Rabu, November 26, 2008

CAESAREA: KOTA KUNO BERCITARASA SENI

Artikel ini telah di muat di Suara Merdeka
Minggu tanggal 23 Nopember 2008
http://gaya.suaramerdeka.com/index.php?id=350

Pernah melihat situs arkeologi yang terluas di dunia? Caesarea adalah pilihannya. Situs ini menarik bukan semata karena penuh dengan barang antik berukuran raksasa. Caesarea adalah sebuah kota kuno yang kebesaran masa lalunya masih terlihat hingga kini. Berkat keseriusan pemerintah setempat dalam merestorasi, memelihara dan menjaga keaslian situs sejak 1950, warisan budaya masa lalu yang sangat luar biasa itu bisa kita saksikan hingga kini. Pertama kali masuk ke sana, saya terkagum-kagum menyaksikan bagaimana kota ini dibangun oleh Herodes dengan konsep yang sangat terpadu. Caesarea atau Kaisaria adalah salah satu tempat tujuan wisata yang sangat terkenal. Tempat ini berada di pinggir pantai Laut Mediterania di kawasan Timur Tengah. “Kota” ini dibangun dengan konsep artistektur romawi yang memang selalu terkenal dengan bangunan-bangunannya yang besar, megah dan penuh dengan tiang pahatan. Tidak salah, untuk menjaga kelestariannya, seluruh tempat itu dimasukkan sebagai kawasan National Park dengan nilai historical tertinggi.

Mulanya saya tidak tertarik mengunjungi tempat itu karena tepian laut Mediterania terkenal bercuaca sangat panas. Tapi driver Arab yang mengantar saya dengan ramah menginformasikan bahwa lokasi taman nasional ini sangat unik karena merupakan sebuah kota antik tertua di dunia. Lagipula terletak di jalur yang akan kami lalui, persisnya pertengahan jalan dari kota pelabuhan Haifa dan Tel Aviv. Keramahan sang tuan rumah itu akhirnya membuat saya “tidak enak hati” sebagai tamu dan menyetujui untuk berhenti sebentar untuk membuktikan sehebat apa cerita sang supir. Belakangan saya berpikir, betapa beruntungannya perhentian mendadak tersebut. Di depan saya terpampang museum alam raksasa yang sarat dengan barang antik. Kompleks kota besar Caesarea menyimpan banyak kemegahan sejarah masa lalu yang belum tentu dapat dirancang ulang di zaman sekarang. Saking luasnya, butuh waktu 4 sd 6 jam berjalan kaki untuk mengunjungi seluruh situs yang ada kompleks itu.

Pengunjung yang ingin masuk dalam lokasi Taman Nasional ini tidak perlu kuatir tersesat. Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang sangat ketat, saya membayar US$ 5 untuk membeli tiket masuk. Dari loket saya mendapatkan brosur seluruh situs yang akan menjadi target perjalanan, yang dicetak eksklusif dan berisi info yang sangat lengkap berikut peta perjalanan. Tidak lupa saya membeli topi di sebuah store yang memang disediakan untuk melayani kebutuhan wisatawan. Di sana banyak terdapat souvenir, buku-buku, t-shirt dan berbagai produk lain yang identik dengan Caesarea. Di ujung pintu masuk sebelum lokasi, ada baliho peta lokasi yang sangat besar yang menjadi petunjuk seluruh kawasan tersebut. Benar-benar dikelola secara professional. Bahkan pengelola menyediakan guide yang siap menuntun kita menyusuri kota kuno tersebut dengan gratis. Saya memutuskan berjalan kaki sendiri berbekal petunjuk yang ada di dalam brosur dan papan-papan petujuk yang dibuat permanen di sepanjang jalan. Mengagumkannya, wisatawan seperti dimanja dengan fasilitas, termasuk mereka yang cacat, disediakan track khusus untuk tour bagi penyandang cacat. Di hampir semua tempat selalu ada keran air yang bisa langsung diminum jika wisatawan kehausan akibat panas yang menyengat. Bagusnya lagi, tidak ada satupun asongan yang terlihat. Saya jadinya seperti membayangkan, betapa menariknya sejumlah tujuan wisata di Indonesia jika dikelola dengan cara-cara profesional seperti ini.

Kota Terpadu
Kota Caesarea disebut juga Caesarea Maritima atau kota pelabuhan laut. Di sana ada pelabuhan yang sudah digunakan sejak zaman Hellenisme, Romawi, Byzantium dan Arab. Pelabuhan itu menjadi salah satu kota dagang penghubung di kawasan Mediteran. Sisa pelabuhan kuno itu masih terlihat kokoh hingga sekarang. Kota ini dibangun oleh Herodes seorang penguasa Yudea, sebuah propinsi yang dianeksasi Romawi di Timur Tengah. Herodes terkenal sebagai penguasa yang memiliki visi membangun kota dan tempat-tempat peristirahatan. Dia adalah seorang arsitek bangunan bangunan megah dan piawai membangun kota dengan konsep yang terpadu. Herodeslah yang dulu membangun Jews Temple yang sangat terkenal itu, demi memantapkan posisinya dikalangan Yahudi, yang salah satu sisa dindingnya masih ada sampai sekarang; dinding Barat atau dikenal dengan Tembok Ratapan (Willing Wall) di Jerusalem.

Untuk menghormati mentornya, Caesar Augustus, Herodes membangun kota di tepi pantai Mediterania, sebagai sebuah kota hiburan dan tempat peristirahatan. Itu sebabnya kota itu diberi nama Caesarea. Tidak tanggung-tanggung, kota itu sangat lengkap fasilitasnya dan menggunakan bongkah-bongkah batu kapur besar sebagai bahan bangunan dengan gaya Romawi yang khas dengan pilar-pilar yang sangat besar. Disepanjang jalan mengikuti rute wisata kita dapat menyaksikan ratusan pilar masih kokoh berdiri.
Menyaksikan lansekap kawasan itu dari ketinggian, membuat saya berpikir betapa hebatnya rancangan kota ini yang proses pembangunannya memakan waktu 12 tahun. Semua tertata dan terencana dengan baik, mulai dari penempatan jalan, penyediaan fasilitas umum (pemandian, pasar), pengairan serta saluranpembuangan, dan tempat tempat hiburan (teathre, amphitheatre) serta alokasi wilayah untuk pemukiman. Betapa bedanya dengan konsep membangun kota di negara-negara berkembang yang modern, yang terkesan asal bangun. Saya mencoba memasuki sebuah tempat bekas pemandian umum, para insinyur Herodes mengaturnya sedemikian baik sehingga saluran pembuangan dibuat terpisah dengan saluran air bersih. Ada kamar-kamar tempat mandi privat berikut kolam penampungan air.

Teater
Salah satu bangunan yang sangat khas di depan pintu masuk adalah bangunan berbentuk stadion sepak bola yang dibangun hanya setengah. Rupanya itu adalah teater atau tempat pertunjukan terbuka. Ada dua bangunan seperti itu disana. Yang berada dekat pintu masuk, lebih kecil ukurannya, disebut teater. Ukuran ‘kecil’ ini ternyata dapat menampung 4000 orang penonton dalam sebuah pertunjukan. Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah, orang Romawi sangat senang berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan. Ada empat jalan masuk utama yang terletak di bawah bangku penonton berbentuk lorong sepanjang 10 meter. Pondasinya, menurut keterangan yang terpampang di dinding ‘stadion’ terdiri dari batus cadas dan batu kapur (limestone) berbentuk balok yang beratnya ratusan ton dan di tanam pada kedalaman 10 s.d 25 meter, lalu disusun bertingkat ke atas. Saya tidak dapat membayangkan, entah bagaimana caranya membawa batu-batu besar itu dari pedalaman ke pinggir pantai dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memahat satu balok saja. Hebatnya, batu-batu itu sangat presisi dan kokoh. Saya mencoba berdiri mensejajarkan diri dengan salah satu balok yang ada dan mendapati bahwa terlihat kecil dibandingkan ukuran baloknya yang melebihi orang dewasa. Penasaran, saya mendaki ke atas, ke tempat duduk di bagian paling tinggi teater itu. Wah, rasanya seperti sedang berdiri di atas menara, saking tingginya, hampir seluruh kawasan dapat terlihat di kejauhan. Melongok ke bawah, bentuk utuh semi-circular bangunan ini baru terlihat. Panggung yang ada di bawah dan deretan kursi penonton menjadi sangat kecil. Hingga kini, bangunan teater yang sudah diperkuat itu, masih digunakan sebagai salah satu tempat berbagai orkestra dan pertunjukan seni.

Rupanya perkiraan saya meleset. Masih ada bangunan yang lebih besar dari teater dan berukuran tiga kalinya. Tempat itu diberi nama Amphitheatre, berjarak sekitar 1 km dari teater ‘kecil’. Lumayan jauh untuk tour jalan kaki, tapi rasa penasaran membuat saya bersemangat untuk segera tiba di tempat itu. Memang besar sekali tapi sudah tidak utuh lagi. Bisa menampung 15.000 orang sekaligus. Di tempat inilah berlangsung berbagai event romawi yang terkenal seperti perkelahian gaya bebas para gladiator; pertunjukan hidup mati antara manusia dengan binatang buas dan lomba pacuan kereta kuda. Meskipun tinggal reruntuhan, tempat itu masih memperlihatkan sisa-sisa kemegahan yang luar biasa. Beberapa batu pahatan hasil ekskavasi masih terlihat di sana sini teronggok dan menjadi saksi bisu kepahlawanan sekaligus ketidakberdayaan manusia (para gladiator) yang mengadu tenaga dan nyawanya hanya untuk sebuah kesenangan dan gaya hidup orang Romawi. Lapangan yang menjadi pusat pertunjukkan sekitar dua kali lapangan sepakbola. Saya terlihat begitiu kecil saat berdiri di tengah-tengahnnya.

Agueduct
Usai menyaksikan teater dan amphiteather, saya melangkah menuju pantai mencoba melihat sisa-sisa pondasi pelabuhan kuno. Batu-batunya masih ada dan menjorok ke pantai. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah deretan bangunan ‘aneh’ di sepanjang tepi pantai yang disusun menyerupai jembatan bersambung. Sangat panjang dan terlihat seperti pagar lurus disepanjang pantai. Bangunannya betul-betul khas romawi, dengan lengkungan dan terbuat dari susunan batu kapur yang kokoh seperti jembatan kuno. Di atas bangunan itu ada kanal dengan dua stage. Lebar bangunan itu seukuran jalan raya, dengan ketinggian 8 meter (untuk high level stage) dan 5.5 meter (untuk low level stage) dari permukaan laut. Mereka menyebutnya ‘Aqueduck’ (bukan Aquaduck). Bangunan memanjang 8 km dari sebuah sumber mata air di kaki gunung Carmel, Crocodile River dan sumber mata air Shuni Springs, menuju pusat kota Caesarea yang lebih rendah tempatnya. Hebatnya, bangunan itu dirancang khusus dengan kemiringan tertentu sehingga bisa turun sebesar 20 cm tiap kilometer hingga ke pusat kota. Dengan cara seperti itu, air akan mengalir begitu saja tanpa perlu dipompa dan hanya mengandalkan kekuatan gravitasi bumi. Lagi-lagi saya berdecak kagum ! Sungguh teknologi yang sangat luar biasa.

Penasaran dengan fungsi bangunan, saya mendekati seorang guide dan bertanya, untuk apa bangunan semacam itu. Dijelaskannya bahwa itu adalah kanal air yang mengangkut air tawar ke kota tempat pemukiman penduduk dan ke tempat pemandian umum (Ya, saya ingat orang Romawi punya kebiasaan melakukan lobi politik di bathhouse complex), sebab kota Caesarea sendiri karena terletak di tepi pantai tidak punya sumber air tawar. Sayang saya tidak menemukan tangga untuk naik ke atas saluran air raksasa ini. Saat mendekati bangunan tersebut saya merasa seperti sedang berdiri di bawah jalan layang tol yang ada di tanah air.

Di bawah tanah kota itu, juga masih terlihat sisa-sisa saluran air yang berfungsi layaknya pipa PAM untuk mendistribusikan air bersih. Saluran pembuangan air kotor juga dibuat terpisah dan mengarah pada tempat pembuangan di pingir kota. Sayang, akibat digerus oleh zaman dan sempat terlantar di awal tahun 50-an, teknologi pengairan yang di rancang oleh Herodes itu sudah tidak bisa berfungsi lagi. Beberapa bangunan di ujung mata air dan yang mengarah ke kota, sudah runtuh.

Korban Mutilasi
Selain menyaksikan kemegahan teater dan aqueduck, hampir disetiap track perjalanan, saya menjumpai banyak sekali patung-patung antik yang terbuat dari batu kapur dan kebanyakan dari marmer. Pahatan dari batu marmer itu besar-besar dan sangat indah seperti yang dibuat oleh para pemahat Yunani. Semua patung-patung itu di pajang di tepi jalan dan diberi keterangan tertulis mengenai penemuannya, perkiraan tahun pembuatannya dan keterangan mengenai objeknya. Tapi jangan bermimpi untuk membawanya pulang sebagai kenang-kenangan karena barang-barang antik ini semuanya berukuran raksasa. Dari performa patung pahatan itu kita dapat saksikan sebuah citarasa seni sebuah masyarakat elit, sekaligus menjadi ukuran kemajuan budayanya. Rata-rata, semua patung yang disusun seperti karya instalasi itu mencapai usia 2000 tahun dan masih awet hingga kini.

Sayangnya, seperti diberbagai tempat manapun di dunia yang menyimpan sejarah, tempat ini sempat tidak terurus dan tidak terkoordinasi ekskavasinya. Pedagang barang antik sempat membawa karya seni pahat keluar dari tempat ini untuk diperdagangkan. Tidak tanggung-tanggung, mereka melakukan tindakan mutilasi terhadap patung-patung seni tersebut dengan hanya memotong dan mengambil tangannya saja, kaki atau bahkan kepalanya. Sebuah hiburan di tengah teriknya sinar matahari Timur Tengah menyaksikan berbagai karya senih yang indah itu sudah tidak tampil utuh lagi bentuknya, akibat tindakan mutilasi. Ada banyak patung tanpa kepala, atau tubuh tanpa tangan. Bahkan ada yang hanya terdiri dari telapak kaki saja.

Tidak terasa, waktu dua jam yang disediakan sudah habis. Rasanya ingin kembali lagi ke sana. Bukan saja menjumpai teknologi arsitektur, karya seni dan sistem penataan kota yang teratur. Kota Caesarea Maritima dibangun peduli lingkungan. Sinergi dengan alam sangat kontras. Pohon-pohon yang tinggi yang membuat teduh kota itu masih tersisa. Itu sebabnya kawasan di tepi Laut Mediteran itu, juga dikenal sebagai hunian eksklusif kalangan berduit di Timur Tengah. Pasir pantainya putih dan indah. Si sopir Arab yang mengantar saya mengatakan bahwa satu apartemen kecil di wilayah itu paling murah 5 milyar. Saya tersenyum mendengarnya ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar