Kamis, April 10, 2008

TANGAN YANG TERANGKAT PADA TUHAN

Suatu ketika, bangsa Israel diperhadapkan pada keadaan yang sulit dan terjepit. Gerak maju mereka terhambat. Di depan sudah tidak ada jalan. Laut Merah yang dalam siap menelan rombongan eksodan itu. Bertahan di tempat atau mundur, juga tidak mungkin. Dari arah belakang, kepulan debu dan derap kaki kuda terlihat nyata dan begitu dekat. Militer Mesir sedang melakukan pengejaran untuk memaksa dengan kekuatan senjata rombongan ini kembali ke Mesir. Musa dan bangsa Israel mendapatkan dirinya terjebak, antara si jahat Mesir dan laut yang siap menenggelamkan mereka. Tidak ada pilihan lain. Dimanakah jalan pada saat seperti ini? Jika kita berada di dalam situasi seperti itu, bagaimanakah kita harus menyikapinya? Bukankah hari-hari ini, anak-anak Tuhan, memiliki pengalaman dan pergumulan yang sama, terjepit oleh keadaan dan situasi dan akhirnya membuat mereka kehilangan harapan? Benarkah tidak ada lagi jalan?

Alkitab mencatat, ada dua respon bangsa Israel, menyikapi keadaan tersebut. Kedua respon ini sangat manusiawi. Apakah itu?

Takut
Mereka takut terhadap situasi yang tak terkendali dan memburuk ini. Tantangan terpampang di hadapan mereka. Semua mengepung dan mereka tanpa daya. Muncul rasa takut yang luar biasa. Tanpa disadari ketakutan itu telah membuat mereka kehilangan orientasi dan keberanian sebagai sebuah bangsa yang terpilih. Rasa takut telah mengalahkan kesadaran dan kemampuan berfikir bagaimana seharusnya menyikapi situasi yang sulit seperti ini. Dan seperti kita ketahui, orang yang takut, biasanya memberi respon tak terduga lalu mulai bertindak serampangan. Keputusannya salah. Orang seperti ini tidak mampu berpikir panjang, gegabah dan kehilangan fokus pada Allah! Saat Firaun semakin dekat, “Sangat ketakutanlah orang Israel” (Keluaran 14:10b). Orang yang takut adalah orang yang sangat rapuh ketika berada di tengah masalah.

John Maxwell dalam sebuah bukunya menulis, bahwa ketakutan hanya akan melahirkan ketakutan yang lebih besar. Karena apa? Sebab ketakutan tidaklah terletak padamasalah atau situasi melainkan ada di dalam pikiran kita. Itu sebabnya, orang yang takut, biasanya akan kehilangan energi karena terus menerus memikirkannya, bahkan kehilangan harapan untuk bertindak memperbaiki keadaan. Bangsa Israel atau mungkin kita sendiri, berada di dalam fenomena ketakutan yang sama. Kita mungkin bahkan kehilangan harapan kepada Tuhan yang sebetulnya sedang 'melakukan' sesuatu. Seperti bangsa Israel, ketakutan telah membuat mereka tidak lagi tampil sebagai bangsa yang dipilih Allah - yang sedang menyertai mereka. Ketakutan telah membuat siapapun lupa bahwa Allah ada. Mengapa? Karena orang-orang yang takut biasanya terfokus pada masalah daripada Allah.

Bersungut-sungut
Mereka mengeluarkan perkataan yang jauh dari rasa syukur. Mereka menggerutu dan menolak kenyataan yang ada. Bangsa ini lupa, bahwa campur tangan Allah selalu menyertai mereka dan kali inipun pasti ditolong olehNya. Mereka justru saling menyesali keadaan dan menuding orang lain sebagai penyebabnya. Musa menjadi salah satu korbannya. Dirinya dianggap penyebab kesengsaraan mereka. “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? (Keluaran 14:11). Demikian sungut mereka kepada Musa. Betapa mudahnya menyalahkan orang lain atas keadaan seperti ini.

Orang yang bersungut-sungut adalah orang yang asal bicara karena emosional. Biasanya, perkataan yang keluar di dalam 'persungutan' bukanlah perkataan berkat yang membangun melainkan kutuk atau kata-kata kosong yang bisa ditumpangi roh jahat. Dalam bahasa aslinya, kata bersungut-sungut diterjemahkan sebagai 'perkataan orang yang seperti tidak memiliki iman'. Artinya, sebetulnya orang ini punya dasar yang kuat dan memiliki iman tetapi perkataannya tidak mencerminkan imannya. Tuhan sangat tidak menyukai orang yang bersungut-sungut. Apabila anda adalah salah satu dari perilaku semacam ini, maka segeralah ganti 'persungutan' menjadi 'ucapan syukur'.

