Selasa, Maret 17, 2009

WILAYAH KESABARAN KITA


Rasul Paulus menulis satu pengharapannya kepada orang-orang Kolose dengan berkata, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. ” (Kolose 3:12) Tentu saja itu adalah sebuah nasehat yang menganjurkan. Salah satu di antaranya adalah kesabaran. Maka pertanyaan yang patut kita renungkan adalah, “apakah saya sudah memiliki kesabaran di dalam diri saya dan kalau sudah, pada level mana kesabaran itu terukur?”

Kesabaran adalah salah satu pergumulan orang Kristen yang terus bertahan di sepanjang masa. Artinya, ada waktu-waktu dimana kita bisa begitu sabar menghadapi segala sesuatu, tetapi sebaliknya, ada waktu-waktu dimana kita menjadi begitu tidak sabar menghadapi situasi, keadaan atau orang lain sehingga terekspresi dalam bentuk kemarahan dan tindakan-tindakan sporadis, yang kelak kita sesali. Ya, kesabaran adalah salah satu kualitas karakter yang terus menguji dan membentuk kita di dalam kehidupan ini. Itulah sebabnya orang dunia sering berkata, bahkan mungkin juga kita, anak-anak Tuhan, “bahwa kesabaran itu ada batasnya !”

Berikut ini kita akan melihat, apakah yang sesungguhnya yang Tuhan maksudkan dengan kesabaran dan standard kualitas apa yang ada di dalamnya. Dengan demikian, kita jadi mengerti, bagaimana harus membawa diri dalam hal kesadaran dan mempertahankan kualitas karakter itu sebagai satu ciri, seperti yang Paulus sebutkan, orang-orang terpilih yang sudah dikuduskan dan dikasihi Allah.


Wilayah Penderitaan
Sebagai seorang hamba Tuhan, seringkali saya menerima pernyataan dari anak-anak Tuhan saat konseling bahwa mereka sudah tidak sabar menderita. Entah itu karena sakit penyakit, pergumulan hidup, persoalan ekonomi atau bahkan terhadap hal-hal yang sepertinya tidak berubah. Hal ini biasanya dikaitkan dengan upaya berdoa yang sudah dilakukan secara maksimal tetapi tidak kunjung mendapat jawaban dari Tuhan. “Saya sudah berdoa, sudah baca Alkitab bahkan rajin ke gereja. Tetapi mengapa Tuhan masih belum menjawab pergumulan saya?”

Pernahkah anda mendengar pertanyaan tersebut? Atau justru pernah mengucapkannya saat pertolongan Tuhan tidak kunjung tiba? Biasanya, kalimat tersebut mulai muncul ketika kenyataan yang dihadapi oleh anak-anak Tuhan, bertentangan dengan iman mereka. Inilah yang menjadi persoalannya. Kita seringkali menempatkan “jawaban” Tuhan sebagai sesuatu yang instan. Kita ingin terhadap setiap pergumulan dan pertolongan yang kita butuhkan, Tuhan menjawab dan melakukan sesuatu dengan segera ! Betapa egoisnya….

Mari kita lihat dari sisi Tuhan. Penderitaan karena sesuatu hal adalah satu aspek untuk membentuk kehidupan rohani kita menjadi orang yang terus mengandalkan Tuhan dan tetap berada di dalam Dia. Seringkali kita lupa bahwa hati kita terlalu melekat kepada hal-hal materi seperti uang, fasilitas bahkan kesibukan-kesibukan kita. Semua hal itu akhirnya membuat kita lupa bersyukur padaNya. Oleh karena itu, menarik untuk memahami bahwa sebetulnya, Tuhan menjadikan penderitaan sebagai alat untuk membuat kita kembali melekat kepadaNya. Berharap kepadaNya dan selalu bergantung, menunggu kapan Dia akan bertindak melakukan sesuatu untuk menolong kita. Di dalam pengharapan itulah iman kita menjadi terlatih, pengharapan kita menjadi kuat dan manusia rohani kita dibentuk. Kapanpun Tuhan bertindak sudah bukan prioritas lagi. Karena apa? Karena kita percaya bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan kita. Karena apa lagi? Karena Dia selalu punya waktuNya sendiri untuk bertindak ! Masih sakit? Jangan lemah karena belum sembuh. Masih berada di dalam kesulitan? Jangan goyah karena belum ada pertolongan. Masih bergumul? Jangan lari dan mencela Tuhan karena belum ada jalan keluar. Pertolongan Tuhan ibarat tindakan membalik telapak tangan. Tetapi kita perlu melalui satu proses rohani (process item), di dalam diri kita, sehingga akhirnya kita siap dengan tindakanNya dan itu membuat kita memuliakan namaNya.

Sabar Menanti WaktuNya
Itu sebabnya, wilayah pertama kesabaran adalah soal “sabar” menunggu waktu Tuhan ! Seringkali kita tidak sabar menunggu kapan Tuhan bertindak (entah menolong, menyembuhkan atau memberi jalan keluar). Bahkan juga ini soal promosi. Tuhan seringkali memberikan satu gambaran masa depan yang jauh lebih baik, dan menuntut kita sabar menantikannya. Pada waktuNya !

Kesalahan kita adalah, sikap kreatifitas (akibat ketidaksabaran) untuk merekayasa tindakan Tuhan agar lebih cepat, agar lebih terwujud. Masih ingat Abraham? Rupanya sifat-sifat ketidaksabaran itu diturunkan juga dalam perilaku kita. Ketika ia menerima janji akan keturunan yang berasal dari rahim isterinya sendiri, Abraham berusaha merekayasa penggenapan janji itu dengan menikahi Hagar. Ia lupa prinsip kesabaran di dalam menanti janji Tuhan. Ia lupa bahwa kesabaran di dalam menanti janji Tuhan akan memperbesar pengharapan dan memperkuat iman akan Allah yang sanggup melakukan apapun yang mustahil bagi manusia. Akibat tindakannya itu, janji Allah menjadi tertunda (bagaimana dengan janji Allah yang sudah pernah anda terima? Tertunda?)

Manusia seringkali punya kecenderungan negatif di dalam menerima janji Allah atau di dalam menanti pertolongan Tuhan. Hal itu terjadi karena manusia tidak mau membiarkan dirinya di dalam proses Tuhan. Mau langsung bypass. Seberapa banyak dari kita menjadi orang-orang yang seperti ini? Tidak sabaran sehingga bertindak sendiri ! Akhirnya yang kita tuai adalah kegagalan, dan sejumlah konsekuensi lain yang berdampak negatif, bukan hanya bagi kita tetapi merugikan orang lain. Kecenderungan manusia itu adalah “berusaha mempercepat apa yang diperlambat oleh Tuhan atau sebaliknya, memperlambat apa yang dipercepatnya”

Anda ingat cerita Yusuf? Saya percaya kita mendapat bahan pembelajaran yang sangat penting dari pribadi yang satu ini. Dia menerima janji Tuhan melalui mimpi tentang satu promosi yang luar biasa hingga saudara-saudaranya sendiri akan tunduk kepadanya. Wah, bagaimana jika anda yang menerima janji ini? Mau merekayasa ? (hmmmm…anda sudah mengerti kebenarannya bukan) Satu kontras yang luar biasa ditampilkan kepada kita. Kenyataan yang dihadapi Yusuf justru seperti jauh dari apa yang diterimanya sebagai sebuah janji. Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya. Yusuf dimasukkan ke dalam sumur tua kemudian dijual sebagai budak belian ke Mesir. Di negara yang asing baginya, Yusuf bekerja di rumah Potifar. Di sana, Yusuf dijebak dan difitnah oleh isteri Potifar sehingga dijebloskan ke dalam penjara. Entah berapa lama proses ini dijalaninya tapi kita mengerti bahwa Yusuf di bawa turun, turun dan turun…. Jika kita yang mengalami ini mungkin sudah berdebat dengan Tuhan atau malah meninggalkanNya karena kecewa. Tetapi Yusuf SABAR !

Pembentukan
Cara Tuhan membentuk anak-anakNya memang unik dan aneh. Dia menjanjikan peninggian tetapi di bawanya melalu jalan turun yang curam. Apa maksudnya? Tuhan mau membentuk karakter Yusuf, sebuah karakter yang siap menerima janji Tuhan. Karakter yang teruji dan mulia, yang melihat Tuhan di dalam segala aspek. Karakter yang tahan uji biasanya, hanya di dapatkan melalui penderitaan dan kesabaran akan pertolongan Tuhan. Di satu titik, dimana karakter itu matang, barulah “turning point” terjadi. Seperti kadar trombosit di dalam darah penderita DB. Seperti apapun di “treatment” tidak akan langsung menambah trombosit. Turun dulu hingga ke titik terendah. Dari sanalah obat baru m ulai membawa efek; dan secara progresif kadar trombosit dipulihkan. Titiki terendah di dalam proses pembentukan Tuhan bertujuan untuk membuat karakter kita dimurnikan, sedemikian rupa, sehingga kita berani berkata seperti Yesus di Taman Getsemani, “jangan kehendaku yang jadi tetapi kehendakMu!”

Saya ingat satu pribadi di dalam Perjanjian Baru yang mengalami banyak tekanan, pergumulan dan cobaan hanya untuk membawanya di dalam pemurnian karakter menjadi karakter Kristus. Paulus adalah sosok yang menarik dan patut dijadikan teladan proses pembentukan Tuhan. Di titik dimana “semua habis” Paulus berani berkata, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. (Gal 2:20)” Betapa luar biasanya perkataan yang lahir dari kesaksian hidup Paulus.

Penutup
Sabar, memang tidak semudah mengatakannya. Kata ini punya kedalaman dan terhubung langsung dengan perilaku. Ini hanya bisa kita dapatkan jika seutuhnya, kita membiarkan Kristus yang menguasai hidup ini. Melalui berbagai pelatihan seperti penderitaan, perlakuan jahat, kekurangan orang lain ataupun waktu Tuhan, kita dilatih terus menerus hingga tiba pada satu level, seperti Paulus alami, dan kitapun akhirnya berkata, “hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang diam di dalam aku”. Maka pada waktu kita berhadapan dengan berbagai situasi yang sulit di depan mata, kesabaran itu mendapatkan ujiannya. Tergantung dari kita, apakah berhasil melaluinya atau kembali lagi ke titik awal. (jika anda diberkati dengan tulisan ini, please kirim komentarnya ya ke gloryofgodmin@gmail.com atau langsung nulis comment di kolom yang tersedia. GBU) ***

2 komentar:

  1. Nice post Om, tq. memberkati saya.

    Kayak Mazmur 73:26 ya Om... jadi sabar, sabar, sabar...

    he he he

    BalasHapus
  2. Sabar tidak akan mencapai batasnya selama kita tidak membiarkan benih2 tidak sabar itu terus berkembang sehingga akhirnya menguasai kita. Kesabaran manusia sangat rendah, tapi anugrah kesabaran dari Tuhanlah yang wooiii.... Dahsyat, ajaib, tidak masuk akal manusia, dan enak banget lho. Mintalah anugrah tsb memenuhi kita. OK. Bersabarlah selalu para pembaca. Anda pasti bisa bersama T.Yesus.
    Buat P.Sonny, Terima kasih untuk tulisan Firman2 yang membangun. Tuhan Yesus memberkati anda,

    BalasHapus