Selasa, Januari 13, 2009

PENYAKIT YANG MEMATIKAN KOMSEL

Bahan Seminar KOMSEL:
Mengenali 6 Penyakit Mematikan KOMSEL
Oleh : Dr. Sonny Eli Zaluchu (GPdI Hermon Tanahmas Semarang)


Komsel adalah sebuah persekutuan dalam lingkup kecil. Diharapkan melalui persekutuan ini, setiap orang percaya dapat saling membangun kerohanian, saling menopang satu dengan lainnya dan mengalami Kristus secara nyata melalui sharing firman, pujian penyembahan dan sharing kehidupan antar anggotanya. Di dalam unit terkecil ini dapat berlangsung pembinaan dan pemuridan secara lebih efektif lagi terhadap anggota gereja yang jemaatnya ratusan bahkan ribuan, yang tidak mungkin terjangkau melalui penggembalaan terpusat. Bahkan, melalui kelompok kecil ini, gereja dapat mengalami pelipatgandaan jemaat melalui jiwa-jiwa baru yang dimenangkan melalui komsel. Dengan demikian, komsel dapat menjadi sebuah unit pemuridan dan pelipatgandaan gereja, jika komsel tersebut benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya.

Faktanya, ada beberapa gereja yang komselnya mengalami stagnasi untuk kemudian mati secara perlahan. Komsel berubah menjadi komunitas yang gagal membuat tiap anggotanya mengalami pertumbuhan rohani bahkan tidak terjadi multiplikasi. Anggota komsel juga enggan mengikuti komsel dan tidak terbeban terhadap jiwa-jiwa baru. Komsel berubah menjadi arena kumpul-kumpul belaka yang tidak punya tujuan. Bertolak belakang dengan keinginan menjadikan komsel sebagai ujung tombak penanaman jiwa-jiwa baru ke dalam gereja. Hal demikian terjadi karena komsel, seharusnya menjadi unit sehat terkecil dalam tubuh (baca: gereja), menderita penyakit kronis yang harus segera ditangani.


Ada dua jenis penyakit yang menghalangi pertumbuhan sebuah komsel. Ada yang disebut terminal illnes atau penyakit tak tersembuhkan. Jika sebuah komsel terkena penyakit ini, maka komsel tersebut dipastikan akan mati dan tidak punya harapan lagi untuk bertumbuh. Tetapi ada jenis penyakit lain yang juga tersembuhkan. Artinya jika jenis penyakit ini menjangkiti sebuah komsel dan mendapat penanganan serius, maka komsel yang semula sakit (gagal dalam pemuridan dan pelipatgandaan) dapat berubah menjadi sehat kembali. Komsel yang sakit tidak memperlihatkan tanda-tanda hidup didalamnya. Kehidupan itu ditandai dengan :
- Antusiasnya anggota komsel untuk berkomsel
- Antusiasnya anggota untuk bersaksi tentang Kristus
- Antusiasnya anggota untuk mengalami perjumpaan dengan Kristus
- Antusiasnya anggota untuk mendapatkan jiwa-jiwa baru untuk pelipatgandaan

Berikut ini beberapa penyakit yang dapat mematikan sebuah komsel

1. Syndrom Persekutuan
Penyakit ini termasuk di dalam golongan penyakit mematikan. Hal ini terjadi karena setiap anggota komsel terlalu erat di dalam persekutuan sehingga tertutup terhadap pendatang baru. Mereka juga enggan membelah dan terlalu mengagungkan persekutuan yang ada. Mereka lupa bahwa komsel yang hidup harus memperlihatkan tanda-tanda pelipatgandaan. Dan itu hanya bisa terjadi melalui kedatangan jiwa-jiwa baru. Komsel dengan penyakit seperti ini justru bertindak sebaliknya. Setiap jiwa baru dicurigai dan ditolak. Ada batas-batas antara anggota komsel dan jiwa baru. Akibatnya, jiwa baru tidak mendapat tempat di dalam komunitas. Padahal, kita semua mengerti bahwa komsel adalah lingkup komunitas terkecil untuk bisa bertumbuh.

2. Kepemimpinan yang Lemah
Komsel dapat sakit karena pemimpin di dalam komsel tersebut, dalam hal ini PKS, gagal memimpin dengan baik dan dengan seharusnya. Hal ini terjadi karena PKS tidak punya wawasan atau pengalaman atau panggilan untuk menjadi pemimpin. Penyakit ini dapat disembuhkan melalui pergantian pemimpin atau pemberdayaan pemimpin melalui mentoring. Kunci penggembalaan di dalam komsel terletak pada pemimpinnya. Pemimpin komsel harus bertanggung jawab untuk membuat setiap anggota komselnya bertumbuh ke arah yang benar. Pemimpin komsel harus membangun pengetahuannya akan cara-cara menangani komsel yang sehat, dalam hal ini mengorganisasi, menggembalakan, memimpin pujian-sharing-doa, berkomunikasi, dsb. Kepemimpinan yang lemah akan melemahkan pengikut dan membuat orang-orang yang seharusnya dipimpin menjadi “liar” dan tidak mendapatkan visi.

3. Iklim dan Perubahan Sosiologis
Ini termasuk penyakit mematikan. Perubahan sosiologis terjadi karena faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan. Struktur sosial dan geografis masyarakat di lingkungan tempat komsel berlangsung mengalami perubahan sehingga jiwa-jiwa baru sudah tidak ada lagi. Bahkan anggota komsel yang ada mengalami perpindahan tempat tinggal sehingga tidak bisa lagi mengikuti komsel di tempatnya yang lama. Persoalan ekonomi juga menjadi salah satu penyebab terjadinya penyakit ini. Pergeseran-pergeseran pusat perekonomian telah merubah kebiasaan dan gaya hidup orang. Penyakit ini seringkali dialami oleh gereja-gereja yang pada awalnya tidak memulai pertumbuhannya menggunakan komsel. Faktanya, tidak semua jemaat mampu mengadopsi visi komsel ini, terutama jemaat lama. Umumnya mereka memiliki sejumlah hambatan (barrier) sosiologis, ekonomi atau budaya tertentu sehingga tidak dapat ikut komsel seperti pekerjaan, letak rumah, dan berbagai kepentingan lainnya.

4. Penekanan yang Salah
Komsel bukanlah acara kumpul-kumpul, fellowship lalu kemudian makan bersama. Komsel adalah tempat tumbuh bersama dalam lingkup kecil, dalam terang firman Allah. Penekanan tujuan komsel yang salah dapat menjadi sebuah penyakit komsel. Ini bisa disembuhkan. Penyakit ini terjadi karena anggota komsel salah memahami tujuan komsel dan terjebak pada tata cara penyelenggaraan komsel sehingga komsel menjadi jenuh, rutinitas dan kehilangan arah. Penekanan yang salah dapat membuat komsel kehilangan tujuan-tujuan rohani yang seharusnya menjadi prioritas utama. Komsel juga bukan arena untuk saling membantu kesulitan atau lembaga sosial antar anggota. Bukan organisasi diakonia atau koperasi simpan pinjam. Juga bukan ajang untuk bergosip atau membicarakan kekurangan orang lain. Komsel harus diarahkan pada tujuan-tujuan rohani, yang menjadi berkat dan membangun kehidupan rohani satu dengan lainnya.

5. Stagnasi Rohani
Komsel adalah sarana perjumpaan dengan Tuhan. Di dalam komsel diharapkan setiap orang dapat mengalami perjumpaan dengan Kristus melalui sharing firman, pujian penyembahan dan sharing/kesaksian hidup. Jika komsel tidak punya atmosfir rohani, maka komsel akan mengalami penyakit stagnasi rohani. Dampaknya, tidak ada kehidupan yang mengalir di dalam komsel. Anggota enggan mengikuti komsel karena merasa tidak mendapatkan apa-apa. Oleh sebab itu, roh doa harus kuat di dalam komsel. Mulai dari PKS dan seluruh anggota harus banyak berdoa untuk setiap pengalaman berjumpa dengan Tuhan dan terhadap jiwa-jiwa yang akan Tuhan kirimkan. Tanpa doa, komsel akan kering kemudian mati. Doalah yang menggerakkan atmosfir rohani dan yang membuat Allah campur tangan dalam setiap pertemuan. Penyakit jenis ini dapat disembuhkan melalui penyegaran rohani seperti KKR, pertemuan ibadah raya komsel atau impartasi. Melalui doa, firman yang disharingkan di dalam komsel memiliki kekuatan dan kuasa untuk menjamah hidup setiap anggota. Bahkan doa mampu mengcreate atsmosfir ilahi di dalam pujian dan penyembahan sehingga setiap orang memiliki pengalaman pribadi berjumpa dengan Tuhan.

6. Visi yang Salah
Ini penyakit mematikan. Komsel hanyalah salah satu dan bukan satu-satunya strategi pertumbuhan. Tetapi tidak semua gereja dapat menjadi tanah yang baik untuk menggunakan strategi ini. Jika sebuah gereja tidak adaptif dengan strategi komsel, maka gereja ini tidak perlu memaksakan kehendak untuk tetap mengadakan komsel. Pemaksaan hanya akan membuat komsel tidak optimal dan tidak akan pernah bertumbuh bahkan tidak akan menjadi sebuah kegerakan. Gereja harus berdoa untuk memohon pada Tuhan agar diberikan visi pertumbuhan yang jelas tanpa harus meniru strategi pertumbuhan gereja lain. Jika komsel adalah strategi pertumbuhan yang Tuhan tetapkan untuk sebuah gereja, maka apapun usaha manusia akan dibuat berhasil dengan sendirinya. Hal yang sebaliknya yang akan terjadi jika strategi itu adalah hasil copycat (meniru mentah-mentah). Banyak gereja gagal di dalam komsel karena mereka menerapkan metoda ini tanpa melihat barrier dalam jemaat. Kesalahan ini terjadi karena para pemimpin gereja beranggapan bahwa keberhasilan komsel di gereja lain dapat terulang di gereja mereka. Padahal situasi dan budaya jemaatnya berbeda. ***

- email untuk konsultasi dan mentoring gloryofgodmin@gmail.com



1 komentar:

  1. Bro Sonny, saya copas artikel-artikelnya untuk semakin menjadi berkat di website http://www.jimpress.net/

    Terima kasih. God bless You

    BalasHapus