Senin, Oktober 27, 2008

LEMBAH YOSAFAT

Strategi Kemenangan Bagi Orang Percaya di Masa yang Sulit
Ev. Sonny Eli Zaluchu


Pernah mendengar lembah ini? Secara tradisi orang menyebutnya lembah Kidron, sebuah cekungan yang terletak antara tembok Yerusalem dengan Bukit Zaitun. Di sanalah diyakini secara profetik, Tuhan akan datang untuk kedua kalinya melakukan penghakiman yang terakhir. Itulah sebabnya lembah itu juga disebut dengan lembah penghakiman terakhir, tempat dimana bangsa-bangsa akan diadili. Nabi Yoel sudah menubuatkan hal itu di dalam salah satu tulisannya. Di dalam Yoel 3:12-14 dituliskan, “ Baiklah bangsa-bangsa bergerak dan maju ke lembah Yosafat, sebab di sana Aku akan duduk untuk menghakimi segala bangsa dari segenap penjuru. Ayunkanlah sabit, sebab sudah masak tuaian; marilah, iriklah, sebab sudah penuh tempat anggur; tempat-tempat pemerasan kelimpahan, sebab banyak kejahatan mereka. Banyak orang, banyak orang di lembah penentuan! Ya, sudah dekat hari TUHAN di lembah penentuan! “ Implikasinya bagi kita sekarang sudah jelas. Di dalam lembah Yosafat itulah, kita akan mendapat pembelaan Tuhan dimana Ia dengan segala kedaulatanNya akan memberikan kemenangan bagi umatNya (Israel secara fisik dan kita, sebagai Israel rohani) dengan mengadili bangsa-bangsa. Bahkan secara jelas di setiap tangan kita diberikan sabit! Anda tahu apa gunanya sabit? Itu adalah alat untuk menuai gandum. Di lembah itu, bukan hanya Allah yang akan mengadili bangsa-bangsa dan akan memberi kemenangan bagi kita. Dia juga akan membawa kita pada tuaian, segala yang ada sebagai hasil rampasan perang, di lembah Yosafat. Maka dapat disimpulkan bahwa, siapapun yang ada bersama Tuhan di lembah Yosafat, akan mengalami kemenangan karena Tuhan berperang menghadapi musuh-musuhnya; akan mendapatkan penuaian yang berkali lipat; dan akan dibebaskan dari berbagai pengepungan yang ada. Sekarang, mari kita lihat implikasi nubuatan itu dalam konteks kehidupan kita sekarang ini.

Janji Tuhan secara profetik dapatlah kita klaim melalui iman kita. Ketika percaya bahwa setiap perkataan Allah adalah sebuah kebenaran yang digenapi dan akan digenapi, maka disanalah sebetulnya iman kita dituntut untuk aktif, melihat agar kebenaran itu menjadi nyata di setiap aspek kehidupan kita. Iman adalah klaim rohani atas setiap janji Allah dalam kehidupan kita. Sama halnya ketika kita mengklaim janji berkat Allah kepada kita sebagai keturunan Abraham. Demikian halnya dengan segala kemenangan dan tuaian yang ada di lembah Yosafat. Kita perlu menerima pernyataan Tuhan tersebut melalui iman kita, untuk menjadi sebuah pengalaman real di dalam menghadapi berbagai situasi sulit yang akhir-akhir ini mengepung atau menghadang langkah kita. Mungkin anda tidak dapat hadir di sana (baca: di lembah Yosafat) secara real, tetapi iman atas perkataan Allah tersebut dapat membawa kita ‘ke sana’ melalui pengalaman hidup yang saat ini dihadapi. Bagaimana caranya?

LEMBAH BERACHAH
Kita perlu menelusuri secara historis mengapa lembah ini disebut dengan lembah Yosafat. Kita perlu merujuk pada sebuah pengalaman nyata yang dialami oleh seorang Raja Yehuda yang bernama Yosafat, yang hidup dengan roh takut akan Tuhan dan berkenan kepadaNya. Yosafat pernah berada di lembah itu dan mengalami kemenangan seperti yang juga dinubuatkan oleh Yoel. Memang tidak disebutkan bahwa itu lembah Yosafat, tetapi tempat dimana Yosafat berada di sana adalah lembah yang sama yang dimaksud oleh Yoel. Pada zaman Yosafat, lembah itu diberi nama Lembah Pujian atau lembah Berachah (baca: berkat). Disebut lembah pujian karena di sana, Yosafat dengan seluruh tentaranya memuji dan memuliakan Allah atas pertolongan, kemenangan dan pembelaan yang mereka dapatkan. Pada hari keempat mereka berkumpul di Lembah Pujian. Di sanalah mereka memuji TUHAN, dan itulah sebabnya orang menamakan tempat itu Lembah Pujian hingga sekarang(2 Taw 20:26). Juga dinamakan lembah berkat (The Berachah Valley) karena di lembah itu, Yosafat mendapatkan jarahan yang luar biasa sebagai berkat atas mereka. Saking luar biasanya jarahan itu, apa yang mereka dapatkan untuk di bawa pulang, tidak lebih banyak dibanding barang yang mereka bawa. Alkitab bahkan mencatat mereka menjarah selama tiga hari penuh dan itupun masih menyisakan banyak barang. Saya membayangkan peristiwa itu. Kita sebagai anak-anak Tuhan akan dibawa Tuhan ke lembah itu untuk menjarah harta benda milik orang-orang yang akan diadiliNya. Wah, namanya saja menjarah, maka itu pasti bukan diambil secara tertib. Semua orang yang ada di sana tentunya berebut mengambil apapun yang ada didepannya. Ini luar biasa bukan? Saking banyaknya barang jarahan, kita yang berebutnya pun, masih menyisakan kepada yang lain. Lalu Yosafat dan orang-orangnya turun untuk menjarah barang-barang mereka. Mereka menemukan banyak ternak, harta milik, pakaian dan barang-barang berharga. Yang mereka rampas itu lebih banyak dari pada yang dapat dibawa. Tiga hari lamanya mereka menjarah barang-barang itu, karena begitu banyaknya (2 Taw 20:25). Apa jadinya ya, jika jarahan yang sama berlaku atas setiap bisnisman yang saat ini sedang mengelola usahanya; berlaku atas para penginjil yang menuai jiwa-jiwa; berlaku atas setiap kesempatan di dunia pekerjaan? Betapa beruntungnya kita menjadi milik Tuhan !

MENGAPA ADA DI SANA?
Ada satu pertanyaan penting. Mengapa Yosafat ada di sana? Sebagai pemimpin satu suku Israel,tentunya kekuatan pertahanan kerajaan ini tidaklah lebih hebat dari suku-suku lain dan musuh-musuh bebuyutan Israel (termasuk Yehuda). Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa mengawali peristiwa di Lembah Berachah, Yosafat dan seluruh kerajaannya sedang berada di dalam posisi terancam. Mereka dikepung oleh bani Moab (keturunan Lot) dan bani Amon. Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: "Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar," yakni En-Gedi. (2 Taw 20:1-2). Bahkan, kedua suku ini berafiliasi dengan suku-suku lain untuk menyerang Yerusalem, pusat pemerintahan Yosafat. Coba anda bayangkan seandainya anda berada di dalam situasi yang sama seperti Yosafat dan sedang terkepung. Mungkin akar masalahnya beda, tapi anda terkepung ! (Bisa dikepung oleh masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan, utang-piutang, kepahitan, dsb). Apa yang anda lakukan sementara anda sendiri menyadari, seperti yang Yosafat sadari bahwa, anda tidak berdaya menghadapi semua itu. Ingat, pengepungan dalam konteks peperangan zaman dahulu atas sebuah kota adalah blokade untuk melumpuhkan kekuatan musuh, sehingga pada waktunya, penyerang akan mendapatkan kemenangan setelah terlebih dahulu melemahkan musuh. Semua pintu masuk dikepung. Bahkan saluran air di hambat sehingga orang-orang yang terkepung akan ketakutan dan tidak berdaya untuk kemudian menyerah. Bagaimana dengan anda? Apa yang akan anda lakukan ketika semua musuh-musuh potensial, seolah bergabung jadi satu, mengepung anda dari segala penjuru. Pengepungan bertujuan untuk membuat anda menyerah tanpa syarat terhadap berbagai masalah yang mungkin sedang anda hadapi saat ini. Itu pula tujuan raja-raja Moab dan Edom ini, mereka mau memenangkan Yerusalem tanpa harus membuang energi, atau mengorbankan tentara untuk tewas di dalam peperangan. Mereka mengepung untuk membuat Yosafat takluk. Musuh mengepung anda untuk membuat anda takluk !

RESPON YOSAFAT
Satu hal yang luar biasa, menyadari kelemahan dan ketidakberdayaannya, Yosafat tidak mau takluk dan tidak mau menyerah (Mungkin jawaban ini berbeda dengan anda?). Dibandingkan dengan jumlah tentara yang mengepungnya siang dan malam, Yosafat tahu diri bahwa dia akan kalah. Itu sebabnya naturnya sebagai manusia muncul yakni takut. Di dalam 2 Taw 20:3a dikatakan, “Yosafat menjadi takut,”. Kalau anda bagaimana? Orang yang takut pasti akan memberikan respon yang tidak populer, bahkan mungkin akan disesalinya dikemudian hari. Orang yang takut pasti akan kehilangan harapan dan putus asa. Hal yang paling berbahaya dari ketakutan adalah sifatnya yang menjalar dan menyebar dengan cepat. Ketika berakar menjadi semakin kuat, maka ketakutan itu akan menggerogoti iman kita. Biasanya dalam situasi seperti ini, ungkapan populer yang sering kita dengar adalah pertanyaan, “dimanakah Tuhan?” Ketakutan akan membuat kita mempertanyakan Tuhan, sebuah tindakan yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh orang percaya! Yosafat memang takut. Naturnya sebagai manusia muncul dalam persoalan yang dihadapinya. Kita juga mungkin takut. Tetapi seperti Yosafat lakukan, ketakutannya, tidak melemahkan imannya melainkan mengantarnya untuk meminta pertolongan Tuhan. Alkitab mencatat, ketika Yosafat takut, dia justru mencari Tuhan (mungkin tindakan ini juga berbeda dengan anda? Mencari Tuhan atau sebaliknya, justru menjauh dari Tuhan?) Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. (2 Taw 20:3). Tindakan Yosafat adalah sebuah tindakan iman. Ketika sedang terkepung oleh masalah, seharusnya kitapun meneladani perbuatan Yosafat (jangan cuma meneladani berkat-berkat yang diterima Yosafat) yakni mencari Tuhan, meminta pertolonganNya dan membayar harga dengan seruan puasa. Sudahkah anda membayar harga untuk setiap pertolongan yang anda minta dari Tuhan? Sudahkan langkah kaki anda tepat, berseru kepada Tuhan, untuk menyelesaikan setiap persoalan yang tengah mengepung anda? Biasanya, manusia cenderung mengandalkan kemampuan-nya sendiri di dalam situasi sulit. Manusia cenderung meminta pertolongan orang lain, mengandalkan sistem atau bahkan dirinya sendiri (seperti kekayaan, kepintaran atau relasi). Tetapi apakah semua itu dapat menolong anda sewaktu terkepung dimana sama sekali no way out? Terlebih di dalam situasi Yosafat, ia sungguh menyadari dirinya tidak berdaya !

PENUTUP
Sungguh tepat apa yang dilakukan raja Yehuda ini. Ia mencari Tuhan dan membawa setiap pergumulan yang dihadapinya kepada Tuhan. Ia mencari Tuhan dan meminta pertolonganNya. Ia bahkan rela membayar harga terhadap pertolongan itu dengan berpuasa. Ia tidak mau mengandalkan dirinya sendiri. Dia tahu bahwa ketika no way out, dirinya masih punya satu jalan keluar yang bersifat supernatural, yakni pertolongan Tuhan ! Ketika Tuhan bertindak, maka bagian kita , sama seperti Yosafat dapatkan, musuh yang semula mengepung dan menjadi ancaman, telah dikalahkan oleh Tuhan dengan caraNya yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ketika orang Yehuda tiba di tempat peninjauan di padang gurun, mereka menengok ke tempat laskar itu. Tampaklah semua telah menjadi bangkai berhantaran di tanah, tidak ada yang terluput. (2 Taw 20:24). Tuhan membawa kemenangan bagi orang-orang yang mengandalkan Dia. Yosafat menang, kitapun dapat menang. Anda pernah melihat wajah orang-orang yang pulang dengan kemenangan? Penuh dengan sukacita yang tak terkirakan. Itu yang dialami Yosafat dan orang-orangnya. Lalu pulanglah sekalian orang Yehuda dan Yerusalem dengan Yosafat di depan. Mereka kembali ke Yerusalem dengan sukacita, karena TUHAN telah membuat mereka bersukacita karena kekalahan musuh mereka. (2 Taw 20:27). Itu pula yang akan anda alami !

Coba doakan firman profetik di bawah ini :
Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi
dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN:
"Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai."
Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung,
dari penyakit sampar yang busuk.
Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung,
kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok.
Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,
terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap,
terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.
Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu,
tetapi itu tidak akan menimpamu.
Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri
dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.
Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu,
Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu,
malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;
sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu
untuk menjaga engkau di segala jalanmu.
Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.
Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga.
"Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya,
Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.
Bila ia berseru kepada-Ku,
Aku akan menjawab,
Aku akan menyertai dia dalam kesesakan,
Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.
Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia,
dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku."
Mazmur 91:1-16

Catatan:
Jika anda diberkati dengan artikel ini, bagikan kepada orang lain atau jadikan inspirasi khotbah anda. Sampaikan kesaksian anda di gloryofgodmin@gmail.com atau di 0816665222 atau di 081325854343. Tuhan memberkati (Sonny Eli Zaluchu)

1 komentar: