Kamis, Maret 12, 2009

EKSPEDISI GUNUNG SINA'I

Tulisan ini sudah diterbitkan di Koran Suara Merdeka Rubrik Jalan-jalan tgl 9 Maret 2009 (http://gaya.suaramerdeka.com/index.php?id=451)

Melelahkan ! Benar-benar perjalanan yang butuh stamina. Coba anda bayangkan. Duduk diam di dalam Bus AC yang tidak terasa dinginnya karena melewati padang gurun yang gersang dan panas. Perjalanan membelah padang gurun Mesir dari Alexandria menuju daerah semenanjung Sina’i (Sina’i peninsula) memang butuh waktu berjam-jam. Tapi saya sudah memutuskan ke Sina’i, sebuah kawasan wisata religi eksotik yang memiliki hamparan batu granit merah terbesar di dunia. Tidak ada pemandangan indah di sepanjang jalan. Melulu terhampar pasir dan gunung batu yang kokoh, kering dan tanpa tanaman. Sesekali di pinggiran jalan terlihat gerombolan pohon korma kering dan palm tree berdebu dari oasis yang sudah kering. Bus berjalan seperti siput yang terkeok-keok di celah-celah pegunungan batu dan padang pasir. Saya tidak bisa membayangkan ketika dulu bani Israel melalui rute yang sama saat menuju tanah Kanaan. Mereka cuma jalan kaki. Saya yang naik bus pariwisata saja, bus terbagus yang disediakan oleh agent tour Mesir, sudah kepayahan. Jalan kaki menurut saya bukan ide terbaik. Jalan aspal yang dilalui oleh bus, adalah jalan yang sangat bagus konstruksinya, dengan semen bertulang yang tahan panas dan mampu dilalui ratusan truk truk trailer kelas berat setiap harinya. Sama sekali tidak terlihat bergelombang atau rusak. Sebagai kawasan trans Egypt, daerah itu mendapat penanganan yang sangat baik.

Sina’i sebetulnya daerah gurun berbatu yang gersang. Tidak ada kehidupan di sana. Yang membuatnya terkenal adalah sisi religi gunung ini. Ribuan tahun lalu, saat bani Israel eksodus dari Mesir menuju Kanaan, mereka singgah di gunung ini. Tepat di bawah kaki gunung mereka berkemah. Kemudian ke atas puncak gunung inilah Musa mendaki dan bertemu dengan Allah Israel, yang kemudian turun membawa dua loh batu berisi 10 hukum Allah (The Ten Commandmen) yang terkenal itu. Loh batu Sina’i inilah yang kemudian dibawa-bawa kemanapun oleh bangsa Israel selama pengembaraan mereka di gurun dan menjadi salah satu artefak terpenting di dalam sejarah monoteis Israel yang kemudian ditempatkan di dalam tabut perjanjian – benda keramat milik Israel. Itu sebabnya, dalam perang Arab-Israel, wilayah ini sempat dikuasai Israel dan dianggap sebagai salah satu tempat suci mereka. Dalam perjanjian damai, kemudian diserahkan kembali kepada Mesir, yang hingga sekarang merawat dan mengelola tempat itu sebagai salah satu tujuan wisata religi terkenal.

Tujuan saya sebetulnya adalah Eilat. Sebuah kota milik Israel yang ‘terdekat’ dari Mesir. Di pertengahan jalan menuju Taba Border di Eilat, kita bisa memutar sejenak untuk memasuki kawasan Sina’i. Sebetulnya ini perjalanan yang menantang. Bus yang berangkat sejak pagi dari Mesir baru tiba di kaki gunung Sina’i sore hari sekitar pukul 5 sore. Karena di jalan tidak ada restoran, maka hebatnya pariwisata Mesir, semua hotel di sana sudah diberi aturan, bahwa wisataan-wisatawan yang melakukan perjalanan gulf cross akan dibekali makanan kotak, dan snack. Hanya saja mereka tidak mau memberi air minum yang banyak. Kalau kita butuh tambahan air mineral, kita membelinya kepada supir bus.

Terusan Suez
Menariknya, seorang pengawal bersenjata otomatis, tetapi memakai jas resmi, ikut mengawal kami di atas bus dari Mesir ke Sina’i hingga ke border. Mereka diperintahkan untuk menjaga rute dan keamanan wisatawan hingga ke tujuannya. Keberadaan militer di dalam bus sangat menguntungkan sebab dapat menjadi pass saat melewati puluhan military check point di sepanjang jalan. Mengapa? Dipertengah rute ke Sina’i bus akan melintas kawasan high security area. Banyak tentara dengan pos pengamatan dan kubu pertahanan bersenjata mesin di sana, dalam keadaan siaga perang 24 jam. Maklum, mereka menjaga terusan Suez, salah satu potensi devisa Mesir dan sangat vital secara ekonomi. Wilayah Timur Tengah yang terus bergolak dapat saja menjadikan Suez sebagai sasaran empuk sabotase. Bus tidak boleh berhenti dan harus segera melintas. Kawasan Suez yang terkenal itu, sekaligus membagi dua wilayah Mesir, yakni wilayah Afrika dan benua Asia. Terusan itu mulai dioperasikan tahun 1870 sebagai hasil rancangan seorang insinyur Perancis bernama Ferdinand de Lesseps, yang menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah sepanjang 163 kilometer. Keberadaan terusan itu sangat bermanfaat bagi arus ekonomi dan barang dari dan ke kawasan Afrika. Kalau dulu barang-barang dibongkar di pelabuhan Laut Tengah untuk kemudian dibawa melalui jalan darat ke kawasan Laut Merah, kini kapal-kapal barang dapat berlayar langsung menuju Laut Merah ke kawasan Afrika melalui kanal itu.

Berharap menyaksikan dari dekat kapal-kapal besar, bus malah masuk ke dalam terowongan yang digali tepat di bawah kanal air, sehingga suasananya menjadi sejuk. Panjangnya 1 kilometer dengan lebar sekitar 4 badan bus, yang memungkinkan kita ‘menyeberangi’ Suez menuju daerah Mesir di wilayah Asia. Terowongan itu dirancang sedemikian rupa sehingga tahan goncangan, tekanan tinggi dan ledakan. Dengan penataan lampu yang sangat baik, siapapun tidak merasa bahwa sebetulnya, bus sedang melaju di bawah permukaan laut, yang di atasnya sedang dilayari kapal-kapal barang raksasa dan tanker berbobot besar.

Penasaran melihat Suez dari dekat, setelah lepas dari jangkauan pemantauan keamanan, sopir bus menhentikan bus di sebuah lokasi yang penuh dengan tenda beduin. Dengan alasan membeli souvenir kepada petugas keamanan setempat, semua orang di dalam bus turun dan bisa berada sekitar 500 meter dari ‘tepi pantai’ kanal Suez. Memang sebuah kanal yang luar biasa. Di tengah-tengah padang pasir yang panas, terdapat ‘laut’ yang dilayari kapal-kapal besar. Pemandangan yang tidak biasa, tapi nyata! Lebih mengejutkan lagi, tempat dimana bus berhenti adalah Mara, sebuah situs yang pernah disinggahi Musa dan bani Israel, dimana mereka menemukan satu sumber mata air yang ternyata pahit. Di sana kemudian terjadi mujizat, air yang pahit itu berubah menjadi manis setelah Nabi Musa melempatkan sepotong kayu ke dalam sumber air yang masih ada – tetapi kotor dan tidak terawat – sampai sekarang.

Gunung Granit Raksasa
Hari sudah menjelang sore ketika bus akhirnya tiba di kaki Gunung Sina’i. Dari kejauhan gunung ini begitu indah di terpa cahaya matahari sore yang kemerahan. Batu granit besar yang juga berwarna merah tersebut seolah hidup dan menantang untuk ditaklukan. Rupanya, tempat ini sangat terpencil. Saya sempat berpikir akan menemukan penginapan yang seadanya, minim fasilitas dan serba terbatas. Ternyata perkiraan saya meleset. Ini Mesir, bukan Indonesia! Sebagai sebuah kawasan wisata Internasional yang sangat jauh letaknya di tengah padang gurun, hotel-hotel tempat penampungan wisatawan justru sangat khas, indah dan modern. Saya memilih hotel yang dibangun berbentuk paviliun zaman batu, yang bentuk bangunannya mirip rumah Mr. Flinstone. Dinding dan atapnya ditutupi dengan batu alam, sehingga suasananya seperti zaman batu. Kamarnya punya kasur empuk, lengkap dengan fasilitas pemanas ruangan. Setelah berunding dengan guide lokal, saya memutuskan untuk mendaki tengah malam sehingga bisa sampai ke puncak pada pagi hari menyaksikan sunrise. Bersama beberapa teman, kami sempat beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga.

Pendakian Sina’i bukanlah pendakian biasa. Gunung ini adalah gunung granit yang memiliki beberapa puncak. Jalan menuju puncak bukanlah jalan yang lazimnya kita jumpai di dalam pendakian gunung di Indonesia, langsung lurus ke atas. Saking tinggi dan besarnya, jalan menuju puncak tidak bisa lurus melainkan berbelok-belok. Inilah yang membuat pendakian terasa lama.

Tepat pukul 1 dini hari suara morning call terdengar bersahutan. Ada satu shutle bus yang sudah menunggu di depan lobi hotel menuju area pendakian Sina’i. Tidak lupa saya membawa ransel yang berisi air mineral, tali pramuka, senter dan tentu saja, karena ini pendakian malam, kaos kaki, sarung tangan, baju hangat yang tebal, syal dan penutup kepala. Pada waktu turun di jalur awal pendakian, kendati sudah mengenakan semua pakaian pelindung, hawa dingin yang menusuk masih sangat terasa.

Pintu masuk kawasan pendakian Sina’i di jaga oleh polisi pariwisata Mesir bersenjata lengkap. Mereka sangat ramah. Semua orang wajib melewati metal detector dan diperiksa barang bawaannya. Untuk menghemat tenaga, saya pilih naik dengan unta. Lagipula ini pengalaman pertama naik gunung menunggang unta. Guide Beduin yang ikut mengawal perjalanan ini memberitahu bahwa kalau mau jalan kaki, melalui rute tradisional yang pernah dilalui Nabi Musa (dinamakan Sikket Saydna Musa atau The path of Moses) untuk sampai ke atas puncak Sina’i yang oleh masyarakat Islam Beduin dikenal dengan nama Gebel Musa (The Mountain of Moses) diperlukan pendakian setara dengan 3.700 anak tangga ! Wah, dengkul ini bisa copot. Saya memilih naik unta saja. Kita harus berhati-hati dengan para Beduin yang menawarkan untanya. Mereka umumnya ramah tetapi mata duitan. Dengan keramahan khas Timur Tengah kita bisa saja menerima tawaran mereka untuk naik unta gratis sampai ke puncak, tetapi turun untanya, ya harus mbayar. Saat itulah mereka siap ‘menembak’ dompet anda. Jadi lebih baik sepakat dari awal. Rata-rata biaya sekali naik untuk seekor unta dewasa adalah US$ 25. Saya pilih unta dewasa yang sudah berpengalaman. Jika salah milih dan jatuh pada unta muda, perjalanan menuju ketinggian 2.286 meter dari permukaan laut itu yang seharusnya ditempuh dalam waktu 1.5 hingga 2 jam naik unta, bisa berubah dua kali lipatnya atau malah berhenti di tengah jalan karena untanya ngambek.

Menuju Puncak dengan Unta
Pengalaman pertama naik unta sungguh menggelikan. Pantat terasa capek karena punggung unta yang keras dan pelana yang juga tidak empuk lagi. Saya sudah mempersiapkan tali pramuka sebagai tempat pijakan kaki selama duduk di punggung unta. Beberapa teman yang tidak membawa pijakan kaki dari tali ini akhirnya mengalami kram dan ketegangan otot karena darah terkonsentrasi ke kaki yang harus tergantung selama dua jam tanpa bisa bebas bergerak. Setiap tali kekang unta diikatkan ke pelana unta yang ada di depannya, yang lebih dewasa, yang menjadi tour leader rombongan unta. Inilah yang membuat saya kaget. Jalan selebar dua meter,dengan jurang di kiri kanan, dan tanpa lampu penerang. Si Beduin tiba-tiba berteriak “harri…harrriiii…” sambil memukulkan tongkatnya ke pantat unta dan seketika sang unta berjalan. Hah….! Unta tersebut tidak dituntun oleh siapapun, termasuk oleh si Beduin yang jalan kaki jauh di barisan paling belakang. Si unta berjalan sendirian di depan. Belakangan Mahmoud sang beduin menjelaskan bahwa unta-unta tersebut memang terlatih naik ke puncak Sina’i tanpa harus dituntun lagi. Mereka sudah melalui rute tersebut ratusan kali sejak unta itu masih kecil dan dilatih mengenali rute. Perjalanan malam itu tertolong dengan cahaya bulan. Jurang yang gelap mengangga di sebelah kiri tetapi seolah tidak mengenal takut, unta-unta tersebut berjalan dengan pelan tapi pasti di tepi jurang, sekalipun itu membuat penunggangnya ketakutan setengah mati karena kaki sang unta menyerempet-nyerempet pinggir jurang. Saya sempat mendengar beberapa teriakan perempuan wisatawan dari Korea di belakang saya yang ketakutan karena untanya berjalan terlalu ke pinggir.

Beruntung unta yang saya tunggangi tidak rewel. Sekitar 1.5 jam kemudian saya tiba di base, tempat dimana seluruh penunggang unta harus melanjutkan perjalanan dengan mendaki. Di sana sudah terdapat jalur pendakian yang dibuat dari batu alam berbentuk tangga yang terdiri dari 800 anak tangga batu. Jalurnya sempit dan hanya cukup untuk berpapasan dua orang. Setelah minum kopi untuk menghangatkan badan akibat suhu udara yang dingin, saya berjalan menuju puncak Sina’i sambil menyalakan senter. Perjalanan ke sana tidak membosankan kerena kita tidak bisa melihat kiri dan kanan. Kurang lebih satu jam kemudian, saya tiba di puncak Sina’i, sebuah puncak yang di sebut dengan Mount Horeb, tempat dimana Musa pernah berada. Untuk menandai tempat suci tersebut, di sana ada dua rumah ibadah, satu mesjid kecil dan satu kapel yang dibangun oleh kelompok Fransiskan tahun 1933. Rupanya itu juga menjadi tempat yang disucikan orang Islam Beduin.

Sungguh tidak dapat dilukiskan menyaksikan matahari terbit di atas Pegunungan Sina’i di puncak Horeb. Cahaya matahari menghasilkan siluet dari batu-batu granit besar yang terpahat oleh alam ribuan tahun, dengan kombinasi refleksi dari tiap-tiap batuan besar itu, dan kabut yang perlahan-lahan terangkat ke atas, terpampang sebuah kebesaran alam sebagai karya cipta Ilahi yang tidak tertandingi oleh seniman manapun. Akhirnya saya bisa menyaksikan deretan pahatan alam raksasa gunung Sina’i yang terkenal di dalam berbagai hasil karya artis seni lukis dunia, salah satunya seperti yang dibuat oleh David Roberts dengan karya litografinya. Saya mengambil kesempatan itu untuk memotret sebanyak mungkin landscape Sina’i yang belum tentu dapat saya daki lagi (Ternyata, saya mendapat kemurahan, bisa mendaki Sina’i lagi hinggaketiga kali dalam kesempatan yang berbeda).

Menghabiskan waktu selama dua jam di puncak Sina’i mulai sejak matahari terbit hingga terang benderang, seperti berada di masa awal penciptaan dalam Kitab Genesis. Inilah suasana yang saya nikmati sepanjang perjalanan turun. Jika saat mendaki keadaan gelap gulita, maka sewaktu turun, baru terlihat bentangan luas padang gurun Arab dan pegunungan Sina’i yang besar itu dengan batu karang yang sangat besar. Tepat di jalan turun, ada satu deretan ‘tonjolan’ gunung yang khas dengan lembahnya dan bayangan siluet dari cahaya matahari, sebuah situs yang sangat terkenal di dunia yang dinamakan Amphiteather of the Seventy Wise Men of Israel, tempat dimana tujuh puluh tua-tua Israel didoakan oleh Musa dan mendapat otoritas. Kalau sebelumnya hanya membayangkan tempat ini melalui cerita dan gambar, kini saya berada di sana. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan. Kepuasan dari perjalanan ini menggantikan rasa capek di sekujur tubuh, terutama kaki, saat turun berjalan kaki. Sebelum kembali ke penginapan, di dekat pos penjagaan, terdapat kios-kios yang menjual berbagai cendera mata khas Sina’i. Salah satunya adalah batu birunya yang terkenal itu. *** (Sonny Eli Zaluchu)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar