Rabu, April 29, 2009

VIA DOLOROSA: JALAN PENDERITAAN

Artikel ini sudah dimuat di Suara Merdeka Newspaper, Minggu 26 April 2009
http://gaya.suaramerdeka.com/index.php?id=497


Ketika awalnya berada di tempat ini, saya sempat aneh menyaksikan beberapa peziarah berlomba menyewa salib dan mencoba melakukan napak tilas menelusuri jalan salib mulai dari stasiun pertama hingga ke Golgota. Di sana ada persewaan Salib yang besar untuk rombongan dan yang kecil untuk dipanggul sendiri. Berbagai hal berkecamuk di dalam pikiran saya. Antara mengikuti rombongan ziarah manca negara atau tidak; antara ikut memikul salib atau memilih jalan kaki saja sendirian. Dan saya berada di sana, tepat ditempat dimana Yesus berdiri menerima keputusan Pilatus untuk menyalibkan-Nya. Saya membuka Alkitab dan mencoba mencari kebenarannya.

Ingatan saya terbawa ke peristiwa ribuan tahun silam. Di tempat dimana saya berdiri adalah bekas Praetorium, markas besar tentara di zaman Romawi yang persis berada di sebelah istana Pontius Pilatus, pemimpin para tentara itu. Ratusan orang berkerumun. Ada yang datang dari Amerika Selatan dan juga dari Asia. Seolah-olah ada yang menggerakkan mereka untuk berkumpul bersama disebuah kapel kecil yang diyakini menjadi tempat dimana Pilatus mengadili Yesus dan akhirnya mencuci tangannya melepaskan diri dari pengadilan kontroversial itu. Saya mencoba membayangkan suasana ribuan tahun silam itu. Pasti banyak orang-orang berjubah yang selama ini terlihat mengajar di Sinagoge (rumah ibadah orang Yahudi). Juga terlihat beberapa pelayan Tuhan di Bait Allah. Mereka ada di barisan depan. Tentara Romawi berdiri dengan garangnya mencoba mengatur massa yang makin banyak dan berteriak-teriak. Berdesak-desakan ke depan. Tepat dilapangan dimana kami semua, para peziarah, sedang berdiri.

Saya ada di sana. Kilasan masa lalu bergantian dengan suasana sekarang.Saya melihat diri saya bergabung dengan orang banyak. Ikut berteriak dan menuding ke arah depan, tempat dimana Yesus sedang berdiri di hadapan Pilatus. Saya tidak tahu mengapa, tetapi emosi di dalam diri saya terasa meledak-ledak. Padahal, beberapa minggu lalu, saya ikut berdesak-desakan menyaksikan bagaimana orang itu menyembuhkan Bartimeus, membangkitkan Lazarus. Saya juga menikmati pengajaran-Nya dan menikmati roti dan ikan bersama lima ribu orang lainnya di sebuah lereng gunung. Bahkan waktu Ia duduk di atas punggung keledai, saya ikut melambaikan daun palem. Dan jubah yang sedang saya pakai sekarang adalah jubah yang sama yang saya hamparkan untuk dilewati-Nya di dekat pintu gerbang Yerusalem. Tapi kali ini rasanya berbeda. Semua sirna. Saya justru membenci-Nya. Orang lain juga membenci-Nya. Rasanya ingin melihat Dia segera di salibkan dan dihukum. Ajarannya aneh. Bagaimana mungkin saya harus mengasihi orang yang menyakiti saya? Bahkan Dia meminta orang-orang untuk tidak kuatir. Bahkan Dia berkata, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Saya tidak mengerti semua ini. Berada di dalam kerumunan orang-orang ini justru lebih menyenangkan daripada mengikuti ajaran-Nya. Beberapa orang di samping kiri dan kanan menambah semangat saya untuk berteriak lebih keras lagi. Semua kebaikan yang pernah dibuat-Nya, mujizat dan pengajaran, rasanya sudah tidak cocok. Lebih cocok yang ini. Jari telunjuk saya terarah kepadaNya. Adrenalin sepertinya sudah sampai ke ubun-ubun. Saya bahkan lupa bahwa Ia pernah menyembuhkan anggota keluarga saya.
Salibkan Dia ! Salibkan Dia ! Salibkan Dia !
Terdengar teriakan yang sangat keras di telinga. Kerumunan orang-orang semakin banyak. Mereka memegang naskah di tangan dan berteriak sambil mengepal tangan ke atas. “Salibkan Dia !”


Tiba-tiba seseorang menepuk punggung saya dan membuat saya tersadar dari lamunan. Ibadah jalan salib sudah dimulai. Rombongan yang sedang “berteriak-teriak” ini menarik perhatian para pejalan kaki di jalan yang sempit itu. Mereka adalah peziarah dari Mexico, dan mencoba menampilkan satu fragmen peristiwa penyaliban Yesus Kristus, di tempat yang sama, ribuan tahun lalu, saat prosesi penyaliban di mulai. Saya berusaha memejamkan mata lagi dan mencoba membawa diri dalam suasana waktu itu. Pujian dan penyembahan yang mereka nyanyikan berubah seperti suasana hiruk pikuk di tengah ratusan manusia yang sepertinya haus darah. Juga banyak yang mulai menangis. Suasana menjadi sangat mencekam. Itulah gambaran perjalanan ziarah di Via Dolorosa yang menurut saya sangat berbeda dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Kali ini nuansa religinya sangat kuat.

Saya ada di sana. Di sebuah ujung jalan yang disebut Via Dolorosa ! Memulai satu perjalanan iman, napak tilas di jalan yang pernah dilalui Yesus menuju Golgota. Orang-orang yang ikut dalam rombangan keberangkatan berasal dari manca negara. Mereka sangat ekspresif, ikut memanggul salib, dan tidak mempedulikan orang lain. Sebuah tontonan yang sangat menarik, dan saya ada didalamnya. Ikut memanggul salib secara bergantian. Mencoba merasakan penderitaan seperti apa yang pernah dialami Yesu sehingga nama jalan itu akhirnya diberi nama Jalan Penderitaan (The Way of Sorrow atau lebih terkenal dengan nama latin Via Dolorosa)
***

Via Dolorosa adalah sebuah nama jalan yang ada di dalam kota lama Yerusalem, di mulai dari bekas Istana Pontius Pilatus di Wilayah Arab dan berakhir di Gereja Makam Kudus, yang disebut Golgota di Wilayah Kristen. Sebagaimana kita ketahui, kota ini terletak persis di tengah antara Israel dan Tepi Barat, yang diklaim secara sepihak sebagai ibu kota politik negara Israel pada tahun 1949. Kota ini terbagi dua yakni Jerusalem Barat, yang menjadi wilayah Israel dan penduduknya mayoritas Yahudi; dan Jerusalem Timur, yang terus diperebutkan hingga kini dan dihuni oleh orang-orang Arab Palestina. Kota lama yang penuh dengan mozaik spiritual itu berada di wilayah Jerusalem Timur. Israel terus menerus berusaha baik secara politik maupun sosial melakukan ekspansi ke wilayah ini dengan strategi membangun pemukiman-pemukiman Yahudi. Kota lama yang lebarnya sekitar satu kilometer persegi secara sosio-historis terbagi empat berdasarkan etnis dan komunitas mayoritas yang telah menghuni tempat itu ratusan tahun, yakni wilayah Yahudi, Wilayah Arab (Muslim), Wilayah Kristen dan Wilayah Armenian.

Via Dolorosa memang jalan yang padat dan super sibuk karena berada di dalam wilayah pasar orang-orang Arab Palestina seperti suasana Pasar Johar Semarang. Di sepanjang jalan terdapat toko-toko kelontong, buah-buahan dan barang kebutuhan hidup sehari-hari. Tetapi yang paling menonjol adalah toko barang-barang antik dan souvenir. Dapat dikatakan bahwa jalan itu sebenarnya merupakan gang sempit yang membelah pasar dan pertokoan wilayah Arab Palestina. Peziarah yang melalui jalan itu harus berhati-hati karena jalanan yang lebarnya cuma tiga meter itu semakin dibuat sempit oleh aneka dagangan yang terkadang menjorok ke badan jalan, baik yang digelar di bawah maupun yang digantung di atas. Tetapi kehati-hatian terutama pada barang-barang berharga yang di bawa karena, sebagaimana umumnya kota wisata, juga penuh dengan pencopet.

Perjalanan ziarah dengan cara menelusuri Via Dolorosa sudah dimulai sejak kekristenan awal dan mencapai arti pentingnya pada pertengahan abad ke 4 sewaktu Kaisar Constantine menjadikan agama Kristen sebagai agama negara. Jutaan orang setiap tahun tumpah ruah ke Palestina untuk melakukan perjalanan ziarah. Berbagai rute tradisional pernah dirancang. Tetapi rute yang akhirnya memasyarakat sampai sekarang adalah rute yang dibuat oleh para peziarah di era Byzantium, yang kemudian di tetapkan secara resmi oleh ordo Fransiskan, dengan 14 buah stasiun perhentian (14 stations of the cross) di sepanjang jalannya. Melalui rute ini, perjalanan di mulai di daerah Muslim (Muslim Quarter) dekat Gerbang Singa, tepat di bekas Istana Pontius Pilatus (kompleks garnisun romawi), seorang penguasa yang berperan di dalam pengambilan keputusan tentang penyaliban Yesus dengan mencuci tangannya sehingga nasib Yesus akhirnya ditentukan oleh orang-orang sebangsanya sendiri, dan berakhir di Gereja Holy Sepulchre (the Church of the Holy Sepulchre) atau dikenal dengan Gereja Makam Kudus yang terletak di dalam wilayah Kristen (the Christian Quarter).
Perjalanan dari tempat persidangan Pilatus menuju Golgota, menurut catatan Injil, memuat sejumlah peristiwa penting, yang menjadi titk=titik penting dalam perjalanan salib. Contohnya adalah peristiwa jatuhnya Yesus, datangnya seorang perempuan yang me-lap wajah Yesus, peralihan salib kepada Simon dari Kirene, perjumpaan Yesus dengan ibu-Nya, yang kesemuanya dicatat sebanyak empat belas peristiwa. Inilah yang kemudian dikenal dengan empat belas stasiun jalan salib (Fourteen Stations of The Cross). Di setiap tempat dimana peristiwa itu pernah terjadi, diberi petunjuk berupa pelat besi yang diberi nomor dan ada beberapa yang berupa kapel kecil. Kita tinggal mengikuti peta yang bisa dibeli seharga satu dollar dan berhenti sesuai petunjuk untuk berdoa di setiap stasiun. Menariknya, sekalipun itu adalah daerah Arab Palestina, ada toleransi yang sangat besar di sana. Ada beberapa stasiun yang terletak di tempat sempit dimana ketika terjadi desak-desakan antara peziarah dan penduduk Arab yang sedang belanja, mereka rela menunggu kita selesai berdoa bahkan memberi jalan. Bahkan ada sebuah stasiun yang persis berada di depan kantor sebuah organisasi Muslim Palestina. Mereka sama sekali tidak terganggu dengan suasana rohani para peziarah saat berhenti di stasiun itu.

Sayang sekali, tidak semua jalur itu bisa dilalui. Seiring dengan bongkar pasang di jalur padat hunian itu, ada beberapa stasiun yang tidak bisa dilalui lagi karena diatasnya sudah berdiri pemukiman orang Muslim. Demikian juga dengan pemilihan waktu ziarah, sangat dianjurkan untuk melakukan perjalanan di pagi hari, disaat pasar belum buka dan toko-toko belum menggelar barang dagangannya. Keadaan jauh lebih tenang dan kita punya banyak waktu pribadi untuk beribadah.
Di ujung jalan yang sebetulnya tidak terlalu panjang itu, perjalanan berakhir di sebuah tempat yang dinamakan Holy Sepulchre Church atau Gereja Makam Kudus. Di sanalah secara tradisi diyakini Yesus mengakhiri perjalanannya. Sebuah tempat yang disebut Golgotha !
***

GEREJA MAKAM KUDUS
Ujung dari Via Dolorosa adalah tempat yang disebut dengan Golgotha, sebuah bukit yang menjadi tempat penyaliban Yesus. Tempat itu saat ini sama sekali tidak lagi berbentuk bukit walau posisinya berada di ketinggian. Di sana ada gereja yang dibangun berabad-abad silam dan masih berdiri sampai sekarang. Menurut tradisi, gereja itu dibangun oleh Kaisar Konstantine sekitar tahun 325-335 Masehi untuk memperingati Kebangkitan Yesus. Konstantine adalah kaisar Romawi yang menjadi pemeluk agama Kristen. Di tempat itu pulalah, Ratu Helena, ibunda dari Kaisar Konstantine, pernah datang berziarah, dan berperanan penting di dalam mendorong Konstantine mengambil keputusan untuk menyelamatkan tempat-tempat suci di Jerusalem dengan membangun gereja di atasnya. Konon, di tempat itu pulalah sang ratu menemukan potongan dari kayu Salib yang digunakan untuk menyalibkan Yesus yang keberadaannya hingga kini tidak lagi diketahui.

Tetapi ada satu bagian dari gereja ini yang posisinya lebih tinggi dari lantai utama, yang merupakan puncak sebuah batu karang. Menurut tradisi, batu karang itu masih menyimpan lubang tempat salib di tancapkan. Untuk menggapai lubang itu, pihak gereja membangun sebuah altar di atasnya dan kita perlu berjongkok mengulurkan tangan ke dalam untuk menjamah batu karang itu. Agak lama saya memegang batu di dalam lubang itu. Dan karena ini merupakan perjalanan iman, maka kekuatan spiritual itu hanya saya rasakan secara pribadi.

Gereja ini berada di wilayah Kristen dan menjadi salah satu bangunan yang paling disucikan di sana. Paling tidak ada tiga tempat penting di dalam gereja itu yakni, golgota tempat penyaliban Yesus, altar batu tempat jenazah Yesus di baringkan setelah diturunkan dari Salib dan makam kudus, tempat dimana Yesus dikuburkan.
Gedung gereja ini lumayan besar. Masing-masing punya bagian sendiri tergantung peristiwa yang terjadi di dalamnya. Altar tempat lobang salib berada di tempat paling tinggi di sebelah kanan pintu masuk. Kita harus naik tangga yang agak curam untuk sampai di atas. Altar batu tempat meletakkan jenazah berada persis di depan pintu masuk. Banyak peziarah Katolik khusyuk berdoa di tempat itu. Saat memasuki pintu gereja, aroma rempah-rempah yang muncul di atas altar batu tersebut, sudah tercium. Padahal di altar itu, hampir setiap peziarah menempelkan baju atau sapu tangan untuk menyerap aroma rempah-rempah kuno yang dulu dulu digunakan untuk memoles jenazah Yesus. Entah kenapa, bau batu itu tidak pernah berkurang. Di sebelah kiri pintu masuk, pada bagian belakang gereja, terdapat satu kompleks altar berbentuk cungkup batu yang punya pintu sempit dan kecil. Kita harus menunduk untuk memasuki ruangan gua yang sempit yang hanya dapat menampung maksimal enam orang. Tidak dapat berlama-lama di sana karena seorang biarawan katolik siap menegur dengan keras jika melewati batas waktu demi memberi giliran pada yang lain. Itu adalah kuburan yang diyakini menjadi tempat meletakkan jenazah Yesus ribuan tahun silam, sekaligus tempat dimana Dia mengalami kebangkitan. Tempat itu sangat dijaga kekudusannya. Peziarah atau wisatawan yang masuk ke dalam gedung gereja harus memakai pakaian yang menutup semua bagian badannya. Wanita dengan rok mini atau memakai baju dengan anggota badan yang terbuka akan diusir keluar.

Basilika Konstantine pernah terbakar sewaktu tanah suci dikuasai oleh Persia pada tahun 614 Masehi tetapi pada tahun 630, kembali di bangun oleh Kaisar Heraclius. Pada waktu tempat ini jatuh di tangan kaum Muslim, gereja ini tetap dipertahankan bentuknya dan diakui sebagai sarana ibadah Kristiani. Berkali-kali, seiring dengan berubahnya penguasa Yerusalem, penguasaan terhadap gereja ini berpindah tempat. Juga berkali-kali dihancurkan di bangun kembali. Dalam bentuknya yang sekarang, gereja adalah hasil renovasi dengan bangunan permanen yang sangat megah dan memberi ruang bagi wisatawan yang melakukan ibadah. Di sana terdapat romo-romo Katolik yang memimpin ibadah setiap hari dan kita dapat mengikutinya. Untunglah pada waktu saya ke sana, ibadah sudah selesai sehingga dapat memasuki tempat-tempat itu dengan leluasa. Sungguh sebuah perjalanan spirituil yang tiada taranya ***


2 komentar:

  1. Trima kasih untuk artikel yang memberi informasi menarik dan menambah wawasan.

    BalasHapus
  2. Trima kasih untuk artikel yang memberi informasi menarik dan menambah wawasan. Mampir juga di http://www.johnratueda.com

    BalasHapus