Senin, November 10, 2008

KEKERASAN, NUH dan KITA

HASIL pemantauan siaran televisi (TV) yang dilakukan oleh bagian monitoring KPI Pusat mencakup siaran sepuluh TV swasta di tanah air selama bulan September 2008 sungguh mengejutkan kita. Berdasarkan jenis tayangan kekerasan, 95.8% tayangan TV menampilkan kekerasan dalam bentuk fisik. Sisanya, 2.8% berupa tayangan fisik dan verbal dan 1.4% tayangan kekerasan dalam bentuk verbal. Artinya sangat jelas. Kalau perolehan data bulan September itu (seandainya) mewakili populasi tayangan TV di tanah air selama kurun waktu satu tahun, maka kita tengah menciptakan ‘monster-monster’ baru dalam keluarga, lingkungan sekolah dan struktur sosial, secara sistematis. Hari-hari belakangan ini kita menyaksikan banyak ide pembunuhan terinspirasi dari tayangan atau liputsan/laporan kejahatan melalui TV. Juga barusan kita mendengar seorang anak berusia SD mampu membuat sibuk aparat keamanan akibat melakukan teror ancaman bom lewat telepon. Berbagai hasil investigasi kejahatan yang kemudian ditayangkan secara mendetail melalui media televisi, bukannya menjadi informasi yang membangun, melainkan mendidik publik untuk meniru ide kejahatan atau kekerasan yang ditampilkan. Tidak heran kita menyaksikan, bagaimana seorang pencopet yang tertangkap tangan, kemudian dihakimi beramai-ramai oleh massa hingga babak belur. Di dalam rumah tangga kita menyaksikan bagaimana suami memukuli isteri, anak melawan orang tua, keluarga berantakan. Semua orang menjadi gampang bermain kayu ! Apa yang salah dengan masyarakat kita? Indonesia yang dikenal sebagai sebuah bangsa yang santun dan menjunjung tinggi ‘tepa selira’ sudah tidak memiliki lagi nilai-nilai semacam itu. Wajah masyarakat kita telah berubah. Termasuk masyarakat gereja dan kehidupan orang-orang percaya. Bukan hal baru kita menyaksikan bagaimana jemaat berunjuk rasa menolak gembalanya; para hamba Tuhan ‘berjibaku’ merebut jemaat. Sesama orang Kristen saling sikut dan sikat. Bahkan konflik di dalam gereja, tempat yang seharusnya mengkedepankan kasih dalam praktek, dapat bermuara pada kekerasan, entah fisik atau kata-kata, bahkan perpecahan.

Saya jadi ingat di zaman Nuh. Untuk pertama kalinya Alkitab memberitahukan kita mengenai sebuah sistem masyarakat yang sudah rusak tatanan nilainya. Mereka adalah sebuah angkatan yang jahat, yang perilaku, tindakan, ucapan dan karakternya tidak lagi mencerminkan kemuliaan Allah. Alkitab secara tegas mencatat kejadian tersebut. “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi” (Kejadian 6:11-12). Alkitab KJV mencatat lebih terinci dan tegas, “The earth also was corrupt before God, and the earth was filled with violence !” Coba bayangkan sebuah bejana yang sudah penuh berisi air. Adakah tempat tersisa bagi yang lain? Tidak ada. Artinya, keadaan pada zaman itu sudah tidak lagi memperlihatkan sesuatu yang baik.