Kehidupan Kita
Kehidupan kita juga tidak jauh beda dengan apa yang dialami oleh bangsa Israel. Kita seringkali berada di tepi Laut Merah (masalah) kita. Bahkan kita terkepung dengan segudang masalah, terhimpit dengan putus asa, penuh ketakutan, menyesali keadaan dan akhirnya lari dari Tuhan, memprotesNya bahkan menuding orang lain sebagai kambing hitam. Tidak ada lagi jalan lain. Maju kena mundur kena. Masalah telah menenggelamkan kita dan seringkali menenggelamkan kita.

Saat keluar dari Mesir, bangsa Israel tidak pernah memprediksikan kejadian tersebut. Demikian juga dengan hidup ini. Kita tidak pernah memprediksikan bahwa kelak kita akan berhadapan dengan situasi yang membuat kita terkepung. Kehidupan adalah sebuah misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang bakal menghadang di depan kita. Apakah kita akan menjumpai jalan yang mulus, atau justru bertemu “Laut Merah”? Apakah kita berjalan dengan aman atau justru diancam oleh gempuran si jahat dari belakang kita? Kita tidak pernah tahu semuanya itu. Apakah kita akan gagal atau berhasil, kita tidak pernah tahu! Allah mengatakan di dalam Yesaya, bahwa jalan-jalan manusia tidaklah sama dengan jalan-jalanNya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. (Yesaya 55:8). Manusia tidak pernah tahu apa yang ada di depannya. Berserah kepada Allah, itulah sikap hati yang Tuhan tuntut ada di dalam diri setiap kita yang memiliki iman kepadaNya. Terkadang saya menginginkan rancangan-rancangan di dalam hidup ini tepat seperti apa yang saya mau dan kehendaki. Tetapi, Allah selalu punya jalan yang berbeda. Dia punya caraNya sendiri untuk menetapkan langkah-langkah kita. Jadi, kalau kita memahami ini, maka sebetulnya, tidak ada alasan bagi kita untuk takut atau menggerutu di dalam situasi yang sulit, karena dalam perkara itupun, Dia pasti bertindak. Bukankah dia yang menetapkan langkah-langkah orang?

Ketika akhirnya Musa berkata kepada bangsa Israel, “Janganlah takut! Berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan, yang diberikanNya hari ini kepadamu…Tuhan akan berperang untuk kamu dan kamu akan diam saja” (Keluaran 14:13-14). Pernyataan profetik yang dahsyat ini juga dinyatakan kepada kita semua. Allah yang menuntun kita “keluar” dari Mesir adalah Allah yang akan melepaskan kita di dalam kepungan masalah. Di dalam menjalani hidup ini, mungkin ada masalah, mungkin ada beban, mungkin ada jalan berkelok, tetapi kita pasti mampu keluar sebagai seorang pemenang sebab Dia beserta kita! Inilah keyakinan, keberanian dan kekuatan kita, umat pilihanNya.

Dimana tidak ada lagi jalan keluar, Allah bahkan akan membelah laut sekalipun untuk menyelamatkan dan membuktikan penyertaan kepada orang yang percaya kepadaNya. Penyelesaian masalah bukanlah lari dari masalah. Penyelesaian masalah ada di dalam masalah itu. Kita hanya perlu perspektif yang berbeda. Allah akan membuka jalan bagi kita, ditempat dimana sebelumnya belum pernah ada kaki yang menginjaknya. Jangan takut dan bersungut-sungut. Dia akan memimpin kita dengan tangan kananNya yang membawa kemenangan itu. Bagian kita cuma satu. Seperti Musa mengulurkan tangannya ke atas laut itu, demikian kita hendaknya mengulurkan tangan kita ke atas, kepadaNya, sebagai tanda menyerah dan mengandalkan Dia. Di dalam pengertian aslinya, mengulurkan (mengangkat) tangan, berarti melakukan desakan dengan kekuatan penuh ke dalam alam roh untuk menarik turun kuasaNya. Laut terbelah. Umat Tuhan menjadi pemenang. Dengan cara inilah kita memasuki dan menerima jalan keluar dari setiap pergumulan hidup; dengan tangan yang terangkat kepada Tuhan. Dan kuasa Allah menyertai kita!

Bagaimana dengan anda? Sudahkan anda mengangkat tangan tanda menyerah kepadaNya atau masih berjuang dengan segala daya upaya dan kekuatan manusia?

Jika anda perlu dukungan doa, silahkan sms saya di 081.6665222. Saya akan mendoakan anda, supaya Tuhan yang pernah memegang tangan saya dan membawanya pada kemenangan, juga melakukan hal yang sama di dalam hidup anda. Hanya saja, ketika mengalami kemenangan itu, bersaksilah supaya orang lain juga merasakan kuasaNya. Cetak posting ini dan sebarkan bagi siapapun yang membutuhkan. Selalu ada pengharapan dan jalan keluar bagi mereka yang berseru 'ke atas'. Allah kita dahsyat. Haleluya.... (Graha Padma, April 2008)