya masing-masing menurut kesanggupannya (Matius 25:15). Artinya, setiap orang punya ukuran dan kapasitas. Tetapi, tidak setiap orang memahami ukuran dan kapasitas dirinya. Kebanyakan dari kita merasa mampu melakukan hal-hal yang sebetulnya melebihi kapasitas dan kemampuan kita. Coba lakukan tes lakmus berikut ini pada orang lain. Sewaktu berjumpa dengan seorang wanita yang badannya gemuk, perkatakan hal yang sebaliknya, memuji betapa saat ini dia sudah bertambah langsing. Bagaimana kalau anda jujur dengan kondisinya dan berkata dengan serta merta betapa sekarang dia tambah gemuk dan penuh dengan lemak? Anda akan mendapati respon yang berbeda. Atau diri anda sendiri, secara natur, lebih suka jika diukur melebih kenyataan yang sebenarnya. Pada dasarnya wajah dan penampilan anda (maaf) kampungan. Waktu seseorang mengatakan hal yang sebenarnya, tentu anda akan sangat sengit, karena anda mengharapkan komentar yang sebaliknya dan dipuji sebagai ganteng, metroseksual dan mengikuti zaman. Ini artinya tidak tahu diri.

Manusia, cenderung mengukur dirinya lebih dari kenyataan yang ada. Maka ketika berhadapan dengan hal-hal yang kecil, yang muncul adalah sikap menganggap remeh dan mengabaikan. Inilah yang ada di dalam pikiran hamba yang menerima satu talenta. Dia lupa bahwa persoalannya tidak terletak pada banyak tidaknya (kuantitas). Talenta adalah sebuah modal. Biji sesawi, sebesar apapun, adalah sebuah modal. Keduanya disebut benih ! Seringkali kita lupa dan beranggapan bahwa, kita baru ‘memiliki’ sesuatu jika apa yang ada di dalam tangan kita adalah besar dan banyak. Saya suka berkata kepada anak-anak rohani bahwa untuk menjadi kaya atau miskin, tidak terletak pada apa yang ada di dalam tanganmu dari segi jumlah melainkan bagaimana pikiranmu mengolah itu menjadi sebuah benih yang akhirnya tumbuh besar (atau berlipat ganda). Kaya atau miskin, adalah soal mentalitas. Yesus mengajarkan secara ekstrim pada kita bahwa jangan mengabaikan hal-hal kecil yang menurut pandangan mata dianggap sepele dan tidak berbobot. Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi besar di dalam bisnis, karir ataupun pelayanan. Kita semua boleh menjadikannya sebagai impian yang motivasional.

Tetapi, kita harus ingat bahwa, sesuatu yang besar, dimulai dari hal-hal kecil. Kita perlu bersyukur dan mulai menghargai, apa yang kecil yang sedang ada di dalam genggaman tangan kita, hari-hari ini. Pelayanan yang kecil, akan menjadi besar dan berdampak jika kita setia dan memelihara benih itu. Biji sesawi yang kecil itu akan tumbuh menjadi pohon sayur terbesar jika dipelihara dan dijaga tetap tumbuh. Mari kita meneladani perumpamaan tersebut dengan mulai setia pada hal-hal kecil dan tidak mengabaikannya. Dari yang kecil, seperti biji sesawi, sesuatu yang besar akan tumbuh. Kalau kita mau melihat pelayanan, karir dan bisnis menjadi besar, maka kita perlu mengubah sikap hati kita tentang sesuatu yang kecil atau yang sedikit. Pepatah berkata, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Orang dunia mengetahui hal tersebut dan Yesus mengajarkan hal yang sama kepada kita.

Iman Perseorangan
Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu (Matius 17:20).

Hal kedua yang sangat penting tentang perumpamaan biji sesawi adalah tentang ukuran iman dan iman yang dimaksud adalah iman perseorangan (bukan kolektif). Saya pernah mendengar kiasan bahwa masih sering dipakai hingga sekarang orang anak-anak muda yang tengah jatuh cinta, bahwa cinta mengalahkan segala sesuatu. Orang yang jatuh cinta dapat lompat pagar dengan energi yang besar, dapat makan dengan nikmat sekalipun tanpa lauk atau terbuai di awan-awan tanpa merasakan cuaca panas atau dingin demi sebuah pertemuan. Cinta dapat menggerakkan sebuah kekuatan potensial yang ada di dalam diri manusia, tetapi hanya sebatas jiwa dan efek psikologi. Ada hal lain yang bisa mengubah materi, melampauhi jiwa dan batasan psikologi, yang melaluinya hal-hal yang mustahil dapat terjadi. Firman Tuhan katakan, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah (Matius 17:20). Bukankah hal ini luar biasa? Sesuatu yang mustahil dapat terjadi. Coba dibayangkan, perkataan Yesus tersebut bila diterjemahkan secara harafiah, maka gunung sebesar Gunung Merapi, dapat ditenggelamkan dan dibuang ke dalam laut. Dunia tidak memerlukan Superman atau Hulk. Bahkan tidak memerlukan David Copperfield. Apa yang kita butuhkan, seperti dikatakan di dalam ayat itu, hanyalah sebuah iman dan iman tersebut adalah iman yang terukur. Besarnya, seukuran biji sesawi. Dapatkah kita memilikinya? Atau pertanyaan lainnya, jika saya sudah memilikinya, mengapa gunung belum bisa saya pindahkan ke laut? Ada beberapa hal yang sangat penting yang menjadi bahan pembelajaran bagi kita soal perkara ini.

Pertama, iman seukuran biji sesawi adalah seruan bagi setiap orang percaya agar terus memperkokoh dan mempertebal imannya di dalam menghadapi berbagai situasi sulit selama hidup di dunia ini. Iman seukuran biji sesawi adalah target yang harus kita capai. Dalam konteks ini, sebetulnya Yesus tidak sedang berbicara tentang ukuran, melainkan hasil dari iman yang kuat dan kokoh dan terus menebal, sehingga apa yang tidak mungkin, menjadi mungkin terjadi. Dunia dan berbagai fenomena yang ada di dalamnya dapatlah setiap saat mereduksi iman percaya kita kepada Tuhan. Ingat, kalimat pertama yang keluar dari mulut Yesus, adalah karena kamu kurang percaya. Melalui berbagai perkembangan pengetahuan, kekuatan dan kepercayaan diri manusia, kita dapat di bawa ke sisi rasionalitas yang berseberangan dengan wilayah iman (yang tidak rasional itu). Tetapi toh pada akhirnya manusia dan segenap kemampuannya menjadi terbatas. Ketika keadaan semakin buruk dan tidak terkendali, usaha manusia gagal, muncul ketakutan dan kekuatiran. Yang namanya kepercayaan, memang tidak memiliki argumentasi rasional. Yesus mau mengajarkan kepada kita hal yang sangat penting bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan ketidakpercayaan ujung-ujungnya adalah pikiran kemustahilan. Sebaliknya, kepercayaan adalah energi potensial yang mampu menggerakkan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang dalam kasus tersebut dikontraskan Yesus melalui pemindahan gunung ke laut. Jadi yang Yesus maksudkan adalah percaya yang dibangun atas dasar iman. Hal-hal inilah yang jika dibaca di dalam Injil, menghasilkan kesembuhan, membangkitkan orang mati dan menggerakkan kemustahilan. Firman Tuhan katakan, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" (Yohanes 11:40).

Kedua, iman sebesar biji sesawi bicara tentang ukuran benih iman manusia, yang harus tumbuh sebesar biji itu. Iman perlu dilihat di dalam konteks pertumbuhan. Dengan demikian iman haruslah diusahakan agar mencapai standar yang sudah Tuhan tetapkan. Perkataan Yesus tentang, sekiranya kamu mempunyai iman, bicara tentang kepemilikan secara pribadi. Kita diajak untuk memiliki iman pribadi dan tidak perlu bergantung pada iman orang lain. Untuk itu, iman tersebut harus dipelihara, dibangun dan kuat dari dalam. Itulah yang disebut iman yang tumbuh. Iman manusia menjadi sempurna bentuk atau ukuran atau kapasitasnya ketika Allah melihat bahwa bagianNya sudah cukup untuk melengkapi apa yang telah diusahakan manusia. Manusia perlu melibatkan Allah untuk mengejar pertumbuhan imannya. Murid-murid pernah berkata kepada Yesus, "Tambahkanlah iman kami!" (Lukas 17:5). Kitapun dapat melakukan hal yang sama dan meminta kepadaNya campur tangan, supaya iman yang kita usahakan tumbuh itu, bertambah besar mencapai ukuran yang dikehendaki Allah. Ada dua dimensi; dimensi pertumbuhan (yakni melibatkan Allah di dalam pertumbuhan) dan dimensi penyempurnaan (campur tangan Allah di dalam bentuk terakhir). Seperti permainan puzzle, penyempurnaan Allah adalah keping terakhir yang perlu dipasang sehingga permainan tersebut usai dan sempurna. Kepingan terakhir tidak akan pernah bisa ditambahkan sebelum semua elemen gambar tersusun. Jadi iman bisa sesawi adalah iman yang disempurnakan Allah (a) dalam pertumbuhan dan (b) dalam ukuran akhir, setelah manusia ‘menyusun’ atau ‘menumbuhkan’ imannya sendiri dan Allah melengkapinya sebagai tindakan penyempurnaan. Pada titik inilah kita melihat ‘gunung itu berpindah ke laut’.

Kita perlu meneladani Stefanus, seorang yang Alkitab katakan (Kisah 6:5), bukan saja penuh Roh Kudus, tetapi juga penuh dengan iman (a man full of faith – KJV). Ternyata, kepenuhan Roh Kudus adalah hal yang berbeda, dengan kepenuhan iman. Kalau biji sesawi secara harafiah menjadi ukuran pertumbuhan iman, maka kita perlu bertumbuh sampai ukuran itu terpenuhi. Kepenuhan iman adalah kepenuhan karena iman manusia yang lemah, ditumbuhkan dan disempurnakan oleh Allah.
Tuhan memberkati kita semua ! ***