Saya jadi takut, jika hal serupa menjadi gambaran profetik akan keadaan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Jangankan kekerasan dalam bentuk fisik. Sekarang ini kita dengan gampang menyaksikan orang yang marah atau tersinggung di jalan raya (tanpa melihat siapa yang benar, siapa yang salah) melontarkan kata-kata umpatan dan makian untuk melampiaskan emosinya kepada orang lain. Fisik, bukanlah satu-satunya stereotype kekerasan. Perkataan juga bagian yang sangat penting dalam kekerasan, yang melaluinya kita dapat membuat luka di dalam hati orang lain. Mungkin di dalam gereja, perilaku kita tidak identik dengan kekerasan fisik dan berkata, “itu hanya kasuistik” atau “masih banyak orang Kristen lain yang lebih baik”. Tetapi bagaimana dengan lontaran kata-kata yang menusuk, menghakimi, menggosipkan atau menyerang? Bukankah itu menjadi salah satu bagian dari praktek kekerasan sejati? Apakah gereja atau kehidupan orang Kristen sudah terbebas dari hal semacam ini? Terlebih jika kita merasa lebih rohani, punya kedudukan atau pengaruh, bahkan merasa diri benar dibanding orang lain, perkataan-perkataan yang keluar dari mulut kita tidak jauh berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh masyarakat kebanyakan yang ada diluar dinding gereja. Lalu apa bedanya? Kita harus mengingat apa yang dituliskan di dalam Amsal 16:29 bahwa “Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan membawa dia di jalan yang tidak baik”. Bagaimana dengan anda sejauh ini? Apakah anda adalah salah satu penyesat itu atau yang disesatkan? Biasanya, orang yang menggunakan kekerasan, di dalam level manapun, memiliki sebuah sikap atau nilai di dalam dirinya yang menganggap diri lebih mampu, lebih berkuasa, dibandingkan orang lain.

Sebetulnya, jika kita jujur mengakui, kekerasan yang ditampilkan oleh seseorang, entah secara fisik ataupun perkataan, adalah manifestasi sebuah pribadi yang telah rusak gambar dirinya. Ingat, pada awalnya Allah menciptakan manusia serupa dengan gambarNya. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. (Kejadian 1:27). Kita di dalam gereja mengenal sebuah pelajaran yang sangat bagus tentang pemulihan gambar diri. Apakah yang menyebabkannya? Manusia yang semula menampilkan gambar Allah penciptanya, menjadi rusak dan cacat karena alasan klasik yang hakiki, dosa. Tanpa disadari, manusia yang hidup di dalam dunia ini, terseret oleh perilaku dunia bahkan ikut di dalam perilaku tersebut, sehingga gambar diri yang semula rusak oleh dosa, justru semakin rusak dan tidak terpulihkakn. Terlebih jika dikaitkan dengan perilaku iblis yang suka mengintimidasi manusia dengan perkataan atau pikiran bahwa “kita tidak punya kesempatan lagi”.

Dulu di zaman Nuh, rusaknya citra Allah di dalam diri manusia, telah membuat Allah kecewa. Bertahun-tahun Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan berbalik dari jalan-jalan yang jahat tetapi mereka mengabaikan kesempatan berharga itu. Sikap Allah sangat tegas. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi (Kejadian 6:13). Mengerikan bukan? Apabila manusia terus hidup di dalam kekerasan dan enggan bertobat, maka perilaku itu bukan saja mendukakan hati Allah tetapi juga mendatangkan penghukuman Allah. Kalau anda pernah mendengar kata genocide maka itulah penjelasannya. Allah memusnahkan semua manusia di bumi dengan membangun sebuah peradaban yang baru. Apakah kita harus menunggu keadaan ini terjadi? Baru-baru ini saya membaca sebuah buku berjudul Apocalypse 2012 (sudah diterjemahkan oleh Penerbit Gramedia dalam bahasa Indonesia). Buku ini ditulis dalam gaya investigasi yang mengacu pada kalender bangsa Maya, sebuah suku kuno yang pernah hidup di dunia dengan segala kemampuan intelektual mereka yang luar biasa. Berdasarkan kalender itu, maka pada tahun 2012, bulan Desember, berlangsung sebuah fase baru di dalam kehidupan umat manusia, yang merupakan pengulangan dari ribuan tahun silam. Mereka beranggapan bahwa kehidupan umat manusia di dunia ini berada di dalam sebuah siklus. Akhir siklus itu adalah Desember 2012. Jadi, Januari 2013 merupakan babak baru bagi kehidupan manusia di dalam segala hal. Segala sesuatu bisa saja terjadi untuk mengakhiri masa sebelumnya dan mengawali babak baru itu, yang diumpamakan sebagai sebuah kelahiran baru. Ada darah yang tertumpah, ada kematian, ada kekacauan, kekerasan, bencana yang lahir dari alam (supervulcan, magnet bumi yang menipis, hujan proton-netron, asteroid) dan yang lahir dari manusia (peperangan, perang kimia, biologi dan nuklir). Coba bayangkan, jika penghukumam yang pernah Allah lakukan dulu di zaman Nuh, akan terulang di generasi kita, entah itu menggenapi perhitungan bangsa Maya atau tidak, maka kita semua harus bersiap-siap menyelamatkan diri.

Rasul Paulus menulis sebuah resep “penyelamatan” yang sangat bagus. Resep ini berupa anjuran, dimana kita memutuskan untuk memilih melakukannya atau tidak. Dikatakannya di dalam Efesus 4:31-32, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”. Resep tersebut adalah sebuah cara hidup (style) yang harus mulai kita praktikan di dalam lingkup manapun. Inilah yang membuat Allah pada waktu itu akhirnya memilih Nuh sekeluarga dan menyelamatkannya dari pemusnahan. Bahkan menjadikan Nuh sebagai “bibit” baru bagi langit baru dan bumi baru yang Allah rancangkan. Saya tidak pernah melupakan satu bagian karakter Nuh yang terus saya doakan dan usahakan, agar juga menjadi bagian dari kehidupan saya. Di dalam Kejadian 6:9 dikatakan, “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” Alkitab MSG menerjemahkan seperti ini. “Noah was a good man, a man of integrity in his community. Noah walked with God” .

Dunia boleh akrab dengan kekerasan tetapi kita sebagai anak-anak Tuhan harus menjadi pribadi yang berbeda dari dunia atau dari orang-orang yang hidup dengan gaya dunia. Itulah yang akan menjadikan kita pribadi yang diselamatkan dari kemusnahan. Seperti Nuh, prinsip menjadi orang baik (a good man) harus menjadi bagian dalam segala aspek (perkataan dan perilaku), entah di dalam bekerja, bergaul, berbisnis atau melayani. Memang tidak mudah menjadi orang baik dalma situasi seperti sekarang, seperti mengucapkan maaf padahal orang lain yang bersalah, seperti mengucapkan terima kasih padahal kita dirugikan, seperti mempersilahkan orang lain di depan antrian padahal sebetulnya itu giliran kita. Masih banyak contoh lain yang bisa mulai kita lakukan dalam lingkup dimana kita berada, tanpa menunggu orang lain melakukannya lebih dulu. A man of integrity in his community adalah satu sikap pribadi yang perlu kita tiru. Integritas? Itu adalah diri anda saat sendirian; sebagai bukti bahwa apa yang anda bicarakan koheren dengan tindakan nyata. Bahkan siap menjadi pribadi yang berbeda, tidak populer karena memilih “jalan sendiri”. Satu hal penting adalah hubungan Nuh dengan Allah. Nuh berjalan bersama Allah. Wah, ini adalah sebuah hubungan yang luar biasa di tengah dunia yang kacau. Masih ada orang yang berjalan bersama Allah. Anda tahu konsep berjalan? Bukan satu mendahului yang lain di depan. Berjalan adalah berdampingan. Nuh berdampingan dengan Allah karena dia tahu bahwa dia akan gagal jika berjalan sendiri ! Demikian hendaknya dengan kita. Berjalan bersama Allah akan memberi kekuatan, perlindungan dan kenyamanan yang luar biasa. Pada akhirnya, kita juga yang akan memetik keuntungan dari sikap hidup yang selalu melibatkan Allah, seperti Nuh. Saya percaya, dengan cara seperti ini, kita bisa menjadi teladan dan terang bagi dunia. Kita menjadi seperti garam yang menahan kebusukan, agar Allah tidak menjatuhkan hukuman dan memusnahkan dunia. Mari kita gunakan kesempatan itu untuk membuat dunia bertobat dan mengenalNya bahkan berjalan bersamaNya. Itu tugas kita. Tuhan memberkati ***

2 komentar:

  1. Wah, "Pak" Sonny. Tulisan ini bagus sekali, lagi aktual nih. Tidak ada rencana kirim ke media? heheheh

    Fota

    BalasHapus
  2. bagus bgt Om tulisan ini, thanks...memberkati kezia. tau ga Kezia adl KORBAN kekerasan dlm gereja spt yg ditulis di atas... kez difitnah. pdhl gak tau apa-apa.secara manusia sgt menyakitkan. sedih bgt dan prihatin dg kondisi gereja yg seperti ini..

    doakan ya Om..
    GBU

    BalasHapus