Selasa, Februari 03, 2009

MENGAPA KITA BANGUN DAN JATUH LAGI?

Sebagian dari naskah buku PERSONAL REVIVAL yang akan terbit tahun 2009. Nantikan dan Doakan ! (gloryofgodmin@gmail.com)

Suatu ketika, seseorang datang dan bertanya pada saya. “Mengapa saya seringkali jatuh bangun di dalam kehidupan rohani?” Saya tidak terkejut dengan pertanyaan yang sudah lazim ini. Dimanapun, persoalan dan pergumulan berkepanjangan anak-anak Tuhan selalu sama. Hidup rohani mereka stagnan dan kuasa terobosan tidak bertahan di dalam diri mereka. Ada satu titik di dalam kehidupan rohani, sarat dengan gairah, sukacita dan kerinduan akan Tuhan. Rasanya anda tidak bisa lepas dari hadirat Allah. Rasanya anda tidak sabar berdoa atau membaca Alkitab. Tidak sabar menunggu datangnya hari minggu untuk beribadah. Tetapi pengalaman tersebut tidak bertahan lama. Seketika, stamina rohani turun drastis ke titik paling rendah. Roh yang semula menyala-nyala meredup kembali. Anda yang semula penuh gairah, tiba-tiba dingin dan menjauh dari Tuhan. Roh malas mulai menancapkan pengaruhnya kembali. Gereja, doa dan hal-hal rohani menjadi sesuatu yang amat sulit dilakukan. “Saya mencapai titik terendah di dalam berhubungan dengan Tuhan. Padahal minggu lalu, saya merasa sudah bangkit dan menyala-nyala lagi”. Sesuatu telah terjadi. Kita bergerak drastis dari titik tertinggi menuju titik terendah.

Terdapat hal-hal yang harus diperbaiki di dalam kehidupan rohani kita. Selama ini banyak anggapan yang salah tetapi justru kita pertahankan sedemikian rupa di dalam membangun kehidupan rohani dihadapan Tuhan. Anggapan yang salah inilah yang menyebabkan terjadinya kemunduran dalam persekutuan kita dengan Tuhan.

Beberapa hal yang saya bahas di bawah ini akan membawa anda untuk meneropong diri sendiri terhadap anggapan-anggapan yang salah tersebut, sehingga bertindak untuk memperbaikinya.


Mengalahkan Faktor Eksternal
Sepasang keluarga meminta waktu untuk bertemu. Keduanya meminta pendapat saya tentang sebuah hal pelik yang sedang mereka hadapi dalam hal beribadah kepada Tuhan. Sang isteri menjelaskan seperti ini. “Kami mau pindah gereja. Kami sudah lama digereja yang ini tetapi kami sama sekali tidak merasakan hadirat Tuhan. Pertumbuhan rohani kami tidak ada. Beberapa hari lalu kami bertemu dengan seorang teman yang menganjurkan kami ikut kebaktian di gerejanya. Dan memang setelah mencoba ke sana, kami nyaman berada di gereja itu,” ungkapnya seolah-olah meminta saya membenarkan keputusan mereka tersebut. Tetapi Roh Kudus menuntun saya untuk menanyakan satu hal. “Apa yang membuat ibu nyaman dan merasakan hadirat Tuhan?”. Dia menjawab, “Di sana hamba Tuhannya terkenal, suka mengundang pembicara dari luar negeri. Gedung mereka luas. Alat musiknya lengkap dan dingin. Tidak seperti di gereja kita.” Inilah point yang coba Tuhan ingatkan !

Seringkali terjadi kita menggunakan hal-hal eksternal untuk membangun dan mengkondisikan kualitas hubungan kita bersama Tuhan. Suami isteri ini tidak merasa nyaman di gerejanya yang lama karena melihat dan merasa bahwa ada suasana eksternal yang lain di gereja yang lain, dan suasana eksternal itu, menghasilkan rasa nyaman bagi mereka berdua untuk beribadah. Rasa nyaman yang akhirnya membuat keduanya mengklaim merasakan hadirat Tuhan!

Seringkali kita seperti ini. Kita mengukur kualitas hadirat Tuhan dengan AC yang dingin menusuk tulang, pembicara kaliber internasional, lapangan parkir yang luar, sesama jemaat yang berkelas, suara musik dan penyanyi yang terdengar profesional, dsb. Tidakkah anda sadar bahwa pandangan seperti ini adalah sebuah jebakan iblis untuk membuat anda memasuki hadirat Allah dalam kedagingan?

Sewaktu Roh Kudus diterima oleh para Rasul di loteng Yerusalem, suasana tempat itu sangat sempit. Mungkin panas, berdesak-desakan, penuh ketakutan dan berlangsung beberapa hari. Sungguh suasana yang sangat tidak nyaman. Tetapi mereka bisa merasakan hadirat Allah. Kuasa Allah turun dan termanifestasi dengan dahsyat. Saya tidak mengatakan bahwa AC, sound system, pembicara terkenal atau lainnya adalah sesuatu hal yang tabu. Tidak. Tetapi harus disadari bahwa semua hal yang menjadi aksesoris eksternal, sesungguhnya tidak signifikan terhadap manifestasi hadirat Allah. Itu sebabnya kita tidak dianjurkan memberhalakan aksesoris apapun itu di dalam gereja. Tanpa alat musikpun, atau pujian dengan suara yang fals-pun, hadirat Allah tetap bisa kita nikmati.

Hal eksternal berubah menguasai kehidupan rohani kita terjadi karena kita membiarkan daging memimpin di depan daripada roh. Semua hal-hal eksternal itu hanyalah sesuatu yang memuaskan dan memanjakan daging. Sebagaimana rasul Paulus katakan, apabila kita menabur di dalam daging maka kebinasaan yang akan menjadi tuaian-nya. Inilah yang menyebabkan mengapa anak-anak Tuhan demikian mudah diengaruhi iblis untuk pindah gereja!

Dalam sebuah kesempatan penginjilan ke So’e di tahun 2004, saya bersama tim benar-benar di bawa masuk dalam hadirat Tuhan saat memasuki sebuah panti asuhan. Boleh dikatakan tempat itu sempit dan sangat bersahaja. Tidak ada gitar di sana. Anak-anak berdesakan di pojok ruangan dengan pakaian yang kumal dan muka yang ingin tahu. Tetapi meninginjakkan kaki pertama kali ke dalam ruangan itu, sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Hadirat Tuhan sangat terasa. Sepertinya daerah itu berada di dalam sebuah covering “tenaga” yang tidak terlihat tetapi sangat kuat. Betul saja. Ketika pujian dinaikkan dan beberapa anak panti memainkan alat musik perkusi cek ecek sesuatu yang menunggu dari atas tiba-tiba turun ke bawah dan memenuhi kami semua. Inilah hadirat Tuhan itu. Semua dilawat Tuhan. Satu pelajaran penting telah saya dapatkan. Tuhan bisa termanifestasi dimanapun dan kapanpun. HadiratNya tidak ditentukan oleh kualitas ruangan atau rasa nyaman di dalam daging kita. Rasa haus dari dalamlah yang menarik turun kuasa itu. Bukan oleh faktor eksternal!

Roh Stagnasi
Apakah roh stagnasi itu?
Pernahkah anda melihat orang yang sedang berlari di tempat? Energi tetap saja dikeluarkan oleh tubuh tetapi berdiri di tempat itu-itu saja. Seperti inilah invasi roh stagnasi di dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Dimana-mana kita menjumpai orang-orang percaya yang loyo dan kehabisan bertenaga sementara mereka tidak mengalami kemajuan apapun. Memang kita terlihat aktif, melayani dan terlibat di dalam pelayanan, beribadah dengan radikal, tetapi kita tidak mengalami kemajuan rohani. Apakah yang menyebabkannya?

Kita menganggap bahwa kita melayani Tuhan berdasarkan rutinitas dan program. Inilah akar masalah dari kehadiran stagnasi di dalam pertumbuhan rohani. Kita menjadikan hubungan dengan Tuhan sebagai sebuah standar yang harus dicapai melalui target tertentu, melalui sejumlah program dan kegiatan. Maka yang terjadi adalah kita bertumbuh di dalam target, berkecimpung di dalam program dan terjebak di dalam rutinitas. Semua sumber daya difokuskan untuk mengejar target yang sudah ada di depan mata. Tetapi sewaktu kita mencapainya, sepertinya kita mengejar pepesan kosong. Secara program kita berhasil.

Tetapi tunggu dulu! Kualitas hubungan dengan Tuhan tidak mengalami perubahan. Jebakan metode telah menyebabkan hadirnya stagnasi di dalam pertumbuhan rohani kita. Maka tidak heran jika terdengar keluhan seperti ini. “Saya sudah berdoa. Juga rajin ke gereja. Tetapi mengapa saya merasa kering.” Satu-satunya jawaban untuk pertanyaan itu adalah, telah terjadi pemborosan energi untuk hal-hal yang seharusnya tidak signifikan menjawab kebutuhan kita. Pernahkah anda membayangkan seseorang menghabiskan tenaga, waktu dan potensinya untuk memompa udara ke dalam ban sepeda yang bocor? Seperti itulah roh stagnasi yang muncul akibat jebakan rutinitas. Anak-anak Tuhan telah kehilangan esensi paling penting di dalam rohnya karena kesalahpahaman ini. Mereka berpatokan bahwa Tuhan ada di dalam rutinitas. DiriNya dapat ditemukan di dalam program yang eksklusif dan hebat. Tidak. Tuhan tidak ada di sana. Tuhan tidak ada di dalam semua usaha yang dilakukan manusia untuk memuaskan pikiran, hati dan perasaannya. Tuhan tidak ada di dalam ambisi manusia.
Rutinitas akan membuat kita merasa bosan. Malas. Mengantuk. Enggan berhubungan dengan Tuhan. Kehilangan gairah dan sukacita. Rutinitas menjebak kita untuk mengejar posisi dan bukan kualitas rohani yang sejati.

Hadirat Tuhan tidak bisa dirancang melalui sejumlah aktifitas manusia. Juga tidak diukur melalui apa yang dilakukannya secara rutin. Hadirat Tuhan hanya muncul sebagai respon atas kegairahan manusia untuk mencari wajah Tuhan-nya. Stagnasi tidak akan pernah mampu menghadirkan Tuhan di dalam ibadah, doa atau apapun kegiatan yang dilakukan. Stagnasi hanya akan membuat kita berjalan ditempat dan merasa puas dengan apa yang ada. Apabila kekuatan roh stagnasi ini menjadi sedemikian kuat, maka ibadah akan berubah menjadi sesuatu yang membosankan. Orang akan berlari menjauhinya karena di sana tidak terdapat sesuatu yang bisa diperoleh. Stagnasi adalah musuh dari kehidupan! Dia dapat menyebabkan manusia kehilangan masa-masa pertumbuhan yang sangat penting buat kehidupan roh-nya.

Bahaya Daerah Nyaman
Ini penyakit paling aneh yang menghambat terjadinya terobosan. Anak-anak Tuhan secara sengaja tidak mau bertumbuh. Bahkan tidak peduli dengan pertumbuhan.
Untuk apa? Sekalipun disekelilingnya setiap orang berlomba untuk mengejar pertumbuhan rohani dan berusaha memasuki next level di dalam Tuhan, mereka tidak peduli. Seringkali kita mendengar ungkapan seperti ini. “Saya sudah cukup puas dengan kehidupan saya saat ini. Ini saja sudah luar biasa. Mengapa harus lebih lagi?” Bahkan ada juga yang mengungkapkan begini. “Yang pentingkan saya sudah taat beribadah. Saya punya jadwal doa pribadi. Itukan sudah cukup?”

Coba perhatikan seorang anak kecil yang sedang asyik dengan perangkat mainannya. Dia punya sebuah dunia yang tidak terusik dan tidak mau terusik. Sewaktu seseorang dewasa masuk ke dalam dunia itu, anak itu akan merasa terganggu. Inilah gambaran dari daerah nyaman itu. Seringkali kita merasa cukup dengan apa yang ada. Baik secara material terlebihy secara rohani. Bagi kita, apa yang sudah ada adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Untuk apa harus ditambah dan dikurangi lagi?
Apakah ini logis? Sangat logis. Manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kualitas yang mungkin diperolehnya dengan susah payah. Ini bagus. Itulah yang disebut dengan rasa nyaman. Tetapi kita punya kesalah-pahaman. Kita terlalu nyaman dengan apa yang ada sehingga kehilangan gairah. Kita sudah merasa puas. Cukup! Untuk apa lagi harus bersusah payah?
Lho, bukankah hal ini dapat menjebak kita menjadi ambisius?
Saya menyebutnya sebagai ambisi yang kudus. Saya menggambarkan ini sebagai sekumpulan orang-orang yang sedang berlomba. Semua harus mendahului untuk tiba di garis finish. Setiba di garis itu, harus berlari lagi untuk memasuki garis finish berikutnya. Inilah yang disebut sebagai terbang tinggi itu. Hubungan dengan Tuhan seperti anak tangga yang naik makin tinggi ke langit. Makin tinggi ke atas makin luas horizon kita. Tuhan adalah sosok yang dinamis. DiriNya bergerak terus dengan segala kreasi, ide dan hubungan dengan ciptaanNya. Tuhan bergerak dari kairos ke kairos. Inilah yang menjadi alasan untuk terus mengikutinya dan berhenti untuk puas dengan keadaan yang ada! Semakin kita masuk lebih dalam, semakin kita bisa menikmati kedahsyatan kuasaNya. Orang yang berada di dalam daerah nyaman (comfort zone) sesungguhnya tidak memiliki masa depan. Dia takut keluar dari daerah itu karena tidak siap dengan realitas baru atau proses baru. Sebelum kita memasuki sebuah level yang lebih tinggi, ada sebuah proses yang perlu dilalui. Seperti ujian naik kelas, dimana kita diharuskan bersiap, belajar dengan sungguh-sungguh dan berada di garis depan. Proses Tuhan tidak akan pernah berhenti di dalam kehidupan anak-anakNya. Daerah nyaman hanya akan membuat proses Tuhan tertunda di dalam hidup kita. Artinya sangat jelas. Kita gagal mencapai destiny yang sudah ditetapkan-Nya bagi kita. Proses akan membuat kita terusik.

Daerah nyaman hanya akan membuat kita enggan terusik. Terpuaskan semu dan hanya sementara. Tidak ada tantangan dan pasti tidak ada terobosan. Inilah beberapa kesalah-pahaman yang harus segera diperbaiki.

1 komentar:

  1. Pdt. Domminikus Chietra18 Februari 2009 22.34

    Banyak orang frustasi menghadapi ke-suam-an rohani dan stagnasi didalam pertumbuhan kedewasaan imannya. Pada umumnya mereka tidak tahu bagaimana keluar dari permasalahannya. Mereka merindukan pembaharuan didalam hidup mereka.

    Buku ini menyajikan kebenaran-kebenaran serta mendorong kita untuk mengalami terobosan, sehingga iman kita dibangkitkan. Kita menjadi orang-orang yang benar-benar memiliki janji-janji Tuhan dalam hidup kita.

    Dengan gaya bahasa dan penguraian yang sehari-hari sehingga menarik dan mudah dipahami. Buku ini dapat menjadi berkat bagi kaum awam sekalipun.

    Pdt.Dominikus Chietra(Aning)
    Gembala GBI Soekarno Hatta Jambi

    BalasHapus