Kamis, Oktober 02, 2008

PENGAMPUNAN

Pendahuluan
Diantara sejumlah perkara bagi orang Kristen yang paling sulit dilakukan adalah pengampunan. Fakta konseling membuktikan banyak hal, betapa pengampunan amat sulit dilakukan oleh orang percaya. Ada anak yang bertahun-tahun menyimpan dendam kepada orang tuanya yang pernah menelantarkannya. Ada jemaat yang bertahun-tahun bahkan akhirnya pindah gereja karena sulit mengampuni gembalanya. Bahkan mungkin kita sendiri, di dalam sudut hati paling dalam, masih menyisakan dendam dan sikap sulit mengampuni orang-orang yang pernah menyakiti kita. Berdasarkan sejumlah pengalaman itu, muncul satu pertanyaan klasik, benarkah pengampunan itu merupakan satu perkara yang paling sulit dilakukan?

Yesus Telah Melakukannya
Yesus Kristus sebagai sebuah teladan hidup bagi kita, dapat dijadikan acuan dalam hal pengampunan. Dalam sebuah penderitaan puncak di kayu salib, terhadap orang-orang yang menyakiti dan membuatnya luka, menanggung hukuman atas tindakan yang tidak dilakukanNya, Yesus mengucapkan sebuah kalimat yang sangat terkenal. Dia berkata di dalam kesakitan itu dan berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34) Perkataan paradoks itu sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Yesus sebetulnya berhak dendam karena, pertama, Dia dihukum bukan karena perbuatanNya melainkan karena perbuatan kita dan kedua, Dia adalah anak Allah yang mampu melampiaskan dendamNya kepada orang-orang yang menyakitiNya. Tetapi, Yesus memilih tindakan lain, mengasihi orang-orang tersebut dengan berdoa kepada Bapa-Nya agar mereka diampuni. Bukankah tindakan tersebut mencerminkan kasih dan pengorbanan yang sejati?

Saya ingat perkataan Mother Theresa sewaktu berkata, “Ketika kita mengasihi dan menjadi terluka karenanya, maka tidak ada lagi luka kecuali kasih!”. Pengampunan yang Yesus nyatakan telah mendeklarasikan kasih kepada orang-orang yang menyakiti dan menyebabkanNya menderita (termasuk kita).

Bahkan jauh-jauh hari sebelum di salib, Yesus mengajar dengan sangat praktis perihal pengampunan tersebut. Hal itu menjelaskan ada sebuah nilai (inner values) di dalam diriNya mengenai betapa pentingnya pengampunan di dalam hidup ini. Yesus ingin memperlihatkan kepada kita bahwa selalma hidup berjalan, kita memang berpotensi disakiti atau bahkan juga menyakiti sesama. Di dalam kejadian itulah, tidak baik membalas kejahatan dengan kejahatan. Pengampunan adalah jalan penyelesaian terbaik yang menjadi hukum kerajaan surga. Beberapa pengajaran yang penting adalah sebagai berikut.


a.Yesus menghubungkan pengampunan dengan doa. Di dalam Markus 11:25 diajarkanNya, “ Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." Tidak ada gunanya kita berdoa munafik, memohon Bapa mengampuni dosa dan kesalahan kita sementara hati kita sendiri masih menyimpan dendam dengan orang lain. Hal ini dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang tidak tulus dihadapanNya. Kemunafikan ini seringkali kita bawa di dalam ibadah dan persekutuan kita dengan Tuhan. Kita bicara atau mengkhotbahkan pengampunan tetapi kita sendiri masih menyimpan dendam kepada orang lain atau sesama pelayan.

b.Yesus menghubungkan pengampunan dengan hukum sebab akibat. Siapa yang mengampuni akan diampuni. Tentu saja sebaliknya, siapa yang tidak mengampuni, maka dirinya juga tidak diampuni. Hal tersebut ditegaskannya di dalam Lukas 6:37 "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni”. Artinya sangat jelas. Pengampunan yang kita berikan kepada orang lain, sekaligus membebaskan dan membuka pintu bagi kita untuk menerima pengampunan dari kesalahan-kesalahan kita sendiri, baik dari sesama terlebih dari Allah. Dalam pengajaran ini, orang yang sulit mengampuni akan sulit juga diampuni!

c.Yesus menghubungkan pengampunan sebagai tindakan untuk tidak terus menerus menghakimi dan menempatkan orang di dalam kesalahannya. Ketidaksediaan mengampuni dapat membuat “mata kita” buta di dalam melihat pertobatan dan buahnya di dalam diri orang lain. Itu sebanya Yesus memberi peringatan di dalam Lukas 17:3, “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia”. Respon kita biasanya adalah, ketika seseorang berdosa, maka kita cenderung terus menganggapnya berdosa sementara ia telah mengalami pemulihan di hadapan Allah. Akibatnya, kita menjadi sulit mengampuni dan terus menghakiminya. Padahal, kita bukanlah Allah. Banyak orang Kristen yang terjebak di dalam sikap seperti ini.

Kita Sudah Diampuni
Di dalam Kolose 3:13, Rasul Paulus menekankan satu pokok yang sangat penting di dalam
pertumbuhan rohani orang percaya. Dituliskannya, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam
terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah
demikian”. Artinya, sebetulnya sangatlah tidak tepat menyisakan atau menyimpan dendam terhadap orang lain, akibat kesalahannya, sebab kitapun manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Terhadap diri kita sendiri, Allah sudah mengampuni kita ! Jadi kalau kita menjadi pribadi yang sudah diampuni atau ditebus di atas kayu salib sehingga tidak menjadi manusia yang terhukum, lantas tidak mau mengampuni sesama, kita menjadi orang-orang yang tidak tahu diri! Sudah diampuni malah tidak mau mengampuni. Kejadiannya persis sama dengan seorang hamba yang memiliki hutang kepada raja dan meminta pengampunan sehingga atas belas kasihan rtaja tersebut, dia dibebaskan dari hutangnya. Tetapi, dia tidak tahu diri. Kepada orang yang berhutang padanya, dia tidak mau melakukan tindakan seperti diterimanya dari raja. Di dalam Matius 18:28, ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Inilah gambaran kita orang Kristen yang tidak mau mengampuni sesama. Tidak berarti kejadian tersebut berhenti begitu saja. Raja yang mendengar sikap tidak tahu diri si hamba yang jahat ini lantas menangkapnya kembali. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya:
"Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya”. (Matius 18:32-34)

Kesimpulan
Dengan memahami pengajaran Yesus dan tindakan hidupNya serta kasih Allah kepada kita, maka sebetulnya kita mengerti bahwa yang namanya mengampuni, bukanlah sesuatu yang berat dilakukan. Juga bukan merupakan pilihan karena itu merupakan gaya hidup ilahi di dalam diri kita, orang percaya, yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Pengampunan adalah sesuatu yang harus kita lakukan, tanpa memberi syarat apapun (biasanya kita mengampuni dengan bersyarat). Tuhan sendiri tidak menetapkan syarat apapun bagi kita.

Dengan mengampuni maka kita menjadi pribadi yang merdeka. Kenapa? Dendam akan melahirkan kemarahan berkepanjangan di dalam diri kita dan tanpa disadari, dendam itu berbuah kepahitan. Orang yang dendam dan pahit hati adalah orang yang sebetulnya terikat. Iblis akan menggunakan celah itu untuk menguasai hidup kita. Dengan mengampuni, maka kasih akan mengalahkan kebencian yang ada di dalam diri kita. Dengan sendirinya kita akan mengalami kemerdekaan di dalam banyak hal. Kalau tidak percaya? Coba saja ! ***