Rabu, Oktober 22, 2008

GIBEON: PENIPU YANG MELAYANI ALTAR

Bahan Seminar

Kisah Gibeon pertama kali muncul di dalam Kitab Yosua pasal 9 setelah penaklukan Yerikho dan Ai. Gibeon adalah sebuah suku bangsa yang berdiam di tanah Kanaan dan harus ditaklukan oleh Yosua. Kota orang-orang Gideon berada tidak jauh dari Yerusalem dan Yerikho. Penyerbuan Yosua ke Yerikho dan Ai, sedikit banyak melatarbelakangi ketakutan orang-orang Gibeon. Sementara raja-raja bangsa Kanaan bersatu untuk menghadapi invasi Yosua seperti disebutkan di dalam Yosua 9:1, suku bangsa Gibeon justru merancang sebuah strategi sendiri. Mereka tidak mau menghadapi bangsa Israel dengan perlawanan bersenjata karena sadar bahwa mereka akan kalah dan pasti akan menimbulkan kerugian jiwa serta materi yang sangat banyak. Mereka pasti sudah mendengar penaklukan “sapu bersih” yang dilakukan Yosua dan itu menimbulkan ketakutan akan hilangnya sebuah suku bangsa dan keturunannya. Mereka tidak mau dihapuskan dari dalam ‘peta’. Mereka menyusun strategi agar bisa tetap bertahan hidup sebagai sebuah suku bangsa. Gideon tidak mau dimusnahka. Strategi mereka bukan dengan taktik perang dan kekuatan senjata tetapi melalui usaha diplomasi. Sebuah diplomasi yang MENIPU! Mereka datang kepada Yosua dengan wajah lusuh dan menimbulkan belas kasihan. Tetapi ketika terdengar kepada penduduk negeri Gibeon apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai, maka merekapun bertindak dengan memakai akal: mereka pergi menyediakan bekal, mengambil karung yang buruk-buruk untuk dimuatkan ke atas keledai mereka dan kirbat anggur yang buruk-buruk, yang robek dan dijahit kembali, dan kasut yang buruk-buruk dan ditambal untuk dikenakan pada kaki mereka dan pakaian yang buruk-buruk untuk dikenakan oleh mereka, sedang segala roti bekal mereka telah kering, tinggal remah-remah belaka. Demikianlah mereka pergi kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal. Berkatalah mereka kepadanya dan kepada orang-orang Israel itu: "Kami ini datang dari negeri jauh; maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami." – Yosua 9:4-6.

Celakanya, Yosua tertipu dengan ‘penampilan’ mereka. Pakaian mereka lusuh, wajah yang menimbulkan belas kasihan, roti yang sudah kering, kirbat anggur yang robek, kasut yang buruk, semua tampak meyakinkan untuk sebuah alasan persahabatan. Bukan hanya itu, kesaksian mereka tentang ALLAH Israel yang dahsyat dan luar biasa, sungguh menggetarkan hati dan membuat Yosua dan para pemimpin Israel mengulurkan tangan persahabatan yang terbuka terhadap mereka, tanpa meminta persetujuan Allah terlebih dahulu. Mereka mengambil keputusan sepihak tanpa melibatkan Allah. Mereka, dalam hal ini, LUPA BERDOA !

Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN. Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka. – Yosua 9:14-15

Akibatnya jelas ditebak. Bangsa Israel diperdaya dan terjebak di dalam konspirasi Gibeon. Tetapi apa lacur. Perjanjian sudah terlanjur diteken. Bangsa sekaliber Israel tidak mungkin menarik kembali perjanjian yang sudah dibuat dengan Gibeon, sekalipun perjanjian itu terjadi dari sebuah penipuan; harus ditepati ! Itu yang namanya integritas. Keuntungan bagi Gibeon tetapi kerugian bagi Israel. Inilah yang terjadi kalau kita mengambil keputusan tanpa melibatkan Allah. Tetapi setelah lewat tiga hari, sesudah orang Israel mengikat perjanjian dengan orang-orang itu, terdengarlah oleh mereka, bahwa orang-orang itu tinggal dekat mereka, bahkan diam di tengah-tengah mereka. Sebab orang Israel berangkat pergi dan pada hari ketiga sampai ke kota-kota orang-orang itu; adapun kota-kota itu ialah Gibeon, Kefira, Beerot dan Kiryat-Yearim. Orang Israel tidak menewaskan, sebab para pemimpin umat telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel. Lalu bersungut-sungutlah segenap umat kepada para pemimpin. Berkatalah pemimpin-pemimpin itu kepada seluruh umat: "Kami telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel; oleh sebab itu kita tidak dapat mengusik mereka. Beginilah akan kita perlakukan mereka: membiarkan mereka hidup, supaya kita jangan tertimpa murka karena sumpah yang telah kita ikrarkan itu kepada mereka." – Yosua 9:16-20

Yosua tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka cuma bisa menyesali kesepakatan itu. Perjanjian sudah dibuat sekalipun tidak melibatkan Allah dan itu harus dipatuhi. Sebuah kesalahan besar telah terjadi. Jauh-jauh hari Allah sudah memperingatkan Yosus untuk tidak membuat perjanjian apapun dengan orang Kanaan. Yosua lupa berdoa atas setiap keputusan yang diambilnya. Dia pikir orang-orang Gibeon bukan Kanaan, melainkan orang dari jauh. Nyatanya, mereka tinggal disitu. Ketika kita lupa berdoa, maka kita akan dengan mudah tertipu. Gibeon artinya penipu!

Hal yang menarik tentang Gibeon adalah, mereka sudah mendengar tentang kedahsyatan Allah. Mereka melihat Allah Israel itu besar dan penuh dengan perlindungan dan berkat. Mereka mudah mendengar firman dan percaya pada firman Allah. Mereka bahkan sampai menipu untuk mendapatkan bagian dari firman Allah yang hidup itu!

Siapakah orang Gibeon?
Orang Gibeon adalah keturunan orang Hewi (Hewi artinya ular). Di dalam Kejadian 34 dikisahkan bahwa seorang putri Yakub bernama Dina diperkosa oleh orang Hewi yang bernama Sikhem. Setelah kejadian memalukan itu, Sikhem pulang ke rumah ayahnya dan meminta agar Dina dipinang baginya. Ayah Sikhem kemudian datang kepada Yakub untuk melamar Dina. Sementara itu, anak-anak Yakub sudah mendengar penistaan itu dan merancang pembalasan. Mereka berkata, semua laki-laki Hewi yang mau menikah dengan perempuan Israel harus menerima ALLAH Yehovah dan untuk itu perlu sebuah tanda berupa sunat. Kaum laki-laki Hewi setuju dan memberi diri disunat. Pada kesempatan pemulihan luka sunat itulah, anak-anak Yakub mengambil kesempatan membalaskan dendam adik mereka dengan membunuh semua laki-laki Hewi. Anak-anak Yakub menipu orang-orang Hewi dan tanpa disadari, kaum keturunan Hewi ini, orang-orang Gibeon, di dalam Kitab Yosua, membalas dengan menipu keturunan Yakub.

Yosua menghukum Gibeon menjadi budak dan hamba. Mereka menjadi pelayan-pelayan Israel. Demi melihat persekutuan itu, kelompok bangsa Kanaan lainnya berniat menyerang Gibeon. Karena itu, Gibeon datang pada Yosua meminta pertolongan. Kali ini Yosua berdoa. Dia meminta hikmat dan petunjuk Allah. Seharusnya Yosua berdoa pada kali yang pertama sehingga tidak muncul kekacauan ini. Tetapi Allah merestui. Allah berkata pergilan karena engkau akan memenangkan pertempuran!

Yosua maju ke dalam peperangan. Tuhan ikut bekerja mengacaukan musuh. Raja orang Amori dan sekutunya dikalahkan oleh Yosua dan dipukul mundur. Terjadi keajaiban. Tiba-tiba, batu batu besar turun dari langit menimpa tentara musuh. Yang mati kena hujan batu jauh lebih banyak daripada yang terkena pedang Israel. Allah bekerja membela persekutuan Gibeon-Israel melalui cara-caraNya yang ajaib. Ketika pertempuran terjadi, matahari mulai terbenam. Yosua mengetahui bahwa apabila kegelapan datang terlalu cepat maka kekalahan akan terjadi di pihak Israel. Yosua berdoa kerpada Tuhan. Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: "Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!" Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. – Yosua 10:12-13.

Apa yang terjadi? Matahari berhenti! Hari itu sangat terkenal di sepanjang sejarah astronomi dunia. Hari menjadi lebih panjang dari biasanya dan tidak pernah terjadi lagi yang seperti itu. Tuhan menghormati permintaan Yosua. Matahari berhenti, langit tetap teranga dan Israel menang bagi Gibeon!

Gibeon mungkin memulai hubungan dengan Israel dengan tindakan menipu. Tetapi mereka percaya Allah Israel dan mau menerimaNya. Inilah yang menjadi kunci kejadian ini. Allah menghargai petobat-petobat baru dengan karyaNya yang dahsyat. Orang-orang Gibeon sangat berharga bagi Allah. Sekalipun awalnya mereka menipu. Di dalam Kitab Ezra, kita menemukan bahwa kaum Gibeon inilah sebagai kelompok pertama yang berangkat ke Yerusalem untuk membangun Bait Allah. Mereka tidak mau lagi disebut Gibeon tetapi menyebut dirinya Nethinim (baca: budak) yang artinya orang-orang yang mengabdi pada Tuhan. “Seluruh budak di bait Allah (KJV: All the Nethinims) ,dan keturunan para hamba Salomo ada tiga ratus sembilan puluh dua orang” (Ezra 2:58). Nethinim mengkhususkan diri sebagai pelayan-pelayan di altar dalam Bait Allah. Mereka berasal dari keturunan Gibeon yang sudah mengalami akulturasi dengan masyarakat Yahudi.

Tidak peduli buruknya masa lalu orang-orang Gibeon, Tuhan mengampuni mereka dan membawa mereka pada kemenangan. Mereka percaya bahwa Allah Israel mengampuni masa lalu yang buruk di dalam sebuah pertobatan. ***